
Sekitar jam sepuluh tiga puluh Rendra datang ke Rumah Sakit dan menggantikan Mbak Siti yang sudah menjaga Tara sementara waktu, sebenarnya Mbak Siti tidak ingin meninggalkan Tara dirumah sakit bersama Tuannya, tapi karena itu adalah perintah sang majikan yang mengharuskan dia pulang kembali kerumah dan dijemput dengan sopir pribadi rumahnya itu.
Setelah kepergian Mbak Siti dari ruangan Tara, Rendra keluar dari ruangan Tara dan menatap keruangan Alya berharap Nirmala kembali keluar, Rendra tidak menyadari kalau jam sudah menunjukkan waktu tengah malam, dia hanya duduk didepan ruangan Tara sesekali dia menoleh kearah ruangan Alya.
Rendra menghela nafasnya dan menyandar tubuhnya disandaran kursi tersebut sembari menatap langit yang hitam bertaburan bintang menambah indahnya suasana langit saat malam.
Lama Rendra berada diluar ruangan itu, dan matanya pun mulai mengantuk dia berdiri dari duduknya dan hendak melangkah kedalam ruangan Tara, namun langkahnya terhenti sesaat dia menatap pintu ruangan dimana Alya dirawat, lagi-lagi dia berharap kalau Nirmala keluar dan mengucapkan selamat tidur padanya, diapun tersenyum sendiri sembari mengusap rambutnya dan melangkah masuk kedalam ruangan Tara dan mengambil ancang-ancang untuk belarut kealam mimpinya.
*****
Tepat jam enam pagi Mbak Siti sang pengasuh Tara pun sudah berada didepan ruangan Tara dia tidak langsung masuk kedalam karena dia tidak ingin mengganggu sang Tuan yang masih bersiap-siap untuk berangkat kekantornya.
Sesuai dengan yang dikatakan Rendra tadi malam, Mbak Siti harus datang kembali ke Rumah Sakit untuk kembali menemani Tara, karena Rendra masuk kantor.
Pintu Ruangan Alya terbuka, Nirmala keluar bersama dengan Sasa, karena Sasa mau pulang kerumahnya, dia tidak bisa berlama-lama di Rumah Sakit, sebab dia harus masuk kantor hari ini.
Setelah berpamitan dengan Nirmala Sasa melangkah menuju kearah motornya yang terparkir.
Nirmala tersenyum dengan Mbak Siti.
" Pagi Mbak..." sapa Nirmala
" Pagi Nona..." balas Mbak Siti membalas sapaan Nirmala.
" Mbak lagi nunggu siapa?"
" Oh...Anu ..sa-saya lagi nunggu den, Ah maksudnya lagi nungguin Tara didalam." ucapnya terdengar gugup.
__ADS_1
" Hampir saja aku keceplosan, untung saja aku ingat pesan Tuan Rendra." gumamnya dalam hati.
" Tapi bukankah, ada Mas Reas yang selalu jagain anaknya, memang mas Reasnya kemana Mbak?"
" Pak Reas? Oh iya si Reas yang Mbak maksud itu ada didalam mungkin lagi tidur, saya keluarganya." ucap Mbak Siti terlihat gugup namun dia berusaha menyimpan rasa gugupnya itu, karena dia tidak ingin ketahuan sama Nirmala kalau dia itu adalah pengasuh Tara.
Saat Rendra yang sudah rapi dengan pakaian kantornya itu, dia pun mengurungkan niatnya hendak keluar dari dalam ruangan rawat inap Tara karena dia mendengar suara Nirmala yang sedang berbicara dengan Mbak Siti.
" Aduh! ada Nirmala lagi nih, gimana aku mau keluar,kalau aku keluar pasti dia akan mengetahui kalau aku pekerja kantoran, apalagi pakaian ku sekarang ini terlihat sekali bagaikan seorang Bos, ya emang iya aku Bos hehehe, tapi untuk saat ini aku tidak ingin dia tahu kalau aku adalah Bosnya, lebih baik aku jalan belakang aja mencari amannya." ucapnya sembari pelan membuka pintu belakan ruangan rawat inap Tara, walaupun dia harus berkeliling jalannya menuju kearah parkiran, dimana mobilnya sedang terparkir.
Sesampainya didalam mobil Rendra menghela nafasnya pelan dan langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Mbak Siti yang sedang asyik berbicara dengan Nirmala.
