
Di rumah sederhana milik Alex terlihat beberapa orang tengah mendekorasi ruang tamu hingga ruang keluarga. Miska Dan Lusi yang paling riweh, karena harus berlomba dengan waktu, mumpung anak-anak mereka sedang tidur siang. Belum lagi ocehan protes yang terlontar dari mulut kedua wanita tersebut membuat para pria geleng-geleng kepala.
"Seharus nya kau meletakkan nya di sana, di sini akan membuat kursi roda Ayank susah lewat. Pindahkan." Jordy hanya bisa menghela nafas panjang, untung sayang batin nya mendumel kesal. Sudah dua kali pot besar itu berpindah tempat karena tidak cocok di penglihatan sang istri tercinta.
"Yakin di sana? nanti minta di pindahkan lagi, nanti cicak nya susah merayap kalau terlalu mepet ke dinding." Dumel pria itu bergumam kecil. Jordy meniru kalimat sang istri, ketika pertama kali dia meletakkan pot tersebut terlalu dekat dengan tembok.
Miska mengatakan, cicak akan kesulitan melewati nya jika terlalu mepet.
Wanita itu memicing mendengar kalimat sindiran suami nya, membuat Jordan segera mengambil langkah aman.
"Di sana cocok juga seperti nya, aku akan memindahkan nya sayang. Kau kerjakan saja urusan mu di dapur, urusan dekorasi biar aku dan Revan yang akan menyelesaikan nya." Ucap Jordy dengan nada lembut dan senyum semanis gula aren.
Miska mencebik sedang kan Revan mencibir. Pria itu berusaha untuk mengamankan jatah malam nya dengan melibatkan Revan.
Setelah Miska berlalu menuju dapur, Jordy menghela nafas lega. Pria itu meminta tolong Revan untuk memindahkan pot besar tersebut, kembali ke posisi awal di mana tadi Jordy meletakkan nya di pojok ruangan.
"Istri mu ada-ada saja. Ini nama nya bikin kerjaan. Bukankah tadi pot nya sudah kita taruh di sini." Omel Revan.
"Sudah lakukan saja, hitung-hitung kau belajar untuk menjadi suami yang Sabar. Bagaimana dengan bocah incaran mu itu? apa dia masih jual mahal?"
"Aku bahkan sulit untuk sekedar melihat nya dari jauh. Bocah itu sudah menjelma menjadi gadis yang menggoda jiwa raga. Astaga! kenapa dulu aku begitu bodoh. Harus nya ku sikat saja dia ketika di gang buntu waktu itu. Mungkin saja langsung tekdung, jadi sekarang aku punya alasan untuk bertanggung jawab. Sial sekali." Jordy melotot kala mendengar kalimat ngaur sahabat nya.
"Memang nya apa yang sudah kau lakukan pada nya waktu itu? kenapa kau tak menceritakan bagian itu? diam-diam ternyata anda sangat agresif tuan Revan Wijaya. Ckckckck! apa kau melecehkan nya hahh?!" Cecar Jordy menatap Revan penuh selidik.
"Hanya bermain jari, kau seperti tak pernah melakukan nya saja. Kau bahkan celup sana celup sini wak...." Jordy lekas membungkam mulut lemes sahabat nya.
"Bisa diam tidak! jika istri ku mendengar nya aku bisa berakhir menjadi duda. Lagi pula itu sudah masa lalu, aku sudah menjadi suami dan ayah yang baik sekarang." Sewot Jordy melirik ke arah dapur. Pria berubah menjadi tipe suami takut istri.
"Ck! begitu saja kau ciut. Sugeng, sugeng!" ledek Revan tertawa renyah.
__ADS_1
🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉
Di rumah sakit, Alex masih mengurus administrasi kepulangan Ayank. Alex tak ingin sang mertua yang membayar tagihan istri nya. Meski tak sekaya mertuanya, Alex ingin memulai tanggung jawab nya dari sana.
Tagihan rumah sakit tersebut lumayan menggelontorkan dana tak sedikit. Di mulai dari biaya operasi hingga perawatan selama dua minggu lebih. Namun Alex tak masalah, uang bisa di cari yang penting kini istri nya sudah kembali.
Meski rumah sakit tersebut milik keluarga mertua nya, namun prosedur administrasi tetap berjalan. Walau sebenarnya semua biaya itu sudah di pangkas sebagian oleh sang direktur, yang merupakan bibi dari istri nya. Tentu saja tanpa sepengetahuan Alex. Semua alat dan pengobatan Ayank adalah yang terbaik.
Obat-obatan paten dengan harga yang cukup fantastis, jika semua nya harus Alex tanggung sendiri. Auto langsung melatar setelah nya.
Klek
Alex masuk dan melihat sang mertua tengah menyisir rambut istri nya. Alex tersenyum melihat perhatian tulus tersebut.
"Sudah selesai, Lex?" tanya Ana basa basi, dia khawatir dana Alex tak mencukupi. Bukan berniat merendahkan, Ana cukup paham jika usaha pria itu baru berjalan satu tahun ini. Ratusan juta pasti sedikit terasa sangat besar bagi Alex yang baru merintis bisnis.
