
Alex terlihat memarkirkan mobil nya di sebuah pelataran rumah minimalis satu lantai yang cukup luas. Bangunan tersebut berada cukup terpencil dari pemukiman warga lainnya. Semua demi keamanan sang wanita tercintanya.
Seulas senyum tipis terpatri di bibir manis seorang wanita.
Klek
Pinta rumah pun terbuka, terlihat senyum lebar seorang wanita menyambut kedatangan prianya.
"Ku pikir kau tidak akan datang. Mengingat waktu yang kau janjikan sudah lewat satu jam yang lalu." Ujar wanita tersebut sedikit merajuk.
Kekehan Alex terdengar begitu renyah, pria itu berjalan dengan langkah lebar menyongsong tubuh wanita yang sangat ia rindukan setiap waktu.
"Aku pasti datang walau sedikit terlambat. Ada sedikit masalah di rumah. Kau tau, putri kecil kita membuat ulah dengan tetangga baru di samping rumah. Lexa sengaja menyemprot tanaman hias tetangga baru itu menggunakan cairan pembasmi rumput. Dan ya..bunga itupun layu dan mati." Beber Alex menceritakan sekelumit kisah sorenya hari ini.
Kisah yang membuatnya terlambat mengunjungi istri tercintanya. Ayank.
Wanita yang di ketahui dunia telah berpulang, namun pada kenyataannya, wanita itu masih hidup hingga sekarang. Bekas luka di pipi kirinya masih terlihat meski samar, dan Alex tak pernah masalah dengan itu. Kecantikan sang istri melampaui bekas goresan pisau tersebut. Mendapati istrinya masih bernafas di ujung rasa putus asanya, Alex bagai mendapatkan berkah yang tak terhingga.
Skenario pun di mulai. Pria itu menukar tubuh istrinya tepat di detik-detik terakhir prosesi pemakaman akan di laksanakan. Namun ujiannya ternyata belum usai. Ayank kembali kehilangan detak jantung ketika akan di terbangkan ke Rusia. Namun keyakinan hati Alex cukup besar, ia yakin Ayank pasti akan kembali sama seperti saat pertama wanita itu di nyatakan telah tiada.
Benar saja, usaha Alex tak sia-sia. Berbekal keyakinan dan doa, serta tekhnologi modern yang canggih. Alex memanfaatkan semua hal yang bisa ia lakukan untuk membawa sang istri kembali pulang.
Ayank di tempatkan dalam sebuah tabung cryostat, untuk di lakukan proses cryonic yaitu proses pembekuan tubuh sebelum pasien mengalami mati otak secara total. Di mana wanita itu hanya akan hidup oleh bantuan oksigen buatan juga alat penunjang kehidupan dari rumah sakit seorang kenalannya.
Laboratorium rahasia tersebut lah yang menjadi tempat Ayank di hidupkan kembali melalui cairan nitrogen bersuhu 196 derajat Celcius. Semua itu di lakukan untuk menjaganya agar selalu berada di bawah titik beku, agar sel tubuhnya tak mengalami kerusakan untuk bisa di hidupkan kembali.
Dan di sinilah wanita itu berada. Di sebuah tempat di tepi danau yang berjarak 1 setengah jam dari pusat kota. Rumah yang di desain Alex sebelum Ayank di bawa kembali ke tanah air. Rumah itu di kelilingi oleh tembok yang menjulang hingga dua setengah meter. Termasuk danau yang juga masuk dalam luasan tanah yang Alex beli.
Rumah itu terlihat angker dari luar gerbang, karena cukup jauh dari pemukiman penduduk. Tak ada yang berani berkeliaran di sekitar tembok rumah itu, terutama saat lampu yang sengaja di stel ke mode redup dalam waktu lima menit sekali. Alex cukup detail dalam menyiapkan tempat persembunyian bagi istrinya.
"Kau masak sebanyak ini sayang?" tanya Alex saat memasuki ruang makan. Ada banyak hidangan tersedia dan belum tersentuh sama sekali. Ia yakin istrinya pasti menunggunya untuk makan malam bersama.
__ADS_1
Alex melirik pergelangan tangannya, terlihat waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Sedikit terlambat untuk makan malam romantis mereka namun tak membuat suasana menjadi tawar.
"Aku merindukan masakanku di makan oleh anak-anak kita. Entah sampai kapan aku bisa merasakan menjadi seorang ibu yang sesungguhnya." Ujar Ayank dengan nada lirih.
Alex lekas memeluk tubuh wanita cantik itu dengan sayang.
"Bersabarlah sayang, aku tak bisa membuka identitasmu di hadapan publik. Kita tak pernah tau musuh mana yang masih mengincarmu di luar sana. Anak-anak aman karena selalu di awasi 24 jam oleh orang-orang kita yang setia. Aku tak ingin kehilanganmu lagi setelah perjuangan selama 3 tahunku beberapa tahun yang lalu. Aku trauma sayang," ungkap Alex membelai pipi sang istri.
Dapat Ayank lihat pancaran ketakutan di mata sang suami. Ia memahaminya.
"Baiklah, aku mengerti. Maafkan aku, ayo kita makan. Aku kelaparan karena menunggumu. Kebiasaan sekali, selalu saja datang terlambat." Omel Ayank pura-pura kesal.
