
Terlalu asyik bermain dengan anak-anak nya, Alex sampai tak menyadari jika dia sudah meninggal kan sang istri lebih dari dua jam lamanya. Tak ada pula yang menghubungi nya, padahal pria itu membawa ponselnya serta.
Ketika Alex kembali, betapa terkejut nya Pria itu. Saat mendapati ranjang sang istri telah kosong tak berpenghuni.
Dengan panik Alex memeriksa kamar mandi, lalu memencet tombol panggilan darurat.
Saat akan berlari keluar, pintu yang tadi belum tertutup rapat terbuka semakin lebar. Alex mengehentikan langkahnya kala melihat seorang wanita tengah duduk di atas kursi roda.
Air mata Alex mengalir bagai anak sungai. Terharu melihat pemandangan yang ada di hadapan nya itu.
"Kau bangun sayang? kenapa tak ada yang mengabariku? sejak kapan kau terbangun?" Alex mencecar sang istri dengan pertanyaan bertubi-tubi.
"Lex, biarkan istri mu masuk dahulu." Tegur Rick yang setia memegangi pegangan kursi roda. Alex tersadar jika mereka sedang berada di posisi pintu masuk.
"Biar aku menggendong istri ku yah." Pinta Alex sopan, Rick pun mengangguk.
Alex mengecup pucuk kepala istri nya sesaat akan menggendong istri nya itu.
"Kenapa kau jahat sekali? kau tau, bukan? jika suamimu ini sangat takut kau tinggalkan." Rajuk Alex mengomel.
"Istrimu bahkan baru bangun dan kau sudah membrondong nya dengan banyak pertanyaan." Kesal Rean dengan nada galak.
"Aku tak bicara dengan wanita mu, kenapa kau yang sewot!" balas Alex tak kalah kesal. Ayank hanya bisa menggeleng pelan.
"Sudahlah kalian berdua. Maaf kan aku sayang, ketika kau akan pergi sebenar nya aku sudah terbangun. Hanya saja kekuatan ku masih belum mampu untuk berbicara atau mengerakkan tubuh ku sendiri. Untung calon kakak ipar ku cukup peka, dia yang pertama kali heboh dengan menjerit histeris yang hampir saja membuat jantung ku kolep." Ujar Ayank bercerita sembari tertawa kecil.
Sedangkan Jumiati meringis malu. Dia sangat senang kala melihat jemari tangan Ayank bergerak. Hingga tak sadar jika teriakan nya bisa saja membuat si pasien kembali koma akibat terkejut.
Rean merengkuh tubuh bulat Jumiati. Dia tau wanita itu pasti malu mengingat tindakan reflek nya tadi.
__ADS_1
"Tak apa sayang, terimakasih sudah peka terhadap reaksi adikku. Kau memang calon istri dan ibu yang hebat. Aku bangga dan pasti nya bahagia bisa memiliki mu." Ucap Rean sedikit berbisik.
Wajah Jumiati bersemu saat mendengar kalimat pujian dari mulut Rean. Pria yang sudah menguasai seluruh hatinya itu.
Kembali pada Alex dengan segala rasa bahagia yang membuncah dalam hatinya. Pria itu terlihat lebih cerah dari pada sebelumnya.
"Terimakasih sudah kembali sayang. Aku baru saja bermain dengan twin. Mereka sangat sehat dan merindukan mu. Aku akan meminta perawat untuk membawa anak-anak kita kemari." Ujar Alex bersemangat. Senyum selebar jalan tol terus pria itu perlihatkan.
"Terimakasih juga sudah setia menunggu ku. Kau ayah dan suami yang hebat." Alex memeluk sang istri meski tak terlalu erat. Namun alex enggan melepaskan Ayank barang sejenak. Kerinduan nya begitu dalam pada wanita itu.
...----------------...
Waktu berlalu begitu cepat, kini Alex dan istri nya tengah menikmati waktu berkualitas yang membahagiakan. Kedua anak mereka telah berusia 5 bulan. Kondisi Ayank juga sudah sangat baik.
Rean pun sudah menikah dengan Jumiati. Namun nasib percintaan Revan masih abu-abu. Alicia seperti layangan. Menarik ulur hatinya sesuka gadis itu. Sungguh Revan frustasi di buatnya.
"Apa kau yakin akan ikut misi, sayang? anak-anak membutuhkan mu, begitu pun aku. Bisakah kau tak pergi? cukup Revan, Jordy, Heri dan Alicia saja. Bukankah ada Boby yang turut serta dalam misi itu?" ujar Alex menyuarakan keberatan nya.
