Just A Momen _Istri Tangguh

Just A Momen _Istri Tangguh
Perjalanan Mencari Ayank


__ADS_3

"Kita akan menunggu kakak dan anak-anak di sini, kita sudah terlalu tua untuk melakukan petualangan ini by. Astaga! tapi ini sungguh sangat menyenangkan. Aku berhasil membunuh lima orang, ya ampun! sayang sekali masih kurang satu lagi, jika tidak akan genap jadi setengah lusin jumlah nya. Ck!" Rick menggeleng kan kepala nya melihat Tingkah konyol sang istri.


"Aku bahkan tak tau berapa jumlah manusia yang telah ku tembak. Ini benar-benar bencana. Ayank seharusnya berada di sini untuk menyaksikan para lansia ini beradu skill dengan para bandit kelas teri." Ujar Rick dengan bangga. Mereka kemudian tertawa cekikikan karena tingkah konyol mereka tersebut.


Di usia yang belum terlalu tua, kedua nya sudah memiliki anak-anak yang dewasa dan luar biasa. Itulah untung nya menikah di usia muda. Asal tidak menyalahi aturan dan kaidah agama.


Sementara Lucas berhasil menggiring para musuh menuju titik sasaran. Setelah memastikan sensor senjata otomatis bekerja dengan baik, Lucas bergegas menggulingkan tubuhnya ke bawah jendela. Jendela kamar tamu yang Ayank desain, dengan sebuah kenopi besar sebagai wadah menaruh bunga.


Di sama lah Lucas bersembunyi, para musuh berteriak kalang kabut kala di berondong oleh tembakan beruntun. Tak ada yang melesat, karena senjata tersebut telah memindai tubuh musuh satu persatu. Setelah terkunci, maka letupan demi letupan pun mulai terdengar indah di telinga Lucas.


"Rasakan, siapa suruh melawan orang tua. Ini lah yang di sebut durhaka!" umpat pria itu menggerutu di bawah jendela.


Setelah tak lagi terdengar suara letupan senjata, Lucas kembali berguling keluar dan melihat para musuh yang bergelimang di halaman samping.


Lucas bergidik ngeri melihat bekas tembakan beruntun di tubuh musuh.


"Paman Lucas? kenapa kau malah mengabsen para mayat. Mana buna dan ayah?" tanya Ilian membuat Lucas terkejut. Pria itu memegang dada nya kemudian menatap sang keponakan dengan kesal.


"Kau sudah dewasa, kenapa kalian masih selalu memanggil adikku dengan sebutan buna?!" sewot pria itu menatap jengkel pada ketiga keponakan nya.


"Suka-suka lah paman, adikmu itu buna kami. Dan wanita cantik itu tak pernah protes pada panggilan keramat tersebut. Kenapa paman yang sewot? pasti kurang jatah ini, kasihan sekali bibi memiliki suami setua paman. Paman harus mencoba kopi Rube, semoga saran ku bisa membantu." Ucap Dean dengan wajah tengil.


Lucas benar-benar ingin melubangi kepala keponakan nya dengan bor berkekuatan super. Sedangkan Rean si datar kembali memeriksa sisa amunisi nya berikut senjata kedua saudara laknat nya.


"Ayo ke gudang, buna pasti di sana." Ajak Rean pada kedua saudara nya.


"Paman tidak di ajak?" tunjuk Lucas ke wajah nya.


"Kalau paman mau ikut ya ikut saja." Tukas Rean acuh. Pria itu melangkah menyusuri lorong menuju gudang untuk mencari keberadaan kedua orang tua nya.


"Dasar keponakan laknat, coba saja Ayank di sini. Dia pasti akan membela paman nya yang malang ini." Gerutu Lucas dari arah belakang. Ilian dan Dean terkikik geli mendengar gerutuan sang paman.


"Paman Sam bagaimana?" tanya Rean sebelum membuka kode kombinasi gudang.


