Kau Lukis Permadani Cinta

Kau Lukis Permadani Cinta
Episode 21


__ADS_3

" Sa...tadi aku beneran melihat Mas Reas dikantor ini, dia memasuki lift."


" Ach! itu halusinasi kamu aja Mala, karena kamu teringat dengan Mas Reas kamu itu." ucap Sasa sembari mengeluarkan beberapa uang dan memberikannya pada pemilik kantin, kemudian dia dan Nirmala kembali kedalam kantor tersebut, karena letak kantin diluar dari kantor, tapi masih satu halaman dengan kantor Satya Group.


" Benar Sasa, aku jelas sekali lihat Mas Reas kok, kamu tidak percaan sih padaku." ucap Nirmala cemberut.


" Nirmala....bagaimana aku hendak percaya padamu tapi aku tidak melihat kaya apa bentuk dan rupanya Mas Reas kamu itu? lagipula kata kamu dia itu bekerja apa adanya, tapi kenapa dia ada disini? kamu tadi lihat dia bagaimana?"


Nirmala baru tersadar dengan ucapan Sasa barusan.


" Benar juga ya apa kata kamu, buat apa Mas Reas ada disini? sedangkan dia bilang kerjanya hanya serabutan aja nggak menentu, Hmmm mungkin aja ini benar apa kata kamu kalau ini hanya halusinasi aku aja karena terlalu mengingatnya, dan tadi itu aku lihat dia berpakaian layaknya seorang yang sangat terpandang seperti Bos gitulah." ucapnya menerangkan pada Sasa.


" Nah itu dia, apa yang aku katakan padamu, itu hanya halusinasi kamu aja, Kalau dia berada disini tidak mungkinkan dia itu memakai pakaian formal kaya yang kamu lihat seandainya dia bekerja di kantor ini, lihat aja yang ada pakaiannya biasa-biasa aja yah, namanya juga seorang karyawankan, pasti ada perbedaannya dengan yang lebih tinggi posisinya dikantor ini," terang Sasa sembari tersenyum.


" Iya juga sih..." ucap pelan Nirmala, dia kemudian melihat jam didinding kantinnya Mbak Ipeh kemudian dia berpamitan dengan Sasa untuk kedalam meminta ijin karena ingin menjemput Alya.


Saat dia hendak memasuki lift dia bertemu dengan Dareen diapun langsung mendekati Dareen.


" Maaf Pak Dareen..."


" Ya Nirmala..." ucapnya tersenyum, Dareen nampak senang terpancar dari wajahnya bertemu Nirmala.


" Saya mau ijin sebentar keluar."


" Mau Kemana?" tanya Dareen dengan heran.


" Saya mau jemput anak saya pak, sudah terlalu lama mungkin dia menunggunya."


" Anak?" ucap Dareen terlihat terkejut.


" Iya pak, boleh ya pak?"


" Oh...iya boleh silahkan, jangan lama-lama ya , takut ditanya Bos nantinya."


" Siap pak!" ucapnya langsung secepat kilat dia berlalu dari hadapan Dareen, setengah berlari dia menuju kearah motornya dan melajukan motornya itu dengan kecepatan kilat menuju kearah sekolah Alya, Nirmala tidak menyadari kalau mata Rendra mengawasinya dari ruangannya tersebut.


" Mau kemana dia?padahal ini sudah habis waktunya makan siang,apa diruangannya banyak yang memberikannya pekerjaan? sehingga dia terlambat makan siang?" ucap Rendra yang berbicara sendiri membuat Fahmi yang ada diruangannya itu merasa heran dan menatap kearah pak Bosnya itu, Rendra lupa kalau Nirmala ada seorang keponakan yang harus dia antar jemput sekolah.


" Fahmi, coba kamu tanyakan pada ruangan penterjemah dimana Nirmala dipindahkan."


" Ada apa pak?"


