
"Mampir lah barang sebentar saja, kenapa susah sekali menuruti permintaan kecilku." Gerutu Ayank saat menurunkan tas ransel nya dari jok tengah. Wanita itu berdumel kesal saat Alex lagi-lagi menolak untuk mampir ke markas nya.
Alex tersenyum simpul lalu entah keberanian dari mana, pria itu memeluk tubuh mungil Ayank dari belakang. Kemudian menaruh dagu nya di pundak kecil namun kokoh milik Ayank.
"Aku takut kehadiran ku akan menggangu, mengingat kau pasti sangat sibuk setelah masuk ke dalam sana. Bukankah kau seorang bos mafia? aku yakin jam terbang mu tak main-main. Mungkin lain kali aku akan mampir, atau bahkan tinggal. Tentu saja setelah aku mampu membelikan mu rumah sederhana satu lantai dengan taman kecil di belakang nya. Agar ketika aku pulang bekerja, aku bisa mencari mu di sana. Menunggu ku dengan secangkir teh hangat dan sepiring cake kesukaan ku. Bolehkah aku berharap sejauh itu meski sekarang aku hanya lah seorang kuli bangunan?"
Hati Ayank tersentuh dan menghangat.
Wanita itu berbalik lalu menatap Alex dengan senyum manis nya.
"Tentu saja, kenapa harus menunggu nanti jika kau bisa tinggal sekarang?" ucap Ayank ambigu.
Alis Alex menyatu mendengar kalimat syarat makna tersebut.
"Aku tak ingin kepala ku di lubangi oleh anak buah mu, jika berani tinggal. Aku tak ingin mati dalam keadaan perjaka, dan belum sempat memiliki keturunan bersamamu." Bisik Alex di akhir kalimat nya.
"Dasar mesum!" ketus Ayank mencubit perut kurus Alex membuat pria itu Meringis kesakitan. Ayank lekas menarik naik kemeja Alex tanpa permisi. Betapa terkejut nya Ayank saat melihat luka memar juga perban menempel di perut kiri pria itu.
"Kau?! bagaimana bisa kau menahan nya sejak tadi! apa kau masih waras!?" teriak Ayank menangis, ini kali pertama nya wanita itu menangis untuk seorang pria. Saat di lukai hati nya, pertahanan nya masih kokoh. Namun melihat kondisi Alex yang begitu menyedihkan, rupa nya mampu meruntuhkan dinding pertahanan wanita itu.
"Hei aku tak apa, ini sebenarnya sudah mulai membaik. Aku masih memakai nya agar tak tergesek oleh baju kerjaku saja. Karena pekerjaan ku penuh dengan gerakan fisik, jadi sedikit mengganggu jika ku biarkan terbuka. Sungguh aku tak apa-apa." Jelas Alex menenangkan Ayank.
Di peluk nya wanita itu dengan erat tanpa peduli rasa nyeri di perut nya sendiri. Berkali-kali Alex mencium pucuk kepala Ayank agar wanita itu kembali tenang.
__ADS_1
"Ayo masuk, kita lihat seberapa parah luka mu." Putus Ayank setelah berhasil meredam sisi emosional nya.
Alex mau tak mau mengiyakan, meski khawatir kehadiran nya akan mendapatkan sambutan tak sesuai harapan. Benar saja, baru akan menapaki anak tangga pertama menuju teras. Tatapan para pria kekar itu langsung menyapa nya dengan sengit.
"Awas bola mata mu keluar, Heri." Ujar Ayank pada salah seorang anak buah nya tanpa menoleh.
Heri berdehem salah tingkah.
"Apa ada barang yang masih tertinggal di mobil bos?" tanya Heri berusaha mencari perhatian sang bos.
"Ah ada, ada boks berisi makanan. Tolong bawa masuk, letakkan di dapur." Titah Ayank menatap sejenak pada Heri. Pria itu mengangguk paham lalu berjalan cepat menuju mobil Ayank.
Sementara Ayank membawa Alex menuju kamar nya, bukan nya apa-apa. Dia hanya ingin memeriksa luka Alex yang menurut penglihatan nya sebagai seorang dokter bedah. Luka pria itu terlihat mengalami infeksi. Di lihat dari memar di sekitar luka yang seharusnya sudah tak lagi membekas di sana.
