Just A Momen _Istri Tangguh

Just A Momen _Istri Tangguh
Pelukan perpisahan


__ADS_3

Alex memutuskan untuk mengerjakan sedikit sisa pekerjaan nya yang tertunda, meski rekan-rekan nya meminta nya untuk istirahat saja menemani Ayank mengobrol. Namun Alex tentu tak akan melepaskan tanggung jawab pekerjaan nya begitu saja.


"Udah kelar?" tanya Ayank saat melihat Alex kembali menghampiri nya. Sejak tadi diri nya sibuk mengabadikan momen pria itu yang tengah bekerja.


"Sudah. Pindah ke sana yuk, banyak debu di sini." Ajak Alex menunjukkan sudut ruangan yang sudah di pasangi granit.


Kini kedua nya tengah duduk dalam keheningan, Alex tak tau harus memulai kata dari mana. Bersama Ayank membuat nya sering gugup tak jelas dan kehilangan kata-kata.


"Sudah pindah dari kost yang lama ya?" tanya Ayank memecahkan keheningan.


Alex menoleh lalu mengangguk pelan. Soleh mengajak nya kost bersama agar lebih hemat, jelas tak akan dia tolak. Diri nya tengah berusaha untuk menabung hasil kerja nya. Tujuan nya hanya satu, agar kelak layak bersanding dengan wanita hebat di samping nya itu.


"Aku tinggal bersama Soleh sekarang, dekat sini juga. Lumayan bisa hemat uang kost, biaya makan dan lain-lain kita gantian beli." Terang Alex tanpa rasa malu.


"Dua minggu ini aku sedikit sibuk, dua hari yang lalu aku baru kembali dari luar kota. Mengurus hama jalanan yang meresahkan para orang tua di setiap rumah. Menanti anak-anak mereka pulang ke rumah dalam keadaan yang utuh dan tak terjerumus oleh rayuan maut para iblis berwujud manusia." Ujar Ayank menjelaskan tanpa Alex minta. Dia tau seberapa penasaran nya Alex akan kabar dari nya selama dua minggu ini.


Ayank baru saja memporak porandakan ketentraman markas pembuatan obat-obatan terlarang milik Hugo. Pria itu rupa nya bekerja sama dengan Arkhan. Sungguh dua pria saiko, menggunakan para remaja untuk mengedarkan barang haram tersebut di lingkungan sekolah dan sekitarnya.


"Apa ada hubungan nya dengan adikku?" tanya Alex setelah terdiam beberapa saat. Ada nada kekhawatiran yang Ayank rasakan. Ayank menatap miris pria di samping nya dengan tatapan sendu. Alex si pria lembut dan baik hati. Tak peduli seberapa buruk perlakuan Arkhan pada nya sejak mereka kecil.


"Hmmm..maaf, adikmu sudah menjadi target ku sejak awal. Termasuk papa Antonio. Aku harap kau tak membenci ku karena merecoki kehidupan orang-orang yang kau sayangi." Ucap Ayank tak lepas menatap mata Alex yang terlihat sendu.


"Tak apa, mungkin sedikit pelajaran akan membuat mereka segera kembali ke jalan yang benar." Tukas Alex tersenyum lembut.


Ayank tersenyum simpul, misi nya bukan hanya akan membuat kedua nya sadar. Namun bisa mengantarkan kedua nya langsung ke alam keabadian. Namun Ayank tak berusaha untuk menjelaskan apapun pada Alex. Wajah polos dan tulus Alex membuat nya tak tega untuk berkata jujur.


Apa lagi mengingat sang ibu mertua lah yang memimpin penyerangan ke markas besar Arkhan. Meski wanita itu harus mengalami luka tembak di bagian perut dan punggung nya akibat ulah sang anak.


Itulah kenapa Ayank selalu menolak jika ada seseorang yang akan melakukan misi namun hati nya masih menyimpan separuh empati. Karena perasaan itu justru yang akan membunuhmu tanpa kau sadari.


