Just A Momen _Istri Tangguh

Just A Momen _Istri Tangguh
Sepenggal kisah si anak rantau sederhana


__ADS_3

POV Zian


Malam ini adalah malam paling sial. Bagaimana tidak, saat kami merayakan ulang tahun salah seorang sahabat. Satu temanku malah mabuk berat. Alhasil pesta yang seharusnya menyenangkan, berbalik layaknya bencana untuk ku.


Roky, pria laknat itu meracau sepanjang pesta dan terus mengganggu para wanita di sana dengan kedua tangan jahiliah nya. Lalu aku terpaksa mengantarnya pulang meski masih belum ingin pergi. Menikmati pemandangan gunung Himalaya yang bergelantungan seperti melon jepang, adalah bagian kesukaan ku.


Sepanjang jalan, Roky terus mengatakan hal-hal tak jelas kemudian tertawa sendiri. Aku baru sadar, di balik tawa nya pria itu mengeluarkan air mata.


Beberapa kalimat mengarah pada sebuah konflik rumit keluarga. Kau tak terlalu menanggapi nya, karena ku pikir itu berada di luar ranah ku sebagai seorang teman.


Ku antar dia hingga gang apartemen nya. Dan kami terpaksa berjalan kaki karena gang yang cukup sempit. Aku merangkul nya agar tetap berjalan seimbang denganku.


Saat tiba di depan pintu apartemen nya, pria sialan itu malah memuntahi baju ku. Sungguh sial. Ingin sekali aku meninggalkan nya begitu saja, namun itu bukan sikap seorang sahabat yang baik. Terutama kondisi nya tidak dalam keadaan baik-baik saja.


Meski kesal, aku membawanya masuk lalu mulai membersihkan pria brengsek itu sebelum akhir nya meninggalkan nya di ranjang yang nyaman.


Bagaimana dengan ku? aku masih dalam keadaan kotor dengan bau menyengat. Aku sampai mual mencium aroma tubuh ku sendiri. Sungguh menjijikkan.


Saat baru saja menyebrang dari apartemen Roky, seorang gadis kecil menabrak ku. Aku yang masih kesal berteriak marah padanya.


Ku lihat ekspresi ketakutan di wajah nya yang sangat kurus. Tulang pipi yang menonjol dengan luka lebam seperti bekas tamparan telapak tangan orang dewasa. Sejenak aku berpikir gadis itu anak jalanan, karena baju nya yang lusuh.


Namun saat aku mulai mencecar nya dengan pertanyaan, suara serak di balik ketakutan nya terdengar begitu indah di telinga ku. Aku mulai berpikir jika mungkin saja aku sedang mabuk berat. Sehingga melihat gadis kecil itu, membuat ku tiba-tiba merasakan debaran sialan yang tak dapat di jelaskan.


Sungguh jangan pernah mengkonsumsi alkohol jika ingin otakmu tetap waras.


Aku membawanya ke apartemen ku, keputusan paling gila yang pernah aku lakukan. Entah apa yang akan aku lakukan untuk menolong nya, aku masih belum memikirkan nya sedikit pun.


Setiba di apartemen, ku perintah kan dia untuk mandi. Melihat tubuh kurus nya yang penuh peluh dan rambut nya yang sedikit basah karena keringat. membuat nilai pandang ku semakin gila. Gadis kecil itu terlihat begitu menggoda. Sungguh aku mulai gila.


Ku putuskan untuk membuat kan nya makan malam di jam 2 dini hari. Jam makan malam yang tak biasa.


Hal yang paling menggelitik hati ku adalah pakaian yang dia kenakan. Itu adalah baju kaos ku juga celana kolor dengan tali. Gadis kecil itu mengikat nya dengan kencang agar tak jatuh melorot.


Ku minta dia tidur di kamar ku, namun gadis itu malah menolak. Ku ancam akan melempar nya dari jendela apartemen ku, hingga akhirnya dia berlari ketakutan menuju kamar.

__ADS_1


Aku tersenyum samar. Ada perasaan hangat melihat wajah teduh polos itu. Aku mulai benar-benar berpikir jika aku sudah mulai tak waras. Sebelum akhir nya aku memutuskan untuk berusaha memejamkan kedua mata ku, agar aku tak berkahir menjadi seorang pedofil.


Perihal gadis itu akan aku pikirkan saat pagi nanti saja. Aku akan meminta pendapat kakak ku yang paling cantik sejagat raya ini. Wanita hebat itu pasti tau apa yang harus di lakukan untuk hal-hal remeh seperti ini.


Di benua ini aku hanyalah anak rantau, menuntut ilmu nyambi sedikit cuci mata dengan segala pemandangan indah yang tersuguh tanpa aku minta. Namun aku tetap lah laki-laki bersih, meski terkenal sebagai seorang Casanova. Itu adalah julukan yang di berikan oleh teman-temanku. Padahal aku hanya pria malang yang beruntung, karena di sukai oleh kaum hawa tanpa repot-repot menebar pesona.


Ketampanan ku yang di atas rata-rata memang tak dapat aku pungkiri. Belum lagi latar belakang keluarga ku yang kaya raya. Begitu lah menurut pandangan mereka. Padahal aku merasa biasa-biasa saja. Hanya black card dan sebuah mobil sport keluaran terbaru, serta penthouse sederhana di lantai tertinggi gedung apartemen mewah.


Mungkin terdengar sombong, tapi begitu lah kenyataan nya. Pamanku memberikan semua fasilitas itu agar aku betah berada jauh dari kedua orang tua ku.


Sebelum benar-benar mengistirahatkan otak liarku, aku hanya berharap usia gadis itu sudah 10 atau 11 tahun. Agar aku tak terlalu terlihat tua dan mati kekeringan karena menunggu terlalu lama.


