Kau Lukis Permadani Cinta

Kau Lukis Permadani Cinta
BAB 10


__ADS_3

" Ada apa ini? kenapa kalian terlihat gugup saat saya menanyakan kepala bagian kalian ini?" tanya Fahmi sembari menatap ke arah mereka silih berganti, Mereka pun yang ada di ruangan itu hanya menundukkan kepalanya, Fahmi kemudian mendekati salah satu dari karyawan tersebut.


" Susanto, kamu sudah lama kan di ruangan dan kantor ini, ada apa, katakan pada saya, Saya tidak ingin ada kebohongan di antara kalian berempat yang ada di dalam ruangan ini, katakan pada saya kemana kepala bagian kalian ini." ucapnya sembari terus menatap ke arah salah satu karyawan yang bernama Susanto, Susanto kemudian mengangkat wajahnya dan menatap ketiga rekannya tersebut dan ketiga rekannya itu hanya menganggukkan kepalanya, sekilas Fahmi melihat mereka saling menganggukkan kepala saling memberi isyarat satu sama lainnya.


" Sebenarnya Pak, kami sudah lama ingin mengeluhkan ini, karena rasanya tidak adil walaupun saya sebagai karyawan tetap dikantor ini, tapi saya kasihan dengan Rekan kami yang lain." ucapnya, Fahmi mendengar itu pun merasa heran.


" Maksud kamu, ada apa? jangan disembunyikan dengan saya, kalau kalian menyembunyikan semuanya itu sama saja kalian berbohong dengan diri kalian sendiri, dan kalian mendukung semua kesalahan yang telah dilakukan orang lain yang sebenarnya tidak kalian lakukan dan kalian kan sudah tahu saat kalian pertama masuk ke kantor ini, kalian sudah dijelaskan jangan sampai ada penyalahgunaan kepercayaan dari bos besar kita, karena bos besar kita itu tidak menyukai ketidakjujuran terutama kamu Susanto, kamu kan sudah tahu bagaimana sikap Pak Rendra terhadap karyawannya semua, dia tidak akan membuat karyawannya itu sengsara, dia adalah bos yang sangat bijak terhadap seluruh karyawannya dan jangan dimanfaatkan kepercayaan Pak Rendra terhadap kalian semua ataupun padamu Susanto dengan kebohongan ataupun penyembunyian sesuatu yang tidak diketahui oleh Pak Rendra, nanti akan berakibat fatal kalau kalian tidak jujur." terang Fahmi sembari menatap Susanto dan  karyawan yang lain di bagian keuangan tersebut.


" Iya Pak, saya mengerti, saya sudah memberitahukan pada mereka perihal ini."


" Kalau sudah kamu kasih tahu dengan mereka, terus ada apa sehingga kalian terlihat ada yang disembunyikan dari saya, lebih baik sekarang kalian jujur dan katakan kalau sekiranya itu tidak pernah kalian lakukan."


" Ini semua tentang Pak Iwan pak." ucap Susanto.


" Ada apa dengan Pak Iwan?"


Susanto menghela nafasnya dengan pelan kemudian dia menatap ke arah Fahmi.


" Katakan saja dengan saya, ada apa dengan Pak Iwan."


" Pak Iwan sudah..." kalimat Susanto terhenti saat terdengar suara


" Pak Fahmi, Ada apa pak?" Ucap Iwan yang tiba-tiba saja datang, dia berdiri didepan pintu.


Mereka melihat kearah pintu dimana pak Iwan berada, dengan wajah yang santai dia melangkah mendekati Fahmi.


Iwan menatap kearah Susanto, lalu dia menunduk karena tidak ingin melihat mata Iwan yang menatap kearahnya seakan-akan hendak memangsanya.


" Dari mana Pak Iwan?" tanya Fahmi sembari menatap kearah Iwan yang ada dihadapannya.


" Ada keperluan diluar tadi sebentar pak Fahmi." ucapnya santai-santai saja.


" Maaf pak Fahmi ada keperluan apa ya? sehingga bapak meluangkan waktunya keruangan ini?"


" Hmmm...tidak ada yang penting dengan ruangan ini, tapi ada yang lebih penting lagi, yaitu bertemu dengan mu." ucap Fahmi sembari tersenyum dan menatap Iwan dengan lekat.


Fahmi melihat diwajah Iwan yang tiba-tiba saja berubah gelisah.

__ADS_1


" Ada apa pak Iwan? kenapa Anda terlihat gelisah seperti itu?"


" Oh...Nggak apa-apa pak Fahmi, mungkin saya merasa gerah aja, biasalah pak baru keluar tadi, Ada perihal penting apa ya pak, sama saya.?"


