Just A Momen _Istri Tangguh

Just A Momen _Istri Tangguh
Tak ada judul


__ADS_3

Jika dulu Revan ngos-ngosan karena di kejar, sekarang pria itu terengah-engah karena mengejar. Alicia seolah tak mengenali nya kala mereka tak sengaja berjumpa di sebuah pusat perbelanjaan.


Wajah Revan seperti di tampar laras senjata. Sakit cuy! Saat pria itu dengan penuh percaya diri menyapa Alicia, gadis itu menoleh dan berbicara dengan gaya dan nada yang cukup membuat mental Revan bergelinding bebas menuruni eskalator.


"Kamu nahyhaaa? emang kita khenal githuu..!" sungguh Revan ingin melahap bibir mungil yang dua tahun lalu pernah dia cecap itu.


Di hadapan rekan seprofesi nya, Revan berusaha menekan rasa malu yang tak terkira. Namun pada akhir nya tetap mendapatkan tawa penuh ledekan dari para sahabat nya.


Revan sungguh gemas jika mengingat kejadian membagongkan tadi.


"Tunggu bentar, jalan nya cepat amat kaya kereta listrik." Ujar Revan masih berusaha mengatur alur nafasnya yang tersengal-sengal. Alicia berdiri dengan melipat kedua tangannya di dada.


"Mau ngomong apa? cepetan, aku sibuk!" ketus gadis itu kesal.


"Bicara di dalam mobil aja ya, nanti tidak enak kalau di lihat oleh teman-temanmu." Ujar Revan memohon sembari mengusap lengan nya sendiri. Tubuh nya yang penuh tato, membuat nya khawatir akan pandangan buruk teman-teman Alicia.


"Ck! di sini saja, aku mau pulang sekarang." Kukuh Alicia semakin dongkol. Revan di nilai banyak mau nya.


"Di dalam saja, sebentar tidak akan lama." Bujuk Revan lagi tak ingin di bantah. Dengan langkah malas, Alicia mengekori Revan menuju mobil Jeep Avenger pria itu.


"Udah, mau ngomong apa sih! buang-buang waktu saja!" Revan menghela nafas panjang.


"Apa kabar?" sungguh pertanyaan basi. Alicia memutar bola mata jengah.


"Baik, sehat dan bahagia. Udah, gitu doang?" saat Alicia akan turun Revan lekas menarik pergelangan tangan gadis itu kemudian memegang tengkuk Alicia. Mata gadis melebar kala merasakan benda kenyal terasa mengunyah bibir mungil nya.


Berusaha berontak namun Revan tak menyerah. Ciuman kasar akhir nya menjadi terasa hangat kala Alicia tak lagi berontak. Gadis itu pasrah dengan air mata meleleh di kedua pipi nya.

__ADS_1


Revan menghentikan aksi nya saat merasa kan asin di lidah nya.


"Maaf." lirih Revan terlihat frustasi.


"Kau selalu menghindari ku saat kita tak sengaja berpapasan. Aku tau dulu aku brengsek. Tak bisa kah kau melihat ku yang sekarang? aku mengejar mu mati-matian selama beberapa bulan ini tanpa peduli kau permalukan di depan teman-temanmu. Apa usahaku masih kurang jelas, jika aku sangat menyesali masa lalu." Alicia bergeming, mengalihkan tatapan keluar jendela.


Hingga saat mobil Mulai bergerak mundur, Alicia baru sadar jika Revan menjalankan mobil nya.


"Eh? mau kemana? turunin aku sekarang, atau aku bakal teriak!" pekik Alicia namun Revan tak memperdulikan nya. Pria itu fokus pada kemudi dan jalanan.


Alicia lelah berontak akhirnya hanya bisa diam di jok nya tanpa mau menoleh pada Revan. Setiba di sebuah lobby apartemen, Alicia menolak turun. Namun Revan mengancam akan menggunakan cara nya atau gadis itu bisa turun dengan cara nya sendiri.


Alicia menggerutu karena pergelangan nya terus di genggam oleh Revan hingga tiba di lantai 12.


"Masuk atau kau kau aku paksa.." Alicia menghentak kaki nya lalu masuk. Kesan pertama saat memasuki apartemen tersebut, Alicia cukup kagum. Untuk ukuran seorang pria lajang alias lapuk, apartemen Revan sangat rapi dan bersih.


