
Alex menyeka keringat di wajah setelah selesai mengangkut beberapa ember coran menuju lantai dua. Bersama rekan-rekan nya Alex tengah bersiap untuk makan siang meskipun sudah lewat dua jam.
"Permisi..." suara seorang wanita yang begitu familiar di telinga Alex membuat pria itu urung menyuapkan nasi ke mulut nya.
"Ay?" ucap Alex tak percaya. Dua minggu ini wanita itu tak pernah berkabar meski telah menyimpan nomor ponsel nya. Terkahir pertemuan mereka Ayank berjanji akan sering-sering menghubungi nya. Nyata nya wanita itu bahkan tak bisa Alex hubungi sama sekali.
Dan kini tiba-tiba muncul dengan senyum tanpa dosa di lokasi kerja nya. Di tangan nya membawa rantang susun berwarna kuning menyala. Warna kesukaan nya.
"Kok diam bae mas Alex.." canda Ayank lalu duduk di sisi Alex yang hanya beralaskan kardus bekas.
Alex terkesiap lalu meminta Ayank kembali berdiri, membuat wanita itu heran dan berpikir Alex tak menyukai kehadiran nya. Dengan wajah tak sedap di pandang, Ayank berdiri dan mulai melangkah meninggalkan area tersebut.
Alex yang tengah berjongkok membersihkan tumpukan dus keheranan tak mendapati Ayank di belakang nya.
"Nyari mbak cantik tadi mas Alex?" Alex mengangguk cepat.
"Noh pergi ngeloyor, mungkin di Kira mas Alex marah kali. Susul gih, ngambek tuh pacar nya. Mana cakep lagi..." celoteh sang rekan tertawa pelan.
Alex berlari mengejar Ayank, wanita itu pasti salah paham pada nya karena Alex langsung menarik nya ketika baru saja duduk.
"Ay! sayang!" seru Alex melihat Ayank yang hendak masuk ke dalam mobil. Tak peduli wanita itu marah atau tidak dengan panggilan nya yang menghebohkan.
Ayank menoleh dengan wajah datar.
"Kenapa malah pergi? tidak betah ya di dalam?" ujar Alex terengah-engah.
"Bukan nya kebalik?" ketus Ayank membuat tawa Alex meledak.
"Astaga! wanita hebat ini bisa ngambek juga rupa nya." Goda Alex menjawil hidung mancung Ayank. Wanita itu melengos menyembunyikan semburat merah di wajah nya.
__ADS_1
"Aku tadi melarang mu duduk karena dus nya kotor, aku sedang membersihkan nya untuk mu kau malah pergi begitu saja." Terang Alex menahan tawa agar tak kembali pecah.
Wajah Ayank semakin memerah, wanita itu malu sendiri karena begitu cepat menyimpulkan dan berakhir salah kaprah.
"Kenapa tidak bilang!" sewot Ayank menahan malu, wanita itu menatap liar ke bangunan-bangunan perumahan setengah jadi di sekitar lokasi tersebut.
"Maka nya jangan suka ambekan. Ayo masuk lagi, aku laper banget nih. Istirahat aku agak banyak hari ini karena mandor kami sedang sakit. Jadi bisa sedikit lega." Alex meraih tangan wanita pengambekan itu kembali menuju tempat nya tadi.
"Cieee...pacar nya ngambek ya mas Alex?"
"Cakep gitu jangan di lepas mas, langka lo bisa dapet cewek yang mau menerima kuli seperti kita ini. Kalo perlu di ajak langsung kawin aja biar tidak di ambil orang." oceh Soleh tanpa filter.
"Kawin-kawin, nikah dulu anjuyy!"
"Kan buat jejakin mas Abdul, biar jalan pulang nya lebih terang benderang. Mas Alex tidak akan bisa nyasar ke arah yang salah, ya mbak?" ucap Soleh membela argumen nya.
"Banyak amat Ay?" Alex melihat begitu banyak lauk pauk yang Ayank bawa, dan meminta ijin untuk membagi nya dengan rekan-rekan nya juga. Ayank mengangguk tak keberatan, itu lah tujuan nya membawa banyak. Tadi dia meminta di siapkan lauk tersebut pada sang ibu yang kebetulan berada di restoran bernama sang ayah.
"Semoga cocok ya mas-mas sekalian." Ucap Ayank tersenyum senang kala melihat lauk yang dia bawa di makan dengan lahap oleh rekan-rekan Alex.
"Kok rasa nya tidak asing ya? berasa sering makan tapi tidak beli...di mana ya pernah dapet makanan dengan ciri khas bumbu seenak ini?" ujar Abdul terlihat berpikir keras.