" Apakah kepala bagiaannya memberikan pekerjaan yang sangat banyak, aku lihat dia tadi sangat tergesa-gesa sekali mengendalikan kendaraannya itu keluar dari kantor."


Fahmi tersenyum mendengar ucapan Pak Bosnya itu.


" Kenapa kamu tersenyum?"

__ADS_1


" Pak Bos lupa ya, inikan waktunya keponakan Nirmala pulang sekolah, mungkin dia menjemput sang keponakan." terang Fahmi.


Rendra kemudian melihat jam ditangannya itu, kemudian dia tersenyum.


" Astaga! aku lupa..." ucapnya sembari mengusap wajah tampannya itu dengan pelan.


" Mulai besok tugaskan satu orang untuk khusus menjemput keponakannya Nirmala dan bawa kekantor kalau sudah pulang sekolah." ucapnya pada Fahmi.


" Baik pak."


" Kalau dikantor, keponakan Nirmala berada dimana? aku hampir tidak melihatnya."


" Kalau tidak salah dia berada dikantinnya Mbak Ipeh pak, itu kata Mbak Ipeh pak."


" Baiklah kalau gitu setelah pulang sekolah langsung antarkan saja dia ketempatnya Mbak Ipeh seperti biasa." ucap Rendra dianggukkan Fahmi.


Diruangan penterjemah...


Dareen langsung duduk dimeja kerjanya sembari berbicara pada ketiga orang yang sudah ada diruangan tersebut terlebih dahulu.


" Kalian berdua, Mira dan Neni tolong diperiksa kembali terjemahan yang kalian kerjakan tadi, karena kata Bu Faula masih banyak yang salah, semuanya sudah saya kirim ke Email kalian berdua, sudah ditandai semua sama Bu Faula yang salah dari terjemahan kalian." ucapnya menghela nafasnya dengan pelan.


" Kok cuma kami berdua saja pak, milik Nirmala mana?" tanya Neni, dia tidak menanyakan milik Baim karena mereka tahu Baim termasuk cerdas dalam penterjemah.


" Saya tidak tahu, kata Bu Faula hanya kalian berdua yang hampir lima puluh persen mengalami kesalahan, tolonglah kalian bekerja dengan teliti jangan asal dalam menterjemahkan yang sudah diberikan, karena ini menyangkut Client yang akan bertemu dengan pak Bos besok, jangan bikin malu pak Bos!" ucapnya sembari menatap kearah Neni dan Mira, dia tidak mengatakan hasil dari terjemahan Nirmala pada mereka berdua.


" Ini semua gara-gara Nirmala! sampai aku harus merevisi ulang penterjemahanku!" gumamnya dalam hati sedangkan Neni hanya memasang muka cemberutnya karena dia tidak terlalu mengerti dengan sebagian kata yang tidak bisa dia artikan.


" Wah! pinter banget si Nirmala, dia tidak ada salah sama sekali, baru aja dia satu hari diruangan ini dia sudah menterjemahkan beberapa lembar kertas yang diberikan itu tanpa ada kesalahan sama sekali, Aku sudah dikalahkan dia, oh No...!!!" teriak batin Neni sembari menatap layar laptopnya dan mulai memperbaiki kesalahan dalam penterjemahannya itu.


" Kemana wanita itu!! enak sekali sampai sekarang belum masuk!" gumam Mira sembari melirik meja Nirmala yang masih kosong.


Dareen termenung dia menatap kosong kearah pintu masuk ruangan tersebut, dia teringat kata-kata Nirmala kalau dia menjemput anaknya pulang sekolah.


" Ternyata dia sudah punya keluarga, Aku terlambat sudah!" ucapnya sembari mengusap wajahnya dengan kasar, tanpa sepengetahuan Dareen, Mira memperhatikam gerak gerik lelaki pujaannya itu, dan dia merasa heran dengan sikap Dareen tersebut.


" Ada apa dengannya? kenapa dia terlihat gelisah sekali? apa karena ketidak adaan Nirmala diruangan ini?" gumamnya dalam hati, Mira dikejutkan dengan suara Neni yang berdiri disampingnya.


