Kau Lukis Permadani Cinta

Kau Lukis Permadani Cinta
Episode 43


__ADS_3

Episode 43 🌹


Kemudian mereka pun berangkat ke kantor seperti biasanya dengan berboncengan sepeda motor kesayangan Sasa, Nirmala duduk manis dan terlihat sangat bahagia karena dia tetap diperbolehkan oleh Rendra menggunakan roda dua bersama dengan Sasa, namun mereka tidak mengetahui kalau Rendra berada di belakang mereka memantau saat mereka mengendarai kendaraannya tersebut.


Beberapa saat kemudian roda dua milik Sasa memasuki halaman kantor disusul dengan mobil pribadi sang big boss, mereka terkejut melihat mobil Pak bosnya berbarengan sampai di kantor itu, sesuai dengan yang dikatakan oleh Nirmala mereka berdua pun hanya cuek saja dan langsung melangkah menuju ke arah lobby, semua yang ada di dalam kantor tidak menduga kalau mereka sudah berbarengan berangkat ke arah menuju kantor.


Mereka berdua pun menunggu pintu lift terbuka khusus karyawan saat mereka menunggu, ponsel Sasa berdering.


Sasa kemudian mengambil ponselnya yang berada di dalam tas yang menempel di bahunya itu, dia melihat layar ponselnya ternyata yang memanggilnya adalah Silva.


Sasa kemudian menatap ke arah Nirmala, Nirmala yang tidak tahu siapa pemanggil di dalam ponsel Sasa tersebut hanya menatap heran ke arah sahabatnya itu.


Sasa memilih tidak menjawab panggilan tersebut, kembali Dia memasukkan ponselnya ke dalam tasnya, membuat Nirmala merasa heran, kemudian pintu lift terbuka mereka masuk ke dalamnya di dalam lift Nirmala menanyakan perihal Sasa tidak menerima panggilan dari ponsel pribadinya itu.


" Kenapa kamu tidak menjawab panggilan itu?" tanya Nirmala sembari menatap sang sahabat dengan tatapan herannya.


Sasa hanya menggelengkan kepalanya.


" Aku rasa nggak penting."


" Kenapa bisa nggak penting? kalau orang menghubungi itu, pasti ada pentingnya, memang siapa yang menghubungi kamu.?"


Kemudian pintu lift terbuka, mereka berdua keluar dan melangkah menuju ke arah ruangannya dan Nirmala menanti jawaban dari pertanyaannya tadi.


" Dia adalah teman kuliahku, sekaligus orang ketiga dalam hubunganku kala itu."


" Hubungan kamu? kamu tidak pernah cerita padaku.?"


" Hem...aku memang tidak menceritakannya padamu."


" Kenapa?"


" Karena aku tidak ingin mengingatnya."

__ADS_1


" Tapi sekarang kamu sudah mengingatnyakan?"


Sasa menghela nafasnya dengan berat sembari mengangguk.


" Ntar makan sing aku ceritakan semuanya." ucapnya sembari mematikan ponselnya agar dia tidak dihubungi Silva dan siapapun, Nirmala menganggukkan kepalanya, dan mereka pun memasuki ruangan untuk memulai aktifitasnya.


Diruangan Rendra.


" Fahmi segera keruanganku sekarang."


" Siap pak!"


Beberapa saat Rendra menunggu Fahmi, kemudian ruangannya diketuk dari luar, dan suara Rendra terdengar untuk menyuruh si pengetuk masuk.


Fahmi membuka pintu ruangan Bosnya itu dan melangkah mendekati Pak bosnya sembari duduk di depan Pak bosnya tersebut, Rendra menatap ke arah Fahmi sembari menghela nafasnya dengan panjang.


" Ya Bos, Ada apa Pak Bos.?"


" Kamu buatkan surat tugas agar Nirmala menjadi sekretarisku dan tempatkan Dia di depan ruanganku."


" Satu lagi, katakan pada semua kalau nantinya mereka bertanya-tanya kenapa Nirmala bisa naik jabatan langsung menjadi sekretaris, kamu harus mencari alasan itu, karena Aku tidak ingin mendengar gosip di kantorku ini, Kamu paham kan."


" Siap Bos! saya paham, Maaf Pak Bos hanya itu kah.?"


" Iya hanya itu dan perintahkan anak buah kamu segera mempersiapkan meja untuk Nirmala."


" Siap Bos! saya permisi dulu." Rendra hanya menganggukkan kepalanya, kemudian dia menatap langkah demi langkah Fahmi yang keluar dari ruangannya tersebut, Fahmi yang diperintahkan untuk membuat surat keputusan untuk Nirmala yang naik jabatan itu pun segera menuju ke arah ruangan yang mengurusi tentang surat-menyurat perintah dari Pak bosnya.


