
Alex terlihat berkeringat dingin, pria itu tengah berlari keliling pasar tradisional karena tadi terpergok oleh orang suruhan sang ayah ketika menarik uang di ATM. Dengan sekuat tenaga, Alex berusaha menghindari kejaran tersebut.
Dia tak boleh sampai tertangkap, atau dia akan kehilangan kebebasan nya saat itu juga. Bagaimana dengan nasib mantan istri nya yang masih belum sadar? dan perlakuan bejat sang sahabat yang masih belum bisa dia buktikan hingga sekarang.
"Hoss hoosss hoossss...!" derus nafas Alex benar-benar sudah di ujung batas. Pria itu terengah-engah karena terus berlari tak tentu arah tujuan, motor yang dia gunakan tak sempat dia ambil dari parkiran di samping ATM tadi.
Tiba-tiba seseorang menepuk bahu nya, membuat Alex reflek mengunci pergerakan tangan orang tersebut.
"Auww!" seru seorang wanita berteriak saat merasakan pergelangan tangan nya seperti di patahkan. Terasa panas dan ngilu.
"Kau?!" seru Alex tak kalah terkejut, saat melihat siapa yang telah dia cekal dengan kuat. Perlahan Alex melepaskan nya namun masih tetap bersembunyi di balik tingkap para pedagang pakaian.
"Apa yang kau lakukan di sini, Lex? ini, kau sedang di kejar seseorang?" tanya wanita itu beruntun.
"Orang suruhan ayah ku. Dan kau? kenapa bisa berkeliaran di pasar? bukankah kau tidak suka tempat seperti ini? dan kenapa kau berada di kota kecil ini?" cecar Alex balik melontarkan pertanyaan. Sembari menelisik penampilan di wanita yang hanya mengenakan daster rumahan. Dan yang membuat perhatian terusik adalah bentuk perut si wanita yang terlihat mengembung.
"Kau?" lanjut Alex sambil menatap Perut si wanita tak percaya. Dengan sedikit risih, si wanita berusaha menutupi permukaan perut nya. Wajah nya pias menahan malu.
"Aku...hamil.." ucap nya pelan sambil menunduk dalam. Alex terperangah, namun segera menormalkan ekspresi nya. Dia tak ingin terlihat mengintimidasi si wanita, terlebih ikut campur dalam urusan wanita itu lagi.
"Kau sudah menikah?" pertanyaan Alex di jawab gelengan oleh si wanita, membuat Alex semakin tak enak hati.
"Maaf, aku tak ber...."
__ADS_1
"Tak apa, melihat kondisi ku semua orang pasti akan berpikir sama seperti mu. Ini anak kakak ku, namun dia mencampakkan ku setelah aku tak lagi berguna untuk nya. Gagal mendapatkan mu kembali, membuat nya marah dan mengusir ku dari kediaman nya meski tau aku sedang mengandung anak nya. Dia menganggap anak yang ku kandung adalah benih rusak, karena kami masih terikat hubungan darah yang sama. Namun aku tak ingin membunuh bayi ku sendiri, sudah cukup dosa yang ku lakukan selama ini. Termasuk menipu mu agar membiayai seluruh hidup ku beberapa tahun belakangan. Juga tujuan lain untuk menguasai mu, berikut hartamu saat aku berhasil mendapatkan mu seutuh nya."
Miska menghela nafas panjang, wanita itu terlihat sedikit lega saat mengeluarkan separuh isi hati nya.
"Maafkan aku, Lex. Aku tak bermaksud untuk membuat hubungan mu dan istri mu rusak. Aku dalam tekanan kakak ku, selebih nya aku juga sudah terlalu nyaman dengan segala perhatian mu pada ku. Hingga aku berpikir apa salah nya menikmati cinta dari dua pria sekaligus. Aku tau itu serakah, tapi aku hanya manusia biasa. Batas hati ku tak mampu menampik, jika apa yang kau berikan selama ini telah membuat ku terlena. Sekali lagi maaf kan aku. Ah ya, kau bisa bersembunyi di kontrakan ku sementara orang-orang ayah mu masih berkeliaran, itu di belakang pasar ini. Aku akan mengatakan kau saudara ku yang datang menjenguk ku kemari."
Tawar Miska di ujung kalimat permohonan maaf nya. Alex terlihat berpikir, lalu mengangguk pelan. Mereka berjalan melalui gang sempit dan kumuh menuju kontrakan Miska.
Hanya rumah petak yang terlihat padat penghuni. Dan rata-rata adalah pasangan suami isteri dan anak-anak mereka.
"Kau sudah lama tinggal di sini?" sela Alex memecahkan keheningan, aneh rasa nya jika mereka bersaudara namun malah diam-diaman. Itu akan mengundang pandangan buruk warga rumah petak dan sekitar nya. Tak akan baik bagi Miska sendiri.
