
Eposode 45 🌹
Seperti biasanya pulang kantor jam 16.30 Sasa dan Nirmala melangkah menuju ke arah tempat parkir roda dua, Nirmala menengok kiri dan kanan melihat keberadaan mobil pribadinya Rendra, tapi sayangnya dia tidak melihat sama sekali mobil tersebut Sasa memperhatikan sang sahabat, Dia pun kemudian menegurnya.
" Apa yang kamu cari Mala?"
Nirmala hanya tersenyum saja.
" Kamu pasti mencari mobil Mas kamu tercinta itu ya.?"
Nirmala menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
" Mungkin ada pekerjaan di luar kantor bersama dengan Pak Fahmi, karena biasanya setiap pulang kantor aku bertemu dengan Pak Fahmi, Tapi saat ini tidak ketemu, berarti mereka berada di luar kantor." ucap Sasa sembari menaiki motornya tersebut, Nirmala menganggukkan kepalanya, kemudian dia pun ikut menaiki motor Sasa, beberapa saat kemudian motor Sasa meninggalkan kantor Satya group untuk pulang kembali ke rumah Rendra.
Di jalan menuju ke arah rumah Rendra, mereka berdua tidak ada suara sama sekali, Nirmala larut dalam lamunanya, Begitu juga dengan Sasa dia fokus menyetir motor pribadinya itu, beberapa saat mereka berdua terombang-ambing di jalan beraspal tersebut, beberapa menit kemudian mereka pun sampai di rumah Rendra, Sasa memarkirkan motor pribadinya itu, mereka berdua turun dari motor dan melangkah menuju ke arah pintu utama rumah besar tersebut, terdengar ponsel Sasa berbunyi dia pun langsung mengambil ponselnya yang berada di dalam tasnya itu, dia melihat layar ponsel tersebut tertera nama Chelsea.
" Siapa yang menghubungi kamu Sa ?" tanya Nirmala sembari menatap ke arah Sasa.
" Chelsea, dia teman kuliahku." ucap Sasa sembari tersenyum, kemudian dia pun duduk di teras rumah tersebut sembari menjawab panggilan dari Chelsea.
Nirmala kemudian meninggalkan Sasaz dia menuju masuk ke dalam rumah tersebut menemui Tara dan Alya yang lagi asik bermain ditemani dengan Mbak Siti di ruang bermain yang sudah disediakan di rumah tersebut.
" Halo Chelsea....."
" Hai Sasa, apa kabar kamu sekarang Sasa.?"
" Hai juga Chelsea, aku baik-baik saja, kalau kabar kamu gimana sekarang.?"
" Sama aku juga baik-baik saja, oh ya kamu ada dihubungi Silva tidak.?"
Sasa mengela nafasnya dengan panjang terdengar dia berat menjawab pertanyaan dari Chelsea.
" Pasti kamu ada di hubungi oleh Silva kan, aku tahu sifat Silva, dia selalu saja membuat kamu merasa tidak nyaman."
" Iya Chelsea, dia ada menghubungi aku, tapi aku tidak menjawab panggilannya, aku juga tahu kalau dia menghubungi aku itu pasti ada sesuatu yang akan dipamerkannya padaku."
" Menurut aku kalau kamu dihubunginya lagi tinggal jawab saja aku juga ada dihubunginya."
" Memang ada apa? sehingga Silva menghubungi kita semua."
" Hem... kayak tidak tahu dengan Silva saja, setiap kebahagiaan dia selalu diumbarnya dan dia ingin memperlihatkan kembali kebahagiaannya pada kamu, karena dia baru aja menghubungi aku dan mengatakan padaku perihal kamu."
" Perihal soal apa? perasaan aku tidak punya salah dengannya, yang ada salah itu mereka padaku yang lebih banyak kesalahannya adalah Silva."
__ADS_1
" Dia mengundang kita semua alumni kuliah kita satu angkatan dengannya untuk menghadiri acara pernikahannya."
" Acara pernikahan? maksudnya aku tidak paham."
" Maksud aku ulang tahun pernikahan mereka."
" Oh begitu, rupanya mereka berdua masih tetap bertahan."
" Iya Sa, bagaimana denganmu? Apakah nanti kamu akan datang? kalau seandainya dia menghubungi kamu lagi dan mengundang kamu untuk menghadiri acaranya itu."
" Kayaknya aku tidak bisa datang, karena aku takut dipermalukan kembali seperti beberapa tahun lalu, karena aku datang seorang diri tanpa ada pendampingku, di samping itu dia juga mengatakan padaku kalau aku tidak bisa move on dari Rudini, kamu juga tahu kan kalau aku yang sebenarnya tersakiti oleh mereka, semenjak kejadian itu aku memang belum terpikir untuk mendapatkan kekasih lagi, waktuku hanya aku buat untuk bekerja dan bekerja."
" Kalau kamu diundang ya nanti kamu terima saja undangan tersebut, karena aku akan membantumu, Aku tidak ingin kamu dipermalukan lagi."
" Maksud kamu? aku tidak mengerti deh!"
" Aku ada teman seorang laki-laki yang mau diajak bersandiwara di depan Rudini dan Silva, biar mereka tahu kalau kamu memang sudah move on dari Rudini itu, karena mereka itu harus diberi pelajaran agar mereka tidak sekali-kali lagi meremehkan dirimu."
" Teman laki-laki kamu, tapi aku tidak kenal dengannya, bagaimana nantinya pasti ada rasa kecanggungan yang akan aku hadapi."
