
"Apa yang kau rasakan sekarang? apa kaki mu sudah lebih baik?"
"Sedikit lebih baik, jika saja tidak kau patahkan tulangku semalam."
"Hei! aku sedang melakukan terapi, asal kau tau. Itu teknik terbaru. Teknik kretek nama nya. Kau saja yang tak tau! dasar tidak tau terimakasih!" Ujar seorang pria dengan nada sewot.
"Ku kira kretek itu sejenis coklat. Lagi pula apa guna nya kau sekolah dokter, aku menjadi dokter hanya kedok. Bukan impian ku. Hanya saja aku tak tau Kemana harus menyalurkan semua uang ku yang meluap-luap bagai air sungai mengalir sampai jauh. Jadi ku fungsi kan untuk membeli beberapa bahan praktikum kedokteran ku, agar bisa menjadi seorang dokter bedah handal." Balas nya dengan seringai mengejek.
"Tentu saja hanya kedok. Aku curiga kau menjadikan semua mayat-mayat itu sebagai bahan praktikum mu. Dasar psikopat tak berperasaan!"
Seorang gadis hanya duduk diam menyaksikan perdebatan tak berfaedah tersebut dengan gelengan kepala.
"Bisakah kita menyudahi sesi perdebatan tak penting ini? aku lapar. Nasi waduk ku sudah dingin gara-gara menunggu kalian selesai bertikai."
"Ck! apa kau sudah kesulitan mengingat nama-nama sesuatu? itu nasi uduk lemot!" ujar si pria gemas sendiri. Si gadis mengendikkan bahu nya acuh.
"Kau membeli daging lagi untuk ku? apa kau berniat membuat ku terserang stroke, begitu? benarkan?" tuduh seorang wanita yang masih anteng duduk di atas kursi roda.
"Bisa kah kau tidak protes? jika kau tidak suka berikan saja padaku, kau makan sambel hijau nya saja dengan paru anaconda ini. Bereskan?" dengan tanpa permisi, si pria mengambil lauk dari dalam piring sahabat nya.
"Kembali kan ke tempat nya semula, atau telapak tangan mu aku lubangi menggunakan garpu ini." Ujar sang sahabat sadis.
"Cih! selalu saja mengancam. Kau ini harus nya lebih sering hangout ke salon, berbelanja pernak-pernik wanita dan beli lingerie seksi bila perlu. Bukan nya memakai celana jeans sobek dengan jaket kulit hitam seperti seorang preman yang sedang menghadiri pemakaman." Hardik si pria tak terima, di ancam dengan garpu yang sudah siap akan menancap sempurna di telapak tangan nya.
Si wanita kembali menyeringai devil, sekali lagi dia berhasil membuat pria itu takluk karena rasa takut. Arti nya pesona kepemimpinan nya masih mumpuni dan di segani..
__ADS_1
"Kau tau aku tak suka hal-hal semacam itu. Bayangkan jika seseorang dengan dress seksi lalu bertemu preman di tempat sepi. Hanya dengan dua kali gerakan, maka kau akan kehilangan segala nya." Sahut sang sahabat tak mau kalah.
"Dua kali gerakan yang bagaimana? kau kan bisa bela diri bege!" balas nya dengan nada ketus.
"Sepintar-pintarnya seorang wanita dalam hal bela diri, jika di hadapkan dengan beberapa orang pria tulen. Maka tak akan menutup kemungkinan, wanita tersebut akan kalah telak. Gerakan pertama, bawahan dress mu di naikan. Lalu gerakan kedua, pakaian da lam mu di turunkan. Lalu....kau tau kemana akan berakhir aksi turun naik tersebut. Bukan kah kau ahli nya ketika kita kuliah dulu? aku sampai mual mendengar suara de sa han wanita mu dari balik tirai ruang operasi."
Si pria melotot sempurna kala mendengar kalimat frontal tak tau tempat dan waktu tersebut. Wajah nya seketika panik luar biasa, menatap gadis yang kini tengah menikmati makanan nya seolah tak mendengar apapun.
"Kau ini!" desis si pria kesal bukan main.
"Apa? benarkan? kau dulu Casanova kelas teri, yang selalu menebar pesona pas-pasan mu pada para mahasiswi keperawatan. Juga anak-anak kedokteran yang masih pucuk. Ckckckck! dasar pedofil brengsek." Lanjut nya tanpa rasa bersalah, telah membuat sang sahabat bagai berdiri di tepi jurang neraka.
"Bisa diam tidak! aku tidak pernah melakukan nya asal kau tau. Lagipula, kenapa kau bisa berada di sana? bukankah kelas praktek mu sudah usai? dasar tukang ngintip, apa kau tidak punya pekerjaan lain selain menguping percakapan seseorang?" kesal sang sahabat sambil menyeka keringat nya yang mulai banjir.
