
Antonio yang gusar mulai kehilangan kendali nya.
"Arahkan anak buah mu ke rumah tuan Rick." Titah Antonio pada anak buah nya.
"Anda yakin taun? kediaman itu di jaga ketat selain oleh orang-orang dari klan Cuteness. Tuan Lucas juga memasang senjata otomatis yang dengan mudah mendeteksi musuh dari jarak ratusan meter." Ucap salah seorang anak buah Antonio. Nyali nya ciut jika harus melakukan penyerangan terhadap keluarga mafia tersebut.
Keluarga yang terlihat sederhana, namun memiliki latar belakang tak main-main.
Jika Rick adalah pria biasa, namun tidak dengan istri juga kakak laki-lakinya. Kedua nya adalah keturunan mafia paling di takuti di Swiss.
"Kalian takut! dasar tidak berguna. Lakukan perintah ku dan tembak siapa saja yang terlihat di rumah itu. Jika aku tak bisa mendapatkan Ayank, aku harus melenyapkan keluarga nya tanpa sisa." Geram Antonio menahan marah.
Tanpa tau jika semua saudara dari wanita yang diri nya buru, kini tengah bersiap menyambut kedatangan anak buah nya. Selama ini mereka tak pernah menampakkan diri terlibat dalam klan yang di pimpin oleh saudari mereka. Namun diam-diam, mereka terus memantau kehidupan Ayank.
Di sebuah rumah yang terlihat sederhana, namun tak ada yang menyangka jika rumah tersebut memiliki akses sistem tercanggih di setiap rancangan nya.
"Sayang, apa kau harus ikut? kita sudah tua, biarkan anak-anak yang menghandle semua nya. Kita bisa mengungsi ke rumah kak lisa saja, bagaimana?" ujar Rick penuh kecemasan. Dia tau sesuatu yang buruk telah terjadi pada putri kesayangan nya. Dan kini semua anaknya pun terpaksa turun tangan untuk membantu saudari mereka itu.
"Jika kita keluar dari sini, maka kita tak akan bisa melihat matahari terbit besok pagi. Rumah ini adalah tempat paling aman untuk kita berlindung. Percayalah padaku, kak Lucas sudah mengatur segala nya. Anak-anak kita adalah anak-anak yang hebat. Mereka akan baik-baik saja begitu pun kita. Mari kita mencoba hal baru, di usia ini kita perlu bereksperimen dengan sesuatu yang menantang adrenalin rapuh ini. Semua akan terkendali, cobalah sesekali keluar dari zona aman dan sedikit mencari tantangan baru." Ujar Ana pada sang suami dengan lembut.
Selembut kapas seperti biasa nya, dan Rick akan langsung luluh seketika. Tak dapat di pungkiri, jika sang istri selalu benar.
Wanita hebat itu tak pernah salah dalam memprediksi kan segala hal yang akan terjadi. Kini diri nya hanya perlu mencoba maka semua akan kembali seperti semula.
Rick menerima uluran senjata di tangan mungil istri nya. Meski pernah belajar menggunakan nya, Rick tak pernah berpikir, jika suatu saat akan benar-benar menggunakan untuk membunuh seseorang.
Kedua paruh baya itu keluar dari kamar rahasia dan bergabung bersama anak-anak mereka. Ana tersenyum bangga, melihat bagaimana anak-anak nya saling menjaga dan peduli pada saudara nya.
__ADS_1
Suara tembakan di luar mulai terdengar bersahutan. Senjata otomatis yang terpasang di tingkap rumah mulai membidik musuh yang mengintai rumah tersebut.
Ana melirik sang suami yang terlihat ragu namun tak punya pilihan lain.
"Ayo kita bersiap, James Bond!" ucap Ana memberikan kecupan semangat di bibir suami nya. Membuat anak-anak nya melengos kesal.
"Bisakah kita fokus dulu pada musuh? kalian benar-benar orang tua yang meresahkan." Ketus Ilian jengkel. Sebagai jomblo sejati tentu dia merasa terganggu melihat kemesraan tak tau waktu tersebut.
"Bilang saja kau iri!" sela Dean melirik sang adik. Rean fokus memeriksa perlengkapan senjata nya tanpa menghiraukan perdebatan saudara kembar nya.
Adik mereka yang lain tengah berada di Swiss menempuh pendidikan di sana. Hingga tersisa ketiga pria jones tersebut yang masih betah tinggal bersama orang tua mereka.
Pernikahan Ayank membuat keduanya di landa kesepian, hingga ketiga anak baik itu memutuskan untuk tak lagi tinggal di apartemen.
"Amunisi mu sudah kau isi?" tanya Rean datar.