" Tenang saja, dia bisa membuat suasana seperti layaknya sepasang kekasih yang memang sudah lama menjalin Cinta."
" Bagaimana aku bisa menemuinya.?"
" Baiklah, aku akan terima saranmu, dan aku akan datang kalau Silva mengundang Aku." ucapnya tersenyum.
" Baiklah, nanti akan aku kasih tahu di mana kalian pastinya akan bertemu, Karena aku belum bisa memastikan apakah dia mau menunggumu di Mall yang aku katakan tadi, Baiklah Sasa terima kasih karena sudah meluangkan waktumu untukku, karena aku masih dalam perjalanan menuju ke kota kita bersama keluargaku."
" Baiklah, terima kasih banyak Chelsea, hati-hati di jalan kalau kamu sudah sampai hubungi aku ya."
" Oke..."
Mereka berdua pun memutus sambungan bicaranya, Sasa menghela nafasnya dengan pelan, Dia kemudian menoleh ke arah pintu karena dia merasakan ada orang yang menatapnya sedari tadi, siapa lagi kalau bukan Nirmala, terlihat senyum Nirmala di wajahnya, Dia kemudian melangkah mendekati sang sahabat dia duduk di samping sahabatnya itu.
" Ada apa...?"
Sasa kemudian menceritakan semua saran dari Chelsea untuk membuat sandiwara bersama teman Chelsea, agar Rudini dan Silva tidak mencemooh kan dirinya lagi.
Nirmala hanya menghela nafasnya dengan pelan, dia menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa yang ada di teras rumah besar Rendra.
" Bagaimana menurut kamu Nirmala? Apakah saran dari Chelsea itu tetap aku jalankan."
Nirmala menoleh ke arah sang sahabat
__ADS_1
" Kalau menurut aku sih ikuti aja saran dari Chelsea, sekali-kali orang berdua itu beri pelajaran dengan kenyataan, kalau kamu memang sudah dapat melupakan Rudini itu."
Sasa mengganggukkan kepalanya, kemudian terlihat sebuah mobil memasuki halaman rumah tersebut, siapa lagi kalau bukan mobil pribadi Rendra, dia memarkirkan Mobilnya di tempat parkir yang memang sudah tersedia, Rendra turun dari mobilnya melangkah menuju ke arah dua wanita yang sedang duduk di teras dia tersenyum manis pada Nirmala dan Sasa.
" Kenapa kalian berdua duduk di sini ada apa.?"
Nirmala Kemudian menceritakan tentang keresahan, kegalauan, kegundahan serta kesedihan Sasa tersebut.
Rendra tersenyum.
" Kalau dilihat dari cerita Nirmala, memang harus kamu membuktikan kepada mereka, kalau kamu sudah bisa tanpa Rudini itu, bagaimana kalau aku dan kamu yang menjalankan sandiwaranya." ucap Rendra terkekeh.
Nirmala tersenyum dan menganggukkan kepalanya, namun Sasa yang terkejut beberapa saat, kemudian dia pun mengeluarkan tawa lepasnya
" Kenapa kamu tertawa? bukankah itu lebih aman, karena kamu mengenal aku, jadi kamu tidak sungkan untuk memainkan sandiwara di hadapan kedua orang yang sudah menyakiti kamu itu."
" Tidak Pak, saya yang nantinya tidak bisa menjalankan sandiwara tersebut, karena saya pasti gagu mau panggil apa sama Bapak, ujung-ujungnya saya nanti keceplosan memanggil Bapak dengan sebutan Bos!" ucapnya sembari tertawa diikutin Nirmala dan Rendra mereka bertiga pun melepaskan tawanya.
" Saya sudah ada orang yang akan saya bawa untuk bersandiwara di hadapan mereka."
" Baguslah, kalau seperti itu, kapan acaranya.?"
" Menurut cerita dari teman saya, acaranya jam 01.00 siang, tapi saya menunggu Silva menghubungi saya dulu"
" Kenapa menunggu dia?"
" Karena dia belum mengundang saya pak, syukur-syukur kalau dia membatalkan untuk mengundang saya."
" Yah mudah-mudahan saja dia mengundang kamu dan ejekan serta cemoohan yang pernah mereka berikan padamu itu bisa terbalaskan dengan kamu memainkan sandiwara tersebut dengan pintar dan tanpa ketahuan mereka, kalau kalian berdua itu bohongan belaka memiliki hubungan." ucap Rendra.
Dianggukkan oleh Sasa, kemudian Sasa pun mohon pamit dengan keduanya untuk membersihkan diri masuk ke dalam, karena dia tidak ingin mengganggu pertemuan Rendra dan Nirmala.
Rendra dan Nirmala hanya menganggukkan kepalanya kemudian Rendra beralih tempat duduk di samping Nirmala.
" Aku ada kabar berita yang baik untukmu.
" Berita apa itu?" tanya Nirmala sembari menatap ke arah Rendra.
" Besok pagi kita akan menemui keluarga kamu, karena Fahmi sudah menemukan di mana pamanmu itu berada."
Nirmala terkejut dia tidak menyangka kalau pencarian tentang sang Paman sudah dapat titik terangnya, bahkan sudah mau bertemu dengannya, Nirmala terdiam, rasa tidak percaya dengan ucapan yang diberikan oleh Rendra padanya.
Nirmala menatap ke arah Rendra kembali, Rendra hanya menganggukan kepalanya, terlihat wajah senang, sedih, bercampur rasa tidak percaya kalau sebentar lagi dia akan bertemu dengan sang paman adik kandung almarhum ayahnya.
__ADS_1