
Ana menoleh kemudian tersenyum menyambut kedatangan sang anak.
"Kenapa baru tiba, buna menelpon mu tadi kenapa berisik sekali." Tanya Ana menatap sang anak.
Rean duduk di kursi kesayangan nya, setiap kursi makan di rumah itu terukir nama masing-masing pemilik nya. Itu sengaja Rick lakukan agar mereka tak lagi berebut akan duduk di mana.
"Aku sedang di jalan, tadi jendela mobil ku aku buka setengah. Jadi suara kendaraan yang buna dengar tadi. Maaf karena langsung menutup panggilan, aku sedang memutar kemudi melewati lampu merah." Ucap Rean jujur dan merasa bersalah.
Ana tersenyum simpul, dia tau apa yang dia dengar, Putra nya mengumpat pasal seorang gadis. Karena bukan Rean lah yang mematikan panggilan terlebih dahulu, namun Ana lah yang mengakhiri nya.
Karena Rean hanya menaruh ponsel nya di jendela mobil, tetap pria itu lupa menekan dengan benar tanda merah untuk mematikan panggilan. Hingga Ana sempat mendengar umpatan nya.
"Tak apa, duduk lah." Makan siang berjalan cukup mengenyangkan telah usai. Meski terlihat Rean sedikit gelisah dan tak terlalu fokus pada makanan nya. Pikiran nya menerawang pada gadis yang tak sengaja dia lihat tadi. Gadis itu terlihat lebih berisi dari yang terakhir dia ingat. Dia yakin jika gadis itu pasti sedang mengandung anak nya.
Senyum nya mengembang tanpa sadar. Ana terus memperhatikan putra nya dengan seksama. Dia sungguh yakin jika Rean sedang menutupi sesuatu dari nya.
"Sejak tadi buna melihat mu sedikit berbeda, apa ada hal yang spesial sayang?" tanya Ana memulai sesi interogasi nya. Jiwa kepo emak-emak pun tak luput dari diri wanita kalem tersebut.
Rean langsung salah tingkah, semua mata kini tertuju pada nya. Seolah Rean tengah menjadi seorang tersangka di tengah para penyidik, yang siap melahap nya dengan banyak pertanyaan menyebalkan.
"Apa sih bun, tidak ada hal spesial apapun. Hari ini aku hanya senang saja, karena proyek ku berjalan lancar. Itu saja, berhenti menatap ku seperti itu. Aku risih." Sewot Rean mengabsen satu persatu keluarga nya yang masih menatap nya menanti sebuah jawaban.
"O... buna pikir kau sedang dekat dengan seorang gadis." Sahut Ana lembut namun syarat makna.
Rean tersenyum kaku melihat senyum misterius sang ibu.
ππππππππ
__ADS_1
Ayank meminta ijin untuk mengunjungi markas, Alex sedikit keberatan. Namun ayank meyakinkan jika semua akan baik-baik saja.
Alex harus melakukan pertemuan dengan klien, dan tak bisa di tunda. Jika tidak, maka dia akan dengan senang hati menemani sang istri ke markas.
"Hati-hati lah, jaga diri calon mama." Ujar Alex tak rela melepaskan istri nya pergi.
Ayank terkekeh kecil, panggilan itu sudah seperti panggilan sayang bagi kedua nya.
"Baiklah calon papa, calon ibu dari anak-anakmu ini akan menjaga diri nya dengan baik." Ucap Ayank tersenyum hangat. Alex kembali memeluk istri sebelum wanita itu masuk ke dalam mobil nya. Jordy sudah bersiap di dalam mobil sembari menelpon sang istri.
Kedua nya tengah memperdebatkan soal pesta ulang tahun sang anak. Miska ngotot dengan pendapat nya, sedang kan Jordy ingin membuat pesta yang meriah seperti sebelum nya. Miska merasa Jordy terlalu pemborosan, sedang kan Jordy merasa Miska ibu yang perhitungan.
"Poko nya pake jasa EO, titik. Sekali setahun sayang, jangan pelit sama anak sendiri. Lagi pula aku mamakai uang sangu ku sendiri selama satu tahun ini aku tabung. Uang jatahmu aman sayang, sudah dulu ya.. nyonya bos sedang ingin jalan-jalan. Dah sayang, love you!" Ucap Jordy mematikan panggilan nya.
Ayank menggeleng pelan, tak percaya Jordy menjadikan nya tameng agar bisa menghindari ocehan istri nya.