POV end


Zian terbangun dan sadar jika dia telah melewatkan pagi yang penting hari ini. Dia ada jadwal kuliah pagi, dan sialnya dosen paling killer lah yang akan mengisi materi kuliah nya hari ini selama dua jam penuh.


Zian berlari menuju kamar untuk berganti pakaian, namun sesaat akan masuk dia sadar jika ada tamu tak di undang sedang menghuni kamar tersebut. Zian memilih menggunakan kamar mandi yang berada di dapur.


Namun saat menuju dapur, terlihat tubuh kecil sedang berkutat di dapur milik Zian. Dengan menggunakan bantuan kursi, gadis itu memasak yang entah apa. Terlihat cekatan untuk anak seusianya.


Bisa Zian tebak, jika gadis kecil itu pasti sudah lah terbiasa melakukan hal tersebut.


Zian menarik satu kursi lalu duduk menghadap meja dapur, di mana si gadis kecil terlihat memotong kentang.


"Maaf tuan, aku lancang menggunakan dapur mu. Aku akan membersihkan nya nanti setelah semua selesai." Ucap si gadis Terlihat sedikit ketakutan.


Tangannya terlihat bergerak gelisah sembari memegang pisau, sontak membuat Zian sedikit waspada.


"Tak apa. Masaklah jika kau memang bisa, asal jangan membakar dapur ku. Kau tak akan sanggup membayar ganti rugi apartemen sederhana ku ini." Ucap Zian datar. Terselip senyum jahat di sudut bibir nya hampir tak terlihat.


Meninggalkan Zian dengan rencana liciknya pada si gadis kecil. Rean tengah membuat kan segelas susu coklat hamil untuk Jumiati. Sudah dua bulan ini, Jumiati tinggal di apartemen nya. Sesekali mbok Sapna mengunjungi nya tentu saja di jemput oleh Rean. Dia tak ingin Jumiati kesepian kala diri nya tak bisa pulang untuk makan siang.


Dia memiliki pekerjaan yang kadang membuat nya harus mangkir menemani wanita hamil itu sekedar makan siang.


Jumiati mau tinggal bersama nya setelah bujuk rayu, yang berujung Rean mengancam akan mengeluarkan bayi dari perut wanita itu jika Jumiati tak menurut.

__ADS_1


Jumiati akhirnya menerima tawaran Rean dengan catatan pria itu tak lagi menyentuh nya. Tentu saja Rean setuju, meski harus menahan gejolak kala melihat tubuh Jumiati yang semakin semok menggoda mata.


"Duduk dulu, minum susu mu. Sini aku lanjutkan..." titah Rean tak terbantahkan. Jumiati sedikit terbiasa dengan sikap Rean yang kadang tak terduga. Pria itu bisa sangat perhatian dan bersikap lembut, namun terkadang bisa bersikap datar dan dingin. Seperti saat ini.


Jumiati tak masalah. yang penting Rean menepati janjinya. Yang dia tau pria itu bekerja sebagai sales perusahaan medis. Rean memang tak jujur soal pekerjaan nya, dia ingin melihat bagaimana cara pandang Jumiati terhadap nya.


Ya, wanita itu bahkan tak peduli soal pekerjaan nya. Bahkan sekedar menanyakan sesuatu tentang diri nya pun tidak. Sungguh miris.


"Susu nya hari ini manis sekali, berapa sendok?" tanya Jumiati yang sedikit mulai bisa mengobrol ringan dengan Rean.


"Eh masa? coba sini." ucap pria itu langsung meraih gelas susu Jumiati. Tanpa ba bi bu, Rean meminum sedikit di bekas bibir Jumiati. Itu karena terlihat bekas lipstik merah muda di sana. Lipstik yang Rean belikan tempo hari ketika mereka sedang berbelanja ke minimarket. Entah setan apa yang merasuki nya, sehingga memutuskan untuk membeli lipstik tersebut diam-diam.


"Ya, manis. Pake banget, persis seperti yang punya susu nya." Ucap Rean bercanda. Jumiati tersipu, belakangan diri nya sering mengalami penyakit jantung dadakan karena pria itu. Jumiati mulai merasakan gejala-gejala penyakit yang di sebut, baper.


Perhatian Rean pada nya kadang membuat nya lupa daratan. Namun tersadar kembali kala melihat perahunya hampir karam di seperempat lautan.


"Sini, balikin!" ketus Jumiati dengan nada jutek. Rean terkekeh kecil kemudian menjawil hidung pesek wanita itu. Wanita yang semakin hari semakin dia sayangi.


"Ini sudah mendidih, mau di apakan lagi?" tanya Rean saat melihat sup ayam yang menggurak dalam panci stainless.


"Matiin, biar aja dulu tar aku pindah kan ke wadah. Mending mandi saja dulu, mau berangkat kerja, kan?" Rean mengangguk kecil kemudian pamit ke kamar.


Sungguh suasana pagi yang sangat Rean dambakan. Rasa nya seperti memiliki keluarga kecil yang sempurna. Rean berharap Jumiati mau menerima nya kelak sebagai pria yang di cintai, bukan karena terpaksa oleh tekanan keadaan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sedikit informasi, Zian anak ke lika Rick dan Ana ya guys.


Kenalan sama Livy sama Aldrick Yuk



Sama dua tokoh yang Wow! Naina sama Ningsih


__ADS_1


Lope lope para kesayangan buna Qaya, maaf karena sedikit lemot beberapa hari ini😁🤍🤍🤍


Kehidupan nyata ternyata tak bisa di ajak berkompromi dengan waktu yang ada🙏🤗


__ADS_2