
"Kalau kau masih terus mengikuti ku, aku akan berteriak dan mengatai mu penjahat. Sekarang pergilah, mumpung semua setan-setan masih jauh dari kepala ku!" usir Alicia kesal.
Revan mengekori nya sejak keluar dari gerbang kampus. Hari ini Alicia tidak membawa mobil nya, karena mobil jahanam itu tadi pagi mogok saat diri nya sedang dalam perjalanan menuju kampus.
Alhasil Alicia harus menumpang taksi hingga sampai ke kampus. Jika tidak mengingat jika diri nya harus mengikuti kelas dosen paling killer. Alicia sangat enggan untuk mengikuti kelas yang paling dia hindari tersebut.
Dan sekarang Alicia tengah menunggu taksi di seberang kampus, namun si tua bangka menurut versi Alicia terus saja mengekori nya bagai semut mengikuti jejak tetesan gula.
"Ikut dengan ku saja, aku akan mengantar mu hingga ke altar dengan selamat. Bagaimana?" ujar Revan memainkan kedua alis nya.
Alicia memuntahkan udara ketika mendengar kalimat yang menurut nya sangat lebay dan menjijikkan itu.
"Kau seperti nya terlalu banyak menelan amunisi, sehingga otakmu sedikit konslet pak tua. Pergilah, ssuhhh ssuhhhh!" Sekali lagi Alicia mengusir Revan namun pria itu menebalkan wajah nya, tak peduli pada tatapan orang-orang di sekitar mereka.
"Aku akan di sini saja, aku ingin lihat. Sopir taksi mana yang cukup nekat untuk membawa mu pergi bersama nya." Ujar Revan tersenyum licik.
Alicia merasakan aroma-aroma tak enak kala melihat seringai di bibir tebal Revan. Astaga! gadis itu langsung berfantasi liar ketika melihat bibir yang pernah dia rasakan dua tahun lalu.
Alicia menggeleng cepat untuk mengusir pikiran kotor nya. Bisa-bisa nya dia memikirkan sebuah ciuman panas bersama pria menyebalkan itu.
"Kenapa? kau sakit kepala? lapar? asam lambung mu naik? katakan padaku, sudah sampai mana dia. Aku akan menekan nya kembali masuk ke dalam lambung kecil mu menggunakan laras senjataku." Alicia terbeliak mendengar kalimat nyeleneh tersebut kemudian menginjak kaki Revan sekuat tenaga.
"Dasar pria tua gila!" geram Alicia marah dan kesal. Sementara Revan tertawa renyah Melihat reaksi Alicia. Dia sengaja memancing agar Alicia terus berbicara kepada nya. Tatapan orang-orang seolah diri nya tengah mengintai Alicia untuk menculiknya. Dengan Alicia berbicara kepada nya akan mematahkan persepsi tersebut.
"Ayolah, lihatlah tak ada yang mau memberikan mu tumpangan selain aku. Malaikat baik hati yang di kirim Tuhan untuk menjemput permaisuri nya. Ayo! jangan malu-malu. Aku akan melupakan penolakan mu tadi, aku anggap kita baru bertemu dan kau langsung setuju untuk ikut bersamaku." Bujuk Revan tak kehabisan akal. Pria itu begitu percaya diri saat mengatakan kalimat tersebut tanpa rasa malu.
Saat akan kembali menolak, rupa nya doa Revan di dengar kan oleh para malaikat maut. Tiba-tiba turun hujan lebat di sertai Guntur dan kilat. Revan tersenyum puas, sedangkan Alicia terlihat ketakutan.
Dengan terpaksa gadis itu akhir nya, mengikuti langkah Revan dengan terus memegangi ujung baju pria itu.
Sepanjang jalan Alicia mengomel tak jelas. Jika tau dengan ikut pria itu tetap membuat nya basah kuyup. Lebih baik diri nya tetap bertahan di halte tadi dari pada di guyur hujan sepanjang jalan.
__ADS_1
Revan pun menang banyak. Basah kuyup sudah biasa bagi nya. Bahkan bermandikan lumpur pun sudah pernah dia rasakan, ketika harus melakukan misi di perbatasan ketika masih bertugas sebagai seorang abdi negara.
Alicia memeluk nya sepanjang jalan karena kedinginan, dan takut dengan suara Guntur yang bersahutan di atas awan gelap sana.
Setiba di apartemen, Revan masih merangkul Alicia yang terlihat kedinginan. Sedikit menyesal, namun tak di pungkiri hati nya bahagia. Bisa membawa gadis itu kembali ke sana tanpa perlawanan.
Di tempat lain, Rean duduk di sebuah restoran persis di sudut menghadap jendela kaca besar.
Seorang wanita yang tengah duduk di seberang nya terus menunduk sejak pertama kali mereka tiba di sana.
"Berapa bulan?"
Pertanyaan yang berhasil membuat kepala sang wanita terangkat sempurna. Wajah yang sangat Rean rindukan.
