
Didalam perjalanan pulang Sasa menanyakan kembali pada sahabatnya itu perihal yang terjadi disaat rapat pada Nirmala, karena mereka pulang berboncengan bersama dengan Sasa,dikarenakan motor Nirmala yang selalu menemaninya dalam suka dan duka itupun mengalami kerusakan terpaksa dia merepotkan Sasa sang sahabat.
" Mala..."
" Hhmmm..."
" Aku kan sudah bilang padamu tadi..."
" Apa?"
" Aku nggak mau tahu kamu harus menceritakan padaku tentang kamu yang berubah setelah mengikuti rapat dengan orang-orang yang hebat itu, ada apa sih? cerita dong padaku..."
Nirmala menghela nafasnya dengan pelan.
Motor yang membawa mereka memasuki halaman tempat kontrakan Nirmala.
" Masuklah kita ceritanya didalam aja." ucap Nirmala sembari tersenyum mengajak sang sahabat.
Saat mereka berada didalam rumah Nirmala dia pun langsung duduk saling berhadapan, Nirmala menghela nafasnya dengan dalam dan Sasa menatap wajah sahabatnya itu
" Sebenarnya ada apa katakan padaku?"
" Aku pernah cerita sama kamu kan tentang laki-laki yang berada di rumah sakit yang sudah menyentuh hatiku dan aku sangat menyukainya."
" Yang kamu bilang bernama Reas."
Nirmala menganggukkan kepalanya terlihat di wajahnya sangat sedih.
__ADS_1
" Terus ada apa Nirmala? Kenapa kamu terlihat sedih? memang kenapa dengan Pak Reas yang kamu katakan padaku itu, atau jangan-jangan..." Sasa menggantung kalimatnya sembari menatap lekat ke arah Nirmala.
" Jangan-jangan pak Rendra marah sama kamu, karena kamu kenal sama Mas Reas kamu itu, atau jangan-jangan Mas Reas kamu itu adalah saudaranya Pak Rendra?" ucap Sasa sembari menatap lekat ke arah Nirmala.
" Nirmala, kalau memang benar Mas Reas kamu itu adalah saudaraan dengan Pak Rendra nggak papa kan kamu sukanya sama Mas Reas kamu itu, bukan sama Pak Rendra kan, atau Pak Rendra yang cemburu karena sudah mengetahui kalau kamu pacaran sama saudaranya, maksud aku bukan pacaran sih, tapi menyukai saudaranya."
" Bukan seperti itu Sasa."
" Terus seperti apa Mala, kamu dari tadi nggak cerita keaku, kan penasaran sebenarnya apa yang terjadi."
" Kalau aku katakan padamu Kamu mungkin juga tidak percaya dengan ucapanku ini."
" Tapi kalau kamu nggak mengatakannya aku nggak tahu."
" Mas Reas itu adalah Pak Rendra dan Pak Rendra itu adalah Mas Reas, mereka satu orang Sa." ucap Nirmala sembari menundukkan kepalanya, terlihat buliran bening menghiasi wajahnya.
" Nirmala, kalau memang Mas Reas kamu itu adalah Pak Rendra, Kenapa kamu menangis?"
Nirmala mantap ke arah Sasa sembari menghapus air matanya.
" Aku menangis karena aku terkejut aja kala itu setelah aku mengetahui kalau Pak Rendra itu adalah Mas Reas sedikitpun dia tidak menegurku dia tidak menyapa aku di situlah aku sadar kalau diriku ini salah menempatkan rasa suka aku kepadanya, dia orang kaya sedangkan aku hanya orang biasa saja aku tidak pantas bersama dengannya meskipun aku menyukainya, tapi mulai sekarang rasa suka itu akan kusimpan di dalam hatiku, aku juga nggak bisa keluar dari kantor itu karena disitulah tempat Aku mencari nafkah untuk membesarkan Alya." ucapnya.
Sasa tidak bisa berbuat banyak untuk sahabatnya itu karena ini adalah masalah hati antara Nirmala dan Pak Rendra.
Sasa hanya menghela nafasnya dengan pelan Dia kemudian menatap sahabatnya itu dengan tatapan nanar nya, Sasa merasa sedih melihat keadaan Nirmala saat ini yang hanya dia lakukan membiarkan Nirmala dalam diamnya agar dia bisa menenangkan pikirannya karena tidak mudah bagi Nirmala menerima semua ini apalagi menyangkut laki-laki yang memang disukainya walaupun di antara mereka belum ada kata suka satu sama lainnya, tapi mereka hanya menyimpan rasa sukanya itu di dalam hatinya.