Saat fokus menatap layar laptop yang ada di hadapannya itu, Rendra di kejutan kembali dengan ketukan di pintu ruangannya, dia kembali menyuruh si pengetuk itu masuk ke dalam ruangan, Rendra menatap ke arah pintu melihat siapa yang datang, pintu terbuka dengan perlahan dia melihat sekretarisnya masuk ke dalam ruangannya, Rendra merasa heran, padahal hari ini dia tidak mengadakan pertemuan.


" Ada apa? bukankah hari ini kita tidak ada pertemuan.?"


" Iya Pak memang tidak ada pertemuan, tapi di ruangan tamu ada yang ingin bertemu dengan Bapak."

__ADS_1


" Ada yang ingin bertemu dengan ku, siapa.?"


" Katanya orang dari luar Negeri."


" Singapura.?"


" Bukan Pak, kalau Client kita yang dari Singapura sudah dijamu dengan perintah dari Pak Bos, dan mereka akan bertemu sama bapak saat makan siang, mereka masih berada di perusahaan anak cabang kita." terang sekretaris tersebut.


Rendra hanya menganggukkan kepalanya.


" Baiklah, Aku akan menemui mereka."


Sekretaris itupun menganggukkan kepalanya, kemudian dia berpamitan dengan Pak Bos nya tersebut, Rendra kemudian berdiri dan mengancingkan jas yang dipakainya itu, dia kemudian melangkah meninggalkan ruangannya menuju ke arah ruangan tamu yang berada di kantornya tersebut yang memang dikhususkan untuk para tamu yang bertamu ke kantornya itu.


" Siapa mereka yang ingin bertemu denganku? biasanya orang yang ingin bertemu denganku selalu menghubungi salah satu dari orang kepercayaanku." gumamnya sembari melangkah menuju ke arah ruang tamu tersebut.


Rendra kemudian membuka pintu ruangan itu, saat dia membuka ruangan, dia menatap ke arah Pak Betran, Bu Mery dan Nova.


Nova yang melihat Rendra itu pun terlihat kegirangan sekali, Rendra terkejut karena dia tidak menyangka bisa bertemu kembali dengan keluarga Nova, walaupun sebenarnya Ayahnya Nova tidak pernah bertemu dengan Rendra.


Saatnya Nova berdiri mendekati Rendra dengan sigap tangan pada Betran langsung menarik tangan anaknya tersebut, terlihat di wajah Nova ada rasa marah dengan sang Papi, dengan sedikit kasar dia menepiskan tangan Papinya tersebut.


" Papi apa-apaan sih.!! bikin malu aja, kan ada Rendra tuh!!" ucapnya.


" Jaga sikapmu! ini di tempat orang dan jangan menampakan kegilaan kamu di hadapan orang, walaupun seseorang itu adalah teman kamu, jaga harga dan martabatmu sebagai seorang wanita!" ucapnya sembari menatap lekat pada anaknya tersebut.


Nova hanya mendengus dengan kesal, Dia memalingkan wajahnya dari Papinya itu, dia tidak ingin melihat Papinya tersebut, dia menggeser duduknya dan menjauh dari sang Papi.


" Tante Merry, Nova..." ucapnya kemudian matanya menatap kearah pak Betran, karena dia baru pertama kali melihatnya.


" Apa kabar Rendra, saya pak Betran, Papinya Nova, Tapi kamu belum pernah melihat saya dan mengenali saya, tapi saya mengenali kamu, bahkan kita pernah beberapa kali bertemu, mungkin kamu lupa karena terlalu banyak Client yang telah kamu temui." ucapnya sembari tersenyum dengan ramahnya.


" Ya ampun ...ternyata pak Betran pemilik perusahaan Jane Group itu ya, Maaf Pak! saya tidak tahu kalau bapak adalah papinya Nova."

__ADS_1


Nova pun kemudian berdiri dan mendekati Rendra dan duduk di samping Rendra, Nova langsung saja merangkul tangan Rendra membuat Rendra merasa risih, dia pun kemudian menepiskan tangan Nova, Rendra kemudian berdiri dan berpindah duduknya di sofa yang khusus untuk satu orang.


Terlihat wajah Nova merasa kecewa karena diperlakukan oleh Rendra seperti itu, terlihat juga wajah kedua orang tuanya yang merasa malu dengan kelakuan sang anak seperti itu.


__ADS_2