"Paman Sam mu masih hidup, dia tak akan bisa mati dengan mudah." Jawab Lucas meyakinkan.


"Keturunan kucing liar sih, nyawa nya ada 11 kaya pemain bola." Sela Ilian berseloroh.

__ADS_1


"Sembilan bege!" sentak Rean gemas dengan kekonyolan Ilian. Sedangkan Ilian hanya cengengesan memamerkan gigi besi milik nya. Pria itu menggunakan kawat gigi karena merasa gigi nya kurang sempurna. Padahal tidak ada masalah dengan tumbuh kembang sang gigi. Hanya saja Ilian tipe pria yang selalu ingin terlihat sempurna di antara para saudara nya. Terutama di depan kaum hawa.


Saat pintu terbuka, ke empat pria beda generasi itu langsung berbalik sempurna.


"Dasar ipar jahanam! apa kau tidak bisa bersabar sedikit hah?! semua orang bertaruh nyawa melawan musuh dan kau sibuk bercinta di sini!" seru Lucas memunggungi kedua insan yang terlihat santai merapikan pakaian mereka kembali.


"Ayah laknat! anak-anak nya entah hidup atau mati di luar sana, lihat lah apa yang dia lakukan. Benar-benar ayah bar-bar!" Sunggut Ilian kesal.


"Aku tak ingin punya adik lagi buna. Katakan pada pria tua ini untuk memakai pengaman terbaik." Ketus Dean tak kalah sadis.


Sedangkan Rean nyelonong masuk tanpa peduli pada kelakuan kedua orang tua nya. Pemandangan yang terlalu biasa bagi nya. Kedua nya hanya sedang berciuman, apa masalah nya.


"Apa Ayank sudah bisa di hubungi?" tanya Rean memecahkan keheningan.


Ana bergegas menyalakan komputer, dan belum ada tanda-tanda dari keberadaan sang anak tercinta.


Rean menghela nafas berat, dia tau sesuatu yang buruk telah terjadi. Namun berusaha terlihat tenang di hadapan keluarga nya, terutama ada sang ibu di sana.


flashback


"Jika sesuatu terjadi pada kakak, mau kah kau berjanji untuk melanjutkan klan mendiang kakek Jorge?"


flashback end


Rean meraih dua buah senjata dari dinding penyimpanan. Mengisi nya dengan amunisi, lalu mengambil dua buah granat. Lucas tau apa yang terjadi, pria itu yakin hal buruk telah menimpa sang keponakan. Hanya Rean lah yang paling dekat dengan Ayank. Karena sama-sama memiliki sikap cuek dan dingin membuat mereka cocok satu sama lain.


"Apa Ayank ku baik-baik saja?" tanya Ana lirih pada sang kakak.


"Tentu saja. Apa kau lupa putri kebanggaan kita itu memiliki jutaan stok nyawa. Tentu tak akan ada yang bisa menyakiti nya di luar sana, terlebih Ayank memiliki orang-orang yang loyal pada nya. Jangan berpikir macam-macam, berdoa saja agar Ayank kita selalu di jaga." Ucap Lucas tersenyum lembut pada sang adik. Sebuah kalimat panjang penuh nada penghiburan.


Itu sudah sangat menjelaskan, jika sang anak tidaklah baik-baik saja.


Hati Ana mencelos sakit, putri nya berjuang seorang diri dan di sini dia tak bisa berbuat apa-apa.


Ana meraih tangan Rean yang tengah sibuk mengemasi tas nya.


"Bawa adikmu kembali dalam keadaan baik-baik saja. Bisakah kau berjanji untuk melakukan nya?" Rean menatap sendu manik berkaca-kaca sang ibu kemudian mengangguk mantap.

__ADS_1


Dean memejamkan kedua matanya kala melihat janji Rean. Janji yang masih abu-abu, namun Rean begitu yakin demi mengukir harapan di wajah teduh ibu mereka.


