
" Kenapa?kamu terkejut? kamu pasti heran tahu darimana aku, iyakan?! jangan mentang-mentang kamu pernah menolong anak Bos utama di kantor ini, kamu merasa jadi anak emas dan sikapmu sudah mulai ngelunjak!!" ucap Mira sembari menatap ke arah Nirmala.
" Saya tidak mengelunjak Mbak, dan saya juga tidak meminta dengan Bos kantor ini agar saya diangkat menjadi karyawan tetap di sini, sebagai karyawan tidak tetap pun saya merasa sangat bersyukur, karena niat Saya ingin bekerja bukan mencari gara-gara, Saya menolong anak dari Pak Bos karena memang kewajiban kita sesama manusia saling tolong menolong selama kita bisa,dimana masalahnya? dan lagi salah saya sama Mbak Mira apa? saya juga baru ketemu sama Mbak Mira, dan saya juga sebenarnya tidak mau berada di ruangan ini, tapi karena perintah dari Pak Bos yang memindahkan saya ke sini saya sebagai karyawan hanya bisa mengikuti arahan dari pimpinan, kalau Mbak Mira merasa tidak nyaman dengan saya, cuekin aja saya, seakan-akan saya tidak ada di sini." ucap Nirmala sembari menatap ke arah Mira,dan Neni.
" Pintar ya kamu ngomong, baru satu hari aja berada di ruangan ini kamu sudah pintar banget ngomongnya!!" ucap Mira
" Kamu mau tahu kesalahan kamu apa selain kamu ngelunjak dengan diangkatnya kamu sebagai karyawan tetap oleh pak Bos, salah kamu itu sudah mencari perhatian Pak Dareen." sambung Neni
" Mencari perhatian Pak Dareen? Saya hanya sebatas sebagai karyawan dan kepala bagian, karena pak Dareen menyuruh saya mengerjakan pekerjaan ya saya turuti selama pekerjaan itu masih dengan sewajarnya, jadi salahnya di mana Mbak? apa dengan cara saya berbicara dengan Pak Dareen tadi Mbak Mira menganggap kalau saya mencari perhatian khusus dengan Pak Dareen gitu ya Mbak? Mbak Mira salah, saya tidak mencari perhatian dengan pak Dareen, lagipula saya sudah ada hati yang perlu saya jaga, jadi saya tidak tertarik dengan laki-laki lain termasuk pak Dareen.
" Oke! aku akan pegang omongan kamu, kalau sampai terlihatku lagi kamu memberi perhatian lebih ataupun mencari perhatian pada Pak Dareen, aku tidak segan-segan untuk mencelakaimu.camkan itu!!"
Nirmala terkejut dengan ucapan Mira, dia melihat dari tatapan mata Mira kalau ucapan Mira itu benar bersungguh-sungguh, Nirmala hanya menganggukkan kepalanya sembari berucap.
" Maaf Mbak Mira, saya tidak memberikan perhatian lebih pada pak Dareen, saya aja baru ketemu hari ini, bagaimana bisa saya dibilang memberikan perhatian lebih, dan omongan saya bisa Mbak Mira pegang dan Mbak Mira bisa buktikan, karena saya sudah memiliki seorang kekasih dan saya tidak mungkin untuk menduakannya, Walaupun dia tidak melihat bagaimana saya di kantor ini." ucap Nirmala tersenyum.
" Baguslah kalau begitu! tapi ingat jangan sampai kamu berbohong dengan apa yang telah kamu ucapkan itu, bahwa kamu tidak akan bersikap mencari perhatian Pak Dareen, asal kamu tahu kalau pak Dareen itu adalah calon Kekasihku!!" ucapnya sembari mendorong pundak Nirmala karena dorongan itu membuat Nirmala mundur selangkah dari awal dirinya berdiri, Mira dan Neni pun melangkah meninggalkan Nirmala seorang diri di dalam ruangan tersebut, Nirmala menghela nafasnya dengan pelan, Dia kemudian duduk di kursinya kembali,Dia memutuskan untuk tidak keluar dari ruangan kerjanya itu.
" Aku terpaksa berbohong pada Mbak Mira, kalau aku sudah memiliki seorang kekasih,seandainya aku berkata bahwa aku tidak memiliki seorang kekasih, dia pasti akan terus menggangguku, padahal aku tidak tertarik sama sekali dengan Pak Dareen, aku hanya menganggap pak Dareen itu sebagai pimpinan kepala bagian di ruangan ini, kalau dia yang bersikap mencari perhatianku itu adalah urusannya, aku hanya sekedar menyelesaikan pekerjaanku selebihnya tidak ada." ucapnya.
Lagi-lagi dia menghela nafasnya dengan pelan, Dia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi yang sedang dia duduki sekarang, terbesit di pelupuk matanya bayang-bayang Reas lelaki yang pernah kenal dengannya di saat dia berada di rumah sakit, yang tak lain adalah sang Bos.
