
Revan tak menyangka, jika menaklukkan hati keras Alicia sangat lah sulit. Dua bulan usahanya namun tak sama sekali membuahkan hasil yang memuaskan hati.
Alicia masih sulit untuk di pahami. Gadis itu kerap kali menghindari nya tanpa alasan yang jelas. Revan sedikit frustasi, masalah di markas banyak menyita waktu nya. Sementara Jordy sedikit sibuk dengan keluarga kecil nya.
Sang bos? jangan lagi di tanya. Wanita itu sibuk menempeli suami nya ke manapun pria itu pergi. Terutama jika Alex akan melakukan pertemuan dengan klien berjenis kelamin betina.
Ayank menjadi sangat posesif semenjak hamil. Namun Alex justru senang bukan kepalang. Para pria di organisasi menatap miris pria bucin tersebut dengan raut sedih.
Tak ada suami yang menyukai istri posesif, namun Alex justru mengucapkan syukur untuk itu.
Kembali pada Revan yang tengah melakukan misi yang seharusnya di lakukan oleh Jordy. Pria itu tengah duduk di kursi depan meja panjang sang bartender. Seorang pria memberikan nya secarik kertas di bawah gelas minuman nya.
Tak lama setelah membacanya, Revan lekas menghabiskan minuman nya dengan sekali teguk.
Pria itu mulai menyusuri lorong VIP club tersebut. Menuju ke ruangan di mana target nya berada. Setiba di depan ruangan yang di maksud, Revan mulai mengeluarkan senjata nya dari balik pinggang.
Saat masuk, Revan membrondong tembakan pada dua orang penjaga di dekat pintu masuk ruangan itu. Kericuhan terjadi kala para wanita yang melayani para pria itu menjerit histeris dan mulai berlari tak tentu arah.
Revan bersembunyi di balik sofa panjang, sembari mengisi amunisi nya. Malam itu akan terasa panjang bagi nya yang melakukan operasi penyerangan seorang diri.
Setelah tak lagi mendengar suara tembakan, Revan mulai keluar perlahan. Sayang pergerakan nya ternyata sudah di intai sejak tadi. Revan hampir kewalahan mendapati diri nya di keroyok peluru tanpa jeda.
Perut kiri nya terasa memanas, darah segar mengucur deras dari sana. Namun Revan masih bisa bertahan, dengan sisa tenaganya. Revan membalas tembakan setelah memperhitungkan posisi arah serangan yang dia dapat kan.
Setelah berhasil menumbangkan tiga orang, Revan kembali mengisi amunisi nya. Namun rasa nyeri di perut nya sangat luar biasa.
Revan mengumpat kesal pada rekan-rekan nya yang bisa di pastikan, sekarang tengah menikmati indahnya puncak surga. Sedangkan diri nya tengah berpesta dengan para iblis neraka.
"Brengsek! akan aku balas kalian!" umpat nya kesal.
"Astaga! kenapa aku bisa senekat ini? dasar bo doh!" kekeh Revan di sela menahan rasa sakit yang semakin membuat nya melemah.
Saat kembali mengarahkan tembakan, Revan kembali tertembak di lengan kanan nya.
"Auww! brengsek! apa kalian tak bisa menembak ke bagian lain. Bagaimana bisa aku makan jika tangan kananku terluka. Aku ini pria jomblo, siapa yang akan menyuapi ku makan jika aku cacat. Bajingan Sialan!" Revan kembali mengumpat marah dengan kalimat ngaur.
Namun tak lama, terdengar suara tembakan dari jarak yang semakin dekat. Revan tersenyum karena mengira para teman-teman laknat nya lah yang menolong nya.
"Aku tau kalian pasti tak akan rela kehilangan ku." Ucap Revan penuh percaya diri.
"Merunduklah! jangan membuat pekerjaan ku semakin sulit karena harus membopong mayat mu keluar dari sini." Perintah seorang wanita dengan nada tak enak di dengar.
__ADS_1
Revan mematung, menatap tak percaya pada gadis yang kini tengah baku tembak tengah berjongkok di samping nya.
"Kau? bagaimana bisa?" ucap Revan dengan nada tak percaya. Melihat kemahiran wanita itu dalam menembak lawan, Revan yakin jika itu adalah sebuah keahlian yang telah terasah dengan baik oleh waktu.
"Mereka terlalu banyak. Berapa amunisi mu yang tersisa?" Namun Revan tak menjawab.
"Hei! kau masih mau keluar dari sini hidup-hidup atau tidak?!" bisik wanita itu gemas melihat Revan yang malah mematung menatap nya tak berkedip.
"Eh? ah ya, masih ada dua lagi. Aku tak menyangka mereka ada dalam jumlah yang tak terhingga." Jawab Revan tergagap.
"Ck! bagaimana bisa seorang mafia tak memiliki insting yang baik. Ikuti aku, kau terluka parah. Kau bisa saja mati kehabisan darah di sini jika kita terus meladeni tembakan mereka. Dalam hitungan ketiga, kita akan keluar melalui pintu kaca yang pecah itu. Usahakan kau tak terluka lagi. Ikuti aba-aba ku, kau mengerti?" Revan hanya bisa mengangguk.
