Just A Momen _Istri Tangguh

Just A Momen _Istri Tangguh
Akhir misi seorang wanita tangguh


__ADS_3

"Hei? ayo berangkat. Berhentilah meng ghosting para wanita seksi." Tegur Jordy asal. Revan mencebik kesal lalu menyimpan ponsel nya di tempat aman. Dia tak ingin kehilangan ponsel nya karena rusak atau terjatuh. Ada momen yang tak bisa sampai hilang dari sana.


...****************...


Setiba di lokasi tujuan, sudah ada dua orang yang menyambut mereka lalu mengarahkan beberapa tim ke beberapa titik untuk melakukan penyerangan.


Ayank memilih bekerja sendiri. Namun Revan tak membiarkan nya, pria itu tetap kukuh untuk menggabungkan diri bersama Ayank meski hatinya was-was akan keselamatan Alicia.


"Jaga Alicia Jor, kau tau aku tak bisa sampai kehilangan nya." Ucap Reva sebelum mereka memisahkan diri.


"Kau juga, jaga bos dengan seluruh nyawamu. Kita harus membawanya kembali dalam keadaan utuh seperti saat dia datang kemari. Ada tiga hati yang menahan kerinduan dan kecemasan menanti wanita keras kepala itu pulang kembali." Revan mengangguk.


Setelah itu, mereka berpisah menuju titik sasaran masing-masing. Jordy menoleh sekali lagi sebelum akhirnya menghilang di balik sebuah kontainer. Sekilas Jordy melihat bagaimana Ayank mulai mengeluarkan senjatanya. Hatinya mendadak tak karuan.


Suara tembakan pertama menandakan jika penyerangan telah di mulai. Anak buah Antonio dan Bard mulai melayangkan tembakan ke beberapa arah secara acak. Mereka terkepung di tengah-tengah tanpa bisa keluar. Semua akses masuk, telah menjadi titik balik penyerangan untuk membuat posisi mereka terpojok.


"Dam*n it!" ujar Bard marah. Pria tambun sang predator anak tersebut kesal karena ada yang mengacaukan transaksi nya. Sedangkan Antonio juga terlihat sama kesalnya. Mereka bahkan belum sempat bertemu dengan orang yang akan menjadi rekanan dalam transaksi tersebut. Tanpa mereka tau, jika calon rekanan tersebut adalah orang suruhan Ayank.


Antonio terdiam, dia tau siapa yang menyerang mereka, namun pria itu tak mengetahui siapa yang membocorkan informasi rahasia tersebut.


"Diamlah Bard! kau pikir aku senang dengan ini?! mari kita bekerja sama, aku tak ingin di tangkap atau mati konyol di sini." Marah Antonio pada Bard yang terus mengumpat.


Beberapa anak buah mereka berusaha untuk melindungi ke-dua nya. Namun serangan dadakan yang dilakukan oleh lawan, membuat mereka kewalahan.


Kalah jumlah, membuat mereka terpojok semakin dalam.


"Bi*tch!" umpat Bard sekali lagi, saat di berondong tembakan oleh Ayank. Wanita itu terlihat begitu tangguh tanpa rasa takut. Melangkah dengan berani ke arah persembunyian sang ayah mertua dan rekannya.


Revan terus berusaha melindungi Ayank dengan menjadi kan dirinya sebagai tameng.


"Senang bertemu kembali dengan mu papa mertua. Kau terlihat semakin bugar dan sehat. Apa menikmati uang haram membuat organ tubuh papa menjadi lebih baik? Seperti nya uang haram tersebut berhasil meregenerasi sel-sel rapuh di tubuh papa." Ujar Ayank penuh nada ledekan.


"Aku bukan ayah mertuamu!" hardik Antonio marah dan merasa terhina. Mulut tajam wanita itu semakin terasah dengan baik setiap hari.


"Ah, Bagaimana aku bisa lupa. Kau benar papa mertua. Tak heran Alex tak memiliki gen seorang penjahat seperti mu! Apa papa puas telah berhasil menyulap Alex, anak panti asuhan yang malang sebagai aset papa selama bertahun-tahun lamanya? ckckck! Alex ku yang malang." Kepalan tangan Antonio semakin ketat.


