Just A Momen _Istri Tangguh

Just A Momen _Istri Tangguh
Penyelamatan yang penuh perjuangan


__ADS_3

Jordy terlihat sangat kelelahan, cuaca cukup terik dan mereka berdua juga tengah menahan rasa sakit yang sama di tubuh masing-masing.


"Lex, coba kau naik, aku sudah tak sanggup lagi. Jurang ini seolah tak ada ujung nya, kita sudah berjalan sejauh ini dan tak menemukan titik yang bisa kita capai untuk membawa Ayank naik." Jordy bersandar di bebatuan, pria itu terlihat sangat pucat.


Alex pun sama lelah nya namun tekad untuk segera menyelamatkan Ayank lebih besar dari rasa lelah nya. Dengan sedikit tenaga yang tersisa, Alex memanjat tebing di depan nya. Bebatuan yang berlumut sedikit membuat nya kesulitan untuk mencapai puncak.


Setelah berusaha dengan penuh perjuangan, akhir nya Alex berhasil naik ke tepi jalan. Namun sebelum menampakkan diri nya, Alex memastikan tak ada anak buah sang ayah berkeliaran di daerah sana. Meski sudah cukup jauh berjalan, namun Alex tetap saja waspada.


Alex beristirahat sebentar di balik pohon besar, mengatur alur nafasnya yang tersengal-sengal lelah. Tak lama terdengar suara mobil dari kejauhan. Alex ragu namun tak punya pilihan lain, dengan nekat, Alex berdiri di tengah jalan kemudian mengangkat kedua tangan nya dengan cara melambai-lambai.


Alex hanya berharap pemilik mobil itu adalah orang baik. Ayank nya Sedang sekarat, termasuk diri nya juga Jordy yang sudah sangat kelelahan.


Mobil berhenti dengan suara ban yang berdeciit keras. Pengemudi mobil tersebut turun dan Alex melebar kan senyum nya. Ternyata pemilik mobil itu adalah ipar-ipar nya sendiri.


"Dean, bantu aku membawa Ayank naik. Kondisi nya tidak baik dan aku kesulitan membawanya naik, kondisi di bawah sana sangat licin. Ada Jordy sedang menjaga nya di bawah." Cerocos Alex tanpa jeda, Rean melompat lalu meluncur begitu saja mengikuti jejak Alex. Pria itu tak peduli pada medan terjal yang buruk, pikiran nya sudah di penuhi oleh kecemasan akan saudari perempuan nya.


Dean mengambil kantung tidur juga tali tambang, "kau turun lah, bawa ini. Aku akan menarik dari sini, pasti kan kepala nya aman. Pakaikan ini pada nya." Titah Dean kemudian memberikan topi kupluk milik nya pada Alex.


Kantung tidur itu hanya sampai di batas leher, Dean tak ingin kepala saudari nya terbentur batu ketika di angkat naik.


Alex kembali turun menyusul Rean, di bawa sana Rean sedang memberikan semacam suntikan adrenalin. Rupa nya jantung Ayank sudah tak lagi berdetak. Alex bahkan tak menyadari nya tadi karena buru-buru naik ke atas. Jordy terlihat panik, ketika melihat Rean terus melakukan CPR pada Ayank.


Alex pun sama panik nya, ketakutan melanda hati nya. Dia tak ingin kehilangan istri nya, sungguh hati nya tak akan pernah rela.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, dada Ayank kembali bergerak naik turun meski terlihat sangat lemah. Rean mengusap sudut mata nya, lalu mencium kening Ayank dalam.


"Bawa kantung nya kemari." Alex memberikan kantung tersebut, mereka bertiga sepakat untuk naik bersamaan. Agar dapat memastikan Ayank tak membentur batu ketika di tarik naik oleh Dean.


Sedangkan di atas sana, Dean mengumpat kesal. Di saat dirinya butuh konsentrasi penuh, dia malah di berondong tembakan yang entah dari mana. Dengan satu tangan Dean berusaha menahan tali agar tak melorot jatuh, dan satu tangan nya membalas tembakan jahanam tersebut. Pistol nya yang di pasangi peredam suara membuat ketiga manusia di bawah sana tak mengetahui apapun. Rean bahkan mengumpati adik nya berkali-kali karena tak becus menarik tali.


Alhasil ketiga nya harus bergotong royong, agar kantung Ayank tetap bisa naik dengan bantuan dorongan secara bergantian. Jordy bertuga di bagian tengah tubuh Ayank, ketika Alex dan Rean mengangkat ujung sisi masing-masing. Jordy bertugas menahan nya agar seimbang. Sungguh perjuangan yang sangat berat untuk mencapai tepi jalan.


Rean yang lebih dulu naik, melongok kan kepala nya dari balik tebing. Dean menendang batu kecil agar Rean kembali merunduk.


