Just A Momen _Istri Tangguh

Just A Momen _Istri Tangguh
Perkara hal yang besar-besar


__ADS_3

Yonas berjalan menuju dapur yang berfungsi sekaligus sebagai ruang makan. Maklum, rumah dinas mya sangat mini. Kamar yang dia tempati sekarang, tadi nya dia fungsi kan sebagai gudang. Namun kini di sulap menjadi kamar darurat dengan kasur lantai.


"Udah kelar masak nya Fah?" tanya Yonas kala melihat punggung sang pembantu yang memunggungi nya.


Ifah berbalik kemudian memberikan senyuman terbaik nya untuk menyambut sang pujaan hati.


"Udah tinggal ini saja." Tunjuk Ifah memperlihatkan semangkuk air untuk air kobokan. Yonas sudah terbiasa makan langsung menggunakan tangan. Meski awal nya sempat risih melihat jari-jari nya belepotan, namun kini Yonas bahkan hampir lupa. Yang mana sendok makan dan yang mana garpu. Dua tahun dinas di sana, Yonas langsung membaur dengan semua warga dengan mudah.


Meski hidup nya dulu sederhana, namun mereka terbiasa makan menggunakan sendok makan. Ibu nya seorang guru SD, meski sudah PNS namun gaji nya pun tak seberapa kala itu. Yonas harus pintar-pintar dalam belajar agar mendapatkan beasiswa.


"Senyum mu menggetarkan jiwa ku Fah, jangan sering-sering senyum semanis itu. Bisa-bisa aku khilaf juga kalau begini terus." Gerutu Yonas kesal sendiri. Bukan nya dia tak ada rasa dengan gadis manis itu, namun sadar Ifah masih terlalu muda untuk nya yang dia rasa sudah semakin menua.


Ifah mengernyit bingung.


"Emang senyum Ifah jelek ya pak dokter? kalau begitu Ifah tak akan tersenyum lagi, asal pak dokter senang." Ujar gadis itu polos, kemudian meletakkan mangkuk kobokan di atas meja makan.


"Kau terlalu manis, makanya jangan terlalu sering tersenyum, nanti aku bisa terkena diabet. Terus siapa yang akan merawat pasien kalau dokter nya penyakitan." Ujar Yonas asal. Ifah hanya mengangguk-angguk paham, meski tak mengerti konteks senyuman bisa membuat seseorang terserang penyakit berbahaya.


Melihat Ifah yang masih bengong, Yonas segera menyuruh gadis itu duduk.


"Kenapa kau masih berdiri, aku temani aku makan." ujar Yonas gemas sendiri.

__ADS_1


"Trus, tuan Alex bagaimana?" tanya gadis itu masih cengo.


"Dia akan makan setelah istri nya terbangun. Kau saja yang menemani ku makan, dengan begini kan berasku jadi hemat. Dan aku juga tak perlu repot-repot membeli lauk pauk. Cukup ikan kering, rebusan sayur pucuk ubi dan sambel terasi saja. Bukankah kau bilang harga ayam mahal? jadi aku bisa menghemat pengeluaran dapur ku kalau punya tamu, di ajak makan kaya ngajak nempa gunung. Susah nya minta ampun." Sarkas Yonas sengaja mengeraskan suara nya.


Pria itu sengaja memancing reaksi Alex, karena Alex sangat susah di bujuk untuk mengisi perut nya. Pria itu hanya menatap sang mantan dengan tatapan kosong. Sungguh membuat Yonas kesal.


Tak lama terdengar suara langkah kaki berjalan gontai ke arah dapur. Yonas tersenyum samar, akhirnya dia punya senjata untuk membuat Alex menurut.


"Ck! mulut mu sudah seperti ibu-ibu saja." Gerutu Alex ketus, lalu duduk di kursi plastik. Di sana semua serba sederhana, dan Alex pun tak masalah. Sejak sekolah dia terbiasa makan bekal yang di buat bibik Siti untuk nya, agar dia bisa menabung uang saku nya yang tak seberapa itu. Kadang hanya ada sarden, kadang juga ikan teri di sambel goreng. Alex sudah terbiasa dengan makanan tersebut. Karena bi Siti harus diam-diam membuat nya untuk Alex. Karena jika Antonio tau Alex membawa bekal, maka pria itu akan merah besar.