"Udan bun, ini udah bisa pulang." Ujar Alex mengangkat plastik obat milik Ayank. Ana dan Ayank tersenyum simpul, melihat bagaimana perjuangan Alex cukup membuat mereka yakin. Jika pria itu telah berubah segala nya.
"Gendong aja gimana? aku ngeri melihat mu jika harus berjalan sejauh ini menuju lobby." Tawar Alex memberikan solusi lain. Jelas Ayank lebih memilih untuk memakai kursi roda saja. Bukannya dia ingin menolak suami nya, namun melihat tubuh kurus suami nya. Ayank merasa tak tega menambah beban fisik pria itu.
"Kursi roda aja deh, itu bawaan nya ada banyak." Tolak wanita itu tersenyum hangat. Alex mengangguk setuju. Mereka kemudian keluar dari ruangan tersebut, sementara yang lain sudah menunggu kepulangan mereka di rumah.
"Ini mau kemana dulu, Al?" tanya Ayank heran. Pasal nya dia tak tau rencana Alex dan keluarga nya. Dia pikir dirinya akan di bawa pulang ke rumah orang tua nya.
"Mampir ke rumah teman dulu sebentar, tak apa kan?" jawab Alex menoleh sejenak. Ayank mengangguk tak masalah. Sedangkan mobil yang membawa Ana memutar melalui jalan lain. Jalur cepat dari rute yang Alex pilih.
Mobil yang di gunakan mereka adalah mobil Dean, Alex masih belum mampu untuk membeli benda beroda empat tersebut. Terlebih baru saja membayar biaya rumah sakit sang istri tercinta. Mungkin tahun depan, begitu lah doa Alex dalam hati nya.
"Aku putar musik ya?" ujar Ayank yang sedikit bosan dengan keheningan mereka. Alex mengangguk saja, dia tak terlalu paham dengan banyak nya tombol di dalam mobil itu selain cara mengemudi kan nya. Dua tahun lebih terlewati tanpa pernah Alex menyentuh benda-benda canggih. Hanya motor butut yang dia beli seken, sebagai sarana transportasi untuk nya.
__ADS_1
Tak enak rasa nya, jika selalu meminjam motor Soleh ataupun Rahmat, padahal kedua pria itu sama sekali tak pernah keberatan.
Perjalanan setengah jam lebih itu membawa mobil yang Alex kemudikan ke sebuah perusahaan kelas menengah. Terlihat rumah berjejer rapi dengan di dominasi bangunan dua lantai. Termasuk rumah Alex. Namun tak ada yang tau, jika di awal pembangunan nya, rumah itu memiliki ruang bawah tanah yang cukup luas.
Alex sengaja mendesain nya sendiri, mengingat jika pria itu memiliki skill dalam hal konstruksi bangunan. Jadi sebenarnya rumah itu ada tiga lantai.
"Ini rumah siapa Al, temanmu? bagus, aku suka desain rumah minimalis seperti ini." Ujar Ayank sedikit bergumam. Dia tau Alex pasti belum mampu membangun rumah seperti itu untuk mereka. Dia tau biaya rumah sakit nya saja hampir 500 juta.
Tabungan nya? jelas Ayank tak akan menggunakan uang tersebut, karena akan membuat harga diri suami nya terjun bebas ke dasar bumi.
"Bagus ya? suka? ayo turun, gendong aja ya. Ribet kalau keluarin kursi roda nya." Ayank terlihat ragu.
"Aku tunggu di mobil aja ya, tidak lama kan?" Alex terlihat berpikir, lalu tersenyum simpul.
"Agak lama sih, ada mau bahas kerjaan sedikit. Masuk aja dulu, istri nya pasti senang ada teman ngobrol. Mereka baru pindah beberapa hari yang lalu, pasti belum punya teman di sini." Bujuk Alex lembut, akhir nya Ayank mengangguk setuju.
Alex menggendong tubuh mungil istri nya menuju gerbang utama. Pagar terbuka oleh seorang satpam yang tersenyum sembari menyapa ramah sang pemilik rumah.
"Rumah nya ternyata gede banget ya, tadi dari luar pagar tidak terlalu jelas detail nya." Puji Ayank menatap kagum bangunan dua lantai tersebut. Terlihat taman di halaman depan juga samping yang terlihat cukup luas dengan air mancur yang indah.
"Kalau suka puji Tuhan, semoga betah ya sayang." Ucap Alex membuat kening Ayank mengerut heran.
"Masa tinggal di rumah orang betah, kita bisa nyewa kontrakan atau tinggal di cafe untuk sementara waktu. Aku tak masalah. Kita bisa menabung dan membangun rumah kecil untuk kita tempati kelak." Ujar Ayank tersenyum tulus. Hati Alex tersentuh mendengar ketulusan sang istri, yang rela menjalani hidup sederhana bersama nya.
"Ya, kita akan membangun rumah impian kita sendiri nanti." Balas Alex mengecup pipi Ayank dengan gemas.
Sesaat Alex mendorong pintu....
TBC
__ADS_1
Lope lope kesayangan buna Qaya 🤍🥰🥰🤍