"Apa kau gila ya?!" teriak Rean kesal, mata nya hampir saja menjadi sasaran empuk batu-batu kecil hasil tendangan Dean.


"Aku sedang di tembaki buduh! tetap di tempat mu dan pasti kan mereka tak melubangi kepala mu itu." Ketus Dean balik marah.


"Bedebah!" umpat kemudian mengambil senjata dari balik jaket nya, kemudian mengarahkan tembakan. Setelah kematian target terlihat dan terkunci, Rean membidik dan dor! dua suara tembakan mengenai tepat sasaran. Dua target yang sedang berada di jarak puluhan meter itu tumbang. Rupa nya mereka berada di sisi seberang jalan, bersembunyi di balik batu sebagai benteng.


Setelah di rasa aman Rean lekas naik, sebelum pergelangan Dean benar-benar terlepas dari tempat nya.


"Beristirahat lah, Lex, tolong balut luka Dean." Alex lekas mengambil kotak P3K di dashboard mobil. Setelah membersihkan luka tersebut, Alex kemudian membalut nya dengan menggunakan perban.


"Berikan aku satu dosis anti nyeri." Titah Dean, dia tak ingin mengalami demam akibat rasa sakit di tangan nya. Sedangkan saudari nya butuh pertolongan dan perhatian dari nya.


"Aku tak berani melakukan nya," ujar Alex menatap tak enak hati, Dean mengambil spuit dan ampul, lalu mulai menyuntikkan cairan tersebut ke lengannya sendiri.

__ADS_1


"Kau harus belajar melakukan nya, kelak Ayank akan sangat butuh keahlian mu yang satu ini selain skill mu di tempat tidur." Ucapan frontal tersebut berhasil membuat pipi Alex memanas.


"Sudah siap, kau berbaring saja. Aku yang akan mengemudi." Rean mengambil alih kemudi, dan Jordy tengah mengotak atik iPad milik Rean. Rasa lelah nya seketika menguap ketika melihat keadaan Ayank yang kembali berada di titik terendah. Denyut nadi nya kembali menghilang, Alex berusaha melakukan CPR juga memberikan nafas buatan.


Sedangkan Rean mengemudi mobil nya gila-gilaan. Dean yang biasa nya protes kini mendadak lebih bersemangat. Pria itu mengarah kan Kemana mobil harus berbelok, mengingat Rean bukanlah pengemudi mobil yang handal namun cukup bisa di andalkan.


"Pasti kau terus menekan dada nya Lex, aku tak ingin kehilangan saudariku!" seru Rean dari kursi kemudi. Tanpa menoleh fokus nya mengarah ke jalan yang sedikit licin akibat lumut. Mereka melewati jalur lain yang lebih aman, meski sama-sama memiliki resiko tinggi mengalami insiden.


"Kembali lah Ay, kau bilang ingin memulai segala nya bersamaku. Bukan begini janji mu, kau tak boleh mengingkari nya. Apa kau lihat bagaimana perjuangan ku selama ini? aku menunggu mu dengan setia, mengabaikan lalat yang berniat hinggap mengerubungi diriku. Tolong jangan pernah mencoba untuk meninggalkan ku lagi, atau peti jenazah mu tak akan muat karena aku akan ikut di dalam nya." Celoteh Alex menangis pilu.


Pria itu tak peduli pada image nya, mengabaikan Jordy juga kedua ipar nya. Alex terus berusaha agar jantung wanita tercinta nya kembali berdetak.


Suntikan adrenalin yang di berikan oleh Rean hanya bertahan sebentar, kondisi Ayank yang sudah di ambang batas tak mampu menyerap cairan tersebut sebagai mana mestinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tegang gak sih? tegang dong ya, perjuangan yang tak mudah. Menjelaskan jika di dunia ini, saudara akan tetap menjadi sebuah prioritas utama. Meski ada sebagian kecil di luar sana yang memperlakukan saudara nya seperti orang asing, dan orang asing layak nya saudara sendiri.


Ambil hikmah nya ya guys 😘😘 Ada pelajaran di setiap alur kisah ini, semoga bisa menjadi inspirasi dalam memperbaiki hubungan persaudaraan yang sedikit kurang harmonis. Dan tetap jaga silaturahmi dengan saudara kita di manapun mereka berada.


Loyalitas seorang teman patut kita petik dari kesetiaan Jordy pada Ayank. Rasa sayang tak melulu perkara hati yang ingin memiliki, seperti Jordy dan Revan. Sama-sama menyimpan perasaan sayang, namun tetap konsisten pada tekad untuk menjaga wanita kesayangan mereka dengan cara masing-masing.


Lope lope sekebon untuk para kesayangan buna Qaya🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍

__ADS_1


__ADS_2