Entah kenapa otak nya mendadak bleng. Bahkan dia tak sadar jika ruangan itu sudah tak berbentuk lagi.
Setelah melempar kan gas air mata, wanita itu membawa Revan dengan cara menopang tubuh kekar Revan di tubuh kecil nya. Cukup berat namun dia tak punya waktu untuk protes tentang berat badan pria itu.
Kedua nya berhasil keluar meski masih di berondong tembakan tak tentu arah.
Akibat ruangan yang berkabut tebal, membuat lawan kesulitan untuk melihat arah depan benar.
Setiba di sudut jalan, wanita itu menaiki motor besar kesayangan nya. Dengan Revan yang susah payah untuk naik karena luka nya semakin sakit.
"Diamlah! kau membuat ku tak konsentrasi. Apa kau mau kita masuk berita di buletin pagi? karena mati konyol menabrak truk." Revan terdiam.
Tak menyangka jika wanita itu lebih galak dari nya.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Ayank terlihat gelisah. Revan tak bisa di hubungi sama sekali. Sementara club malam sudah di penuhi para aparat kepolisian. Tak mungkin dia bisa masuk ke sana apalagi dalam kondisi nya yang sedang hamil muda.
"Tenanglah sayang, Revan tau apa yang harus dia lakukan. Jordy sudah ke sana bersama Heri. Duduklah, kasihan twin akan ikut stress jika kau terlalu cemas." Ujar Alex lembut.
Menghadapi mood istri nya yang sedang tak baik, butuh kesabaran ekstra.
"Aku tak bisa kehilangan salah satu dari mereka sayang. Kau tau betapa berartinya anak buahku. Mereka sudah seperti saudara untuk ku." Ujar Ayank dengan nada penuh kecemasan.
laptop yang di gunakan untuk mendeteksi keberadaan anak buah nya, tak menangkap sinyal kehidupan tentang Revan.
Drrttt drrttt
"Ya, katakan sesuatu yang baik, aku tak mau tau."
__ADS_1
Jordy terdiam, entah apa yang harus dia katakan.
"Jordy!" Jordy tersentak begitu pun Alex.
"Aku menemukan gelang Revan terjatuh di belakang Sofa di mana terjadi nya penembakan. Banyak darah berceceran, itu artinya Revan terluka cukup parah. Aku juga menemukan..."
"Cukup! jika itu hal yang buruk, jangan katakan apapun lagi." Potong Ayank cepat. Dia tak sanggup mendengar hal buruk mengenai kondisi Revan.
Jordy menghela nafas berat, dia menemukan chip dari lengan Revan tergelak tak jauh dari sana. Arti nya pria itu juga tertembak di lengan nya selain entah di mana. Yang telah mengeluarkan darah sebanyak itu.
Sambungan telepon terputus, Jordy menghampiri seorang kepala polisi di sudut ruangan.
"Kau menemukan sesuatu, Swan?"
"Aku hanya menemukan para mayat. Sayang mereka tak bisa ku interogasi atau sekedar menghabiskan sisa minuman mahal ini." Kekeh Swan bercanda di saat tak tepat.
Jordy melirik ke salah satu pria yang terlihat masih bernafas meski sangat lemah.
"Anak buah mu sudah memeriksa nya?".
"Seperti biasa, mereka bagian mu. Aku sudah menyiapkan ambulan lain, khusus untuk mengangkut nya ke kastil mu yang indah." Ujar si kepala polisi kembali bercanda. Dia harus melakukan nya agar terlihat natural.
Dua orang pria yang menggunakan pakaian medis mulai mengangkat tubuh pria tersebut ke atas tandu.
"Aku ingin kehadiran teman ku disini tak pernah di ketahui seperti biasa nya. Aku rasa kita sudah bersepakat. Aku harus kembali pulang. Kejadian ini membuat percintaan panas ku terpaksa harus tertunda. Dasar para bajingan sialan!" umpat Jordy melempar puntung rokok nya secara sembarangan.
Kepala polisi berdecih kesal.
"Lalu kau pikir aku ini pria single? aku juga punya istri yang seksi di rumah. Aku bahkan baru saja melakukan pemanasan, panggilan laknat membuat ku berada di sini di jam-jam yang tak tepat." Kesal Swan jengkel.
Jordy terkekeh sembari menepuk bahu rekan seperjuangan nya di perbatasan dulu. Kemudian pamit untuk menyusul ke markas. Mereka akan di sibukkan dengan satu tawanan lagi malam ini. Dan itu bagian yang tak dia sukai.
"Kenapa mereka harus memilih menjadi seorang gembong narkoba, padahal menjadi tukang cilok pun cukup menjanjikan. Dasar tikus got bo doh! menambah pekerjaan saja." Kesal Jordy mulai mengemudi kan mobil nya dengan rasa lelah.
Lelah karena gagal menuntaskan hasrat nya, juga rasa khawatir akan keberadaan Revan yang tak bisa mereka lacak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Semoga kehaluan ini tidak membuat kalian bosan guys.
Lope lope Poko nya para kesayangan buna Qaya 🥰🤍🤍🥰
__ADS_1