
Episode 54 🌹
Mereka meninggalkan rumah kediaman pak Jefry, dengan perasaan senang, bahagia terlihat sekali diwajah mereka semua.
Beberapa jam terombang ambing dijalan akhirnya mereka sampai dengan selamat dirumah Rendra.
Rendra sebagai tuan rumah pun mempersilahkan mereka masuk kedalam, Asisten rumah tangganya tanpa disuruh mulai sibuk dengan mempersiapkan minum dan camilan yang tidak pernah kosong dirumah sang majikan.
Saat melihat Tante dan Om nya datang dari lantai atas, dua orang bocah lucu berlari menuju kearah mereka dan langsung saja memeluk sang Tante dan Omnya itu.
" Kok lama sekali sih Tanta dan Om perginya..." Tanya Alya sembari mengekpresikan wajahnya yang cemberut.
" Iya nih Om Rendra dan Tante Mala lama sekali perginya, Tante Sa juga lama perginya, inilah orang dewasa yang tidak mengingat kalau dirumah ada anak kecil yang menanti." ucap Tara.
Mereka pun tersenyum mendengar ucapan kedua bocah tersebut.
" Maafkan Tante dan Om ya, karena lama ninggalin Tara dan Alya nya...." ucap Nirmala sembari tersenyum.
Pak Jefry dan Bu Warna menatap kearah Alya tak terasa airmata mereka meleleh begitu saja karena melihat Alya yang sekarang hanya tinggal dan dibesarkan Nirmala tanpa kedua orang tuanya itu.
" Mala...inikah Alya anaknya Nanda?"
" Iya paman, ini Alya anaknya kak Nanda..." ucapnya sembari mengusap rambut Alya.
Alya menatap kearah pak Jefry dia menatap lekat dan dia lalu menatap kearah Nirmala seolah-olah mencari jawaban siapa sebenarnya orang tersebut.
" Alya, itu adalah kakek Alya."
" Kakek?" tanyanya sembari menatap kearah Nirmala.
" Bukankah kakek Alya udah disurga sama Ayah dan Bunda serta Nenek, kok ada lagi kakeknya." ucap polosnya.
" Alya sayang, itu saudaranya kakek Alya, yang satunya ada disurga dan ini ada didekat Alya." terang Nirmala.
" Alya!..." panggil Tara.
Alya menoleh kearah Tara.
" Asyik deh kamu punya kakek,kita bisa main-main sama kakek kamu." ucapnya sembari tersenyum.
__ADS_1
Alya hanya mengangguk...
" Alya, sini sayang, ini kakek Alya..." ucap Pak Jefry sembari merentangkan tangannya, Alya menatap kearah sang Tante, terlihat Nirmala menganggukkan kepalanya sembari menyunggingkan senyuman di wajahnya.
Alya pun kemudian melangkah mendekati sang kakek Pak Jefri pun langsung meraih tubuh mungil sang cucu yang kemudian memeluk Alya sembari meneteskan air matanya dia tidak menyangka bisa bertemu dengan cucunya itu, Bu Warna pun kemudian mengusap rambut Alya.
" Kamu anak pintar, persis sama kaya Ayahmu dulu Nak, Kamu anak pintar." ucap pak Jefry.
Kemudian pak Jefry melepaskan pelukannya pada bocah kecil itu dan dia pun kemudian menatap ke arah sang istri Bu Warna meraih tubuh Alya dan memeluknya juga.
" Akhirnya Nenek bisa bertemu denganmu dan memelukmu sekarang ini, cucu Nenek tersayang." ucap Bu Warna.
Bu Warna kemudian mengangkat tubuh Alya dan mendudukkannya di pangkuan dirinya, Alya hanya bisa terdiam karena dia masih merasa heran, Alya baru saja melihat kedua orang tua tersebut, Tapi karena dia sudah diyakinkan oleh Nirmala kalau kedua orang tersebut adalah keluarga mereka.
Tara kemudian mendekati Alya sembari berucap, yang membuat mereka tersenyum namun merasa sedih mendengar ucapan Tara itu.
" Alya, Boleh nggak aku memeluk Nenekmu juga? karena aku sebenarnya sangat merindukan Nenek aku juga, tapi karena Nenek aku ada di surga bersama Kakek, aku tidak bisa menemuinya."
Dengan ucapan itu pun Bu Warna langsung meraih tubuh Tara dan mendudukkannya di samping dirinya sembari dia berucap.
