Kau Lukis Permadani Cinta

Kau Lukis Permadani Cinta
Episode 52


__ADS_3

Eposode 52 🌹


" Sasa setujuilah dan katakanlah setuju, ingatlah selama ini persahabatan kita, selama bertahun-tahun tidak ada pernah tercela sedikitpun, candaan yang pernah diucapkan oleh Silva itu hanyalah sebagai candaan biasa, aku mohon padamu, katakanlah pada Pak Adrian, kalau kamu setuju untuk pak Adrian menandatangani kerjasama yang telah aku ajukan pada perusahaan Pak Adrian,nasib perusahaanku ada di tangan mu Sa, kemajuan perusahaanku ada di tanganmu juga Sasa, aku mohon kepadamu agar kamu bisa membujuk pak Adrian untuk menandatanganinya."


Silva melihat suaminya seperti mengemis kepada Sasa, Silva kemudian berdiri sembari menggebrak meja.


" Rudini!! apa-apaan kamu Hah! kenapa kamu mengemis seperti itu, masih banyak perusahaan yang lain bisa memberikan suntikan dana di perusahaan Kamu, kenapa mesti kamu memintanya kepada Adrian, di sini juga banyak perusahaan terbesar seperti Setya group yang dipimpin orang yang tidak pelit seperti Adrian."


" Setya Group?, kamu tidak salah berbicara seperti itu Kamu belum mengenal pemilik perusahaan Setya group itu seperti apa, apalagi di sini kamu sudah menghina anak buahnya, memang anak buahnya yang mungkin kamu anggap tidak penting, tapi bagi pemimpin Setya Group anak buahnya adalah prioritas utamanya, jangankan cuma anak buahnya yang berhubungan dengan pimpinan Setya group,apa saja yang menyangkut ruang lingkup Setya Group kalau sampai dibuat malu dan dicemoohkan seperti ini pimpinan Setya grup itu tidak akan pernah memberi kalian sepeser dana untuk orang-orang yang terlalu sombong seperti kalian.!!" ucap Adrian.


" Diamlah kamu Silva! kamu tidak tahu urusan tentang perusahaan yang aku kelola, Kamu hanyalah bisa membuang-buang uang saja."


Silva hanya mendengus dengan kesal, dia kemudian menundukkan kepalanya dan memainkan jari-jarinya karena menahan amarahnya dengan Rudini, karena Rudini sudah mempermalukannya di hadapan semua orang yang ada di ruangan itu, ulang tahun pernikahannya ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, di mana tahun-tahun itu dia mendapatkan kebahagiaan yang luar biasa, tapi di saat tahun ini suasana ulang tahun pernikahannya ini adalah kado yang sangat menyakitkan baginya, di mana suami yang sangat dicintainya itu sudah mulai membentaknya di hadapan para sahabat dan temannya sendiri hanya karena seorang Adrian yang ada di hadapannya itu.


" Adrian, perusahaan itu adalah perusahaan milik kamu, bukan milik aku, itu hak kamu mau menyetujui atau tidak,aku tidak ada andil di dalamnya."


Adrian tersenyum dengan manis kemudian dia berucap.


" Wah, benar sekali itu, apa yang dikatakan kamu sayang." Sasa terkejut Adrian memanggilnya dengan sebutan sayang kembali, tapi sekarang pikiran Sasa sudah banyak berkecamuk, dia merasa bingung dan semua rasa ada bersemayam di kepalanya.


" Aku yang membuka perusahaan itu, tapi bukan untuk membuka Amal, karena rasanya tidak pantas aku untuk memberikan kepada mereka yang sudah berlaku sangat sombong dengan keadaan dia sekarang ini, lagi pula perusahaan kamu memberi berapa banyak keuntungan untuk perusahaanku, kalau keuntungannya dibawah dari aku memberikan suntikan dana kepadamu, lebih baik Jangan mimpi untuk bisa menjalin kerjasama denganku, karena kerjasam yang telah kamu kirimkan proposal itu aku batalkan!! dan tidak akan pernah aku setujui!! ingat itu!! sebelum kamu merubah sikap kamu, bukan hanya pada Sasa saja, tapi pada orang-orang yang ada diluar sana itu, Kamu terlalu sombong dengan keadaan kamu sekarang ini, karena sekali saja kamu mendapatkan sentilan dari yang maha kuasa, perusahaan kamu itu akan berubah menjadi perusahaan yang tidak ada gunanya, ingatlah itu!!" ucapnya sembari meraih tangan Sasa dan mengajaknya pergi meninggalkan gedung tersebut, meninggalkan acara ulang tahun pernikahan Rudini dan Silva.