Padahal diri nya tidak sedang makan pedas sama sekali. Tapi makanan yang dia makan mendadak terasa pedas semua, bagai mengunyah bara api. Ekor mata nya terus melirik gadis yang masih bergeming di hadapan nya tanpa peduli apapun.
Membuat si pria mau tak mau membekap mulut beracun tersebut menggunakan sepotong daging.
"Mulut mu! berhenti mengoceh tak jelas, habis kan makanan mu lalu tidur siang. Kau butuh banyak istirahat agar tak lagi menyusahkan ku. Sungguh menyesal aku menerima mu dengan tangan terbuka, kau malah menggigit kedua tangan tulus ku ini tanpa perasaan." Keluh si pria dengan kesal. Delikan mata nya hampir membuat bola mata nya melompat keluar.
Sang sahabat laknat pun tak tahan lagi untuk tak melepaskan tawa jahanam nya.
"Astaga! apa kau punya cermin lepas pasang? kau harus melihat ekspresi wajah mu ini, sungguh lucu. Ternyata kau bisa takut juga rupa nya. Tenang saja, kekasih mu ini tak seburuk yang ku katakan. Meski sekedar bertukar ludah, dan saling membelit lidah. Ku rasa tak masalah, anggap saja pria mu ini sedang mengasah kemampuan nya agar tak terlihat bodoh saat kalian berciuman kelak." Ujar nya santai tanpa dosa. Layak nya seorang balita yang masih polos.
"Kau benar-benar Sahabat paling bajingan yang pernah aku miliki." Desis si pria tanpa menoleh, namun dua jari nya bagai kepiting mencapit lengan sang sahabat dengan gemas.
__ADS_1
"Auww! kau kasar sekali, aku harap kelak kau tak melakukan KDRT pada istri mu. Ishhh..lihat lengan ku sampai memerah begini. Lihat lah, pria mu ini sungguh kejam. Kau harus memberikan nya pelajaran nanti, agar tak menjadi sebuah habbit." Ujar nya memanaskan suasana sembari mengusap lengan nya yang sama sekali tak memerah. Dia hanya ingin menjahili sang sahabat saja, sama persis ketika dulu mereka masih berkuliah.
Menghadapi senior yang galak dan tak mengenal toleransi, membuat mereka harus ekstra hati-hati dalam melakukan hal apapun. Dan itu membuat mereka stress luar biasa, belum termasuk praktikum yang membutuhkan konsentrasi penuh.
"Jangan dengar kan dia, kau tau, dulu aku adalah objek paling empuk ketika wanita itu dalam mode gabut. Dia sering mengerjai ku tanpa aku tau kesalahan ku apa. Aku tak seburuk itu, hanya berciuman saja. Itu pun tak sampai membelit. Dia sungguh berlebihan sekali. Lagipula aku kan belum ahli kala itu. Masih kuncup dan ranum layak nya kelopak mawar yang beru mekar." Ujar si pria dengan suara pelan.
"Kau ini bicara apa sih? akhir nya aku menghapal nya juga,l. Ini, terimakasih untuk handset ini. Sungguh canggih, aku bahkan tak mendengar apapun selain melihat mulut kalian komat kamit, seperti sedang membaca mantra gaib. Dan kau, siapa yang kau cium tadi? dasar pria brengsek, di mana-mana sama saja!" ketus si gadis beranjak membawa piring kotor nya menuju wastafel.
Si pria melongo tak percaya, jadi sejak tadi kekasih nya tak mendengar apapun? dan sekarang dia malah di sangka sedang selingkuh gara-gara Kalimat pengakuan dosa nya barusan.
"Ini semua gara-gara kau! kenapa tak bilang jika dia sedang menggunakan benda bulat in? kau sengaja ya ingin aku menjomblo seperti dirimu?" Ketus si pria marah lalu menyusul sang kekasih.
Sedangkan sang sahabat tertawa renyah melihat hasil perbuatannya nya.
"Jangan memaafkan nya dengan mudah..nanti dia akan kebiasaan." Seru nya dari meja makan sambil menahan tawa laknat nya.
Sedangkan dua sejoli tersebut sedang beradu mulut, si pria yang sedang dalam mode membujuk rayu. Sedangkan si wanita sedang dalam mode cemburu on. Sungguh si pria di buat kalang kabut oleh dua wanita sekaligus.
Hari yang sial batin nya mengumpat kesal.
πππππππππππππππππ
Rupa nya bab ini masih belum mampu membuka tabir mimpi penuh misteri sang pria malang, Alex. Harap bersabar sedikit ya mas Alex π€
Thanks masih setia stay di novel ini, lope sekebon buat kalianπ₯°π₯°π₯°π₯°π€π€π€π€
__ADS_1
Jangan lupa klik like nya yaππππ