"Kali ini saja dan ini untuk yang terakhir kali. Aku janji!" ujar wanita itu mengangkat jari kelingking nya ke arah Alex.
"Setelah misi ini selesai, kita kan menjadi keluarga biasa tanpa embel-embel apapun. Aku akan menjadi ibu rumah tangga yang membosankan kelak. Dengan daster dan seperangkat perintilan ala ibu-ibu rumah tangga. Aku harap kau tak akan berpaling melihat daster lusuh aroma bawang dan peluh lelah seharian." Kekeh Ayank menghibur sang suami.
Alex mendesah panjang. Kemudian mengangguk meski keberatan.
...****************...
Boby terlihat bersiap dengan segala macam hal yang mereka butuhkan untuk menjalankan misi. Ayank hanya melakukan beberapa pengecekan terhadap peta lokasi yang akan mereka serang.
Menurut informasi yang dia dapatkan. Lokasi tersebut akan menjadi tempat transaksi besar-besaran bagi Antonio dan rekannya.
__ADS_1
Tak tanggung-tanggung, mereka melakukan transaksi penjualan Senpi, narkotika juga human trafficking. Beberapa gadis belia yang masih polos akan di jual keluar negara. Di jadikan pekerja wanita penghibur di rumah bordil dan sejenisnya.
Ayank menatap satu buah senjata andalan milik nya dengan tatapan tak terbaca.
"Aku harap ini terakhir kalinya aku menggunakan mu untuk melenyapkan seseorang. Setelah ini kau akan aku museum kan di kotak kaca yang terbuat dari permata. Jadi bekerja sama lah dengan ku kali ini. Jangan ada satu bidikan pun yang meleset dari sasaran. Aku bergantung penuh padamu." Ujar Ayank bergumam.
Revan dan Jordy yang kebetulan berada tak jauh dari wanita itu, saling melempar pandangan satu sama lain. Ini merupakan misi terakhir dari wanita itu. Karena Ayank akan pensiun dini, dan di gantikan oleh sang adik. Zian.
Meski ragu pada bocah itu, namun mereka tetap menghargai keputusan sang bos.
"Sudah siap?" suara Ayank membuat keduanya sedikit tersentak.
"Sudah! aku tak sabar ingin mencincang milik pria bangka jahanam yang telah merusak mental putriku. Akan ku buat sesalnya tak akan pernah berujung. Dia harus membayar mimpi buruk putri ku setiap harinya " Tukas Boby tegas penuh penekanan.
Pria itu menyimpan dendam yang amat besar pada Antonio, yang telah menjual putri nya pada seorang predator anak. Juga pada pria yang membeli putri nya. Yang memperlakukan sang anak bagai seorang ja la ng meski gadis itu belum memahami apapun yang sudah dia lakukan. Marissa hanya paham sebatas rasa jijik karena di paksa melakukan hal rendah tersebut. Namun seiring berjalannya waktu, putri nya akan mengerti, jika masa kecil nya telah di hancurkan meski tak sampai di nodai.
"Jangan terlalu gegabah. Kau bukan bekerja seorang diri, ada tim yang harus kau jaga selain menuntaskan dendam mu. Ingat lah akan loyalitas, kau akan mengerti jika kerja sama tim itu di atas segalanya." Ujar Ayank menasehati.
Entah mengapa, rona tak terbaca di wajah wanita itu. Membuat anak buah nya gusar. Termasuk Alicia. Ada yang berbeda dari sang kakak, semua nasihat dan perintah nya seolah seperti sebuah petuah untuk selalu mereka ingat sampai kapanpun.
"Jika semua sudah bersiap, ayo kita ringkus para parasit yang merusak masa depan anak-anak tak berdosa." Ujar Ayank lagi. Mereka mulai bersiap dengan senjata masing-masing. Revan mengeluarkan ponsel nya, entah kenapa pria itu begitu ingin mengabadikan momen tersebut.
Sebelum nya tak pernah terbesit bahkan Revan bukan orang iseng kurang kerjaan. Pria itu bahkan tak suka melakukan selfy. Namun kini, Revan merasa sangat ingin melakukan nya.
Mereka berfoto dengan beberapa gaya yang kocak, hingga akhirnya. Hanya Revan, Jordy, Heri dan Ayank saja yang berfoto terakhir. Sebelum benar-benar berangkat, Revan terus memandangi layar ponsel nya. Foto mereka berempat yang sedang memegang senjata masing-masing, lalu bergandengan tangan dengan senyum lebar.
...****************...
Kita berada di ujung kisah ya gaess, semoga ending nya tidak mengecewakan pembaca semua.
__ADS_1
lope lope para kesayangan buna Qaya 🥰🥰🥰