" Ya pak..."
" Saya sekarang sudah berada didalam mobil, dan saya titip Tara jaga dengan baik ya Mbak sementara waktu."
" Lewat mana Tuan Muda nih?" gumamnya dalam hati, dia lupa kalau ruangan Tara itu ada pintu belakangnya.
Mobil Rendra melaju kearah kantornya, dengan kecepatan sedang dia melajukan mobilnya itu sembari tersenyum karena dia merasa lucu dengan dirinya sendiri yang mengumpet-umpet dari Nirmala, dikarenakan dia masih menyembunyikan identitas dirinya tersebut dari Nirmala, dan dia juga tidak ingin Nirmala tahu siapa dirinya itu.
Setelah sampai dikantornya tepat jam tujuh tiga puluh, Dia disambut sang securitynya, mobil pribadinya itu beralih tangan pada pak Ucup sang security yang selalu setiap pagi memarkirkan mobil sang Bos.
Rendra melangkah masuk ditemani Fahmi yang setiap pagi menyambut kedatangannya itu.
Didalam Lift...
" Sudah kamu beritahu semua?"
__ADS_1
" Sudah pak, semua sudah tahu kalau bapak mengadakan rapat penting hari ini." terang Fahmi.
" Bagus!" ucapnya singkat.
Diruangan Iwan, Dia nampak kebingungan karena kehilangan sesuatu, sesuatu itu adalah buku jurnal besar milik ruangannya tersebut dimana isinya adalah semua kepentingan didalam ruangan itu termasuk catatan keluar masuk uang yang dia tangani saat ini, dia pun berpikir sejenak.
" Waktu terakhir itu buku itu aku sudah simpan ditempat yang aman, kenapa buku itu tidak ada? padahal hanya aku yang tahu isi buku itu, tidak mungkin pak Bos mengetahuinya, karena buku itu sangat rahasia sekali, yang penting aku dapat tanda tangan nya semua pasti beres, dia kan tidak sampai menanyai aku yang terlalu menguras otak dan pikiran, karena dia selalu percaya padaku, tapi kemana buku itu ya?" ucapnya sembari melangkah menuju kearah luar ruangannya,untuk memanggil Susanto.
" Hei!! Susanto!" panggilnya dari kamar ruangannya itu, Susanto langsung berdiri dan mendekatinya.
" Ya Pak ada apa?"
" Kamu lihat nggak buku jurnal bulanan kita?"
" Tidak ada pak." ucapnya
" Ya sudah kalau gitu, silahkan kembali bekerja."
" Baik pak...." ucapnya sembari melangkah kembali kekursinya.
" Dimana buku itu, kalau sampai kedapatan sama yang lain bahaya itu, Mana ada rapat mendadak lagi nih! kacau!!" ucapnya sembari merasa kebingungan dengan kehilangan buku kecurangannya itu.
Iwan kemudian melangkah menuju ruangan rapat dimana semua kepala bagian dan dewan direksi hadir semua, karena hari itu adalah hari dimana Iwan mungkin akan terakhir bekerja dikarenakan kebusukan Iwan bersama beberapa orang rekannya yang sudah diketahui sang pemilik perusahaan yang menaunginya selama ini dalam bekerja dan memberikan gajih yang tidak sedikit.
Semua sudah hadir termasuk dirinya, dan didepan tempat duduk sang pimpinan, Iwan melihat bukunya sudah berada diatas meja dan dia terkejut dan terlihat dia mulai panik karena dia takut diketahui semua anggota dewan direksi, dan kepala bagian yang ikut dalam kebusukannya itupun menatap aneh pada Iwan, Iwan pun menatap kearah buku itu, dan beberapa rekannya menatap lekat kearah Iwan yang sudah terlihat tidak tenang itu.
" Kenapa buku itu ada dimeja rapat? dan didepan pak Bos lagi, Aduh!! bisa celaka aku nantinya nih." gumamnya sembari menatap ketiga orang yang sedari tadi menatap dirinya yang penuh tanda tanya besar dikepala mereka.
__ADS_1
Pintu terbuka Rendra memasuki ruangan rapat bersama Fahmi dan satu orang sekretarisnya, dia melangkah menuju kursinya, Iwan yang melihat kedatangan Bosnya itupun mulai tidak nyaman perasaan dirinya, dan mulai keluar keringat dingin dari tubuhnya.