
Setiba di pelataran parkir rumah sakit keluarga Sudibyo, beberapa tenaga medis sudah bersiaga. Dengan brankar yang sudah stay untuk menyambut cicit sang pemilik rumah sakit.
Suara derit roda brankar yang di dorong cepat menuju ruang tindakan terdengar jelas, jika wanita itu butuh pertolongan segera.
Ana dan Rick sudah berada di sana. Begitu keluarga yang lain. Sejak dahulu, kerukunan keluarga itu selalu menjadi hal yang paling nomor satu dari apapun.
"Lakukan yang terbaik untuk keponakan mu, Sel" pinta Rick menatap sang sepupu yang merupakan dokter bedah. Tatapan penuh permohonan seorang ayah membuat hati siapa saja akan terenyuh pedih kala melihat nya.
Anggukan mantap terlihat jelas dari sang sepupu. Ruang operasi sudah di persiapkan sebelum wanita malang itu tiba. Dan tim medis yang menangani operasi darurat tersebut adalah pihak keluarga Rick sendiri.
"Bertahan lah sayang, aku tak bisa kehilangan mu." Lirih Alex terdengar jelas oleh keluarga sang istri. Bukan mereka tak tau apa yang terjadi pada rumah tangga sang anak. Namun memilih bungkam bukan karena tak peduli. Mereka yakin putri kebanggaan mereka punya alasan dan cara tersendiri, untuk memperbaiki keadaan pernikahan nya.
Satu jam berlalu, belum ada tanda-tanda kehidupan di balik pintu ruang operasi. Alex bahkan belum duduk sejak tadi, berdiri di depan pintu seakan takut terlambat untuk masuk ke dalam kelas.
"Duduklah, kau juga butuh di periksa. Masuklah ke ruang tindakan, periksa punggung mu." Ucap Dean setelah melihat jejak darah di baju kaos Alex. Punggung pria itu terluka akibat terhempas ketika terkena efek ledakan.
"Aku tak apa, Ayank ku sedang berjuang bagaimana bisa aku tinggal kan." Tolak Alex keras kepala. Sedangkan Jordy sejak tadi sudah di bawa untuk melakukan serangkaian pemeriksaan. Dan kini masih di ruang observasi dan di beri perawatan terbaik.
Miska sudah tiba sejak setengah jam yang lalu, wanita itu menangis tanpa suara ketika melihat keadaan suami nya. Namun dia tak menyalahkan siapapun, tugas Jordy memang memastikan sang bos baik-baik saja tak peduli apapun keadaan nya. Meski kondisi Ayank sangat jauh dari kata baik saat ini.
"Minumlah, ayah sudah meminta untuk membelikan mu makanan. Makan sedikit saja, Ayank tak akan suka melihat suami yang keras kepala sama seperti diri nya. Biarkan bibi mu memeriksa kan luka di punggung mu, di sini saja. Jadi makan lah sedikit, menurut lah kali ini." Alex bergeming namun tak dapat menolak.
__ADS_1
Permintaan sederhana sang mertua seperti perintah mutlak bagi nya.
Alex makan meski tak berselera sama sekali. Tak lama sepupu ayah mertua nya datang dengan mendorong troli, berisi berbagai macam alat medis dan jarum suntik. Alsy duduk di sisi Alex, memastikan pria itu makan dengan benar.
"Kau tau Lex, Ayank kami tak pernah mengeluh sejak dia kecil. Dulu ibu mertua mu koma selama lima tahun sesaat setelah melahirkan istri mu juga ketiga iparmu itu. Ayank lah yang menjadi tameng bagi ayah mertuamu untuk menghalau para hama yang berniat untuk merusak keharmonisan rumah tangga kedua orang tua nya. Meski secara konteks Ayank tak mengerti apa yang dia lakukan, namun naluri nya sebagai seorang anak. Membuat Ayank kecil selalu waspada pada kaum hawa yang berusaha mendekati ayah nya." Alsy terdiam, wanita paruh baya itu menatap kosong ke arah pintu ruang operasi.
Pikiran nya menerawang pada masa silam. Di mana Ana mengalami koma terpanjang dalam sejarah keluarga nya.
"Kau tau kemana arah pembicaraan wanita tua ini, nak?" Alex mengangguk cepat, pria itu mengerti dengan sangat. Jika sesuatu terjadi pada istri nya di balik pintu di hadapan nya tersebut. Maka diri nya hanya punya dua pilihan. Bertahan dengan kesetiaan, atau melepaskan sebelum sempat melukai sang istri dengan sebuah pengkhianatan.
Alex lebih memilih pilihan pertama. Dia tak akan mengulangi kesalahan yang sama, masa lalu adalah pelajaran yang sangat berharga bagi nya.
"Aku akan menunggu nya dengan setia apa pun yang terjadi, tolong bantu aku agar tak salah memilih jalan pulang. Aku hanya manusia biasa, tegur bila aku salah." Ucap Alex penuh keyakinan. Alsy tersenyum simpul, wanita paruh baya itu mengusap pipi tirus nya.
Pintu ruang operasi terbuka, terlihat Arsel berdiri di depan pintu depan wajah tak secerah keyakinan nya, untuk memastikan Ayank baik-baik saja ketika masuk ke sana.