" Hmmm.... begini Pak Iwan Saya mau memberitahu informasi dari Pak Rendra tentang karyawan yang tidak tetap atas nama Nirmala."


" Memangnya ada apa ya Pak dengan Nirmala, Apakah Nirmala membuat ulah.?"


" Nirmala tidak membuat ulah, Tapi karena dia harus beristirahat beberapa hari ke depan, disebabkan ada sesuatu  dan juga anak dari Nirmala sedang sakit,dia tidak dapat masuk kekantor "


" Siap pak...." ucapnya tersenyum.


" Baiklah, saya permisi dulu ucap Fahmi sembari melangkah hendak meninggalkan ruangan itu, tapi kemudian dia berhenti kembali dan berbalik menghadap ke arah Iwan.


" Oh ya, saya lupa, selama Nirmala tidak masuk kantor ini, jangan sampai gajinya terpotong sedikitpun." ucap Fahmi menatap ke arah Iwan, Iwan yang mendengar ucapan Fahmi terkejut tapi dia berusaha untuk menyembunyikan rasa terkejutnya tersebut sembari mengangguk dan berkata.


" Iya pak, kami di sini tidak ada pemotongan sama sekali, semua karyawan tidak tetap full menerima gaji sesuai dengan pekerjaan yang dilakukannya."


" Bagus! kalau itu memang tidak ada pemotongan, jangan sampai saya mendengar kalau karyawan tidak tetap mendapatkan pemotongan di saat mereka mengalami musibah seperti sakit, izin, ataupun keluarganya sedang berduka, kalau sampai saya mendengarnya, siap-siap menerima akibatnya." ucap Fahmi sembari tersenyum, kemudian dia pun pergi melangkah meninggalkan ruangan tersebut menuju ke arah ruangan penterjemahan.


" Susanto...keruanganku, aku ingin bicara denganmu!" ucapnya sembari menghela nafasnya dengan berat.


" Siap pak!" ucapnya sembari melangkah menuju ke arah ruangan Iwan dan diiringi tatapan mata ketiga rekan kerjanya tersebut.


" Apa yang ditanyakan si tangan kanan Bos itu padamu?"


" Tidak ada Pak, Pak Fahmi cuma bertanya tentang keberadaan Bapak."


" Terus kamu bilang apa?"


" Kami belum sempat bilang apa-apa, bapak sudah datang."


" Benar kamu tidak membicarakan yang lain?"


Susanto menggelengkan kepalanya.


" Lain kali kalau dia datang ke sini dan mencari saya, kamu segera hubungi saya."

__ADS_1


" Baik Pak!"


" Silakan kamu keluar."


Susanto hanya menganggukkan kepalanya kemudian melangkah meninggalkan Iwan.


Iwan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kerjanya itu.


" Untung saja aku melajukan kendaraanku dengan cepat dan Untung saja tadi aku langsung kekantor kalau tidak bisa bahaya!" ucapnya sembari menatap langit-langit ruangannya.


*****


Dirumah sakit 'Harapan Sembuh'


Heliyana yang diperintahkan mencari data Alya tersebut sudah mendapatkannya dan kemudian dia pun mengirimnya melalui chat pribadi pada Pak bosnya tersebut.


Rendra yang melihat data Alya pun terkejut karena di situ tertulis nama wali dari Alya adalah Nirmala Namari.


" Alya Kirana...Alya yang dimaksudkan oleh Tara ini adalah Alya keponakannya Nirmala." ucapnya sembari memperbesar foto data yang sudah dikirimkan oleh Heliana orang kepercayaannya yang ditempatkannya di sekolah yang dibangunnya itu.


Dia pun kemudian mendekati Tara, Tara yang asik bermain dengan mainannya itu yang menggunakan tangan kirinya sambil menerbangkan pesawat mainannya itu pun menoleh ke arah Rendra.


" Ada apa om? kenapa Om Rendra tersenyum?"


" Tidak apa-apa, Om tersenyum merasa bahagia aja."


" Bahagia kenapa?"


" Karena besok Om tidak bisa menjemput Alya."


Mendengar jawaban sang Om seperti itu, Tara pun kemudian meletakkan mainannya yang dipegangnya itu seketika saja wajahnya berubah murung.


" Kenapa kok kamu sedih?"


" Om nggak bisa menjemput Alia tapi muka Om tersenyum!om Ternyata nggak sayang sama tara!" ucapnya.


Rendra pun terkekeh dengan pelan sembari mengusap kepala sang keponakan, namun tangannya Rendra langsung ditepiskan oleh tangan mungil Tara, dia tidak ingin diusap kepalanya oleh Rendra, lagi-lagi Rendra terkekeh melihat tingkah sang keponakan.

__ADS_1


__ADS_2