Kau Lukis Permadani Cinta

Kau Lukis Permadani Cinta
BAB 12


__ADS_3

" Pak Fahmi, apakah ini rumahnya pak Bos?" tanya Susanto.


Fahmi menganggukkan kepalanya, sembari mengajak Susanto memasuki rumah Rendra nan Besar itu, Susanto menyapu semua sekitar rumah pak Bosnya itu, dia juga menyapu ruang tengah rumah pak Bosnya dengan pandangan matanya, dia hanya bisa tersenyum dan berdecak kagum kalau sang Bos memiliki rumah yang Besar, dia memang sudah lama bekerja dengan Rendra tapi dia tidak pernah melihat rumah pribadi sang Bos, Susanto pernah mendengar cerita kalau sang Bos merintis dari Nol sampai menjadi besar dalam usahanya sehingga dia mampu memberikan lowongan pada semua orang yang sangat membutuhkan pekerjaan.


" Wah! Aku kagum sekali dengan pak Rendra karena keuletannya itu dalam bekerja menjadikannya sebagai orang terpandang dan baik hati, hanya pak Iwan lah yang serakah dan memanfaatkan keadaan tersebut untuk dirinya sendiri tapi menderitakan orang lain." Gumam Iwan


Rendra menapaki satu persatu anak tangga lantai atas rumahnya sembari memberikan senyumannya pada kedua Tamunya itu karena dia sudah diberitahu Asisten rumah tangganya karena Fahmi sudah datang bersama satu orang yang baru mereka lihat, awalnya Rendra juga heran kenapa Fahmi membawa satu orang lagi kerumahnya, tapi setelah dia lihat Rendra akhirnya mengerti kalau Fahmi membawa Susanto itu pasti berkaitan masalah Iwan.


" Silahkan duduk..." ucap Rendra mempersilahkan kembali tamunya untuk duduk.


Fahmi dan Susanto pun langsung duduk kembali.


" Bagaimana selanjutnya.?" tanya Rendra sembari menatap kearah Fahmi.


" Begini pak,Awalnya saya tidak mencurigai Iwan, tapi saat Susanto berbicara pada saya membuat saya yakin dibalik penyalahgunaan kepercayaan Bapak terhadap karyawan yang tidak tetap selama ini adalah Iwan pak." terang Fahmi.


Rendra menganggukkan kepalanya dan menatap kearah Susanto.


" Saya akan ceritakan semuanya pak, kecurigaan Pak Fahmi pada Pak Iwan tidak diragukan lagi Pak, dalang semuanya itu adalah Pak Iwan, mereka yang karyawan tidak tetap itu selalu dipotong bila tidak hadir dalam pekerjaan walaupun mereka sudah izin berbicara langsung dengan kepala bagian mereka masing-masing, tapi tetap aja setiap bulannya mereka tidak mendapatkan gaji mereka secara utuh pak, Saya sudah pernah mengatakan kepada Pak Iwan bahwa perbuatan Pak Iwan itu tidak benar, tapi apa jawabannya, dia tidak mau menghentikannya dan tetap akan melanjutkan pemotongan jika seandainya karyawan tidak tetap itu bertingkah baik tidak masuk kerja ataupun lain sebagainya,karena katanya pak Rendra sudah percaya padanya dan dia juga sudah mendapat ijin dari pak Rendra, untuk mempersilahkan Pak Iwan melakukan apa saja pada karyawan yang tidak tetap itu, tapi Pak Iwan tidak sendiri pak dalam melancarkan aksinya." terang Susanto.


" Hah?! tidak sendiri?lagi pula saya tidak pernah memberikan izin pada si Iwan agar berbuat semena-mena pada karyawan yang tidak tetap dengan cara memotong gaji karyawan tersebut." ucap Rendra, Fahmi pun terkejut mendengar kalau si Iwan tidak sendiri melancarkan aksi pemotongan gaji itu.

__ADS_1


" Iya pak, Mereka menjalankan aksinya itu bersama kepala bagian masing-masing, tapi yang paling parah itu pemotongan yang tidak sesuai dengan logika adalah dibagian penterjemah yang tidak tetap pak." terangnya


" Nirmala Namari." ucap Rendra. dianggukkan Susanto.


" Iya pak, bagian penterjemah pak, bahkan pihak bapak sudah memberikan bonus pada bagian penterjemah karena setiap bonus keluar akhir bulan dan bonus itu selalu didapat oleh Nirmala yang tadi bapak sebutkan namanya, karena Nirmala Namari itu anaknya sangat pintar dia juga menguasai beberapa bahasa asing dia sering membantu para temannya yang kesulitan sebagian kata yang tidak dimengertinya, karena kepolosan dia itulah bonus yang diberikan oleh kantor tidak dinikmatinya Pak."


" Hah!! jadi selama ini bonus yang didapat Nirmala dari kantor tidak pernah diberikan padanya?" tanya Fahmi, dianggukkan Susanto.