"Aku ikut." Ucap Dean setelah terdiam cukup lama. Bukan nya dia takut, pria itu hanya tak mau meninggalkan ibu dan ayahnya tanpa pengawasan langsung dari nya. Namun melihat wajah sendu sang ibu, Dean akhirnya memutuskan untuk pergi bersama Rean.


"Aku akan memantau di sini, akan aku bajak satelit untuk melihat pergerakan kalian di luar sana. Paman Lucas akan di sini bersama ku, mungkin saja aku butuh ke kamar mandi untuk urusan mendesak." Kelakar Ilian berusaha mencair kan suasana yang mulai tegang.


Lucas sedikit keberatan, namun tak bisa menolak kala melihat tatapan tajam dari ketiga keponakan nya. Pria itu akhirnya hanya bisa mengangguk pasrah dan kalah telak. apalah arti satu suara di banding kan tiga tatapan laknat yang menghunus ke arah nya.


Sepanjang perjalanan, Dean menjadi lebih pendiam. Pria cerewet itu mendadak tak lagi berkicau setelah mendengar kabar dari saluran radio pemancar. Ayank mereka telah menghilang, tanpa kabar juga jejak. Mobil nya di temukan dalam keadaan hancur lebur.


Hati kedua pria itu di landa kecemasan, namun tetap diam seolah mereka tegar mendengar berita buruk tersebut.


"Aku mendapatkan mu, brengsek!" gumam Rean setelah berhasil meretas kode keamanan markas Antonio.


"Kau ingin melenyapkan adikku, haa.. kita lihat seberapa hebat nya diri mu, kau lupa jika wanita yang kau incar nyawa nya memiliki banyak orang yang mengasihi nya." Dean bergidik ngeri kala mendengar gumaman Rean.


"Kita mengambil jalur terjal 150 meter di depan, arah kiri mu." Titah Rean pada Dean.


"Jika bisa mengambil rute aman kenapa harus memilih jalur menuju surga lebih cepat." Gerutu Dean kesal namun tetap melakukan perintah saudara nya.


Rean mengabaikan Omelan kembaran nya. Dean ahli dalam hal otomotif dan jago dalam mengemudi di medan apapun. Namun jika ada jalur aman, mengapa harus memilih jalur mematikan. Begitu lah pikir Dean yang kadang suka sedikit kontra dengan jalan pikiran saudara nya itu.


"Astaga! Belum sempat kita menyelamatkan Ayank, auto sudah melayang menuju akhirat kalau jalan nya begini model nya." Keluh Dean saat mulai melintasi jalur bebatuan dan di samping nya adalah jurang terjal.


"Berhenti mengomel, kau tidak malu pada Yulia? lihat gadis itu bahkan baru saja memenangkan kejuaraan lomba motor trail melintasi medan terjal di Bandung Minggu lalu? jangan membuat malu saudara-saudaramu!" Kesal Rean yang mendengar Dean terus mengomel melihat kondisi jalan berlubang dalam dan batu yang terlihat licin di depan mereka.


"Aku hanya takut mati sebelum merasakan nikmatnya kawin. Aku masih normal, bukan dirimu yang bisa membelah diri untuk menghasilkan keturunan." Ketus Dean semakin kesal.


Keningnya sudah berkeringat dingin, dan kedua tangan nya sudah mulai terasa keram. Karena terlalu kuat mencengkram kemudi.


Rean melengos ke luar jendela mobil. Pria itu sedang memendam sebuah rahasia pelik. Seorang wanita yang tanpa sengaja dia nodai pada malam pesta waktu itu masih belum di temukan. Rean hanya takut wanita itu mengandung benih nya, lalu menggugurkan anak nya jika sampai wanita itu positif hamil.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Cukup dulu kehaluan hari ini, othor akan comeback tomorrow 😘😘


Silahkan di jejakin banyak-banyak ya gengs🙏🙏😚😚😚

__ADS_1


Lope lope para kesayangan Buna Qaya🥰🥰🥰🥰


__ADS_2