Kau Lukis Permadani Cinta

Kau Lukis Permadani Cinta
Episode 42


__ADS_3

Episode 42 🌹


Nirmala menganggukkan kepalanya sembari tersenyum malu-malu.


" Aku nya patah hati Mala..." ucap Sasa sembari menyandarkan tubuhnya disofa membuat Nirmala hanya tersenyum.


" Patah hati kenapa?"  tanya Rendra sembari duduk kembali disofa setelah selesai berbicara melalui ponsel pribadinya itu, sontak saja membuat Sasa terkejut dan dia langsung membenarkan posisi duduknya sembari cengengesan seraya mencubit pelan Nirmala karena dia tidak diberitahukan kehadiran pak Bosnya itu padanya.


" Apaan sih Sa....sakit tahu..." ucap Nirmala tertawa pelan.


" Memang kamu putus cinta Sa?" tanya Rendra.


" Ngg..Nggak pak, saya nggak punya pacar kok, jangan kan pacar teman lelaki aja nggak ada kok pak " ucapnya tersenyum.


" Tante Sa itu patah hati dengan om Rendra." celetuk Tara yang lagi asyik bermain dengan Alya.


Sasa langsung reflek menatap ke arah Tara yang tidak menoleh sama sekali ke arah Sasa dan begitu santainya dia berucap.


" Apa? kamu patah hati dengan aku Sa? bagaimana kalau kamu aku lamar menjadi calon istri kedua ku mau?" ucap Rendra sembari terkekeh.


" Nggak mau, nggak mau, nggak mau pak, saya  cuma bercanda aja kok pak, si Tara mah ada-ada aja ..." ucapnya sembari berdiri dan mendekati Tara dan langsung saja memeluk Tara, Tara pun terus tertawa keras Alya pun ikut tertawa sembari berucap.


" Tapi beneran kok Om, tadi tante Sasa bilang kaya gini... ' ' Aku patah hati Mala...' katanya gitu, Setelah tante Mala menceritakan kalau Tante Mala ingin menikah." sambung Alya membuat Sasa terpojok oleh kedua bocah tersebut, dia pun langsung merangkul Alya dengan pelan dan mereka berdua pun ada di dalam pelukan Sasa, mereka berdua tidak bisa berkutik, hanya mengeluarkan tawanya sembari mengucapkan kata Ampun.


Karena melihat kelucuan yang dibuat oleh Sasa dan Tara, beserta Alya pun membuat Rendra dan Nirmala tertawa.


*****


Disebuah hatel mewah yang ada di kota itu, seorang wanita dan kedua orang tuanya sedang berbincang-bincang di ruangan itu.


" Nova sudah tidak sabar lagi Mi, Pi, ingin ketemu dengan Rendra, bagaimana ya sekarang dia, kita kan sudah lama tidak bertemu dengannya."


" Kalau kamu bertemu dengannya kamu pasti pangling." ucap pak Bertran Papinya Nova.


" Kok papi bisa bilang gitu sih? apa papi sudah ketemu dengannya?"


pak Bertran hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.


" Papi dua kali bertemu tapi sayangnya dia tidak mengenali papi,. karena saat ibunya memutuskan akan menjodohkan kamu dan dia waktu itu dia tidak pernah melihat papi dan dia hanya mengenali lewat nama,yang mungkin saja dia lupa siapa papi."


" Iya Nova, Rendra hanya mengenali Mami, sedangkan Papi kamu tidak dia ketahui, tapi papi kamu mengenalinya." sambung bu Mery Maminya Nova.

__ADS_1


" Hem...kenapa ya kok kemaren tidak jadi perjodohannya itu, jika saja terjadi pasti Nova sudah menjadi istrinya Rendra." ucapnya terdengar nada kecewa dibicaranya.


" Namanya juga tidak jodoh, jangan dipaksakan, papi berpesan padamu, jangan sampai kamu terlalu menganggu Rendra karena Rendra sangat berjasa pada keluarga kita ini, dan pesan papi lagi kamu jangan sampai mengingatkan tentang perjodohan yang sudah berlalu." ucap pak Betran.


" Kenapa? kok Nova tidak bisa bicara sekedar mengingatkan perjodohan itu?" ucapnya merasa heran.


" Turuti aja apa yang papi ucapkan, nanti kamu akan tahu sendiri kenapa papi harus bicara seperti itu."


" Hemm... papi nih rada-rada aneh deh, masa iya sih aku disuruh untuk melupakan semuanya ya nggak bisalah..."ucapnya dalam hatinya dengan wajah cemberutnya.


pak Betran pun menatap kearah sang Anak, yang terlihat kecewa dengan ucapannya namun pak Betran hanya tersenyum saja.


" Nova, apa yang papi kamu katakan itu benar adanya, jangan kamu anggap kedatangan kita ketanah air ini membuka lagi masa lalu yang sudah terkubur sekian lama kamu gali lagi, kamu tidak dengar apa kata papi kalau Rendra sangat berjasa pada keluarga kita, walaupun dia tidak tahu kalau papi kamu adalah orang tua laki-laki mu."