Pria itu tak menyangka, jika Ayank mengetahui segalanya. Dia lupa lagi, kalau Ayank selalu beberapa langkah di depan nya.


"Tutup mulutmu wanita ja la ng!" hardik Bard semakin marah. Melihat Antonio terdiam akibat mulut tajam wanita itu, membuat hatinya semakin kesal.

__ADS_1


Jarak mereka cukup berjarak dan masih ada bok senjata api sebagai benteng perlindungan dua kubu masing-masing.


Ayank dan Revan setengah berjongkok untuk berlindung dari bidikan musuh.


"Aku akan maju, pastikan kau tetap di sini sebagai tamengku." Ucap Ayank yang langsung di tolak oleh Revan.


"Aku lebih baik pulang dalam peti jenazah, daripada membawa tubuh tak bernyawa mu kembali ke tanah air." Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Revan berguling lalu mengarahkan tembakan pada musuh yang sudah dia targetkan.


Ayank menggeleng melihat Revan melupakan titik sasaran lain di arah barat.


"Kau sama ceroboh nya dengan Alicia. Aku khawatir jika kalian bersama, bisa-bisa baru saja turun dari kendaraan, potongan tubuh kalian langsung berserakan di jalanan." Gumam Ayank menggeleng pelan.


Wanita itu menghitung target kemudian mengambil sisi berlawanan. Suara tembakan Ayank membuat jantung Revan hampir berhenti. Wanita itu membidik tepat ke arah kepala nya. Nyatanya Ayank menembak musuh yang berada tepat di belakang Revan.


"Kurangi kecerobohan mu, Wijaya. Sugeng sedang tak di sini untuk melindungi mu." Ujar Ayank datar.


Revan mencebik jika mendengar Ayank sudah menyebut nama-nama keramat mereka.


"Keluar lah, mari kita unjuk kebolehan. One on one." Tukas Ayank memancing lawan nya untuk keluar dari persembunyian. Apa lagi yang di harapkan, semua anak buah yang berjaga di sana telah Ayank dan Revan kirim ke akhirat.


Tak lama muncul Antonio dan Bard dari balik kontainer dengan senjata di tangan keduanya.


"Amunisi ku tak seberapa tapi cukup jika hanya untuk membuat kalian berdua meregang nyawa. Jadi, mari kita lakukan dengan cara manual. Cara primitif lebih menantang, bukan?" Ujar Ayank mulai memprovokasi keduanya.


Perkelahian pun yg terjadi. Ayank menghadapi sang mertua, sedangkan Revan melawan Bard.


Perkelahian sengit terus berlanjut, Ayank yang sedikit kewalahan akibat luka sesar di perut nya. Memilih untuk menangkis serangan sebisa yang dia lakukan. Wanita itu sengaja mengulur waktu sembari menunggu Revan selesai dengan gorila gunung, Bard.


"Kau ternyata tak sehebat yang selalu ku dengar!" remeh Antonio meludahkan darah ke arah Ayank.


"Ini karena aku baru saja membawa dua malaikat kecil yang di sebut cucu bagi seorang kakek dan nenek. Apa papa tak berniat untuk memberikan hadiah kecil atau salam hangat untuk kedua bayiku dan Alex? mereka berdua sangat menggemaskan. Ah, aku jadi merindukan anak-anak ku yang lucu." Ujar Ayank sedikit menerawang.


Antonio berdecih jijik.


"Aku tak sudi memiliki cucu dari wanita laknat seperti mu." Ayank terkekeh hambar. Tak menyangka jika reaksi Antonio seperti ini.


"Kau benar-benar pantas untuk ku kirim ke alam baka ayah mertua." Ayank kembali menyerang dengan tenaganya yang tersisa.


Adu ketangkasan kembali terjadi, tanpa Ayank tau jika Antonio sungguh licik. Pria itu mengeluarkan belati dari balik pinggang nya lalu menusuk tepat di jantung Ayank.

__ADS_1


Ayank merasa kan tubuh nya kaku, dingin dan pandangan nya mulai mengabur. Revan yang baru saja selesai dengan si gorila gunung, lekas membantu Ayank. Dia sengaja tak melenyapkan nyawa Bard, karena Boby lebih berhak untuk melakukannya.