Seperti Haura, sesaat akan menembak putra nya sendiri. Wanita itu gamang, naluri seorang ibu tak bisa di pungkiri. Namun Arkhan telah mematahkan sayap kasih yang terpancar dari mata teduh milik Haura.


Dengan sadis Arkhan membrondong dua tembakan ke tubuh sang ibu tanpa perasaan. Pria itu tersenyum sinis kala melihat sang ibu tersungkur bersimbah darah. Lalu meninggalkan Haura begitu saja.

__ADS_1


Beruntung Ayank segera tiba, namun sebelum Arkhan benar-benar pergi dari sana. Wanita itu menghadiahi timah panas di lengan Arkhan hingga menembus dada kiri pria itu.


Dia Yakin Arkhan sama sekarat nya seperti Haura. Itulah kenapa Ayank tak sempat memberikan kabar apapun pada Alex. Wanita itu di sibukkan dengan mengurus Haura yang sempat kritis selama lima hari.


"Aku pamit pulang, sudah sore. Mau ikut sekalian?" tawar Ayank sebelum benar-benar pergi dari sana.


"Aku ikut Soleh saja, dari muka gang lumayan jauh kalau berjalan kaki. Hanya bisa di lewati motor saja sepanjang hampir 300 meter." Terang Alex tak ingin Ayank kembali salah paham akan penolakan nya.


"Baiklah, hubungi aku jika sudah pulang." Alex mengangguk lalu mengantar Ayank menuju mobil.


"Hati-hati di jalan dan jangan menghilang lagi." Ucap Alex serius. Ayank tersenyum simpul, Alex jelas kelimpungan karena diri nya tiba-tiba menghilang tanpa berita.


"Aku tak bisa berjanji, kau tau aku dokter yang tak memiliki jam kerja tetap." Ucap Ayank tertawa kecil.


"Ya, kau lebih tepatnya seorang pembasmi hama. Itu pekerjaan mu yang sesungguhnya. Jadi pastikan hama-hama itu tak melukaimu, karena pria ini tak punya kemampuan untuk melindungi mu nanti." Balas Alex menatap serius pada Ayank.


Ayank hanya bisa mengangguk untuk menenangkan perasaan Alex. Dia tak bisa menjamin akan selalu baik-baik saja, mengingat begitu banyak musuh yang mengincar nyawa dan tahta kepemimpinan nya.


Alex seperti kehilangan semangat hidup nya. Penyerangan markas Antonio membuat Alex kehilangan sang ibu. Antonio lebih memilih kehilangan sang istri tercinta dari pada harta dan tahta nya. Arkhan menghilang dengan banyak luka di tubuh nya. Pria itu terdesak oleh serangan yang di lakukan Jordy dan kawan-kawan.


Hugo tewas setelah beradu otot dengan Ayank. Rupa nya fisik Hugo tidak lah sekuat yang terlihat. Perusahaan anonim Hugo telah di ambil alih oleh Revan. Berkat perangkat hacker milik Ayank, Revan berhasil menemukan posisi perusahaan tersebut.


Antonio kabur membawa sejumlah besar uang yang masih tersisa. Meninggalkan sang istri yang bersimbah darah di hadapan nya. Sama seperti Arkhan, Antonio kalap akan segala bentuk kekuasaan yang dia miliki. Alex menjadi satu-satunya orang yang tak mengetahui apapun. Pria lurus dan polos itu hanya fokus bekerja agar dapat membangun rumah sederhana impian nya. Berharap suatu saat Ayank akan kembali pada nya dan kembali merajut asa yang sempat tertunda.


Namun sudah dua tahun berlalu, Ayank tak kunjung berkabar. Alex, pria itu kini membuka bisnis kecil-kecilan. Sebuah cafe yang dia buka bersama Soleh dan Rahmat, yang sudah setahun ini dia rintis. Beberapa resep kue buatan istri Rahmat sangat di gemari oleh kaum muda.


Tidak besar namun cukup ramai dan menjanjikan. Bisnis sistem bagi untung tersebut buka pukul 8:30 pagi hingga pukul 10 malam.


