Just A Momen _Istri Tangguh

Just A Momen _Istri Tangguh
Buka Segel keramat


__ADS_3

Sudah sepuluh hari, setelah kepulangan Ayank dari rumah sakit. Kondisi wanita itu sudah benar-benar pulih total. Luka bekas operasi di perut nya sudah mengering sempurna. Itu karena Ayank mengkonsumsi obat-obatan paten terbaik yang di belikan oleh sang suami.


Alex kembali mengeluarkan uang tak sedikit, kala kembali mengajak sang istri untuk check up lima hari setelah kepulangan mereka hari itu. Pria itu berprinsip jika uang bisa di cari, namun kesehatan adalah hal mutlak yang harus di utamakan dari apapun.


"Al? Al?..." sepi, tak ada sahutan. Ayank membuka pintu kamar mandi lebih lebar, manik nya menyapu setiap sudut kamar, namun tak menemukan sang suami tercinta.


"Aneh, padahal tadi aku tinggal ke dalam masih PW di ranjang." Gumam wanita itu melipat bibir nya kesal. Padahal tadi dia berharap sang suami sudah beranjak pergi dari sana karena saking grogi nya dia. Kini malah di cari-cari. Wanita memang suka gitu kadang.


Ayank mendorong daun pintu ke dalam kamar mandi lebih lebar, lalu keluar dengan perasaan kecewa. Di buka nya sedikit kimono yang dia gunakan untuk mengintip sesuatu yang dia pakai di balik kimono tersebut.


"Kau membuat suami ku kabur, dasar lingerie jahanam!" umpat Ayank kesal. Wanita itu menyalahkan lingerie tak berdosa tersebut lah penyebab sang suami hengkang dari kamar. Karena terlalu lama mematut diri di depan cermin kamar mandi, Alex sampai pergi dari kamar tersebut. Begitu lah pikir Ayank.


Sedangkan Alex tengah membuat susu di lantai bawah. Susu promil yang sengaja dia beli tadi sore sebelum pulang dari cafe.


Dengan wajah secerah bulan di langit malam, Alex kembali ke lantai atas dengan nampan juga cemilan sehat untuk istri nya.


Klek


Alex masuk dengan satu tangan memegang handle pintu, kemudian menutup nya menggunakan kaki. Cara klasik saat kedua tangan sedang sibuk sendiri.


Terlihat Ayank tengah bergelung di dalam selimut tebal, wanita itu kedinginan akibat baju kurang bahan yang dia kenakan.


Alex mendekat setelah menaruh nampan di atas meja sofa.


"Sayang? apa kau merasa tak enak badan?" tak biasa nya Ayank menutup tubuh nya hingga sebatas leher, wanita itu lebih suka di peluk ketika udara dingin dari pada menggunakan selimut yang akan malah membuat nya merasa gerah. Istri nya sungguh unik, lain dari pada yang lain.


Ayank membuka kedua mata nya lalu menatap horor pada sang suami.


"Abis dari mana? ngapain? ponsel kenapa di bawa? habis menghubungi siapa?" cecar Ayank dengan sekali tarikan nafas. Di berondong pertanyaan bernada cemburu, Alex malah terbahak.


"Astaga sayang! aku ke dapur, membuatkan mu susu, aku membutuhkan ponsel untuk melihat cara penyajian secara langsung melalui video tubtub. Itu di sana, ayo duduk. Aku tak sedang menghubungi siapapun, istri ku berada di sini siapa lagi yang aku butuhkan selain wanita cantik ini, hmmm?" jelas Alex tertawa gemas.


Dia senang, Ayank terlihat posesif pada nya beberapa hari ini. Sungguh sesuatu yang sangat dia dambakan.


Ayank melengos malu, pipi nya Semerah tomat masak. Hingga wanita itu melupakan baju dinas untuk menggoda sang suami masih melekat di tubuh indah nya. Ayank duduk bersandar sebelum turun dari ranjang.

__ADS_1


Alex menelan ludah kasar, pria itu melotot melihat penampakan yang menggoda iman dan taqwa.


"Sayang? susu nya pending dulu bisa? ada hal yang lebih darurat sekarang." Ujar Alex tak henti menatap dua bongkahan dengan ukuran tak main-main di hadapan nya.


Ayank yang hendak turun merasa heran, masih belum sadar jika diri nya menyebabkan hal urgent tersebut terjadi.


"Mendadak banget, ada urusan apa memang nya yang lebih penting dari susu buat aku. Tunda dulu, aku mau cobain susu bua..." hap!


Alex meraup bibir cerewet Ayank yang beberapa hari ini lebih sering berkicau dari pada beo tetangga.


"Hmmmppp..." gumam Ayank tak jelas, Alex memberikan serangan mendadak yang membuat nafas nya hampir habis.


"Maaf sayang..." Alex merasa bersalah, apalagi melihat bibir mungil sang istri sedikit membengkak. Alex menyesap nya cukup kuat karena gemas nya.


"Tidak apa.." jawab Ayank dengan nafas tak teratur.


"Lanjut ya... kasian si Jon sudah tak sabar.." bisik Alex lirih, menyesap leher mulus sang istri. Ayank hanya bisa mengangguk samar, rasa malu juga ingin bercampur menjadi satu.


Terjadi lah malam penuh lenguh setelah sekian lama tertunda oleh berbagai keadaan yang tak terduga. Alex tersenyum tak henti-hentinya. Tak di pungkiri, menjadi orang pertama bagi sang istri, adalah hal yang paling berharga bagi nya sebagai seorang suami.


Tangan pria itu menelusur mengusap bekas luka Ayank dengan perasaan bersalah.