"Luka ku sudah sembuh Ay" ujar Alex masih ngotot. Dia tak ingin Ayank memeriksa luka nya karena memang luka nya sedikit bernanah. Kurang nya perawatan karena tuntutan pekerjaan, Alex juga tak memakan antibiotik sama sekali. Hanya anti nyeri yang dia beli di warung.
"Lakukan saja Al, atau aku akan Melakukan nya dengan cara ku. Kau bisa pilih, ku bedah luka mu dalam keadaan sadar. Atau kita bisa melakukan nya dengan prosedur yang benar." Ancam wanita itu berdiri tepat di hadapan Alex yang masih bergeming. Pria itu masih enggan menuruti perintah Ayank, namun mendengar ancaman sadis wanita itu, akhir nya Alex pun menuruti nya.
Setelah membuka perban yang di tempel asal oleh Alex, Ayank menghela nafas panjang. Luka Alex mengeluarkan nanah dengan sedikit darah yang menempel di perban tersebut. Alex menambalnya dengan menggunakan tisu kain yang dia lipat di balik perban.
"Harus nya kau ke rumah sakit, Al. " Ujar Ayank lirih. Kedua tangan nya telaten membersihkan luka Alex tanpa rasa jijik. Selain memang tugas nya sebagai seorang dokter, Ayank melakukan nya karena perasaan nya.
"Aku tak punya cukup uang, Ay. Aku baru bekerja, untuk mendapatkan pinjaman sangat sulit. Aku sudah mencoba nya, tapi mandorku menolak. Lagi pula aku sudah memakan obat warung, kurasa sama saja. Luka ku juga ku rawat setiap hari. Mungkin karena aku terus bekerja tanpa istirahat yang cukup jadi sulit untuk sembuh." Ujar Alex sedikit malu. Malu karena merasa telah kembali merepotkan wanita itu lagi. Terlebih saat dalam keadaan yang menjijikkan seperti sekarang.
__ADS_1
"Kenapa tak menghubungi ku? apa aku sudah tak lagi berarti untuk mu? hingga kau sulit sekali berbagi padaku. Kenapa kau tak mencari Miska saja untuk merawatmu jika kau masih menginginkan nya." Kini pembahasan mereka mulai berat bagi Alex yang sedang sangat kesakitan.
"Bukan begitu Ay, aku hanya tak ingin terus menyusahkan mu. Aku juga tak ingin wanita lain, hanya kau yang aku inginkan. Tolong jangan membuat ku terus mengingat semua dosa ku di masa lalu. Ijinkan aku keluar dari lingkaran semar hitam itu walau tak mampu menghapus nya." Lirih Alex kini mulai mellow.
Rasa sakit rupa nya mulai menguasai perasaan sensitif nya.
Ayank sadar telah menyentil sisi sensitif seorang Alex.
"Maafkan aku, aku tak bermaksud. Aku hanya tak suka kau selalu memendam segala nya seorang diri. Aku di sini Al, aku masih Ayank yang dulu. Hanya saja ...." Ayank tak melanjutkan kalimat nya. Wanita menarik benang lalu memotong nya menggunakan gunting. Sejak tadi Alex tak sadar jika luka nya telah di jahit oleh wanita itu. Diri nya sibuk dengan kecamuk pikiran nya di tambah rasa sakit yang mendera.
"Selesai!" Ayank membersihkan alat medis yang dia gunakan lalu memasukkan kembali ke dalam mesin steril.
"Terimakasih.." ucap Alex pelan. Tenaga terkuras untuk menahan rasa nikmat di perut kiri nya. Ayank memencet cukup kuat untuk mengeluarkan nanah di sana.
Ayank kembali membawa dua spuit berisi cairan injeksi. Lalu memasukkan nya melalui lengan Alex.
"Istirahat lah, aku akan menjaga mu di sini." Ujar Ayank merasa bersalah. Kata-kata nya telah membuat jiwa insecure Alex semakin menjadi, meski dia sama sekali tak bermaksud untuk mengatakan nya.
Alex bergumam tak jelas hingga akhir terlelap. Ayank sengaja tak memberikan obat bius saat membersihkan luka Alex. Karena dia ingin memberikan pria itu dosis obat tidur, juga antibiotik serta anti nyeri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa di jejakin yah readers ku yang baik hati🙏🤗
__ADS_1
Lope lope sekebon buat kalian semua 🤍🤍🤍🤍