"Restoran Bunda Ana? benar tidak? biasa setiap hari minggu dan jumat, sering banget karyawan di sana berdiri di perempatan lampu merah buat bagi-bagi makanan gratis seperti ini. Hari minggu dan jumat pagi sampai jam 10 an, aku sering dapat nih. Mana porsi nya banyak, lauk nya gede-gede lagi. Nah persis nih seperti ini. Kok bisa kebetulan sama ya..." celoteh Soleh tak henti-hentinya menyuapi makanan ke dalam mulut nya.
Pria muda itu mengetahui nya karena tak sengaja pernah melihat, beberapa karyawan yang selesai membagi makanan gratis kembali pulang ke restoran tersebut.
Ayank tersenyum senang, rupa nya rekan-rekan Alex juga pernah merasakan kasih yang ibu nya berikan. Ana melakukan hal itu sudah sejak bertahun-tahun lama nya. Setiap hari Jumat dan minggu, karyawan di restoran Ana akan bergantian untuk membagikan makanan di perempatan pada pengendara yang sedang menunggu dengan bosan lampu hijau menyala kembali.
"Itu restoran bunda saya mas, maka nya rasa nya sama persis." Ucap Ayank membuat para pekerja di sana hampir tersedak.
__ADS_1
Kini mereka bisa melihat penampakan anak dari orang murah hati tersebut. Jika anak nya saja secantik ini, apa kabar ibu nya. Pasti secantik bidadari seperti hati nya.
"Wah! beruntung sekali kita, bisa bertemu dengan anak seorang malaikat tak bersayap di sini. Sampai kan ucapan terimakasih kami pada ibu nya neng. Saya ingat waktu itu belum dapat gajih, di rumah beras sedang habis hanya ada indomie satu bungkus. Pas pergi ke lokasi, di lampu merah malah dapat berkat. Dapat dua bungkus langsung saya bawa pulang ke rumah. Istri saya sampai menangis haru, sekeluarga kami makan bersama. Benar kata Soleh, porsi nya banyak. Saya bisa makan berdua bersama istri dan kenyang banget. Kedua anak saya juga sampai menyisakan lauk nya untuk makan malam." Cerita Rahmat terkenang momen nya kala itu dengan mata berkaca-kaca.
"Sampaikan terimakasih saya pada ibu nya neng, jika tidak ada berkat di hari itu. Kami sekeluarga pasti tak akan bisa makan hingga kenyang. Semoga Kemurahan hati ibu nya neng, mendapatkan balasan terbaik dari Yang maha kuasa." Ayank mengamini nya dengan senyum simpul.
Mereka kembali melanjutkan makan dengan lahap. Ayank juga membawa nasi tambahan.
Alex terus menatap wanita di hadapan nya dengan perasaan penuh cinta. Wanita yang berasal dari keluarga yang begitu sempurna, namun begitu mudah dia lukai di masa lalu. Sungguh sesal nya tak akan pernah habis jika kembali mengingat semua daftar dosa nya.
"Makan sendiri aja, aku tidak di ajak?" tegur Ayank membuyarkan lamunan Alex.
"Eh?" Alex kelabakan lalu menyuapi wanita itu menggunakan sendok. Sedangkan diri nya lebih memilih menggunakan tangan langsung.
"Pake tangan aja biar tidak ribet." Ucap Ayank menolak halus. Alex sejenak menatap tangan nya lalu kembali menatap Ayank.
Dia hanya tak ingin wanita itu merasa jijik.
"Kok malah bengong mas, neng nya di suapin atuh." Titah Abdul gemas sendiri melihat Alex yang malah lemot.
"Ah, Ya mas." Ujar Alex salah tingkah. "Beneran make tangan aja. Ini jorok loh" ucap Alex ragu. Ayank hanya mengangguk lalu Alex menyuapi wanita itu dengan menahan gemuruh luar biasa di dada nya. Hati nya berbunga-bunga layak nya kelopak mawar yang bermekaran.
Semangat kerja nya semakin bertambah. Keyakinan untuk meraih kembali hati wanita itu kembali berkobar. Dalam diam nya Alex berdoa, agar jodoh nya dengan wanita itu masih ada. Sungguh hidup nya akan sangat sempurna.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Semoga kisah Alex tidak membosankan, makasih atas dukungan kalian semua readers tercinta 🥰🥰🥰🙏🙏🙏
Lope lope buat kalian semua nya🤍🤍🤍🤍🤍
__ADS_1