
Tepat jam 04.00 sore pekerjaan mereka pun sudah selesai, mereka yang ada di dalam ruangan itu pun keluar untuk pulang kerumah mereka masing-masing dengan langkah tergesa Nirmala melangkah keluar hendak menuju ke arah kantin, saat dia memasuki lift untuk turun ke lantai Lobby dan ingin segera menemui Alya sang keponakan yang sudah lama menunggu di tempat Mbak Ipeh, saat pintu lift mau tertutup, Neni dan Mira pun membuka kembali pintu itu dan langsung masuk ke dalam, Nirmala merasa ada yang tidak beres dengan sikap mereka berdua, pikiran diapun sudah kemana-mana, Tapi dia berusaha untuk tenang, saat lift turun menuju ke lantai 1 Mira langsung mendekati Nirmala dan mencengkram salah satu tangannya Nirmala dengan kuat dan mendorong Nirmala ke dinding Lift.
" Aduh! apa-apaan ini Mbak? saya ada salah apa dengan Mbak? saya tidak ingin bermasalah di kantor ini Mbak, tolong lepaskan tangan saya Mbak, karena tangan saya sakit!" ucapnya pada Mira, dan Neni hanya tersenyum sinis pada Nirmala.
" Aku sudah bilang padamu jangan mencari perhatian Pak Dareen, kamu tuli atau memang sengaja mengundang emosiku hah!! seharusnya kamu itu berpikir, kamu itu junior bukan senior, kamu harus menghargai dan menghormati aku, ingat!! apa yang telah kamu perbuat akan kamu tanggung sendiri akibatnya!!" ucapnya sembari melepas tangan Nirmala dengan sedikit keras mendorong Nirmala dan Nirmala pun terdorong sedikit kuat dan kena besi yang ada di dalam lift tersebut, pas mengenai pinggangnya, Nirmala meringis namun dia tidak mengeluarkan suaranya, karena dia tidak ingin lagi di sakiti oleh Mira.
Mira tidak sadar dan dia benar-benar lupa kalau di dalam lift itu sudah ada kamera berada menyala saat kejadian itu penjaga ruangan cctv melihat kejadian itu, dia pun langsung bergegas meninggalkan ruangan tersebut dan akan memberikan laporannya pada Fahmi, saat dia menuju ke arah ruangan Fahmi dia bertemu dengan Rendra sang Bos yang kebetulan keluar dari ruangannya itu, dia kemudian menegur sang penjaga ruangan yang bertugas menghandle cctv.
" Pak Ramen, Kenapa tergesa-gesa? ada apa?" tanya Rendra menatap kearah pak Ramen dengan tatapan herannya.
" Kamera yang berada didalam lift merekam seorang karyawan sedang berkelahi di dalam lift."
" Siapa ?"
" Lebih baik pak Bos lihat sendiri, mari Pak ke ruangan saya." ajaknya, Rendra pun menganggukkan kepalanya, mereka berdua melangkah menuju ke arah ruangan Pak Ramen.
Pak ramen kemudian mengulang kembali rekaman tersebut, Rendra pun terkejut melihat siapa yang berada di dalam lift itu.
" Nirmala!"
Pak Ramen menoleh ke arah Pak Bosnya itu setelah mengucapkan nama Nirmala.
" Berikan salinan itu pada saya!" ucapnya.
Pak Ramen mengangguk, kemudian dengan cepat dan sigap Pak Ramen pun memberikan salinan rekaman itu pada Pak Bosnya, Rendra kemudian meninggalkan ruangan itu menuju ke dalam ruangannya, Dia kemudian menghubungi Fahmi.
" Fahmi! segera ke ruanganku!" ucapnya.
Karena Fahmi tidak berada diruangannya tapi berada dilantai dua karena ada keperluan, diapun langsung bergegas menuju kearah ruangan sang Bos, sembari menunggu kedatangan Fahmi terlihat di wajah Rendra menahan amarah setelah melihat kejadian tersebut.
Sedangkan Nirmala melangkah menuju ke kantin Mbak Ipeh sembari mengusap-ngusap kedua tangannya yang memerah dan luka karena kena kuku panjang Mira dan dia pun sesekali memegang pinggangnya karena benturan yang sedikit kuat mengenai pinggangnya saat di dalam lift tersebut, tapi dia berusaha menutupi rasa sakitnya itu yang dia rasakan saat ini,dia tidak ingin di depan Alya dia memperlihatkan rasa sakitnya, dia tidak ingin keponakannya itu mengetahuinya, karena Alya yang masih kecil itu adalah tanggung jawabnya, dan tidak boleh Alya mengetahui derita yang dialaminya saat bekerja, dia melihat Alya sedang bermain dengan keponakan Mbak Ipeh, Nirmala tidak mau mengganggu keasikan Alya bersama teman barunya itu, Nirmala kemudian melangkah masuk ke dalam dia kemudian mencuci tangannya yang luka karena kuku Mira, dia meringis karena pedih terkena air, Mbak Ipeh merasa heran, dia pun kemudian mendekati Nirmala karena mendengar Nirmala meringis kesakitan.
" Ada apa Nirmala? Kenapa kamu meringis kesakitan seperti itu ?"
__ADS_1
Nirmala terkejut, dia hanya tersenyum, Mbak Ipeh kemudian meraih tangan Nirmala, Mbak Ipeh terkejut melihat tangan Nirmala ada luka yang mengeluarkan darah.
" Ada apa Nirmala? Kenapa tanganmu berdarah seperti ini?"
" Tadi terkena di toilet Mbak, ini bukan apa-apa mbak, ini tadi Nirmala nggak sengaja ada pecahan kaca di dalam toilet." ucapnya berbohong pada Mbak Ipeh, kemudian Mbak Ipeh memperhatikan luka Nirmala itu.
" Ini bukan kena pecahan kaca Mala, ini sepertinya kena tekanan kuku yang tajam, katakan pada Mbak, siapa yang melakukannya padamu? ada yang menjahati kamu selama ini di kantor?" tanya Mbak Ipeh sembari menatap ke arah Nirmala.
Nirmala terdiam dia tidak menjawab pertanyaan Mbak Ipeh.
" Ayo sini Mbak obatin, jangan sampai Alya tahu, kamu tahukan gimana sikap ingin tahunya Alya dia pasti banyak pertanyaan padamu, nanti kamu sulit untuk mencari jawabannya." ucap Mbak Ipeh.
Namun saat tangan Nirmala ditarik pelan oleh Mbak Ipeh untuk berbalik arah, Nirmala pun kemudian mengaduh dengan mengeluarkan suara.
" Aduh sakit Mbak!" ucapnya sembari memegang pinggangnya.
" Kenapa dengan pinggangmu?"
" Nggak apa-apa Mbak, cuma mungkin saat Mbak narik tangan Nirmala untuk berbalik arah agak sedikit sakit." ucap Nirmala.
Nirmala kemudian duduk di kursi yang sudah disediakan oleh Mbak Ipeh, kemudian Mbak Ipeh pun memberikan obat luka tangannya tersebut.
" