
Ayank tersenyum simpul saat ikatan tangan nya di lepas. Pria bernama Toni tersebut ikut tersenyum pada nya. Ayank kemudian di bawa ke sebuah ruangan seperti sebuah kamar. Ada ranjang juga meja rias di sana serta perabot lain. Di dalam nya begitu banyak foto diri nya yang entah kapan pria itu ambil. Sebagian foto nya bahkan sudah di edit menjadi gambar tak senonoh oleh Arkhan.
Ayank tersenyum miris, pengaruh obat-obatan dalam tubuh pria itu telah merusak moral dan akal sehat nya. Arkhan berubah menjadi seorang monster yang menakutkan.
"Apa yang kau butuhkan nona?" tanya Toni setelah tiba di dalam kamar yang Arkhan perintah kan.
"Jika aku jadi kau, aku tak akan menanyakan pertanyaan konyol itu Sugeng." Pria itu mendengus kesal lalu merogoh sesuatu di balik baju di pinggang nya.
Sebuah belati lalu di serahkan pada Ayank.
"Pergilah, katakan pada yang lain aku sudah di bebaskan. Musnahkan gudang persenjataan mereka terlebih dahulu, baru bergerak masuk ke dalam markas. Aku harus membersihkan wajahku. Apa kau lihat benda kerucut kecil menyedihkan tadi? membuat mataku ternoda karena melihat nya. Ku harap kau memiliki yang lebih baik dari itu, kasihan Miska jika harus berusaha keras untuk membuat nya terbangun. Saka akan sulit untuk mempunyai adik nanti nya." Oceh Ayank menuju kamar mandi.
Jordy mendengus kesal mendengar kalimat frontal dari bibir mungil wanita datar itu.
"Miska bahkan selalu berteriak memanggil namaku memohon pengampunan setiap kali aku menghajar nya." Ketus Jordy tak terima. Ayank tertawa di balik pintu kamar mandi yang memang tak dia tutup sempurna. Toh dia hanya mencuci wajah nya saja. Ayank jijik mengingat saat Arkhan memukulkan benda kerucut kecil milik nya di kedua pipi nya.
"Maaf kan aku Al, aku kembali menggores harga diri mu dengan melihat milik pria lain. Bersabar lah hingga aku kembali, aku ingin mengakhiri semua ini terlebih dahulu sebelum memulai kehidupan baru bersama mu." Gumam Ayank lirih. Jordy yang hendak pamit terdiam mendengar kalimat samar tersebut.
Dia tau perjuangan Ayank tak lah mudah. Mengorbankan perasaan nya dengan memilih menjauhi Alex sang suami tercinta.
Jordy meletakkan pistol di meja rias, lalu keluar kamar. Pria itu berpapasan dengan seorang wanita bernama Lusi di muka pintu. Kedua nya saling menatap seolah saling memberikan kode. Lusi masuk dengan sebuah paper bag di tangan nya. Ayank yang baru keluar dari kamar mandi Tersenyum menatap gadis muda tersebut.
"Apa itu pakaian ganti untuk ku?" si gadis tersenyum lalu mengangguk pelan.
"Kau terlihat lebih kurus dari yang terakhir ku lihat. Bagaimana kabar putramu? kenapa kau jarang sekali berkunjung ke markas? apa kau sudah menikmati kehidupan yang lebih baik tanpa ku hmmm?"
"Aku sedikit sibuk mengurus tikus-tikus kecil, nona. Putraku sangat merindukan onty nya, tak sehari pun putraku tak mencarimu."
"Ah, keponakan ku yang malang. Maaf jika aku harus mengirim ayah nya ke neraka, aku tak punya pilihan lain. Pria itu sangat keras kepala dan sudah di luar batas kemanusiaan. Aku harap kau tak mengkhianati ku seperti ibu mertua mu."
Si wanita terdiam, ada perasaan tak rela namun tak bisa berbuat apa-apa. Gelengan tegas membuat sudut bibir Ayank terangkat sempurna.
__ADS_1
"Bersiaplah, Arkhan akan segera kemari. Ku rasa ini milik mu." Lusi memberikan pistol yang di tinggalkan oleh Jordy pada Ayank.
"Terimakasih. Keluarlah, orang-orang ku sedang menuju kemari. Bawa putra mu ke markas ku dan tunggu lah disana. Miska akan senang ada yang menemani nya selama suami nya ku pinjam sebentar." Kekeh Ayank membayangkan wajah sendu Miska setiap kali Jordy pamit pergi untuk melakukan misi nya.
Setelah semua ini berkahir, dia akan melepaskan semua tanggung jawab klan dari semua anak buahnya. Mereka berhak memilih kehidupan yang bebas tanpa masalah dan penuh bahaya seperti saat ini.
Dia harap Alex bersedia menemani nya untuk merawat klan yang di tinggalkan oleh mendiang kakek nya tersebut. Paman Lucas nya telah menua, tak mungkin mampu untuk memimpin klan tersebut.
Sementara para saudara nya memilih kehidupan yang lebih aman. Hanya Ayank lah yang bersedia memikul tanggung jawab klan tersebut kala sang kakek meminta di akhir hayat nya.
Sepeninggalan Lusi, Ayank menatap baju menerawang yang terlihat seperti jala ikan tersebut dengan tatapan entah. Lalu memakai nya kemudian mematutkan diri di hadapan cermin.
"Kau cantik, seperti harapan ibumu saat mengandung mu." Gumam Ayank menatap pantulan diri nya di balik kaca.
Klek
Pintu terbuka dan terlihat lah Arkhan masuk dengan tatapan lapar ke arah Ayank.
Pria itu melangkah tergesa lalu memeluk tubuh Ayank dalam balutan lingerie transparan tersebut.
Arkhan mengendus aroma anyir di ceruk leher Ayank namun tak mempedulikan nya. Dia sadar jika wanita itu tidak mandi dan langsung memakai baju dinas pemberian nya. Pikiran kotor nya merasa di atas awan, Ayank sudah tak sabar berbagi lenguh dengan nya hingga terburu-buru memakai baju tersebut tanpa sempat membersihkan diri.
"Katakan padaku Ar, sejauh mana klan mu beroperasi. Mungkin aku akan mempertimbangkan untuk bergabung bersama mu, jika jam terbang mu cukup mumpuni untuk membuat ku berpaling arah." Ucap Ayank di sela menahan rasa jijik karena Arkhan kini tengah menyesap leher nya dengan rakus.
Bukan tanpa alasan Ayank membiarkan pria itu menguasai diri nya.
Arkhan berhenti sejenak dari aktivitas nya, mata nya sayu berkabut gai rah.
"Klan ku sudah mencapai puncak kelas Mafia yang paling di segani. Ordo Mahika pun kini bekerja sama dengan klan ku, untuk menyalurkan senjata api ilegal juga obat-obatan terlarang. Kau tak akan rugi jika menggabungkan klan mu dengan ku, sayang. Kita akan menjadi pasangan mafia paling di segani dan di takuti di abad ini. Percayalah padaku..." bisik Arkhan di telinga Ayank.
Pria itu menjilati daun telinga Ayank tanpa rasa jijik. Padahal wanita itu sejak semalam berlumuran darah dan tak mandi Sama sekali.
__ADS_1
"Ah, baiklah. Lalu di mana markas Ordo Mahika, Ar. Aku tak ingin bergabung dengan klan yang tak memiliki markas yang jelas. Aku ingin melihat seberapa hebat ordo tersebut. Apakah sehebat nama nya atau hanya kabar burung belaka." Ayank memejamkan kedua matanya bukan karena menikmati permainan Arkhan.
Namun wanita itu menahan diri agar tak muntah, atas perlakuan menjijikkan yang Arkhan lakukan terhadap nya.
"Kita akan ke sana bersama setelah ini sayang, aku sudah tak sabar untuk menikmati tubuh indah mu ini." Jawab Arkhan menarik paksa lingerie tersebut hingga robek.
Ayank memejamkan mata nya semakin dalam, hatinya semakin di rundung rasa bersalah yang teramat sangat besar pada sang suami.
"Katakan dulu, setelah itu kita akan bermain sepuasmu. Aku tak suka di landa rasa penasaran, kau tau aku bukan wanita yang sabaran bukan?" Arkhan terpaksa mengatakan, karena sudah tak kuasa menahan gejolak yang membuat semua akal sehatnya lumpuh total.
Ayank tersenyum puas, tak lama suara pukulan terdengar begitu menyita perhatian nya. Ayank membuka kedua mata nya kemudian tersenyum tanpa dosa.
"Kau seperti nya sangat menikmati nya, menyesal aku kemari tergesa-gesa ternyata hanya untuk menyaksikan bagaimana istri ku di cumbui mesra oleh laki-laki lain." Ayank mengecup bibir Alex dengan senyum manis.
"Maaf, adikmu ternyata sangat lihai membuat seorang wanita melayang hingga menembus angkasa. Bahkan seorang tawanan seperti ku saja sangat menikmati nya." ucap Ayank mengerling pada Alex.
Alex mendengus kesal lalu menarik tengkuk wanita itu. Ciuman pertama yang mereka lakukan meski di tempat yang tak seharus nya.
"Kau harus membayar mahal karena telah membiarkan pria lain menikmati tubuh mu ini." Ucap Alex mengusap bibir Ayank yang terlihat membengkak. Dengan sudut bibir yang pecah dan masih terlihat jejak darah mengalir di sana.
Hati nya meringis miris, Ayank melakukan banyak pengorbanan yang tak mudah untuk membuat anak-anak bangsa ini terbebas dari jerat narkoba.
"Maaf tak lekas datang membantu mu, kau tau aku pria lemah dan lemot. Sekarang aku tak akan meninggalkan mu atau mau kau tinggalkan lagi. Apapun yang terjadi, kita akan tetap bersama menghadapi nya. Berjanji lah untuk tak menghilang lagi dari kehidupan pria menyedihkan ini." Ayank mengangguk lalu mengecup bibir Alex penuh perasaan.
"Aku berjanji, sekarang ayo bantu istri ini untuk membasmi hama-hama kecil di luar sana." Alex mengangguk lalu kedua nya keluar dari kamar tersebut. Dua orang masuk untuk meringus Arkhan, kedua nya sudah akan masuk namun urung kala melihat sang bos tengah bertukar ludah dengan suami nya.
"Bawa ke markas, dan ya, perlakuan ibu mertua ku dengan baik. Bagaimana pun dia seorang wanita dan ibu.", Ucap Ayank sebelum pergi, Alex hanya tersenyum simpul agar Ayank tak merasa bersalah pada nya.
flashback
TBC
__ADS_1
Silahkan lanjutkan di bab berikutnya guys,ðŸ¤ðŸ¤—