Kau Lukis Permadani Cinta

Kau Lukis Permadani Cinta
Episode 46


__ADS_3

Episode 46 🌹


" Pantesan saja tadi kamu tidak ada di kantor, saat kami pulang, jangan-jangan kamu sudah bertemu dengan pamanku itu?" tanya Nirmala sembari menatap ke arah wajah Rendra.


Rendra menghela nafasnya dengan dalam, Dia kemudian menatap ke arah Nirmala sembari tersenyum.


Rendra menganggukkan kepalanya.


" Memang aku keluar dengan Fahmi dari kantor sebelum jam pulang kantor, tapi kami hanya survei di mana tempat tinggalnya berada, kalau menemui dia secara langsung belum, karena aku ingin menemui mereka bersama denganmu langsung tanpa ada perantara, agar dia tahu kalau keluarganya masih ada, menurut keterangan dari orang suruhan Fahmi, pamanmu itu juga mencari kamu dan dia sudah tahu tentang tragedi kecelakaan yang mengakibatkan kepergian orang tuamu dan saudaramu itu, bahkan dia memiliki foto Ayahmu."


Rendra kemudian mengambil ponselnya dan membuka galeri foto yang ada di dalam ponselnya tersebut, Dia kemudian memberikan ponselnya pada Nirmala agar Nirmala melihat foto yang ada di dalam ponsel tersebut Nirmala terkejut saat melihat di foto itu.


" Ayah, Iya Mas Ini memang benar Ayah, dia memang paman aku, ya Tuhan akhirnya aku bisa dipertemukan dengan salah satu keluarga Ayah, satu persatu mulai terlihat, Aku sungguh bahagia sekali, karena Paman sebenarnya ingin mencari aku, tapi apakah Paman tidak curiga kalau orang suruhan Pak Fahmi itu adalah memang sengaja mencarinya.?"


" Masalah itu Aku tidak tahu pasti, yang jelas aku hanya diberitahu oleh Fahmi kalau dia sudah menemukan rumah di mana tempat tinggal pamanmu itu."


" Terima kasih ya Mas, aku senang sekali karena aku sudah mendapatkan kabar dari pamanku sendiri, ternyata aku tidak sendirian lagi, Alya juga mendapatkan kakeknya walaupun bukan kakek yang membesarkannya."


Rendra hanya menganggukkan kepalanya kemudian dia berdiri dan meraih tangan Nirmala, mengajaknya masuk ke dalam Nirmalan hanya tersenyum, kemudian dia pun mengikuti langkah Rendra beriringan menuju ke arah dalam yang kemudian disambut oleh Tara dan Aliya yang sedang berlarian bermain bersama.


Saat Sasa mau keluar dari kamarnya tersebut, menuju ke arah sofa di mana Rendra dan yang lainnya sedang duduk, ponsel yang dipegangnya itu pun berbunyi, dia melihat si pemanggil Silva, dia menatap ke arah Nirmala.


" Jawab aja, mulai saat ini kita memainkan sandiwaranya." Ujar Rendra, dianggukkan oleh Nirmala.


" Halo... " ucap Sasa sambari mengaktifkan loudspeaker di ponselnya tersebut agar Mereka mendengarkan bicara Silva.


" Hai Sasa, apa kabarmu, Pasti kabar kamu buruk kan ya, karena selama ini Kamu tidak bisa move on dari Rudini, Sudahlah Sasa, lupakanlah Rudini dan mencarilah laki-laki yang lainnya yang memang bisa mencintai kamu itu apa adanya, tapi aku yakin kalau kamu itu tidak bisa melepas cinta kamu pada Rudini "

__ADS_1


" Untuk apa kamu menghubungi aku, apa hanya ingin menceramahi aku kah?" ucap Sasa.


" Oh tentu tidak, kalau aku menceramahi kamu sama aja aku membuang waktuku yang percuma saja hanya untuk menceramahi seseorang yang tidak bisa menghilangkan pikirannya tentang suami orang."


" Terus mau kamu apa sekarang? Aku juga tidak ada waktu untuk melayani kamu berbicara melalui ponsel."


" Aku menghubungi kamu untuk mengundang kamu ke acara ulang tahun pernikahanku yang kesekian, Aku ingin melihat kamu iri dengan kebahagiaan yang selama ini aku dapatkan bersama dengan Rudini, ternyata Rudini itu lebih bahagia hidup denganku, daripada denganmu kala itu, syukur saja aku bertemu denganmu dan aku bisa mendapatkan Rudini."


" Sayang, waktunya kita keluar kita cari makan di luar merayakan hari jadi kita untuk kesekian kalinya." ucap Rendra sembari merangkul Nirmala.


Sasa menutup mulutnya menahan tawanya sedangkan Nirmala tertawa tertahan.


" Wow! ternyata kamu sudah memiliki seorang kekasih atau kamu hanya sebagai simpanan saja kah?" terdengar tawa diseberang sana.


" Hahahah...itu bukan urusan kamu! mau aku menjadi simpanan atau tidak, kamu tidak perlu tahu.!"


" Baiklah, aku akan datang dan akan membawa kekasihku." ucap Sasa.