"Ini mau di taruh di mana mas?" tanya seorang gadis yang baru beberapa hari bekerja di cafe tersebut.


Alex sejenak berpikir lalu menelisik area yang sekiranya cocok untuk meletakkan ornamen-ornamen tersebut.


"Di sana seperti nya bagus, coba aja dulu. Kalau tidak cocok nanti bisa di pindahkan aja lagi." Tukas Alex menunjukkan sudut ruangan yang menurut nya cocok, untuk menaruh hiasan dinding juga pot bunga segar tersebut di bagian sudut cafe.

__ADS_1


"Baik mas, Ela taruh di sana saja. Mas alex sudah makan? kalau belum nanti Ela buatkan makan siang sekalian, Ela juga belum makan siang." Ujar gadis tersebut terselubung makna. Alex cukup memahami dan hanya tersenyum sebelum menjawab nya.


"Aku sudah memesan makan siang sama Mbak Ratih, nanti bakal makan siang bareng Soleh sama kang Rahmat. Tapi makasih sebelum nya El, jangan lupa makan siang. Kerja butuh energi yang cukup dan nutrisi yang seimbang agar tetap sehat." nasihat Alex setelah menolak halus niat baik Ela. Dia tak ingin memberikan harapan kosong pada wanita manapun, karena hati nya yakin jika suatu saat Ayank pasti akan kembali.


Ela terlihat kecewa namun tetap tersenyum manis pada sang bos. Bagaimana pun dia masih sangat baru untuk bisa langsung meraih hati seorang Alex. Pria tampan yang sudah mencuri perhatian nya sejak menjadi pengunjung cafe tersebut. Dan berakhir lah dia melamar pekerjaan sebagai waitress di sana. Meski bukan anak sultan, namun kedua orang tua nya yang merupakan pejabat negara cukup membuat kehidupan nya serba mewah.


Namun demi mengejar cinta seorang Alex, Ela rela meninggalkan sejenak kehidupan hedonis nya dan bekerja sebagai seorang pelayan cafe.


Seperginya Alex, rekan kerja Ela yang merupakan senior nya menghampiri Ela.


"Di tolak lagi?" tanya sang senior menatap iba pada junior nya.


Ela hanya mengangguk lemah dengan wajah di tekuk sempurna.


"Mas Alex itu sudah punya istri, itu yang aku dengar. Di ruangan nya juga ada foto pernikahan, istri nya mas Alex cantik banget. Entah ada masalah apa, istri nya menghilang sudah dua tahun ini. Aku dengar nya sih gitu, dari mas Soleh." Ela terlihat mulai tertarik mendengar sepenggal kisah kehidupan sang atasan.


"Terus..terus!" desak Ela tak sabar.


"Ck! anak kecil jangan suka ikut campur masalah rumah tangga orang. Pamali! mau jadi lakor? aku sih amit-amit ya, mas Soleh kan ada. Jelas-jelas masih single." Ucap Leni mesen-mesem sendiri.


Ela mendengus kesal karena tak berhasil mendapatkan informasi lebih mengenai pria pujaan nya.


"Kerja lagi sana, anak baru kudu rajin. Mas Alex tidak suka karyawan yang malas, dia aja loh bos masih ambil job ngurir juga. Idaman banget kan?" Ujar Leni menerawang sambil tersenyum tak jelas.


Ela mencebik lalu melangkah untuk menatap sudut ruangan. Hati nya bercokol banyak tanya mengenai kehidupan seorang Alex yang sudah memporak porandakan ketentraman jiwa remaja nya. Gadis 19 tahun itu rela mengorbankan kuku-kuku lentik hasil perawatan mahal nya untuk mencuci piring dan terkena cairan pembersih meja.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Masih betah guys??


Kuy lanjut lagi kalau masih betah, jangan lupa sajen-sajen nya di lemparkan beserta mantra-mantra nya di kolom komentar othor 😁😁😘😘


Lope lope buat kalian semua🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍

__ADS_1


__ADS_2