__ADS_1
" Mas Reas di mana kamu saat ini?ingin rasanya aku bertemu denganmu, Tapi sayangnya aku tidak tahu di mana sekarang kamu berada." gumamnya dia pun kemudian dikejutkan oleh suara Sasa yang berada di depan pintu ruangannya tersebut.
" Nirmala...!" panggil Sasa, Nirmala menoleh ke arah pintu, dia tersenyum melihat sahabatnya sudah berada di depan pintu itu, Nirmala berdiri dan melangkah mendekati Sasa.
" Kok kamu ke sini?"
" Aku lama menunggumu di ruanganku, tapi kamu tak kunjung datang, makanya aku samperin ke sini, ya udah ayo kita ke kantin, aku udah lapar banget nih." Ajak Sasa.
Nirmala pun menganggukkan kepalanya, Awalnya dia memang tidak ingin keluar dari ruangan tersebut, Tapi karena Sasa menjemputnya untuk menuju ke arah kantin, akhirnya dia mengikuti langkah Sasa, walaupun sebenarnya dia tidak ingin makan, sama sekali, karena dia teringat akan perkataan Mira padanya.
Sasa melihat sang sahabat terlihat murung saat berada di kantin dan mereka saling duduk berhadapan.
" Ada apa Nir? Kenapa wajah kamu terlihat murung seperti itu? memangnya kamu tidak senang berada di ruangan kamu yang baru?"
" Pasti ada yang menjahatin kamu ya?"
Lagi-lagi Nirmala menggelengkan kepalanya, dia tidak ingin mengatakan yang sebenarnya pada Sasa, karena itu tidak penting untuk diceritakan pada orang lain.
" Aku tidak apa-apa, aku malah senang berada di ruangan itu, Rekan kerjaku yang baru sangat baik denganku, mereka membimbing dan memberitahuku cara kerja di ruangan itu, walaupun aku bagian penterjemah juga, Eh... bagaimana dengan dua senior kita yang pindah ke ruanganmu?"
" Mereka baik banget, dan tidak segan-segan mereka memberikan arahan untuk kami dan lagi mereka ganteng bangettt.." ucap Sasa sembari mengekspresikan wajah senangnya itu
__ADS_1
Nirmala hanya tersenyum kemudian dia pun terdiam lagi sembari melamun membuat Sasa semakin heran.
" Udahlah Nirmala, kamu ceritakan aja sama aku sebenarnya, pasti ada yang menjahati kamu di ruangan itu ya kan? aku sudah bisa menebaknya kok."
Nirmala lagi-lagi tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
" Sasa,,, tidak ada kaitannya dengan mereka, sudah aku bilang mereka baik banget kok denganku."
" Terus ada apa denganmu? Kenapa kamu melamun? aku merasa heran saja, Nirmala yang aku kenal tidak seperti biasanya yang selalu ceria, riang dan gembira walaupun segudang masalah atau pun kesedihan melandanya, tapi kenapa hari ini Kamu terlihat sedih dan sendu seperti itu."
" Aku hanya teringat dengan mas Reas, Aku tidak pernah lagi melihatnya dan tidak tahu keadaan kabarnya seperti apa sekarang ini."
Sasa menghela nafasnya dengan pelan Dia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi yang dia duduki saat ini sembari mengunyah suapan terakhir dari makan siangnya itu.
Nirmala kemudian melepaskan pandangannya jauh keluar kantin kantornya itu, dia terkejut melihat seseorang yang melintas di depan kantin kantor tersebut menuju arah masuk ke dalam Lobby kantor Satya Group.
" Mas Reas?!" ucapnya membuat Sasa langsung menoleh ke arah Nirmala, dan beralih menatap keluar kantin dengan rasa herannya.
" Mas Reas? di mana.?" ucap Sasa mencari-cari lelaki yang disebut Nirmala dengan nama Reas itu.
" Sa... Sasa, aku melihatnya,Mas Reas ada disini! aku melihat Mas Reas Sa....Dia masuk ke arah lobby." ucap Nirmala sembari keluar dari kantin dan bergegas menuju ke arah lobby, dia melihat Mas Reasnya tersebut memasuki lift.
__ADS_1
Dia setengah berlari mengejar Reas yang dimaksud, namun pintu lift itu sudah tertutup, Sasa yang berada di belakangnya sembari terengah-engah mengejar Nirmala.
" Kamu ini apa-apaan sih Nir? lari tidak menghiraukan aku, lagian aku juga belum bayar nih di kantin, ya udah kita kembali lagi ke kantin, temanin aku untuk bayar makananku tadi." ucap Sasa sembari menarik pelan tangan Nirmala mengajaknya melangkah kembali ke kantin.