
Tepat jam makan siang Sasa menarik pelan tangan Nirmala.
" Ada apa Sa?"
" Kita harus cepat keluar dari ruangan ini dan kita harus memesan tempat duduk di kantinnya Mbak Ipeh."
" Memangnya kenapa?Kantin Mbak Ipeh kan nggak akan pergi."
" Iya memang nggak akan pergi, tapi aku ingin mendengar cerita kamu, aku masih penasaran loh sampai aku nggak konsen kerjanya."
" Idih... apa-apaan sih ?" ucap Nirmala sembari tersenyum.
Mereka pun kemudian melangkah menuju lif, namun sebelum lift terbuka Nirmala melihat lift khusus pimpinan itu terbuka dia melihat Rendra dan Fahmi keluar dari lift tersebut, Rendra menoleh ke arah Nirmala dia tersenyum dengan Nirmala, Sasa pun langsung menoleh kearah dua lelaki tersebut, kemudian dia pun menoleh kembali ke arah Nirmala, Sasa kemudian menatap kembali ke arah Rendra dia pun menyadari sembari bergumam.
" Apakah itu Pak Bos? waduh ganteng banget, Aduh..Duh... jadi klepek-klepek nih hati Aku tuh..." ucap Sasa pelan membuat Nirmala tersenyum mendengar ucapan Sasa.
Rendra dan Fahmi kemudian melangkah meninggalkan lift khusus pimpinan itu menuju ke sebuah ruangan, Nirmala dan Sasha kemudian masuk ke lift khusus karyawan, mereka berdua menuju ke lantai bawah karena mereka ingin menikmati makan siang mereka di tempat kantinnya Mbak Ipeh, di dalam lift Sasa menatap kembali ke arah Nirmal.
" Jangan bilang kalau tadi adalah Pak Bos!"
Nirmala hanya tersenyum...
" Benar dong! kalau itu Pak Bos, ya ampun....ganteng banget pak Bos... seumuran baru ini aku melihat Pak Bos kita... eh! tunggu dulu... apakah itu Mas Reas kamu?" lagi-lagi Nirmala mengangguk.
" Ya Tuhan.... kamu seperti ketimpa durian runtuh Mala... kamu mendapatkan laki-laki yang ganteng bangetttt..." ucapnya sembari dengan ekspresi gemesnya.
" Apa-apaan sih Sa kamu, kamu lupa ya di dalam sini ada kamera menyala, ntar ketahuan baru tahu rasa kamu." ucap Nirmala sembari tertawa, Sasa pun menyadari apa yang dikatakan oleh Nirmala, dia pun kemudian membenarkan posisi berdirinya sembari terkekeh pelan.
Mereka kemudian menuju ke kantin Mbak Ipeh dan mereka pun memesan makanan disaat kantin itu masih terlihat sepi pengunjungnya, mereka berdua memilih tempat di pojokan sambil mengunyah makanannya Sasa pun menagih janji Nirmala yang ingin menceritakan yang sesungguhnya.
" Sekarang ceritakan Mala, apa tadi pagi kamu ikut dengan Pak Bos.?"
" Kamu bertanya Jangan keras-keras, nanti kedengaran."
" Oh maaf... maaf... maaf..., kamu sih nggak jawab-jawab pertanyaanku, Aku kan jadi penasaran, kamu tahu kan sifat ingin tahu ku itu sangat besar sekali."
Nirmala hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
" Jadi benar kamu ikut dengan Pak Rendra?"
Lagi-lagi Nirmala menganggukkan kepalanya.
" Ya Tuhan mimpi apa aku, ternyata sahabatku ini sudah memiliki seorang kekasih yang tampan sekali, aku jadi tidak kuatttt." ucapnya sembari ekspresinya dengan gemas untuk yang kedua kalinya.
" Udah ah... nanti dilihat orang lagi, aku tidak ingin mereka berpikiran tentang kita berdua yang aneh-aneh." ucap Nirmala sembari tertawa pelan, Sasa pun kemudian tertawa menyambut tawanya Nirmala tersebut.
" Kenapa kalian diam-diaman aja?"
" Ini adalah permintaanku, agar di saat kami berada di kantor hanya sebatas atasan dan pimpinan."
" Kenapa bisa seperti itu?"
" Karena aku tidak ingin dia di ultimatum oleh yang lain, memiliki hubungan khusus denganku."
" Apa masalahnya? itu kan urusan cinta kalian berdua, tidak mengganggu mereka juga, kenapa mereka yang Repot!"
__ADS_1
" Memang tidak mengganggu mereka, tapi orang-orang yang lain mengganggu kami berdua nantinya hehehe." ucap Nirmala terkekeh.
" Aku mohon denganmu, jangan sampai orang lain mengetahui hubungan kami ini."
" Siap Bu Bos!" ucap Sasa sembari tertawa dengan mengekspresikan mulutnya yang dikunci seperti di resleting itu, Nirmala lagi-lagi tertawa.
Setelah mereka menikmati makan siangnya itu pun selesai, mereka berdua kemudian kembali ke tempat kerjanya.
Di rumah Rendra...
Tara dan Alya yang asik bermain itupun sangat bahagia sekali, mereka berdua bagaikan saudara yang tidak bisa terpisahkan, di mana ada Tara di situ ada Alya, begitu juga sebaliknya di mana ada Alya di situ juga ada Tara, baik di sekolah ataupun di rumah.
" Alya kapan kamu dan tantemu pondah ke rumah ini untuk tinggal selama-lamanya disini."
" Aku tidak tahu Tara, karena tante tidak bilang sama aku."