Alex tertawa kecil sembari memberikan ciuman gemas di pipi istrinya.
"Ayo..aku juga merindukan masakan istriku." Ajal Alex setuju.
"Apa kau sudah merekamnya?"
"Hmmm.."
"Bisakah kau diam, lihat kita sedang berada di mana sekarang. Jangan berisik bisa tidak? Menyesal aku menuruti permintaanmu jika begini saja kau tak mau menurut padaku." Balas seorang pemuda nampak sedikit kesal.
Ia sibuk dengan kamera di tangannya dan sang adik terus mencecarnya dengan pertanyaan.
"Aku lapar, lihatlah mereka makan dengan lahap sedangkan anak-anak mereka kelaparan di luar sini tanpa di persilahkan untuk sekedar masukpun tidak. Dasar orang tua tak punya perasaan," lanjut gadis itu kembali menggerutu.
Kaki kecilnya mulai melangkah menuju teras rumah namun dengan cepat sang kakak menarik pergelangan adiknya.
"Kau mau kemana? Di sini saja seperti biasanya. Bukankah kau sudah berjanji cukup melihat mama dari kejauhan. Jangan membuat mama dilema karena tak ingin berpisah dari kita. Atau kau ingin kehilangan mama lagi seperti waktu kita masih bayi dulu?" tekan Aylex menatap tajam ke arah sang adik.
Lexa menelan ludah kaku, gadis itu menggeleng cepat.
__ADS_1
"Bagus. Cukup di sini saja. Ayo kita bermain ke danau lalu tidur di kabin danau hingga subuh. Setelah itu kita harus kembali ke dalam mobil sebelum papa menyadari keberadaan kita." Ajak Aylex kepada adiknya.
Dan rupanya keduanya telah mengetahui tentang Ayank. Dan sudah kesekian kalinya, anak cerdas itu menguntit di dalam mobil sang ayah ketika Alex akan berkunjung ke kediaman ibu mereka. Saat malam mereka akan tidur di kabin kecil tepi danau tempat Ayank biasa bersantai di kala jenuh melanda. Ayank tinggal bersama seorang pelayan yang Alex bawa dari rusia. Wanita yang sebenarnya adalah seorang agen ganda namun sekarang berperan sebagai pelayan bagi istrinya.
"Apa mama akan baik-baik saja selama kita tak mengusiknya bang?" tanya Lexa tiba-tiba.
Gadis itu tengah berbaring di pelukan sang kakak di atas dipan kayu.
"Tentu. Mama akan baik-baik saja selama kita bisa menjaganya dari kejauhan. Cukup seperti ini saja, jangan meminta lebih. Kau tau betapa papa selalu ketakutan untuk kehilangan mama dadi hidupnya selama ini. Jangan membuat salah satu di antara mereka harus berkorban lagi. Itu tak adil Sa," nasihat Aylex panjang lebar.
Di usapnya rambut tebal sang adik dengan sayang. Jika bertanya soal kerinduan, maka hatinya pun merindukan sang ibu dengan kedalaman yang sama. Sama-sama tak terukur kedalamnya.
Namun ia sadar, jika ibunya masih dalam bahaya jika sampai orang-orang masa lalu ibunya mengetahui perihal ini.
"Tidurlah, abang akan bercerita dongeng anak kelinci yang terpisah dari ibunya." Tukas Aylex yang di angguki oleh Lexa.
Samar suara Aylex mulai meredup di pendengaran Lexa. Gadis itu tertidur membawa setumpuk harapan agar bisa di peluk erat oleh ibunya.
Mendengar helaan nafas teratur sang adik, Aylex perlahan beranjak dari atas kasur.
"Maaf dek, abang hanya tak ingin kehilangan mama lagi. Selamat bermimpi indah adikku sayang," Aylex mengecup kening sang adik seperti yang biasa ia lakukan sebelum meninggalkan adiknya untuk kembali ke kamarnya sendiri.
Di luar kabin, Aylex menatap sebuah jendela kaca besar yang menampilkan siluet tubuh dua insan yang sedang berbagi kasih sayang. Pemuda itu tersenyum samar, ia tau seberapa teguh sang ayah melawan godaan dalam hidupnya selama ini. Itu kenapa Lexa selalu membuat masalah. Karena adiknya itu tak pernah menyukai kaum betina mendekati ayah mereka.
"Meskipun begini, kami tetap bahagia memiliki kalian. Ma, pa...kami mencintai kalian, terimakasih telah membawa kami hadir ke dunia ini dengan penuh cinta." Gumam Aylex kemudian duduk di kursi panjang untuk sekedar mengistirahatkan tubuhnya.
Meringkuk selama satu setengah jam di bagasi mobil sang ayah, rasanya seperti mematahkan tulang-tulangnya.
Sebelum memejamkan kedua matanya, Aylex memanjatkan sebuah doa harapan pada pancaran bintang yang kebetulan melintas tepat di atasnya.
...-------------------------...
__ADS_1
Semoga masih ada cintanya
Cerita ini akan di lanjutkan di rumah sebelah. Judulnya bakal author spil di kolom komentar jika ada yang berkenan mampir.