"Idih! pede amat pak!" ketus Alicia melengos. Revan terkekeh melihat gadis itu masih berusaha untuk mengelak.


"Duduk lah dulu, aku mau mandi sebentar. Atau kau mau ikut mandi bersama ku? hmm?" goda Revan memainkan kedua alisnya. Alicia berdecih seolah jijik, membuat Revan tergelak renyah. Pria itu berjalan menuju kamar nya sembari membuka baju kaos nya.


Alicia menelan ludah nya sudah payah. Melihat roti sobek yang menggoda iman dan imin nya.


"Percaya diri sekali dia memperlihatkan perut berlemak nya. Siapa juga yang akan tergoda." Gerutu Alicia kesal. Padahal lain di mulut lain di hati. Jelas dia tergoda, bahkan sangat ingin menyentuh nya.


Meninggalkan Revan Wijaya yang sedang berusaha menaklukkan hati Alicia. Heri sedang mempersiapkan pernikahan nya dengan Amber. Ayank menjadi orang yang sangat sibuk. Mengingat jika Amber yatim piatu, Ana dan Rick lah yang memutuskan untuk menjadi wali nya.


Mengantar gadis itu menuju altar di mana sang calon suami tengah menunggu dengan senyum lebar.

__ADS_1


"Ini bagus tidak sayang?" Alex menghentikan aktivitas nya lalu menoleh. Pria itu terlihat berpikir kala melihat penampilan memukau sang istri. Sungguh dia tak rela berbagi pemandangan ini pada siapapun.


"Ada yang model lain tidak? yang belakangan nya lebih ketutup. Bukan apa-apa, aku hanya takut kau masuk angin." Ayank berusaha menahan kedut di bibir nya.


"Ah, ku rasa tidak masalah. Ini bagus.." balas Ayank kembali mematut tubuh nya di depan cermin.


Alex terlihat gusar, entah kenapa bibir nya sangat sulit berkata jujur. Jika dia tak suka melihat penampilan istri dengan pakaian terbuka.


"Yang lain saja, coba yang ini. Terlihat lebih anggun.." Alex meraih sebuah gaun yang menurut nya cukup tertutup namun tetap memperlihatkan sisi keseksian tubuh sang istri.


"Kaya ketutup banget, aku khawatir bakal gerah nanti." Ujar Ayank mencoba menolak secara halus. Namun melihat awan mendung di mata sang suami, Ayank tak lagi mampu menahan tawa nya.


"Astaga! harus nya kau katakan saja, jika kau cemburu melihat ku menggunakan gaun ini. Kenapa harus di tahan seperti itu." Ujar Ayank setelah menghentikan tawa nya.


Alex tersenyum malu. Ya dia sangat cemburuan belakangan ini.


"Aku takut kau tak suka jika memiliki suami yang cemburuan dan protektif. Jujur aku tak suka kau menjadi pusat perhatian, aku cemburu sayang. Maafkan aku..." Ayank mengusap pipi Alex dengan senyum manis.


"Aku suka jika kau menunjukkan kecemburuan mu. Aku jadi merasa memiliki orang yang mencintai ku dan takut kehilangan ku. Cobalah untuk memperlihatkan apa yang membuat mu suka dan tak suka. Itu akan membantu sebuah hubungan berjalan dengan penuh kedamaian. Pasangan mu ini bukan seorang indigo, yang mampu menembus batas hatimu untuk melihat apa saja isi hatimu di dalam sini. Usahakan untuk selalu terbuka. Aku akan siap mendengarkan juga mempertimbangkan nya selama itu baik untuk hubungan kita." Tutur Ayank menatap teduh manik sang suami.


Alex mengangguk mantap, lalu memeluk sang istri dengan erat. Sampai-sampai karyawan butik tersebut terlihat merona karena malu sendiri. Sejak tadi tanpa sadar telah menatap adegan dua insan tersebut tanpa berpaling sedikit pun.


Selesai memilih gaun dan jas, kedua nya pun kembali ke cafe. Ayank belakangan selalu menempeli Alex lebih sering dari pada ke markas. Alex jelas senang, Ayank bermanja pada nya adalah hal yang sangat dia harapkan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Apakah Ayank mulai merasakan gejala-gejala sebagai calon mama? semoga saja.

__ADS_1


Lope lope kesayangan buna Qaya 🤍🤍🤍🤍🤍🤍


__ADS_2