
Tepat jam pulang kantor Nirmala emang benar-benar dijemput Mira, Dia kemudian pun mengajak Sasa untuk menuju ke arah keluarga Mira untuk melihat keadaan rasa sakit yang dirasakan oleh Nirmala.
Beberapa saat kemudian mereka pun sampai di rumah kediaman keluarga Mira, Mira kemudian berbicara pada salah satu keluarganya tersebut, Keinginan mereka datang ke rumah mereka itu, setelah mendengar cerita Mira, seorang wanita paruh baya itu pun tersenyum, dia menganggukkan kepalanya dan kemudian memeriksa keadaan Nirmala ternyata Nirmala mengalami gangguan di pinggangnya tersebut dia kemudian pun dipijat secara tradisional oleh keluarga Mira.
Setelah selesai mereka langsung meninggalkan rumah tersebut dan kembali ke rumah mereka masing-masing dan Nirmala pun diminta untuk istirahat.
Tepat jam lima sore sebuah mobil berhenti di depan rumah Nirmala, Nirmala langsung melihat dari dalam jendela, seorang perempuan keluar dari mobil tersebut sambil memegang Alya dan seorang anak laki-laki dan membawanya ke depan rumah Nirmala, Nirmala pun langsung membuka pintu dia berterima kasih dengan wanita tersebut yang tidak lain adalah Mbak Siti pengasuh Tara.
" Sampai jumpa lagi ya Tara..." ucap Alya
" Iya, Alya besok lagi ya kita main di rumahku sama-sama." ucap Tara tersenyum.
" Iya..." ucapnya, mereka pun kemudian saling melambaikan tangan sembari tersenyum, setelah mengucapkan rasa terima kasihnya pada Mbak Siti Nirmala pun tersenyum dan Mbak Siti pun berpamitan pada Nirmala, beberapa saat kemudian mobil Tara pun meninggalkan depan rumah Nirmala.
*****
Keesokan paginya seperti biasa Nirmala setelah mengantar Alya berangkat ke sekolah dia langsung berangkat ke kantornya, saat dia masuk ke ruangan penterjemah dia terkejut melihat Sasa sudah berada di ruangan itu, tampak bahagia sekali Nirmala, karena dia sekarang bisa satu ruangan kembali dengan Sasa.
Mereka kemudian mengerjakan tugas yang sudah diberikan oleh Dareen padanya.
Beberapa saat kemudian Mbak Paula datang ke ruangan mereka, membawa seorang wanita karyawan baru untuk menggantikan Neni yang sudah dipecat oleh Pak Rendra, dia adalah keluarga dari Mbak Paula.
" Maaf Pak Dareen, ini adalah karyawan baru, pengganti Neni karena posisi Mira sudah ditempati oleh Sasa jadi mejanya Neni sekarang ditempati oleh Yuyun, dia adalah karyawan baru masih saudaraan dengan saya." ucap Mbak Paula sembari tersenyum pada Pak Dareen, kemudian menyuruh Yuyun untuk duduk menempati meja Neni yang kosong.
Kemudian mata Mbak Paula menatap ke arah Nirmala, dia tersenyum dan mendekati Nirmala.
__ADS_1
" Nirmala, kamu sudah selesai menerjemahkan dokumen yang sudah saya berikan padamu melalui email kamu.?"
" Oh iya Mbak, sudah selesai baru aja saya kirim ke emailnya Mbak, Saya tidak melalui Pak Dareen, karena atas instruksi dari Mbak, agar segera mengirimkannya ke email Mbak Paula."
" Terima kasih ya, kamu cepat sekali menterjemahkannya, kerja yang bagus, nanti saya akan periksanya kalau ada kesalahan nanti akan segera saya kirimkan kembali ke kamu, karena itu akan dibawa meeting untuk pertemuan dengan Client Pak Bos, setelah makan siang nanti."
Nirmala menganggukkan kepalanya kemudian Mbak Paula berpamitan dengan Dareen dan melangkah meninggalkan ruangan tersebut, kemudian Nirmala melanjutkan lagi pekerjaan yang sudah diberikan oleh Dareen yang tertunda karean harus mengerjakan tugas di luar pekerjaannya menterjemahkan yang sudah diberikan oleh Mbak Paula padanya.
Yuyun pun kemudian memperkenalkan dirinya kepada rekan kerjanya yang baru di ruangan tersebut, Mereka pun kemudian melaksanakan pekerjaannya tanpa ada berbicara satu sama lain agar mereka fokus dengan pekerjaan yang sudah diberikan oleh kepala bagian tersebut.
Tepat jam makan siang seperti biasa Nirmala menuju ke arah kantin Mbak Ipeh, dia bersama Sasa pun melahap makan siangnya dia sekarang tidak kepikiran lagi masalah Alya karena Alya setiap pulang sekolah selalu diajak Tara bermain di rumahnya, Alya belum pernah berbicara dengan Tantenya, kalau di rumah itu dia pernah melihat sebuah foto berukuran besar mirip dengan tamu sang tante kala itu, selama Alya bermain dengan Tara Rendra tidak pernah menampakan dirinya di hadapan Alya, karena dia takut Alya mengenalinya sebelum dia berkata jujur dengan Nirmala.
Setelah makan siang, Mereka pun kemudian kembali ke dalam ruangannya untuk melaksanakan pekerjaan mereka yang tertunda karena istirahat siang.