"sudah beberapa bulan, setelah aku di usir aku langsung kemari meski tak tau kemana tujuan utama ku. Untung saja ada hadiah pemberian mu dulu, maaf aku menjual nya. Aku tak memiliki sepeserpun uang saat aku di depak bagai sampah oleh Hugo." Cerita Miska sembari memasukkan anak kunci.
"Mbak Miska di jenguk siapa ini?" tanya seorang wanita dengan dandanan menor, menatap Alex dengan tatapan menelisik. Membuat Alex risih.
"Eh, mbak Wati Ningrum. Ini Adik saya mbak, dia merantau di ibukota. Baru bisa jenguk saya di sini. Kenalkan, nama nya Ismail, sudah menikah dan anak insyaallah sedang otw pembuahan. Bentar lagi adik saya ini jadi seorang ayah, mbak Wati Ningrum." Jelas Miska panjang lebar tanpa di minta.
Sementara Alex sejak tadi hanya bisa melongo dengan tatapan gusar ke arah Miska. Siapa itu Ismail? anak? astaga! wanita itu benar-benar ahli nya dalam hal drama. Dasar drama queen, batin Alex merutuk mulut lanteh Miska.
"Oh, sudah punya istri. Saya kira masih bujangan atau paling tidak duda lah. Kan saya janda, jadi kan cocok. Mbak Miska tidak perlu jauh-jauh kalau mau nyari ipar yang paket komplit. Saya kan ada..." Ujar wanita itu terpancar kekecewaan di wajah nya. Namun tatapan nya tak lepas dari wajah tampan Alex, yang telah membuat bagian haus belaian dalam diri nya tergelitik ingin segera di garuk manja.
"Udah laku mbak Wati, adik saya kan tampan ini kan yaa, dik Ismail..." balas Miska sedikit mengerling ke arah Alex membuat Alex menekuk wajah nya seketika. Sungguh dia ingin menyumpal mulut wanita hamil itu menggunakan gagang sapu.
__ADS_1
"Aku capek mbak Miska ku yang montok, boleh aku masuk duluan tidak?" Alex mulai mengikuti drama dadakan yang di buat oleh Miska. Membuat wanita itu mengulum senyum geli.
"Maaf mbak Wati, nanti kalau saya ketemu lagi dengan adik saya yang masih berada entah di mana itu. Saya kenalkan deh, di jamin mbak Wati akan langsung klepek-klepek kaya ikan kehabisan oksigen." Ujar wanita hamil itu terkikik geli di ujung kalimat nya, namun Wati justru menanggapi dengan serius kalimat penuh dusta tersebut.
"Benaran mbak Miska? ganteng seperti yang ini tidak? aku mau deh, pesen satu ya.. langsung bungkus aja kalau sudah datang. Paketin ke rumah saya langsung, ongkir saya tanggung. COD Tunai di tempat, berapa pun limit nya." Balas wanita itu penuh semangat.
Miska meringis lalu melirik Alex yang tersenyum puas melihat reaksi nya.
"Anu..hmmm..ya mbak Wati, nanti langsung saya paket kan pake kargo biar aman ya." Jawab wanita hamil itu asal. Agar Wati segera pergi dari kontrakan nya sebelum diri nya mengatakan banyak cerita karangan lain nya lagi.
"Oke calon kakak ipar, tar malam aku kemari lagi ya. Tadi aku mau buat rendang daging, tar aku bagiin mbak Miska sama mas Ismail. Daah..." setelah Wati pamit, Miska terlihat menghela nafas lega. Alex mentertawai wanita itu yang terlihat terjebak oleh permainan kata-kata nya sendiri.
"Kapok, kan? mbak Miska ku yang cantik..." Alex kemudian terkekeh kecil, sementara wajah Miska di tekuk kesal. Wanita itu memindahkan beberapa sisa kue ke dalam piring lalu di hidangkan pada Alex. Tak lupa membuat kan teh hangat.
"Eh? tidak repot-repot Mis, ini kapan kau beli?" rupa nya Alex tak menyadari nya sejak tadi, jika wanita itu sejak di pasar menenteng sebuah box plastik bening berisi sisa jualan nya.
"Apa kau tak lihat isi box ku sejak tadi? ishhhh...!" kesal wanita itu lalu ikut duduk di karpet berhadapan dengan Alex, karena ukuran ruang tamu tersebut hanya seluas 3x,2 meter saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Maafkan othor yang sedikit lelet update, akhir tahun selalu menjadi bulan yang paling sibuk bagi othor. Harap maklum ya readers ku tercinta. Othor sedang mempersiapkan segala sesuatu dan lain hal untuk menyambut hari raya Natal 🙏🙏
Berkutat dengan banyak hal yang menyita banyak waktu dan fokus, hingga untuk sekedar bermain ponsel saja sedikit ogah-ogahan.
__ADS_1
Semoga masih betah di sini, lope lope kalian semua para penyemangat yang budiman🥰🥰🥰🥰🥰