"Soal ulang tahun Saka lagi? masih mau di rayain di taman belakang aja, sama anak yatim?" tanya Ayank penasaran. Miska sudah curhat pada nya mengenai ide tersebut namun Jordan lebih suka jika di lakukan dengan meriah. Selain akan membuat anak-anak panti senang karena jarang mendapat momen seperti ini, diri nya juga ingin setiap momen ulang tahun Saka akan anak itu ingat seumur hidup.
Bahwa dia lah ayah nya. Pria bertato yang sangat menyayangi nya.
Jordy bahkan menyisihkan uang saku yang di jatah oleh Miska demi melancarkan rencana tersebut. Sejati nya Miska bukanlah istri yang pelit. Jordy sengaja memberikan semua hasil kerja nya pada sang istri agar dengan mudah di kelola oleh wanita itu.
Miska merasa apa yang selalu Saka dapat berlebihan, wanita itu masih saja tak enak hati pada ketulusan Jordy.
"Biasa, wanita kalau sudah menikah dan menjadi emak-emak. Ilmu matematika nya mendadak tinggi. Aku kalah kalau soal sistematis pengeluaran bulanan. Kasihan sekali putra ku memiliki ibu yang terlalu hemat." Keluh Jordy membuat Ayank tertawa renyah.
"Miska hanya masih sungkan melihat putra nya selalu bermanja-manja padamu. Dan kau selalu menuruti arah telunjuk Saka setiap kali kalian jalan-jalan." Bela Ayank menengahi.
__ADS_1
"Itulah yang aku tak suka. Aku bahkan tak ingat jika Saka bukan putra kandung ku. Wanita itu benar-benar ingin ku garap hingga tak mampu lagi protes apapun selain memohon ampunan." Dumel Jordy fokus mengemudi.
"Itu memang ingin mu, Sugeng!" seru Ayank dari jok belakang. Jordy terkekeh laknat.
"Apa kau masih membubuhi pil kontrasepsi pada minuman istri mu?" hampir saja Jordy menginjak pedal rem secara mendadak.
"Kau? bagaimana bisa kau mengetahui nya? aishh kenapa aku bisa lupa, kalau kau si nyonya cenayang. Menyebalkan, awas saja jika istri ku mengetahui nya. Aku akan mogok kerja selama satu bulan." ancam Jordy menekuk wajah nya.
Bukan nya dia tak ingin memiliki anak lagi, dia hanya ingin kasih sayang nya fokus pada Saka hingga anak itu masuk sekolah dasar. Sementara Miska sudah sangat ingin memiliki anak kedua. Itu kenapa Jordy selalu rajin membuat jus untuk sang istri, sebelum mereka melakukan ritual penyempurnaan kebahagiaan sebagai suami istri.
Dia tak ingin kasih sayang mereka terbagi dari sang anak pertama. Saka harus benar-benar merasakan cinta nya melekat dalam diri bocah tersebut. Memiliki adik akan membuat waktu bersama Saka terbagi, dan perhatian mereka terpecah. Dia tak ingin kelak saat Saka menyadari jika diri nya bukan ayah kandung nya, dan merasa pantas saja jika diri nya sejak kecil merasa kurang kasih sayang.
Jordy sangat menjaga psikologi putra nya itu. Sungguh mafia berhati Barbie.
"Ya ya...aku tau alasan mu, tapi Miska juga punya pendapat sendiri yang harus kau pahami. Posisi kan dirimu di kondisi nya. Kau akan mengerti kenapa Miska tak ingin kau terlalu memanjakan Saka. Kelak Saka akan tumbuh menjadi seorang kakak, tanggung jawab nya tak main-main. Apa lagi memiliki ayah dengan pekerjaan tak biasa seperti mu, pikir itu." Nasihat Ayank bijak.
Jordy hanya mengangguk paham. Walau sudut hati nya masih berontak tak rela. Kehadiran Saka telah merubah banyak gaya hidup nya. Tak pernah ada godaan ja la ng yang mampu menembus pertahanan nya. Ingatan nya pada keluarga kecil nya selalu menjadi benteng kokoh, di mana pun Jordy melakukan misi nya.
Tak banyak tau, jika pria itu adalah mantan seorang agen rahasia. Memilih bekerja sebagai seorang informan berkedok Mafia. Begitu pun Revan juga Heri serta anggota lain nya. Selebih nya adalah para preman insyaf yang berhasil Ayank didik ke jalur yang benar.
ππππππππ
Mas Sugeng nyempil dikit ya gengsπ€π
Semoga terhibur π€π€π€
Lope lope kesayangan buna Qaya π₯°π€π€π₯°
__ADS_1