"Sakit tidak?" tanya Alex cemas. Diri nya cukup bringas dan itu membuat nya merasa sangat bersalah.


Ayank menggeleng pelan, " tak sakit, hanya seperti keram saja. Tapi tak apa." Jawab Ayank meyakinkan.


"Semoga segera tumbuh junior di dalam sini. Aku sudah tak sabar di panggil papa. Mendengar suara rengekan manja dan tangisan rewel anak-anak di tengah-tengah kita." Ucap Alex dengan nada penuh harapan.


"Semoga saja, aku juga tak sabar mendengar suara khas yang menggemaskan memanggil ku dengan sebutan mama." Sahut Ayank yang sama-sama berharap hal yang sama.


Malam itu hanya ada sekali pendakian, Alex tak semaruk keinginan yang besar untuk terus menggempur istri nya. Alex sadar kondisi Ayank masih belum pulih sempurna, istri nya itu hanya berusaha untuk membuat nya tak menunggu terlalu lama.


Alex sangat menghargai usaha sang istri yang begitu peka akan kebutuhan nya, yang tak dapat di wakili oleh siapapun.


Di tempat lain, Arkhan terus berteriak memanggil para penjaga di pos depan. Pria itu merasakan sakit luar biasa di bagian perut bawah nya. Sang junior terus mengeluarkan cairan seperti putih telur bercampur sedikit darah.

__ADS_1


"Berisik banget sih! apa kau tak lihat jam yang menempel di belakang mu itu sudah menunjukkan pukul berapa, hah?! ganggu orang tidur saja!" ketus sang pria bertato dengan nada marah.


Waktu baru menunjukkan pukul dua dini hari dan dia di paksa bangun karena suara teriakan Arkhan.


"Tolong berikan aku obat anti nyeri, tolong!" pinta Arkhan memelas. Tak ada lagi raut wajah angkuh seperti beberapa waktu lalu, ketika pria itu baru tiba di sana. Kini Arkhan seperti seonggok daging tak berarti, dengan tubuh kurus kering dan tercium aroma menyengat dari dalam ruang tahanan pria itu.


Jevon melirik melalui celah kecil di pintu yang di buat khusus untuk memasukkan makanan ke dalam sana. Pria itu Meringis kala melihat benda kebanggaan para pria milik Arkhan, sedang dalam kondisi yang tak baik-baik saja.


Arkhan bahkan tak mengenakan bawahan sama sekali, hanya baju kaos lusuh di bagian atas nya. Padahal di dalam sana sudah tersedia baju ganti untuk pria itu, rupa nya pria itu tak mengurus diri nya dengan benar selama menjadi tahanan Ayank.


"Iyuuihhhh..! apa yang terjadi pada benda kerucut itu?" Jevon bergidik kala melihat lantai yang sudah tak layak lagi untuk di pijak di dalam sana. Ceceran cairan yang menetes dari benda pusaka itu membuat seluruh lantai kotor luar biasa. Arkhan sedang berusaha mencari spot ternyaman, hingga terus berpindah tempat duduk juga berbaring di sembarang tempat.


Itu kenapa baju nya begitu lusuh dan kotor.


"Jangan banyak tanya, berikan saja apa yang aku minta. Kalau perlu berikan aku pisau agar aku bisa menggorok leher ku sendiri. Aku lebih baik mati dari pada tersiksa begini." Ucap Arkhan lemah.


Jevon menatap iba, lalu bergegas menuju pos. Tak lama pria itu kembali membawa dua butir obat yang sudah di buka dari bungkus nya. Arkhan meraih dari celah kecil itu kemudian meneguk nya cepat tanpa bantuan air minum sama sekali.


"Terimakasih.." ucap Arkhan kembali berjalan tertatih menuju ranjang. Tanpa peduli jika Jevon menatap bokong te lan jang nya di belakang sana. Dengan langkah tertatih menahan rasa sakit, Arkhan duduk kemudian merebahkan tubuh nya secara perlahan.


Bukan spring bed empuk dan mewah. Hanya ranjang dari bahan kayu dan kasur busa cukup tebal sebagai alas nya.


Jevon masih berdiri tegak di depan pintu kamar Arkhan. Entah apa yang pria itu pikirkan. Melihat kondisi Arkhan membuat sudut hati nya tergugah iba. Ayank belum sama sekali berkunjung ke sana pasca kejadian kemarin. Wanita itu di ketahui sedang dalam masa pemulihan.


Sedangkan Antonio berhasil melarikan diri dengan membawa serta sang istri tercinta. Haura mengambil perhiasan milik Ayank dari brankas penyimpanan di markas. Kombinasi yang sengaja Ayank beritahu pada Haura, dia hanya ingin melihat sejauh mana wanita itu bisa menjaga kepercayaan nya.


Sayang sekali, kekuatan cinta buta lebih kuat dari kasih sayang nya. Kepercayaan Ayank hanya lah secuil di pandangan Haura.


"Semoga kau benar-benar menyesali perbuatan mu, nona kami bukan lah manusia kejam. Hukuman mu bahkan belum di mulai, tapi kau sudah menuai karma terlebih dulu. Selamat beristirahat, semoga pagi nanti kau sudah jauh lebih baik." Jevon memutar langkah untuk kembali ke pos jaga.


Obat yang di berikan oleh Jevon adalah obat tidur, juga sebutir anti nyeri sebagai penyerta agar pria itu bisa beristirahat sejenak dari rasa sakit yang dia rasakan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Gimana karma nya Arkhan? masih kurang greget atau kurang gula, terlalu manis? kasih micin sedikit, boleh🤭😁

__ADS_1


Lope lope kesayangan buna Qaya 🥰🤍🤍🥰


__ADS_2