Beberapa saat mereka berada di dalam ruangan tersebut Fahmi masuk ke ruangan terjemah tersebut.
" Saya membutuhkan penterjemah di ruangan rapat sekarang, karena Mbak Paula mendadak gak enak badan, dia tidak bisa ikut dalam rapat tersebut ada yang bisa membantu saya karena ini sangat penting untuk kantor kita dan peluncuran produk yang sedang kita produksi dan akan kita luncurkan ke pasaran." terang Fahmi.
" Ruangan lantai dua mengarahkan saya ke lantai tiga ini." sambung Fahmi lagi.
" Nirmala ikutlah kamu dengan Pak Fahmi, kamu ikut rapat sekarang, karena hanya kamu yang bisa paham dengan cepat." ucap Dareen membuat Nirmala terkejut beberapa bulan dia bekerja di kantor Satya group dia belum pernah ikut dalam rapat yang diadakan oleh orang besar itu, rasa gugup pun sudah menyerangnya dia terdiam sesaat.
" Ayo cepat Mbak Nirmala, ikut saya, karena sebentar lagi Client sudah datang di kantor ini ucap Fahmi.
" Ayo cepat Nirmala, mereka sudah menunggu, semangat Nirmala." sambung Sasa dianggukan oleh Yuyun dan Baim.
__ADS_1
Nirmala hanya menganggukkan kepalanya, kemudian mengambil beberapa buku yang diperlukannya, dia pun kemudian melangkah meninggalkan ruangannya mengikuti langkah Fahmi menuju ke arah ruangan rapat.
" Kamu masuklah terlebih dulu, di dalam itu ada beberapa orang bagian kantor kita, saya akan ke ruangan Pak Bos terlebih dahulu." ucap Fahmi meninggalkan Nirmala berada di depan ruangan rapat.
Nirmala menghela nafas panjangnya, Dia pun kemudian membuka pintu ruangan rapat tersebut, mereka semua yang ada di dalam menoleh ke arahnya, Mereka pun tersenyum, mereka tahu kalau Nirmala masuk ke ruangan itu adalah orang yang tepat, mereka semua tahu kalau Nirmala memiliki keahlian dalam menerjemahkan beberapa bahasa dan pekerjaan Nirmala pun tidak mengalami banyak kesalahan, tapi berjalan dengan banyaknya pujian, Nirmala tersenyum dia pun kemudian melangkah menuju ke arah tempat duduk yang sudah diarahkan oleh mereka tersebut, Nirmala kemudian duduk dan meletakkan buku yang di bawahnya itu diatas meja, dia terdiam, dia kemudian berdamai dengan perasaan gugupnya.
" Tenang Nirmala, kamu harus bekerja secara profesional, kamu tidak boleh gugup karena ini hari pertama kamu ikut dalam rapat bersama orang-orang besar yang ada di kantor ini, dan hari ini juga hari pertama kamu bertemu dengan Bos, kamu harus bisa Nirmala, kamu harus menguasai rasa gugupmu ini." ucapnya di dalam hatinya menguatkan dirinya agar kegugupan itu Cepat segera hilang dari dirinya.
Fahmi pun mengetuk pintu ruangan Rendra, Rendra menyuruh Fahmi masuk, Fahmi membuka pelan dan melangkah mendekati Rendra yang sedang sibuk dengan beberapa dokumen yang ada di atas mejanya itu.
" Sudah siap semua Fahmi.?"
" Sudah Pak, tapi ada satu kendalanya pak." ucapnya sembari menatap ke arah Rendra.
Rendra menghentikan pekerjaannya, Dia kemudian melepas kacamatanya dan menatap ke arah Fahmi.
" Kendala? maksud kamu? biasanya kan kita mengadakan rapat dengan orang penting seperti itu tidak pernah mengalami kendala, kendala dalam soal apa ini?" tanya Rendra sembari menatap ke arah Fahmi dengan tatapan herannya.
" Karena penterjemahnya bukan Mbak Paula Pak, mendadak Mbak Paula kurang enak badan."
" Terus siapa? Jangan bilang Nirmala ya.?
" Sayangnya iya Pak, terpaksa Nirmala, karena Nirmala terkenal di dalam kantor ini adalah penterjemah terbaik nomor dua setelah Mbak Paula."
Rendra hanya menghela nafasnya dengan panjang, dia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, dia terdiam sejenak.
__ADS_1
" Inilah yang aku takutkan, ternyata Tuhan sudah murka denganku dan mempertemukan aku di kantor ini dengan Nirmala, tapi tidak apa-apa, mungkin saatnya aku akan bertemu dengannya." gumamnya dalam hati seiring dengan helaan nafas yang panjang.
" Ya sudah tidak apa-apa, mungkin ini sudah takdirnya aku bertemu langsung, bertatap muka dengan Nirmala, aku yakin Nirmala pasti akan marah padaku, karena selama ini aku sudah membohonginya dengan identitasku, aku akan mengakui kesalahanku itu padanya, aku akan bicara dengannya empat mata setelah rapat selesai." ucapnya sembari berdiri dan mengancingkan jas yang dipakainya itu sembari melangkah menuju ke arah luar ruangannya, diikuti Fahmi menuju ke arah ruang rapat tersebut.