" Aku yakin pasti Pak Rendra juga menyukai Nirmala tapi mereka tidak mau mengakuinya." Guman Sasa sembari menatap ke arah Nirmala.
__ADS_1
" Nirmala Maafkan aku, Aku tidak bisa berbuat banyak untukmu, Lebih baik kamu tenangkan diri kamu dulu, Aku juga merasa terkejut mendengarnya, jangankan kamu yang sudah berkenalan lebih dekat dengan mas Reas kamu, tapi yang Aku tidak percaya dan merasa heran, kenapa dia tidak mengakui kalau dia adalah Bos kita di hadapan kamu dan dia juga merubah namanya sebagai Reas dia tidak mau mengatakan identitasnya aslinya pada kamu."
" Itulah Sa,aku juga tidak tahu kenapa Pak Rendra menyembunyikan identitasnya dariku."
" Sekarang kamu jangan bersedih dulu sebentar lagi kan Alya pulang tuh dari rumah Pak Rendra, jangan sampai kesedihan kamu dilihat oleh Alya, lebih baik kamu tenangkan dirimu, Aku pulang dulu ya, nanti kalau kamu perlu apa-apa hubungi saja Aku, apa perlu aku menginap di rumah kamu? untuk menemani kamu? karena kamu sedang dalam kesedihan seperti ini."
Nirmala hanya menghela nafas panjangnya.
" Nggak usah, aku nggak apa-apa kok Sa, aku bisa menguasai semuanya, karena ini adalah kesalahanku telah menyukai Bosku sendiri, tapi syukurlah Pak Rendra tidak mengetahui kalau aku menyukainya."
Sasa hanya menganggukkan kepalanya, sembari menepuk pelan pundak sahabatnya itu, kemudian dia berdiri dan berpamitan pada Nirmala. Nirmala hanya menganggukkan kepalanya, dia tidak mengantar sahabatnya itu keluar, beberapa saat kemudian terdengar motor Sasa meninggalkan rumah Nirmala, Nirmala hanya menghela nafasnya kembali dengan pelan, kemudian dia menyandarkan tubuhnya di dinding tembok rumah nya tersebut, dia tidak beranjak dari duduknya, dia hanya terdiam sembari menatap langit-langit rumahnya itu, dia pun tidak menyadari sebuah mobil berhenti di depan rumahnya, dia terkejut mendengar suara Alya yang masuk ke dalam rumah karena pintu rumah tersebut terbuka dengan lebar, semenjak kepergian Sasa Nirmala tidak menutup pintu seperti yang dilakukannya setiap hari, dia terkejut karena sang keponakan sudah berada di depannya.
" Tante... kenapa Tante terdiam,? kenapa Tante tidak menyambut Alya pulang, biasanya tante menyambut Alya datang, Ada apa Tante? kenapa Tante tetap duduk di sini? Kok mata tante merah sih?Tante menagis?" tanya gadis kecil tersebut.
Nirmala tidak bisa menjawab pertanyaan sang keponakan, dia pun kemudian tersenyum sembari berbicara.
" Kamu sudah datang Nak? Mbak Siti nya sudah pulang?"
" Kenapa tante nggak menyambut Alya? " tanya Alya lagi.
" Maafin Tante ya, karena tante kecapean jadi tante duduknya sendiri dan Tante nggak apa-apa kok." ucapnya sembari menyentuh pipi sang keponakan.
" Tapi Tante,ada tamu di depan." ucapannya.
" Tamu?"
Alya menganggukan kepalanya, kemudian Nirmala pun berdiri dan melangkah menuju ke arah pintu keluar rumahnya, dia terkejut melihat siapa yang bertamu. Tara mendongakan kepalanya menatap ke arah Omnya itu dan kemudian menatap ke arah Nirmala.
__ADS_1
" Tara!" panggil Alya, Tara kemudian menatap ke arah Alya, dia melambaikan tangannya untuk mengajak Tara masuk ke dalam, Tara pun kemudian melepaskan pegangannya dari sang Om, dia melangkah menuju ke arah dalam di mana Alya yang memanggilnya, sedangkan Nirmala terdiam sembari menatap ke arah Rendra, Begitu juga dengan Rendra menatap lekat ke arah Nirmala sembari mengukir senyum di wajahnya.