
Boby meneguk ludah susah payah. Ketika Ayank mulai mengarah kan pisau bedah ke arah lutut nya. Boby memejamkan kedua mata nya. Dalam hati pria itu berdoa, agar putri nya selamat. Dia tak meminta pengampunan atas jiwa penuh dosa nya, hanya ingin putri nya Marissa di tolong oleh orang baik di luar sana.
Rasa perih, mulai mendera lutut nya. Ujung pisau bedah tersebut terasa mengoyak isi persendian nya. Membuat pertahanan Boby ambruk. Pria itu bagai tubuh tak bernyawa, menggantung dengan kedua tangan masih terikat. Kepala nya menunduk hingga berlipat ke arah dada. Tak ada lagi tenaga untuk sekedar menopang beban tubuh nya yang sudah sangat lemah.
Jordy membuang pandangan ke sembarang arah, begitu pun yang lain. Tak ada yang sanggup menyaksikan bagaimana Ayank mengeksekusi tawanan nya hingga menjadi potongan-potongan tubuh.
Tak ada suara jeritan, Boby sudah benar-benar pasrah akan hidup nya.
Hampir 10 menit berlalu, suara intrupsi Ayank membuat anggota klan nya berbalik ke arah nya.
"Berikan cairan Nacl dan saleb antibakteri, 10 ml anti nyeri, 5 ml antibiotik lalu balut luka nya." Kalimat cepat yang biasa Ayank ucap kan tersebut, membuat senyum di bibir para pria sangar itu terbit sempurna. Kali ini bukan perintah untuk mengumpulkan potongan tubuh lalu di berikan pada Luke, singa jantan kesayangan Ayank.
Murdy bergerak lincah di bantu oleh Jevon, kedua nya melakukan apa yang Ayank perintah kan dengan cepat. Boby tersenyum samar di balik sisa kesadaran nya yang hampir hilang.
Kesempatan ini akan dia gunakan sebaik mungkin, untuk merubah diri dan membesarkan putri nya dengan cara yang benar.
Kini Ayank di ikuti oleh Jordy mengunjungi ruang tahanan lain. Arkhan. Ya pria itu berada di ruangan paling ujung di lorong tersebut.
Sebelum masuk, Ayank berhenti sejenak untuk menarik nafas dalam-dalam. Terasa aroma menyengat menyeruak indra penciuman nya. Namun Ayank yang sudah terbiasa tak merasa mual atau pun jijik.
Klek
setelah kunci terbuka, Ayank membuka pintu. Aroma tak sedap langsung menyapa. Jordy berbalik dan muntah seketika di wastafel di luar ruangan tersebut.
"Itulah kenapa apotik dan minimarket selalu menjual balon karet yang di sebut pengamanan. Agar kau tak mengalami penyakit memalukan ini. Meski seberapa mikro kecil nya tak bisa menjamin kau akan benar-benar terhindar dari penyakit kelamin Jenis apapun." Ucap Ayank frontal setengah menyindir seseorang di luar sana.
__ADS_1
Jordy mendengus kesal mendengar sindiran telak tersebut. Tak ada modal bagi nya untuk mengelak. Untung saja diri nya tak pernah lupa pada balon karet tersebut.
"Apa kabar mu, Ar? aku harap suasana di sini tak membuat kondisi ku semakin memburuk." Arkhan bergeming, pria itu duduk di tepi ranjang dengan selimut menutupi bagian bawah tubuh nya. Dia sedang tak memakai apapun di balik selimut tersebut. Sesaat mendengar suara gembok akan di buka, Arkhan menarik selimut untuk menutupi junior nya.
"Apa kau juga sedang menderita sariawan? aku pikir anak buah ku memberikan mu makanan yang bergizi. Aku akan menegur keteledoran ini nanti. Katakan keluhan mu padaku, mungkin aku bisa membantu sebagai kakak ipar yang baik. Atau sebagai orang yang pernah kau sayangi meski dengan obsesi yang salah." Arkhan yang tadi nya menatap ke arah tembok, kini menoleh pada wanita yang kini terlihat semakin bersinar di hadapan nya.
Kecantikan dan aura kepemimpinan wanita itu tak pernah ada yang bisa menandingi nya sejak dulu.
"Apa yang bisa kau lakukan pria penuh dosa ini, Ay? pria dengan penyakit menjijikkan dan tak memiliki apapun untuk di banggakan." Ucap Arkhan dengan nada lirih. Tatapan angkuh, dan lapar akan hasrat. Kini tak lagi terlihat di manik sendu itu.
Ayank meraih kursi yang terlihat ada noda darah, kemudian mengambil tisu steril untuk membersihkan nya. Arkhan hanya menatap apa yang Ayank lakukan dengan perasaan malu.