" Nenek ini adalah Nenek kalian berdua, kalian bisa memiliki Nenek ini, karena Nenek ini adalah Nenek kalian berdua untuk selamanya." ucapnya sembari mencium kening Tara, Tara pun kemudian memeluk Ibu Warna tersebut, Rendra tertunduk sesaat, sebenarnya dia merasakan kesedihan yang sangat dahsyat disaat Tara berbicara seperti itu.
Pak Jefry mengusap kepala Tara sembari berucap.
Tara melepaskan pelukannya pada sang Nenek Tara menoleh ke arah Pak Jefri dia tersenyum dan langsung mengalihkan pelukannya pada sang Kakek, Pak Jefri pun memeluk anak kecil tersebut dengan penuh kasih dan sayang, mereka yang ada di situ pun semuanya merasa sedih, senang dan bahagia bercampur menjadi satu.
Tidak lama kemudian Asisten Rumah Tangga Rendra membawakan beberapa minuman dan camilan untuk mereka santap, Mereka pun kemudian meminum dan memakan cemilan yang sudah disediakan itu.
Disaat mereka menikmati camilan itu Rendra kemudian berbicara.
" Maaf pak Jefri ada yang ingin saya katakan pada bapak."
" Ada apa Nak Rendra.?"
" Sebenarnya kami memang sengaja mencari keluarga dari Nirmala terutama saya."
" Kalau itu Bapak sudah mengerti Nak."
" Mengerti? maksud Bapak kalau Bapak sudah mengerti dengan maksud saya yang harus mencari keluarga Nirmala Begitukah?"
__ADS_1
Pak Jefri menganggukkan kepalanya sembari menyunggingkan senyum di wajahnya.
" Ya iyalah Ren, Ayah sudah mengerti semuanya kalau kamu sedang mencari keluarga Nirmala itu, karena kamu ingin melamar Nirmala kan?" ucap Adrian sembari tersenyum, Rendra pun tersenyum sembari mengusap wajahnya dengan pelan.
" Apa yang dikatakan oleh Andrian itu memang benar, Bapak mengerti kedatangan kamu ke rumah sebelum kamu ceritakannya pun Bapak sudah bisa menerkanya, selagi menuju kebaikan Bapak akan merestuinya dan Bapak akan menjadi wali dari pihak Nirmala."
Terlihat wajah Rendra dan Nirmala merasa bahagia, Sasa yang berada di situ pun merasa senang sekali mendengar sahabatnya akan dipersunting oleh Bosnya sendiri.
" Ya Tuhan Nirmala aku sangat bersyukur sekali karena kamu sebentar lagi akan menjadi Nyonya Pak Rendra."
Nirmala hanya menganggukkan kepalanya sembari memegang tangan Sasa, Adrian menatap ke arah Sasa di saat Sasa mengucapkan kata-kata itu pada Nirmala.
Sekilas Rendra menatap ke arah Adrian dia pun kemudian tersenyum sembari berucap.
" Kamu juga Sa, sebentar lagi akan menjadi seorang nyonya dari seseorangkan?"
Sasa terkejut dan langsung menatap ke arah Rendra, yang lebih terkejut lagi Adrian yang menatap langsung lekat ke arah Rendra.
" Maksud kamu?" tanya Adrian.
" Karena sebentar lagi Sasa akan dilamar seseorang." ucap Rendra dengan santainya.
" Hah?! dilamar seseorang? maksud Bapak?" Sasa terlihat tidak percaya, Adrian yang awalnya duduk di samping Ayahnya itu pun langsung berdiri dan mendekati Rendra.
" Bro.... Apa benar yang kamu katakan itu? siapa yang akan melamar Sasa.?"
Rendra kemudian menepuk pelan pundak sahabat sembari berucap.
" Memangnya kenapa? kok kamu ingin tahu sekali sih, siapa yang akan melamar Sasa."
" Ya iyalah Bro aku terkejut, Sasa aja terkejut mendengar kalau ada seseorang yang ingin melamarnya." ucap Adrian.
" Hehehe... Sasa itu tidak tahu sama sekali siapa yang akan melamarnya, tapi aku tahu dan aku kenal dengan laki-laki itu, tapi Sasa belum mengetahuinya."
" Siapa pelamarnya itu Ren?Karena aku ingin tahu siapa lelaki itu?"
" Aku ingin menjodohkan Sasa dengan temanku sendiri." ucapnya sembari tersenyum.
" Siapa temanmu itu?"
__ADS_1
Rendra hanya tersenyum.
Adrian menghela nafasnya dengan panjang dan mengusap wajahnya dengan kasar membuat mereka yang ada di situ merasa heran, terutama dengan Sasa dia kemudian menatap ke arah Nirmala meminta jawaban dari Nirmala apa yang diucapkan oleh Rendra tentang perjodohan dirinya itu.