" Iya Mi..." ucapnya, walaupun ucapan itu sangat terpaksa di ucapkannya.


" Papi, Mami mau keluar Apakah kamu mau ikut?"


" Nova malas Mam, Nova ingin istirahat aja." ucapnya sembari berdiri dari duduknya kemudian dia menuju ke tempat tidur dan merebahkan tubuhnya tanpa menoleh ke kiri dan ke kanan lagi terlihat dia kesal dengan kedua orang tuanya, Bu Mery dan Pak Betran hanya menghela nafasnya dengan panjang, melihat sikap sang anak tersebut, Nova memang berbeda dengan adiknya yang terlihat sangat mandiri yang masih berada di luar negeri.


Pak Betran hanya menggelengkan kepalanya melihat ulah sang anak tersebut, Mereka pun kemudian meninggalkan kamar hotel itu dan menuju ke arah tempat yang ingin mereka datangi yaitu sebuah kuliner yang ada di kota itu untuk memanjakan perut mereka dengan makanan khas tanah air yang sudah lama mereka tinggalkan.


Di dalam taksi menuju ke arah kuliner Pak Betran berbicara dengan istrinya.


" Aku juga tidak memahami dirinya, Dia sangat berbeda sekali dengan adiknya."


" Adiknya mau memahami apa yang kita bicarakan, tapi tidak dengan Nova aku takut nantinya Nova akan mengganggu Rendra kembali."


" Iya Pi, Aku juga takut kalau Nova nekat mengganggu Rendra."


" Itulah yang aku takutkan, tapi aku tidak akan pernah membiarkan dia mengganggunya."


Mereka berdua pun hanya terdiam menikmati perjalanan menuju ke arah pusat kuliner yang ternama di kota tersebut.


*****


Keesokan paginya tepat jam 07.00 pagi Rendra sudah menunggu mereka untuk sarapan pagi bersama di rumahnya, pagi itu adalah sarapan pertama Rendra bersama dengan calon istrinya dan sahabat serta kedua keponakannya tersebut, karena Alya sudah dianggapnya sebagai keponakannya sendiri.


Nirmala dan Sasa melangkah menuju ke arah meja makan.


" Maaf ya Mas, kami agak terlambat." ucap Nirmala duduk didepan Rendra.

__ADS_1


" Tidak apa-apa lebih baik kita segera sarapan yuk." ajak Rendra sembari tersenyum.


Dianggukkan Sasa dan Nirmala, Mereka pun kemudian menikmati sarapan paginya.


Di sela-sela menyantap sarapan paginya itu, Rendra bersuara.


" Mulai hari ini kita berangkat bareng ke kantornya."


" Hah?! hari ini ?" ucap Sasa sembari membelalakkan matanya.


" Iya Mas, kalau bisa jangan Hari ini, aku masih berangkat sama Sasa aja ya, karena aku kan masih bekerja satu ruangan sama Sasa, aku tidak enak nanti dilihat oleh mereka semua."


" Hem... Baiklah aku kasih waktu 2 hari kalian berangkat pakai motor Sasa."


" Kenapa dua hari Mas.?"


" Kelamaan ya? Ya udah deh setengah hari aja, pulangnya nanti kalian ikut aku."


" Bukan gitu maksudnya Mas, maksud aku, Kenapa mesti dua hari? mengapa nggak selamanya aja."


" Ya Pak Bos,enakan selamanya pak Bos kami berdua bisa kemana-mana, walaupun nantinya Nirmala jadi sekretaris Bos."


Rendra menghentikan aktivitas makannya sejenak, kemudian dia menatap ke arah Sasa dan Nirmala secara bergantian kemudian dia tersenyum.


" Baiklah, kalau mau kalian seperti itu, tapi kamu harus menerimanya sebagai sekretarisku nantinya."


" Yes! terima kasih Pak Bos, Nirmala pasti akan menerimanya, asalkan kami berdua tetap memakai kendaraan kami sendiri."


" Tapi kalau seandainya hujan lebat ataupun kalian merasa kepanasan kalian harus berhenti menggunakan roda dua dan harus ikut bersama aku pulang dan pergi ke kantor."


Nirmala dan Sasha saling bertatapan, Kemudian mereka pun mengangguk.


" Semoga aja hujannya setiap hari." celetuk Alya.


Mereka pun kemudian langsung menatap ke arah Alya, Nirmala dan Sasa menatap kearah Alya, sedangkan Alya yang ditatap hanya tersenyum menggemaskan mengekspresikan sikap seorang anak yang sangat lucu sekali.


" Iya benar apa kata Alya, semoga saja harinya hujan terus, supaya tante Sa dan tante Mala bisa ikut mobil Om Rendra dan tidak kehujanan serta tidak kepanasan ya nggak Alya." sambung Tara.


Alya hanya menganggukkan kepalanya.


" Tuh dengar apa kata mereka,

__ADS_1


mereka berdua saja mendukung tuh kalian ikut aku... hehehe..." ucap Rendra sembari terkekeh, mereka berdua pun hanya tersenyum saja dan melanjutkan kembali sarapan paginya seperti semula.


__ADS_2