"Jika kau terkepung musuh akan ku biarkan seseorang menembak otak kecil mu hingga berhamburan. Seriuslah sesekali!" sewot Rean dengan nada tinggi. Pria itu sedang dalam mode serius dan malah di ajak bercanda.
"Cih! kau ini selalu saja galak!"
"Berhenti berdetak boys!" seru Ana menengahi dengan suara lembut nya. Ketiganya langsung bungkam.
Mereka keluar langsung di sambut oleh berondongan peluru. Rick hampir tertembak jika Ana tak segera menarik lengan sang suami ke sudut ruang keluarga.
"Tak apa, tak semua orang langsung bisa melakukan segala sesuatu. Ada yang harus terkena rasa sakit terlebih dahulu sebelum menjadi seorang ahli." Hibur Ana tersenyum manis pada sang suami.
Rick menghela nafas panjang kemudian mengangguk. Ke-dua kembali keluar dari persembunyian dan mulai membalas tembakan lawan.
__ADS_1
Sedangkan Dean, Rean dan Ilian menghadapi musuh masing-masing. Rean yang paling tak sabar di antara mereka memutuskan untuk melawan tanpa senjata. Bermain petak umpet membuat nya kesal karena harus menunggu lawan tumbang.
Rean maju untuk memancing musuh, dan benar saja. Sekelompok musuh bermunculan untuk mengepung nya. Rean tersenyum miring karena rencana nya berhasil.
Sedang kan Ilian terlihat kesal. Dia paling tidak suka bermain fisik. Pria itu tak suka melihat bagian Tubuh nya terluka.
"Ck! kau membuat kerjaan saja!" ketus pria itu sewot. Namun tetap melangkah maju untuk membantu saudara nya. Begitu pun Dean, pria itu juga maju untuk membantu kedua saudara nya.
Perkelahian pun terjadi, ada lebih dari sepuluh orang yang harus mereka bertiga lawan. Sedangkan Ana dan Alex kini bergabung bersama Lucas. Ketiga paruh baya itu tak banyak menggunakan fisik mengingat usia yang tak lagi muda. Amunisi Rick tinggal sedikit, karena pria itu membidik senjata nya kadang tak tentu arah.
Ana memaklumi nya, suami nya berasal dari keluarga baik-baik nan harmonis. Tak pernah sekali pun pria itu melihat kekerasan terjadi.
"Ambil ini, kakak akan memancing mereka ke pintu samping. Di sana masih ada senjata otomatis yang belum aktif. Kehadiran musuh akan membuat nya bekerja. Bawa suami mu menuju pintu samping setelah kakak berhasil memancing mereka keluar. Tunggu di dalam markas dan jangan melakukan apapun. Kau dengar kakak, Ana?" Ana menatap datar sang kakak yang seolah mengetahui isi kepala nya.
"Aku mendengar mu kak, berhati-hati lah. Istri mu masih terlihat cantik. Masih banyak pria yang menunggu janda nya kelak jika kau tewas." Ucap wanita itu tanpa perasaan.
"Ck! kau ini, harusnya kau mendoakan kakakmu yang baik. Dan kau, tolong pasti kan wanita ini tak bertindak di luar usia nya. Kau tau seberapa misterius nya sikap diam istri mu. Jangan sampai kau kecolongan." Rick mengangguk, Lucas kemudian mengendap keluar dari persembunyian nya.
Tujuan nya adalah pintu samping rumah Ana. Hanya tersisa di sayap timur itu lah yang masih utuh dari serangan.
Tak lama suara tembakan terdengar, beberapa benda pecah dan jatuh ke lantai. Ana memantau pergerakan sang kakak dari balik kaca lemari yang masih utuh di sudut ruang tamu. Setelah memastikan sang kakak baik-baik saja, Ana bergegas mengajak Rick mengikuti arah pintu samping menuju pintu rahasia di belakang gudang.
Dia bersyukur putri nya sangat lah kreatif, sehingga bisa mendesain bagian dalam rumah sederhana nya dengan berbagai macam peralatan canggih. Termasuk lorong menuju pintu samping menuju gudang. Secara kasat mata, mereka tak akan terlihat oleh siapapun, karena teknologi canggih tersebut memiliki sensor, yang berfungsi untuk menyamarkan pandangan siapapun dari balik kaca luar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersabar untuk flashback Alex ya guys😘😘😘
__ADS_1
Jangan lupa sajen-sajen nya ya, mengingat hari Senin adalah hari yang paling sakral. Taburi karya othor dengan sejumput kasih sayang kalian, oke🙏🙏🥰🥰🥰