" Hem... gimana caranya agar tante kamu menyetujui kalian berdua pindah ke rumah ini."
" Hem .. aku juga tidak tahu bagaimana caranya, Apakah kamu ada caranya?"
Dejenak Tara berpikir mereka berdua pun hening sejenak.
" Bagaimana kalau kita tanya dengan Mbak Siti, siapa tahu Mbak Siti bisa memberikan jalan keluar untuk kita, agar tante kamu mau tinggal di rumah ini."
" Oke!" ucap Alya, kemudian mereka berdua pun berlari menemui Mbak Siti yang berada di dapur.
Di kantornya Rendra, setelah menyantap makan siangnya bersama dengan Fahmi, sehabis rapat penting tersebut yang langsung dilanjutkan makan bersama dengan para anggota rapat di kantornya itu, Rendra yang berada di ruangannya setelah menyelesaikan semuanya tersebut dia pun langsung mengambil ponselnya menghubungi Fahmi yang berada di lantai 2.
" Ya Pak Rendra."
" Baik Pak." ucapnya kemudian pembicaraan itu pun terputus, Rendra kemudian meletakkan kembali ponselnya di atas meja kerjanya itu, beberapa saat dia menunggu kedatangan Fahmi Rendra kembali memeriksa beberapa dokumen yang masih ada di atas mejanya tersebut.
Terdengar ketukan di pintu ruangannya.
" Masuk !" ucap Rendra dari dalam.
Pintu terbuka, Fahmi melangkah mendekati Pak Bosnya itu.
" Ada apa Pak.?"
" Ada yang ingin aku bicarakan denganmu." ucapan Rendra sembari berdiri dan melangkah menuju ke arah sofa, Fahmi pun kemudian mengikuti langkah Pak Bosnya itu, dia langsung duduk di depan Pak bosnya tersebut.
" Ada apa pak, yang hendak di bicarakan pada saya."
" Aku minta tolong padamu untuk mencari seseorang yang ada di desa Sukamaju."
" Desa Sukamaju?"
" Iya pak, tapi siapa pak yang perlu saya cari di sana.?"
" Aku ingin tahu seluk beluk keluarganya Nirmala."
Fahmi terkejut, saat Pak Bosnya menyebutkan keluarga Nirmala.
" Kenapa dengan Nirmala pak, Ada apa dengan keluarganya? Apakah keluarganya membuat masalah dengan bapak?"
__ADS_1
" Tidak... tidak... keluarganya tidak bermasalah dengan Ku, tapi Aku ingin mengetahui salah satu keluarga dari Nirmala yang masih ada, baik itu keluarga dari ayahnya ataupun dari ibunya, bisakah kamu membantu Ku?"
" Siap Pak! saya akan mencari tahu tentang anggota keluarga dari Nirmala."
" Baiklah Aku ingin kabar secepatnya."
" Siap pak!" ucapnya.
Rendra menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
" Terima kasih...'
" Sama-sama Pak, ada lagi Pak?"
" Tidak ada, hanya itu saja, tapi Aku minta padamu, jangan sampai orang lain tahu kalau Aku menyuruh kamu untuk mencari tahu tentang keluarga Nirmala."
" Iya Pak, saya akan menyembunyikan perihal ini dari siapapun, Baiklah Pak saya permisi dulu."
" Silahkan." ucap Rendra sembari menatap kepergian Fahmi, namun sebelum Fahmi keluar dari ruangannya itu Fahmi kembali dipanggil Rendra kembaki.
" Fahmi, tunggu sebentar."
Fahmi kemudian menoleh ke arah sang Bos, Dia kemudian melangkah kembali mendekati Bosnya itu.
" Tolong kamu panggilkan Nirmala ke ruanganku sekarang karena aku mau minta bantuan dia untuk menterjemahkan satu dokumen yang baru dikirimkan dari luar ke email ku "
" Iya Pak."
Kemudian Fahmi pun kembali melangkah meninggalkan Pak Bosnya tersebut, dia tidak merasa heran sama sekali dengan perintah Pak Bosnya itu, karena dia tahu kalau Pak Bosnya itu sudah mengenal Nirmala dan Nirmala pun sudah mengetahui kalau Pak Bosnya itu adalah orang yang sudah kenal dekat dengan Nirmala.
Rendra tersenyum, Dia kemudian menanti sang kekasih datang ke ruangannya itu.
Fahmi yang keluar dari ruangan tersebut kemudian memasuki lift menuju ke arah lantai 3 di mana Nirmala berada, sesampainya di ruangan Nirmala Fahmi pun mengetuk pintu ruangan tersebut.
Dareen pun menoleh ke arah pintu, Dia kemudian berdiri dan menganggukkan kepalanya pada orang nomor dua itu yang ada di kantorny tersebut.
" Iya Pak Fahmi, ada keperluan apa?"
" Saya perlu sama Nirmala."
Nirmala kemudian menoleh ke arah Fahmi karena namanya disebut.
Begitu juga dengan Sasa dan yang lainnya menatap ke arah Nirmala.
" Iya Pak, ada apa?" tanya Nirmala.
" Kamu dipanggil Bos ke ruangannya."
" Saya?"
" Iya, karena Bos memerlukan kamu untuk menerjemahkan di ruangan Pak Bos."
Sasa tersenyum, Nirmala menatap ke arah Sasa.
" Baik Pak." ucapnya sembari berdiri dan mengikuti langkah Fahmi menuju ke arah ruangan Rendra, di iringi dengan tatapan mata Sasa yang tersenyum itu.
__ADS_1