
Dua Minggu ini, Alex harus menghandle pekerjaan cafe nya di rumah sakit. Pria itu memilih membawa pekerjaan nya ke sana, mengingat kondisi istri nya yang masih belum berniat untuk terbangun.
Ana berkali-kali membujuk Alex agar beristirahat di rumah mereka, namun pria keras kepala itu menolak dengan halus. Sehingga mereka tak lagi berusaha untuk membujuk nya pulang. Namun secara bergantian membawakan pria itu makanan dan beberapa cemilan agar tak jenuh.
"Lihat lah sayang, aku mendapat kerja sama dengan restoran terkenal itu. Kau tau tuan Harland? pria itu menerima proposal kerjasama ku. Padahal aku hanya iseng saja, ku pikir akan di tolak seperti kebanyakan cafe juga restoran yang bahkan lebih besar dari cafe ku. Pria itu meminta melakukan pertemuan di cafe besok pagi. Cafe itu sebenar nya bukan milik ku, itu milik mu. Ku harap setelah kau terbangun kau mau mengelola nya bersamaku. Kau bisa membuka praktek dokter di rumah, aku sudah mendesain ruang khusus untuk mu. Agar kau tak perlu bekerja di rumah sakit, dan fokus padaku serta anak-anak kita kelak." Ucap Alex berceloteh.
Setiap hari Alex tak pernah lelah bercerita apa saja pada sang istri. Hal-hal kecil, seperti diri nya yang tersandung, memecahkan piring lalu mendapat kan salam dari sekelompok remaja wanita. Berfoto bersama mereka dan lain sebagainya.
Klek
Rean masuk dengan wajah datar seperti biasa nya, Alex sudah terbiasa dengan itu. Pria itu malah tersenyum menyambut sang ipar meski tak mendapat kan sambutan yang hangat.
"Ini makanan titipan buna, makanlah. Aku akan menjaga nya." Ucap Rean tanpa melihat lawan bicara nya.
Alex beranjak menuju sofa, ada rantang susun berwarna ungu di atas meja. Pria itu memang tak sempat sarapan tadi pagi, karena harus mengaudit laporan keuangan cafe nya. Sudah saat nya karyawan nya menerima upah mereka, dan Alex sedang menyisipkan sedikit bonus untuk semua pegawai cafe nya.
"Kau sudah makan?" tanya Alex basa basi.
"Hmmm.." sungguh jawaban yang menyebalkan, namun Alex paham dan tak ambil pusing. Rean jelas masih menaruh kekecewaan pada nya, dan dia tak masalah dengan sikap dingin ipar nya tersebut.
Alex melanjutkan makan dengan lahap, makanan rumahan selalu menjadi favorit nya sejak dulu. Teringat masakan bi Siti, Alex sangat merindukan wanita itu. Wanita yang sudah seperti ibu kandung bagi nya. Wanita yang selalu memperlakukan nya dengan penuh kasih sayang sejak diri nya masih bayi.
Rean duduk di kursi yang tadi Alex tempati, pria itu mengusap lembut pipi tirus Ayank. Tak ada yang bisa memahami sikap diam Rean, bahkan Dean atau Ilian sekalipun. Hanya Ayank satu-satunya orang yang paling dekat dengan pria es kutub tersebut.
"Kapan kau akan bangun? masalah ku sangat pelik dan aku membutuhkan bantuan mu. Kau pasti senang jika tau akan memiliki keponakan, meski tak pernah terencana dengan cara yang benar. Bantu aku membawa gadis itu ke dalam kehidupan ku, Ay. Berhentilah tidur, apa kau tak lelah. Suami brengsek mu itu berencana akan menikah lagi, jika kau terlalu malas untuk membuka kedua matamu." Alex hampir saja tersedak pucuk ubi rebus buatan ibu mertua nya.
Pria itu meneguk air dengan cepat hingga tandas. Tatapan Alex menghunus punggung Rean dengan tatapan kesal. Enak saja pria itu memfitnah nya tanpa bukti.
"Ck! jika kau sedang putus asa jangan melibatkan aku di dalam nya. Istri ku bisa semakin tak ingin terbangun kalau mendengar kalimat nyeleneh mu tersebut." Ketus Alex kesal.
__ADS_1
"Aku hanya ingin menstimulasi otak nya, orang koma pun bisa mendengar itu yang pernah aku baca." Bela Rean tak mau kalah.
"Stimulasi mu mengerikan. Pindah, ini tempat dudukku." Alex sudah berdiri dengan piring di tangan nya. Pria itu mengusir sang ipar laknat dari kursi nya. Rean beranjak dengan malas kemudian berlalu menuju sofa panjang.
Terlihat Rean sedikit tak bersemangat. Masalah pria itu pasti sepelik rona wajah nya dengan terlihat mendung.
Alex melanjutkan makan nya di samping ranjang sang istri.