"Aku bisa melakukan banyak hal, Ar. Kau pasti tercengang kala melihat banyak nya keahlian ku. Jadi katakan, kau ingin pengampunan seperti apa dari ku. Aku akan mempertimbangkan nya nanti." Balas Ayank melontarkan pilihan pada pria menyedihkan di hadapan nya.
Jarak mereka hanya sekitar dua meter. Arkhan sedikit risih, mengingat aroma di dalam sana sangat lah mengerikan. Namun wanita itu dengan Santai nya duduk dengan jarak sedekat itu dari nya.
"Katakan alasan yang paling kokoh, kenapa aku harus membebaskan mu. Saat rekan mu yang lain sudah aku kirim ke neraka tanpa pertimbangan." Arkhan menelan ludah kasar.
"Aku hanya ingin di berikan kesempatan untuk berubah. Mengobati diri ku dan pergi jauh dari kehidupan mu dan Alex. Kalian tak akan pernah lagi mendengar kabar dari pria jahat ini. Selamanya..." ada rasa sesak kala mengatakan kalimat terakhir.
Hati nya masih tertumpu pada wanita itu. Hanya saja obsesi nya untuk membalas sang ayah menjerumuskan Arkhan dalam semar hitam. Seandainya dia mampu melepaskan semua dendam di hati nya, dan memulai kehidupan baru bersama Ayank. Mungkin kini hidup nya akan terarah pada jalan yang benar. Andai? Andai dia punya kuasa memutar waktu.
"Jawaban mu membuat ku urung untuk mempertimbangkan kebebasan mu. Kau salah menjawab pertanyaan sederhana ku, Arkhan. Bersabar lah menikmati hukuman mu lebih lama. Sugeng, perintah kan Jevon dan Murdy untuk melakukan perawatan khusus di sini setelah mereka selesai bermain dokter-dokteran dengan Boby." Jordy melengos mendengar nama keramat tersebut di ucapkan.
Sedangkan Arkhan bergeming. Pikiran nya melayang pada nasib Boby yang sempat dia lupakan beberapa waktu belakangan ini. Entah apa yang sudah Ayank lakukan pada pria itu.
__ADS_1
Ayank berpamitan keluar, namun sebelum pergi wanita itu mengucapkan kalimat yang membuat Arkhan tak mampu lagi membendung tangis nya.
"Alex sangat mencemaskan mu. Saat tau aku akan kemari, Alex gelisah, tak makan dan tidur dengan benar. Pria itu mengkhawatirkan keadaan adik nya, namun tak bisa menentang sifat keras istri nya. Alex ku menyeka sudut mata nya diam-diam kala melihat mobil yang membawaku pergi menuju kemari. Pria malang itu menangisi adik, yang tak pernah menganggap nya seperti seorang kakak. Pikirkan jawaban lain ketika aku berkunjung kembali, jawaban mu yang akan menentukan kebebasan mu kelak." Ayank pergi setelah memberikan kisi-kisi untuk pertanyaan.
Serta sedikit siraman rohani, bagi jiwa gersang Arkhan.
Dia berharap Arkhan dapat menjawab nya dengan benar ketika dia kembali berkunjung.
Jordy kembali mengunci pintu, pria itu sudah menggunakan masker dua lapis demi keamanan lambung nya agar tak kembali muntah.
Di cafe nya, Alex lebih banyak diam. Selesai melakukan pertemuan dengan klien, Alex memilih kembali ke cafe dan berdiam diri di ruangan nya. Alhasil para pelanggan wanita sibuk menanyakan waiters bernama Alex pada para pelayan yang sedang bertugas.
Membuat jiwa para pria jomblo itu iri pada sang bos yang pesona nya selalu menjadi pusat perhatian pengunjung.
"Tuan Alex sedang makan siang bersama istri nya, nona." Jawab Memed, salah satu pelayan pria di cafe tersebut.
"Istri nya cantik tidak, mas? ku rasa sih biasa saja, bukti nya sampai sekarang kita tak pernah melihat wujud wanita itu. Pasti wajah nya dekil, dengan daster lusuh yang tak di cuci tiga hari." Ucap wanita itu dengan nada menghina.
"Benar, padahal yang punya cafe kan suami nya sendiri. Bos mu pasti malu ya, menunjukkan istri nya yang burik di depan para pengunjung cafe." Timpal wanita satu nya kemudian mereka berempat tertawa cekikikan.
Memed menghela nafas panjang. Susah juga jika berhadapan dengan para tante-tante girang haus belaian. Begitu lah pikiran pendek Memed menyimpulkan.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Semoga masih betah ya guys🤗🤗
__ADS_1
Lope lope kesayangan buna Qaya 🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