"Tidak tau. Aku tak pernah memeriksa nya..." jawab sang wanita dengan nada lirih. Lalu kembali menunduk sembari meremat kedua tangan nya sendiri. Wanita itu terlihat berkeringat, meski pendingin udara di sana tidak sedang bermasalah.
"Kita akan memeriksa nya, aku ingin melihat perkembangan anak ku." Lagi-lagi si wanita kembali mengangkat wajah nya dengan cepat dan seolah tak percaya dengan pendengaran nya.
"Makan lah dulu, jangan terus menatap ku. Aku tau aku tampan dan kau pasti sangat merindukan wajah tampan ku ini, bukan?" ujar Rean penuh percaya diri. Dia tau malam itu Jumiati menatap wajah nya entah apa maksud nya.
Rean tidak lah benar-benar tidur, di balik cahaya remang lampu kamar hotel. Dapat dia lihat meski demikian mata menyipit, Jumi menatap nya dalam sembari menyeka kedua mata nya. Itu membuat hati nya sesak, hingga berpura-pura menggeliat lalu memeluk tubuh polos Jumi dengan erat.
"Percaya diri sekali" gumam Jumi menunduk lalu mulai melahap makanan nya. Dia memang belum sarapan. Niat hati akan membeli sarapan setelah selesai mengantar kan pakaian yang dia cuci di rumah nya.
Jumiati menerima jasa laundry skala rumah tangga. Pakaian ibu-ibu di komplek sekitar tempat tinggal nya. Bermodal mesin cuci bekas yang dia beli di pengepul besi tua.
Namun saat di perjalanan, dia justru berpapasan dengan Rean. Pria yang sangat dia hindari. Pria jahat yang telah merenggut satu-satunya masa depan yang dia miliki.
Sempat akan melarikan diri namun kalah cepat dengan reflek Rean yang gesit.
Rean bahkan memeluk nya dari belakang tanpa peduli tatapan warga yang kebetulan melintas. Rean dengan lantang mengatakan jika Jumiati adalah istri nya yang sedang kabur. Dan sekarang wanita itu dalam kondisi hamil muda, meski Rean tak tau pasti.
__ADS_1
Berbohong saja dulu, untuk menghindari gebukan warga. Benar tidak itu urusan kemudian.
Hingga tatapan aneh itu berubah menjadi tatapan iba. Berbagai nasehat memenuhi gendang telinga Jumiati. Membuat wanita kesal bukan main. Dan di sinilah mereka, duduk di sebuah restoran mewah hasil dari ulah Rean.
"Makan nya pelan-pelan saja, aku tak akan meminta nya." ucap Rean lembut, pria itu mengusap sudut bibir Jumiati yang terlihat belepotan.
Jumiati menepis pelan, dia tak suka di perlakukan semanis itu. Wanita itu takut baper, meski sekarang bibit-bibit kebaperan merasuki hati nya.
Gadis itu memesan steak daging juga nasi putih. Niat hati ingin mengerjai Rean malah pria itu menumpuk banyak makanan yang sangat sayang jika di habiskan.
"Makanan ini kebanyakan, aku boleh membungkus nya? mbok Sapna pasti akan sangat senang." Ujar Jumiati tersenyum menerawang. Wanita tua yang mau menampung nya dengan tulus ikhlas. Meski sempat di tolak oleh beberapa warga, karena menganggap kehadiran Jumiati adalah ancaman ketentraman rumah tangga mereka. Jumiati akan menjadi calon penggoda para suami yang sering melirik Jumiati diam-diam. Begitu lah pemikiran ibu-ibu yang sesempit lubang kunci kontrakan Jumiati.
"Boleh, tapi setelah ini kita ke rumah sakit dulu ya... makanan nya nanti aku tambah kan lagi, jangan khawatir." Jumiati mengangguk meski tak enak hati. Apa salah nya memanfaatkan pria itu sesekali, begitu lah pikir nya.
Terbersit ide licik di kepala nya untuk memanfaatkan Rean sepuas nya hari ini. Karena dia pikir tak akan bertemu dengan pria itu lagi. Rean mungkin tak meminta nya untuk melenyapkan bayi nya. Mana tau di kemudian hari, pria itu akan merebut sang anak dari nya.
Jumiati berpikir untuk kabur saja setelah pemeriksaan selesai. Semua rencana tersusun rapi, meski tak yakin akan tingkat keberhasilan nya.
πππππππππ
Slow update, othor sedang lelah hayati gengsπ€π
Oya, othor punya rekomendasi bacaan terbaru. Masih fresh baru di petik dari pohon nya, di jamin seger kaya es kepala gula merahππ
Istri soleh ya Salwa
Kenalan yuk sama Si centil, pecicilan tapi manis dan unyu, Jeslyn.
__ADS_1
Lope lope para kesayangan buna Qaya π€π€π€π€