"Jangan dengar kan saudara mu sayang, aku tak berencana untuk menambah koleksi istri. Satu saja tak habis-habis." Ucap Alex mengecup pipi kurus istri nya.
Alex makan langsung menggunakan tangan, sudah terbiasa dengan segala keadaan yang serba pas-pasan. Alex tak pernah gengsi dengan kesederhanaan nya.
Klek
Terlihat Jordy, Revan dan Heri masuk dengan menenteng plastik berlogo indokaret. Dapat di pastikan isinya pasti berbagai aneka cemilan, untuk menemani Alex selama menjaga Ayank.
Alex tersenyum saja karena diri nya sedang mengunyah makanan di dalam mulut nya. Tak lupa Alex menawari ketiga pria tersebut.
Selesai makan Alex langsung mencuci piring nya di wastafel. Pria itu terlihat jauh lebih segar setelah mengisi lambung nya.
"Roti lagi?" ucap Alex mengintip isi plastik di atas nakas.
"Roti dan minuman penambah nafsu makan. Kau terlihat seperti datuk Maringguh. Aku khawatir Ayank tak ingin bangun karena takut melihat wujud mu yang mengerikan. Kau seperti tengkorak di dalam laboratorium kelas IPA." Ucap Jordy tanpa filter.
Alex malah terkekeh pelan mendengar kalimat tersebut. Ternyata ketiga pria sangar itu tak semenakutkan yang terlihat, bukti nya ke-tiga nya begitu rutin mengantar kan setumpuk cemilan untuk nya.
"Seperti kau gemuk saja." Sela Revan menatap intens sang sahabat.
"Ini body ideal, lagi pula jika aku gemuk. Kasihan istri ku jika harus bekerja keras karena aku gampang lelah dalam menggempur nya setiap malam." Ucap Jordy mengundang tatapan sinis Revan dan Heri.
__ADS_1
Kedua pria jones itu selalu kesal setiap kali Jordy memamerkan kemesraan di hadapan mereka.
Melihat wajahnya datar kedua teman nya membuat Jordy tergelak renyah. Dia sangat suka menggoda kedua nya dengan sengaja memancing emosi kedua pria jomblo akut tersebut.
"Bisakah kau menghentikan tawa jahanam mu yang cempreng itu!" seketika ruangan itu langsung hening, bahkan suara tarikan dan hembusan nafas pun nyaris tak terdengar.
Jordy menatap kedua sahabat nya dengan tatapan entah. Alex sendiri langsung berjalan cepat menghampiri brankar.
"Sayang?" ucap Alex dengan nada bergetar. Pria itu menangis dengan senyum terukir indah. Alex lekas memeluk pelan tubuh Ayank tak lupa memberikan kecupan-kecupan hangat di seluruh wajah istri nya.
"Terimakasih sudah kembali pulang. Aku merindukan mu" ucap Alex mengecup punggung tangan kurus Ayank.
Wanita itu hanya tersenyum lemah, Ayank sudah terbangun sejak tadi. Namun kondisi nya sangat lemah hingga butuh beberapa saat untuk bisa sekedar membuka mata.
Rean tak kalah senang, pria itu menghampiri ranjang Ayank dengan tisu basah di tangan nya. Alex terlihat heran namun sedetik kemudian pria itu mencebik kesal. Rean rupa nya berusaha menghapus jejak Alex di wajah saudari nya.
"Wanita ini istri ku jika saja kau lupa." Ketus Alex sewot. Rean nampak acuh, setelah di rasa bersih, pria itu menciumi wajah Ayank dama persis seperti yang di lakukan Alex tadi. Betapa bahagia nya hati Rean bisa kembali bersua dengan Ayank dalam keadaan sadar.
"Aku tau kau tak akan bisa melepaskan tanggung jawab mu, karena jika kau tak terbangun dalam waktu dekat. Aku berencana akan membakar habis markas kumuh mu itu." Ucapan tersebut berhasil membuat ketiga pria di belakang nya naik pitam.
"Jika kau berani melakukan nya, akan aku ledakan tubuh mu saat itu juga." Kecam Revan geram.
Sedangkan Ayank hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan saudara kembar nya. Dia tau Rean tak akan benar-benar melakukan nya. Pria itu hanya kesal karena takut diri nya tak akan terbangun dari tidur panjangnya. Trauma psikologis yang pernah mereka alami ketika kecil, masih membekas hingga kini. Ketika Ana mengalami koma panjang, Rean paling sering mendatangi kamar orang tua nya diam-diam.
Usia nya yang masih balita kala itu, membuat Rean yang pendiam dan introvert merasa sangat kesepian. Tak memiliki teman dekat selain ketiga saudara nya, membuat Rean hanya bisa berbagi cerita dengan sang ibu yang masih koma.
🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉
^^^Lope lope kesayangan buna Qaya 🤍🥰🥰🥰🤍^^^
__ADS_1