Karena menganggap Alex telah mempermalukan nya saja. Itu kenapa sangat sulit bi Siti mengambil lauk, karena ada beberapa orang kepercayaan sang tuan yang sering wara-wiri di area dapur. Wanita itu terkadang membungkus dalam tisu lalu menaruh nya di balik baju. Sungguh bi Siti sangat menyayangi Alex seperti seorang putra bagi nya. Itu kenapa wanita itu sangat kecewa ketika putra kesayangannya itu melakukan ke khilafan pada istri nya.


Ifah beranjak menuju kompr, lalu kembali membawa ikan laut kering di dalam lepek. Yonas melotot sempurna, gadis itu rupanya memiliki simpanan lauk yang bisa membuat nya nambah dua hingga tiga centong nasi.


"Kenapa kau baru membawanya ketika Alex bertanya? itu kan kesukaan ku." Ketus Yonas tak terima sekaligus cemburu akan perhatian Ifah pada Alex.


"Kan pak dokter tadi minta di masakin ayam sambal, maka nya ini tak umpetin. Eh, mas Alex mau jadi tak keluarin." Ujar Ifah enteng. Eh tunggu dulu, Ifah memanggil Alex Tanpa embel-embel tuan. Ada apa ini? hati Yonas langsung menggurak bagai air rebus.


"Kok aku jadi tidak mood makan deh. Kenapa kau memanggil dengan sebutan mas, tadi kau panggil dia tuan? kau bahkan tak pernah memanggil ku mas, selalu saja pak dokter. Kan aku jadi merasa semakin tua." Sungut Yonas kesal.


Alex tersenyum lebar melihat kekesalan di wajah sahabat nya.

__ADS_1


"Lihat Fah, Yonas cemburu pada ku. Kalau begitu aku makan di kamar saja bersama istri tercinta ku, kau temani pria lapuk ini makan. Kalau perlu suapi dia dengan mulut mu." Ujar Alex membuat Yonas melotot tajam.


"Jangan merusak otak polos nya!" hardik Yonas semakin kesal, Alex buru-buru menaruh sayur asem juga ikan kering juga sambel terasi. Lalu bergegas kabur dari sana. Singa jantan di hadapan nya sudah mulai keluar taring, Alex harus menyelamatkan diri dari terkaman pria kurang belaian tersebut.


Meski dirinya pun sama, paling tidak satu Minggu ini dia bisa tidur setiap malam sambil memeluk tubuh sang mantan istri. Lumayan untuk menghangatkan hati dan tubuh nya.


"Dasar duda perjaka!" kesal Yonas kembali melanjutkan makan nya.


"Siapa yang duda pak dokter?" tanya Ifah kepo.


"Tidak usah tau, makan saja. Habiskan makanan mu cepat, tambahlah porsi makan mu. Agar kau terlihat berisi. Bagaimana bisa ku naiki kalau tubuh mu semini ini, bisa-bisa tulangmu patah semua." Ujar Yonas bergumam kecil di ujung kalimat nya.


Dia gemas melihat ukuran tubuh Ifah yang mungil, namun memiliki bemper depan belakang yang tak sesuai ukuran tubuh nya. Yonas sering kalang kabut kalau terlalu fokus menatap dua benda tersebut. Diam-diam dia harus berkarir solo di kamar mandi. Dan sial nya dia tak bisa mengeluarkan suara, dinding tak kedap suara tersebut bisa membuat nya di gerebek warga jika terlalu heboh.


"Badan ku bagus kok, pemuda desa sering kesemsem kalau melihat Ifah. Apa nya yang mini, orang gede begini." Balas Ifah ikut bergumam, itu berhasil membuat Yonas semakin gemas sekaligus geram. Enak saja wanita pujaan nya di sukai oleh pria lain.


"Makan cepat Ifah, cucian pakaian mu sudah menumpuk." Tukas Yonas mengalihkan topik. Dia risau jika membahas hal yang gede-gede tersebut, alamat diri nya bisa berakhir di kamar mandi lagi pagi-pagi begini.


"Ya, ya..pak dokter sensi amat. Kaya lagi dapet." omel Ifah sewot.


Sedangkan Yonas melirik benda bulat besar yang mengganggu penglihatan nya. Sungguh makan nya jadi tak fokus akibat kedua benda bulat tersebut. Berkali-kali Yonas menggeleng kemudian menghela nafas panjang. Sabar, masih ranum bisik batin Yonas.

__ADS_1


__ADS_2