"Bagaimana istri ku, paman?" tanya Alex tak sabar, Alsy menyentuh lembut lengan Alex agar memberikan kesempatan pada Arsel untuk menjelaskan kondisi Ayank.
"Operasi nya berjalan baik, satu tulang iga yang patah dan sedikit bergeser dari patahan. Dua mengalami keretakan. Selebih nya tak ada komplikasi apapun, namun kondisi nya masih kritis. Ayank kehilangan banyak darah, dehidrasi dan geger otak ringan. Kondisi ini membuat tubuh nya lambat memproses obat-obatan yang masuk ke dalam tubuh nya. Dehidrasi membuat aliran darah dan oksigen ke otak sempat terhenti total. Kami berhasil membawa nya kembali, namun Ayank masih dalam keadaan koma. Maaf kan aku Rick." Terang Arsel merasa bersalah.
Pria itu merasa tak berguna karena tak berhasil membawa sang keponakan menatap dunia, dan menyapa para keluarga yang menanti nya dengan penuh harapan. Ayank sempat beberapa kali kehilangan Detak jantung nya di ruang operasi, namun karena kasih sayang mereka yang tak merelakan wanita itu pergi begitu saja. Arsel dan para sepupu nya berusaha keras agar Ayank tetap bertahan.
__ADS_1
Prosedur yang sedikit melanggar kode etik profesi mereka, namun tak ada pilihan lain. Keluarga adalah segala nya, persetan dengan segala aturan yang ada. Toh mereka tidak sedang melakukan malapraktik. Hanya sedikit usaha agar sang keponakan dapat kembali bersua dengan keluarga besar nya.
"Bukan salah mu, kau sudah berusaha untuk melakukan yang terbaik. Di dalam sana pasti sangat berat, bukan salah siapapun. Ayank adalah putri kita yang kuat dan hebat. Tak akan ada malaikat maut yang berani mendekati nya." Ucap Alsy mewakili suara hati keluarga nya yang lain.
Wanita itu memeluk Alex yang terlihat sangat rapuh.
Pria malang itu seakan telah menjadi anak yatim-piatu. Di saat seperti ini, Alex sangat membutuhkan pelukan hangat untuk membuat nya lebih kuat. Namun tak dia dapat kan dari keluarga kandung nya, melainkan perhatian itu malah dia dapat kan dari keluarga sang istri.
"Istri mu akan baik-baik saja, percaya pada buna. Ayank ku itu wanita yang kuat, dia pasti akan menemukan jalan pulang setelah cukup puas beristirahat sejenak." Ucap Ana memberikan penghiburan pada sang menantu, meski hati nya sendiri menanggung luka menganga karena memikirkan sang buah hati tercinta.
Alex mengangguk pelan di balik Isak yang tak tertahankan. Ayank di bawa ke ruang VVIP yang di sulap menjadi ruang ICU pribadi untuk nya. Dengan peralatan medis terbaik demi menunjang kehidupan wanita cantik itu.
Berbagai macam peralatan medis menempel di tubuh nya, selang oksigen juga selang makanan yang terlihat sangat menyiksa di penglihatan Alex.
"Berjuang lah untuk kembali, aku akan menunggu mu. Aku sedang membangun rumah impian untuk kita tempati ketika kau terbangun kelak. Aku harap kau menyukai nya, bukan hunian mewah. Hanya rumah sederhana yang nyaman dengan taman yang cukup luas. Aku sengaja mendesain nya lebih besar. Aku berencana memiliki banyak anak bersamamu. Mendidik mereka dengan kasih seperti orang tua mu yang mendidik kalian dengan cinta, bukan dengan harta. Beristirahat lah selama yang kau perlukan, namun jangan lupa untuk bangun kembali. Aku mencintaimu, istri ku." Alex mengecup dalam kening sang istri.
Pria itu membuka sedikit baju pasien yang di gunakan Ayank, untuk melihat bekas operasi yang masih tertutup perban panjang. Hati mya meringis perih, lalu menutup nya kembali. Menyelimuti wanita itu sebelum akhir duduk di sisi ranjang, dan akhir nya tertidur dalam rasa lelah yang amat sangat.
"Alex telah berubah sejak berpisah dari Ayank, pria itu membuktikan diri agar terlihat layak kembali bersanding bersama putri kesayangan kita. Teringat saat pertemuan kami waktu itu, Alex rupa nya tak mengetahui perihal surat cerai palsu yang Ayank berikan pada nya. Aku ingat bagaimana Alex begitu girang saat mendapati kenyataan, jika Ayank masih lah sah istri nya. Pria itu melompat-lompat kegirangan tanpa peduli tatapan aneh orang-orang di cafe milik nya. Tubuh rentaku bahkan hampir retak karena di peluk terlalu erat. Alex meraung saking senang nya, lalu mulai mencari informasi tentang Ayank melalui bantuan teman nya yang seorang hacker." Alsy terdiam sesaat ketika mengingat reaksi Alex.
Pria itu terlihat sangat bahagia melebihi siapapun kala itu.
__ADS_1
flashback
TBC