" Mira, tolong bantu aku dong."


" Bantu apa,?"


" Ada sebagian kata yang aku tidak mengerti."


" Aku belum selesai, coba kamu minta tolong sama Baim."


" Huh! teman macam apa itu! diminta tolongi aja nggak mau!" ucapnya membuat Mira mendengus dengan kesal!

__ADS_1


" Aim...bantu Neni dong!"


" Bantu apa?"


" Ini ada kata yang tidak bisa aku mengerti nih, apakah kamu mengetahuinya?"


Baim kemudian melihat laptop Neni yang dibawanya kemeja Baim.


" Aku nggak tau Nen, karena aku kurang terlalu tahu istilah bahasa Jerman ini."


" Aku juga tidak terlalu ngerti,walaupun aku menguasai bahasa Jerman." ucapnya.


" Maaf Ada apa ya? bisa saya bantu?" ucap Nirmala yang sudah berada diruangannya itu dan pas berada dibelakang Neni, karena dia ingin menuju mejanya yang berada didepan meja Baim.


Mereka berdua melihat kearah Nirmala, begitu juga dengan Mira yang memasang muka merengutnya pada Nirmala.


" Memang kamu bisa?"


" Coba saya lihat." ucapnya sembari tersenyum.


Kemudian Neni menyerahkan laptopnya pada Nirmala dan Nirmala pun menterjemahkan kata demi kata tersebut dan membuat Neni terkejut karena terlihat Nirmala dengan jemari lentiknya menterjemahkan pekerjaan Neni terlihat juga Nirmala tidak terlalu banyak berpikir sampai akhirnya pekerjaan Neni selesai.


" Ini sudah, sebaiknya segera kirim kembali, biar cepat dikoreksi lagi kalau ada kesalahan akan secepatnya diperbaiki." ucap Nirmala.


" Yakin! kalau ini sudah benar?"


Nirmala menganggukkan kepalanya.


" Awas lho ya kalau salah lagi!! kamu akan tanggung akibatnya!!" ucap Neni sembari kembali kemejanya tanpa mengucapkan terima kasih sama sekali pada Nirmala.


" Heh Nen! main pergi aja ni cewek! Nggak ngucap terimakasih kek sama Nirmala, udah dibantu juga!" ucap Baim.


" Ntar kalau pekerjaan ini benar semua aku baru ngucapin terimakasih!" ucapnya sembari mendelik kearah Baim."


" Udah Mas Baim, nggak usah dipermasalahkan." ucap Nirmala sembari tersenyum, sedangkan Dareen menatap tanpa kedip Nirmala.


" Disamping cantik, rajin, baik dan cerdas Nirmala ini, Benar apa yang dikatakan Bu Faula kalau terjemahan Nirmala tidak ada yang salah, sangat mengesankan sekali." gumamnya.


Mira lagi-lagi menatap Dareen dengan tatapan kesalnya karena dia merasa Dareen terlalu memperhatikan Nirmala.


Dareen kemudian beralih menatap Mira, sesaat mereka saling beradu pandang.


" Kenapa Mir? apakah ada yang kamu tudak mengerti? kalau kamu tidak terlalu banyak mengerti silahkan kamu minta bantuan Nirmala." ucapnya membuat Mira terkejut dan menggelengkan kepalanya untuk menutupi rasa keterkejutannya.


" Mir, biar aku bantu kamu." ucap Baim, karena Baim sudah lama menaruh hati pada Mira tapi dia tidak mau Mira mengetahuinya.


" Oh, Bisa." ucapnya sembari tersenyum pada Baim, Baim kemudian berdiri dan mendekati Mira sembari menatap layar laptop Mira untuk membantu Mira menyelesaikan pekerjaannya, dan Nirmala hanya tersenyum kemudian dia fokus kembali dengan pekerjaannya.

__ADS_1


__ADS_2