" Iya pak Fahmi, Awalnya saya tidak curiga dengan perbuatan pak Iwan dan rekannya, tapi setelah berbulan-bulan, saya selalu melihat laporan dibuku akhir bulan selalu saja Nirmala menandatangani buku itu, dengan alasan dia menanda tangani absen hadir akhir bulan untuk pembukuan, entah bagaimana ceritanya saya juga tidak tahu sampai Nirmala itu tidak mengetahui kalau dia menandatangani bonus yang didapatnya tapi dia tidak pernah menerimanya dan juga dia tidak tahu kalau setiap bulan dia mendapatkan bonus sebesar lima juta rupiah pak, diluar gajihnya itu, terus saya selidiki buku itu, tapi ternyata bukunya disembunyikan pak Iwan, saat pak Iwan tidak ada dikantor saya berusaha mencarinya dan saya temukan, dari situlah saya mengetahui kalau karyawan yang tidak tetap itu mendapatkan potongan gaji jika tidak masuk, ijin, atau dalam keadaan sakit, dan ini pak bukunya, tadi sebelum pulang saya sempat mengambilnya untuk saya jadikan bukti pada bapak dan melaporkan semuanya, karena saya kasihan pak dengan rekan kerja saya yang lain yang belum menjadi karyawan tetap dikantor Bapak,. mereka juga butuh uang untuk menghidupi keluarganya." ucap Susanto, sembari menyerahkan buku jurnal pada Rendra dan Rendra langsung mengambilnya dan memeriksa isinya, setelah dia melihat semuanya Diapun langsung terdiam dan terlihat diwajahnya sangat emosi.


" Berani dia bermain api dengan ku!!" ucapnya dengan gemeretak giginya menahan amarahnya.


Fahmi dan Susanto hanya saling pandang.


Fahmi menganggukkan kepalanya.


" Siap pak, Kalau gitu kami mohon pamit pak." ucapnya.


" Iya..." ucap singkat Rendra,. dan kemudian kedua orang tersebut meninggalkan rumah Rendra dengan diantarkan tuan rumah sampai diteras rumah tersebut, dan dengan tatapan mata Rendra mobil Fahmi perlahan-lahan meninggalkan rumah Pak Bos itu.


Rendra menghempaskan tubuhnya disofa teras rumahnya dia menarik nafasnya dengan panjang dan melepaskannya dengan pelan.

__ADS_1


" Kurang ajar sekali si Iwan, buat apa dia memperlakukan karyawanku semena-mena seperti itu,ternyata sudah berbulan-bulan dia melakukan itu, ini tidak bisa lagi di tolerin, aku akan memecatnya!!orang seperti itu tidak dibutuhkan di kantorku!!" ucapnya yang berbicara sendiri menatap ke arah jalan di mana terlihat hilir mudik kendaraan lalu lalang di depan rumahnya tersebut Rendra kemudian menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa teras rumahnya itu seraya menatap langit-langit teras rumahnya itu, Rendra menghela nafasnya dengan pelan, dan mengusap wajahnya dengan kasar kemudian Dia teringat wajah polos Nirmala.


" Nirmala Namari,kasihan kamu Nirmala, jerih payahmu selama berbulan-bulan itu, kamu tidak menikmatinya, berbulan-bulan bonus yang diberikan pihak kantor tidak kamu nikmati,ini semua karena ulah si Iwan, dulu Iwan tidak pernah berbuat seperti ini, Tapi saat ini dia sudah berbuat sangat kelewatan sekali." ucapnya lalu Dia mengambil ponselnya dan menghubungi Mbak Siti pengasuh Tara, beberapa saat dia berbicara dengan Mbak Siti,setelah pembicaraan itu selesai dia pun melangkah meninggalkan teras menuju ke arah kamarnya untuk membersihkan dirinya dan kembali ke rumah sakit menjaga Tara sang keponakannya itu.


Di Rumah Sakit Harapan sembuh... Motor yang dikendarai Sasa pun sudah terparkir di halaman parkir rumah sakit itu, dia melangkah menuju ke arah Loby Rumah Sakit sembari mengambil ponselnya dan menghubungi Nirmala, karena Sasa tidak mengetahui ruangan rawat Alya keponakan Nirmala itu.


Beberapa saat dia berbicara dengan Nirmala dan Nirmala pun sudah memberitahukan ruangan di mana Alya dirawat, Sasa melangkah menuju arah yang dituju yang sudah diberitahu oleh Nirmala.


Dia membuka pelan pintu ruangan Alya, Nirmala menoleh ke arah pintu itu,dia tersenyum karena sang sahabat sudah berada di rumah sakit dan membawa perlengkapan yang dibutuhkannya saat ini.


" Terima kasih ya Sa, karena sudah beberapa kali aku merepotkan kamu "


Sasa tersenyum...


" Tidak apa-apa, hanya ini yang bisa aku bantu, kalau boleh aku mau tidur di sini nemenin kamu di rumah sakit." ucapnya menatap Alya yang sudah bangun dan tersenyum padanya.


Nirmala tersenyum.


" Baiklah, terimakasih ya Sa, udah mau nemenin Aku."


Sasa menganggukkan kepalanya, dan tersenyum.

__ADS_1


Kemudian mereka pun bercerita kembali dengan tema yang berbeda, Sasa menceritakan semua keadaan di kantor pada Nirmala.


__ADS_2