" Bagus! itu yang aku nantikan, baiklah aku tunggu besok siang tempat acara akan aku kirim alamatnya, bye..." ucapnya sembari mematikan sambungan bicaranya tersebut, Sasa menghela nafasnya dengan panjang dia meletakkan ponselnya di atas meja yang ada di hadapannya tersebut, Rendra dan Nirmala menatap ke arah Sasa, kemudian Nirmala berdiri dan mendekati Sasa, Dia menepuk pundak Sasa dengan pelan sembari memberikan dukungan dan semangat pada sahabatnya itu, karena dia tahu betapa sakitnya di khianati oleh orang yang disayangi walaupun sebenarnya Nirmala tidak pernah merasakannya.


" Kamu harus yakin kalau sandiwara kamu besok berhasil beri mereka pelajaran."


" Daripada kamu bingung memilih lelaki yang dikatakan oleh teman kamu itu, lagi pula kamu juga tidak kenal dengan dia, bagaimana nantinya kamu mencarinya, kalau aku ada saran bagaimana kalau kamu membawa Fahmi saja." ucapnya sembari tersenyum.


" Apa Pak? Pak Fahmi,?" ucapnya terkejut.


Rendra menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


" Kalau setuju, aku akan menghubungi Fahmi sekarang."


" Nggak usah Pak, saya nggak mau melibatkan orang lain yang kenal dekat dengan saya, Pak Fahmi adalah sama seperti bapak, harus saya hormati, Lagi pula kalau saya membawa Pak Fahmi, nanti saya dibawakan gada Bima yang besar oleh calon istrinya... hahaha." ucap Sasa tertawa lepas membuat mereka berdua pun tertawa.


" Oh ya Sa... besok aku tidak bisa menemani kamu menemui laki-laki yang akan menjalankan sandiwara bersamamu itu."


" Mamg mau kemana Kamu?" tanyanya sembari menatap ke arah Nirmala.


" Mas Rendra sudah menemukan saudara dari Almarhum Ayahku, dia adalah saudara kandung Ayahku satu-satunya yang sekaligus nantinya akan menjadi wali di pernikahanku bersama dengan mas Rendra, biar bagaimanapun aku harus memiliki wali nikah, di samping itu juga aku sudah lama tidak bertemu dengannya, karena saat Paman pergi dari rumah kala itu aku masih belum hadir ke dunia yang pernah melihat Paman hanya kakakku saja."


Sasa kemudian meraih tangan Nirmala, Dia kemudian menepuk pelan tangan sahabatnya itu, sembari tersenyum, dia menatap Nirmala dengan lekat dia hanya menganggukkan kepalanya.


" Tidak apa-apa kok,masalah aku tidak terlalu penting, aku bersyukur sekali, kalau keluargamu sudah dapat ditemukan, kita sebagai seorang wanita kalau mau menikah memang harus memiliki seorang wali, semoga saja pernikahan kalian berdua lancar tidak ada yang mengganggunya."


" Begitu juga denganmu, semoga sandiwaranya besok berhasil."


Kemudian ponsel Rendra berbunyi dia menatapkan arah layar ponselnya itu, lalu dia berdiri menjawab panggilan dari ponselnya tersebut, cukup lama dia menjawab panggilan dari si pemanggil, setelah selesai Dia berbicara dengan orang yang menghubunginya melalui ponsel pribadinya itu pun, dia langsung menuju ke arah lantai 2 di mana kamarnya berada, karena dari tadi dia belum membersihkan dirinya, sedangkan Nirmala dan Sasa menuju ke arah meja makan untuk mempersiapkan makan malam mereka, beberapa saat mereka menunggu Rendra yang sedang membersihkan dirinya itu pun, akhirnya Rendra melangkah mendekati mereka yang ada di ruangan makan itu.


" Om Rendra, kenapa lama sekali sih, Tara sudah lapar banget nih, beginilah kalau orang dewasa, bisa sekali menahan rasa laparnya, tapi mereka tidak mengerti dengan anak kecil seperti kita ini, ya kan Alya." ucapnya sembari menoleh ke arah Alya yang duduk di sampingnya itu, dianggukan oleh Alya sambil mengunyah tempe goreng yang diberikan oleh Nirmala padanya, karena tempe goreng itu adalah kesukaan dirinya.


" Maafkan Om, tadi ada teman Om yang menghubungi Om, jadi kelamaan bicaranya, setelah itu om membersihkan diri sebentar, Ya udah Tara kan sudah lapar nih, ayo kita makan sekarang, jangan ditunda lagi untuk makan malam, kalau makan malam lewat dari jam 07.00 akan mengakibatkan badan kita menjadi gendut, tuh seperti Bi Imah." ucap Rendra sembari menunjuk kearah Bi Imah yang sedang menyiapkan air minum pada majikannya tersebut sembari tersenyum.


" Hehehe....bener banget Den Tara, Bi Imah memang sering makan malam, jadi lihat badan Bi Imah sangat besar."


" Pantesan aja Bi Imah tidak bisa berenang, karena badannya terlalu besar." ucap Tara membuat Alya tertawa lepas, Begitu juga dengan Tara yang sangat terlihat lucu tertawa lepas itu, yang lain hanya tersenyum sedangkan Bi Imah pun ikut tertawa lepas menuju ke arah dapur.


Kemudian mereka pun makan malamnya dengan lahapnya, karena mereka memang sudah merasa lapar sekali.

__ADS_1


__ADS_2