Rudini menghela nafasnya dengan berat, dia pun menghentakkan tubuhnya kembali di kursinya itu, karena dia merasa kesal dengan Adrian yang tidak menyetujui kerjasama yang sudah diajukan di perusahaan Adrian.


Sasa kemudian melepaskan tangan Adrian, Adrian merasa heran dia memandangi Sasa.


" Kenapa kamu bilang seperti itu pada mereka, Kenapa kamu juga mengatakan bahwa aku adalah calon istri kamu, aku baru mengenal kamu, dan maafkan aku, karena aku salah orang, sebenarnya bukan Adrian kamu yang ingin aku bawa keulang tahun pernikahan Silva dan Rudini tapi Adrian temannya Chelsea, tapi karena Adrian yang asli tidak bisa datang menemui aku, maafkan aku, karena sudah membawa kamu ke tempat ini."


" Sudahlah! tidak apa-apa, mungkin sudah ditakdirkan kita untuk bertemu, Sekarang kamu mau ke mana.?"


" Aku tidak mau ke mana-mana."

__ADS_1


" Bisakah kamu menemani aku ke tempat orang tuaku.?"


" Ke tempat orang tuamu?"


" Iya, karena aku sudah lama tidak bertemu dengan kedua orang tuaku."


" Baiklah, aku akan menemani kamu, karena kamu sudah menemani aku ke tempat ini."


Adrian tersenyum Mereka pun kemudian meninggalkan gedung tersebut menuju ke tempat tinggal orang tuanya.


*****


Rendra dan Nirmala sudah sampai di depan sebuah rumah yang besar  mobil Rendra berhenti di halaman rumah tersebut.


" Apa ini Mas rumahnya?"


" Iya inilah rumahnya."


" Nggak sayang, inilah rumah paman kamu itu.Ayo kita segera turun."


Dianggukkan Nirmala, saat mereka berdua hendak turun dari mobil terdengar ponsel Rendra berdering dia pun langsung menjawab panggilan tersebut.


" Kamu dimana?"


" Aku sudah sampai ditempat keluarga calon istriku, kenapa?"


" Aku tidak jadi bertemu denganmu karena ada hal yang harus aku kerjakan sekarang."


" Baiklah...kapan-kapan saja kita bertemu.


" Oke! " ucap suara diseberang sana dan mereka berdua juga saling memutus sambungan bicaranya.

__ADS_1


" Ayo kita temui keluargamu segera."


" Iya Mas..."


Kemudian mereka turun dari mobil dan melangkah menuju kearah pintu utama rumah tersebut.


Ternyata mereka sudah disambut yang punya rumah, dia menatap kearah sang tamu yang terasa tidak asing dimatanya.


" Selamat siang pak..."


" Iya selamat siang, ada apa ya pak?"


" Kami ingin bertemu dengan pemilik rumah ini."


" Saya pemilik rumah ini, kalian siapa ya?"


Rendra tersenyum dan diapun langsung menyalami tuan rumah tersebut dan mempersilahkan mereka masuk, dan dia juga tidak lepas dari menatap mata sang gadis cantik bersama dengan Rendra itu.


Nirmala terkesima dengan rumah sang paman dari luar terlihat biasa saja setelah memasuki kedalam rumahnya itu diapun merasa kagum karena selama pamannya merantau kekota akhirnya dia berhasil dengan sukses terbukti dengan barang-barang yang ada didalam rumahya tersebut terlihat mahal harganya.


" Ayah, bunda sekarang Mala bertemu dengan saudara kandung Ayah, ternyata paman sudah sukses Yah dikota." gumamnya sembari tersenyum.


Nirmala menghela nafasnya dan terlihat dia menatap kearah Rendra.


Pak Jefry menatap kedua tamunya, tapi dia merasa heran dengan dirinya bila menatap kearah Nirmala, seolah ada ikatan batin yang kuat pada Nirmala, dia pun bergumam dalam hatinya.


" Kenapa aku merasa tidak asing dengan gadis itu? siapa dia ya?"


" Oh ada tamu ya Yah? kok tidak disuguhi minum sih? inikah tamu yang akan bertemu dengan kita Yah? seperti yang dikatakan dua orang kemaren?" tanya  Bu Warna pada sang suami, terlihat sangat ramah sekali bu Warna menyapa para tamunya itu, dan dia pun menyuruh Asisten rumah tangganya untuk menyiapkan minum dan beberapa cemilan buat sang tamu.


" Iya Bun, sepertinya iya, benarkan Pak? bapak yang akan bertemu dengan kami?" tanya Pak Jefry seraya menatap kearah Rendra, dan Rendra hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, begitu juga dengan Nirmala yang sedari tadi dia hanya tersenyum saja.

__ADS_1


__ADS_2