Pria itu bergerak cepat meraih pistol di tanah kemudian mengarahkan ke dada Antonio. Antonio tumbang seketika. Sedangkan Ayank mulai kehilangan kesadaran nya.


"Kau harus bertahan, kau ingat kata-kata ku? aku tak sudi membawamu kembali jika hanya menjadi beban untuk ku di perjalanan. Akan aku buang tubuhmu ke lautan sebagai makanan hiu jika kau berani memejamkan kedua matamu." Ayank tersenyum samar di balik sisa waktu yang dia miliki.


Bayangan anak-anak dan sang suami kini menjadi penghantar nya menuju jalan pulang.


Jordy dan yang lain yang baru tiba, terpekur melihat pemandangan yang ada. Jordy lekas berjongkok untuk memeriksa nadi Ayank. Pria itu berteriak marah, tak rela. Nadi ayank sudah tak lagi berdenyut. Wanita itu telah pergi, kini mereka benar-benar kehilangan wanita panutan dalam hidup mereka.


...----------------...


Perjalanan panjang dari luar negara ini membawa cerita duka, membawa tubuh tak bernyawa. Membawa duka cita mendalam bagi sanak keluarga, terutama Alex dan anak-anak nya.


Keluarga menyambut kepulangan Ayank dengan isak tangis. Namun tidak bagi Alex. Pria itu terlihat tegar tanpa setetes pun air mata. Bahkan saat peti jenazah sang istri diturunkan ke liang lahat, Alex bergeming. Memeluk pigura sang istri tanpa ekspresi apapun.


Berita duka cita itu menyebar ke seluruh pelosok negeri. Wanita dengan banyak jasa tanpa pernah sekalipun menunjukkan berapa besar kontribusi nya, dalam memberantas para bandit dan mafia. Kini telah tiada. Berpulang dalam misi terkahir nya, meninggalkan dua orang anak dan seorang suami yang jiwanya terguncang sangat parah.


Hingga dua Minggu kepergian wanita itu, media masih memberitakan kepergian nya. Banyak ucapan belasungkawa juga kalimat pujian di media sosial bagi jasa-jasanya semasa hayat masih di kandung badan.


Semua anggota klan Cuteness masih di rundung duka mendalam. Mereka masih larut oleh rasa kehilangan. Makam wanita itu selalu di banjiri tumpukan bunga-bunga segar dari para pemujanya.


Akhir hidup seseorang tak ada yang dapat menebak nya. Arkhan yang kini menjalani hidup di desa setelah sembuh dan bebas dari tahanan Ayank. memilih kembali mengabdikan dirinya di markas wanita yang pernah sangat dia cintai itu.


Hubungan nya dengan dokter yang merawat nya, tak lepas dari campur tangan Ayank. Arkhan memutuskan untuk menjadi bagian dari Klan Cuteness. Dan di terima baik oleh anggota yang lain. Begitu pun Boby. Boby memilih mengabdi dengan harapan dapat membalas jasa wanita itu, dengan menjadi bodyguard bayangan bagi anak-anak yang telah di tinggal kan ibu mereka.


Haura, wanita itu kembali ke tanah air setelah di sekap selama satu bulan dalam kurungan suaminya. Wanita itu menjadi pelayan sosial di yayasan anak-anak yatim piatu.


Banyak kisah terjadi dan berkahir tak sesuai kehendak semesta. Kita hanya perencana, tapi Tuhan punya kehendak. Selain berserah dan berusaha, kita hanya perlu menjadi orang baik meski tak sempurna dalam segala nya.


...*End*...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Terimakasih sudah menemani perjalanan novel ini hingga di penghujung kisah.


Banyak kekurangan dalam penulisan, penokohan dan alur. Namun Kalian masih mau menikmati cerita receh ini.


Untuk para readers tercinta, terimakasih banyak atas partisipasi waktu kalian untuk membaca novel Buna Qaya. Tanpa kalian Novel ini tidak bisa di sebut sebuah novel.

__ADS_1


Kisah kehaluan ini murni hasil karya pikiran sendiri. Tanpa menjiplak karya siapapun dan meniru adegan sinetron.


Salam hangat dan sayang untuk kalian yang liar biasa🫂🥰🤍


__ADS_2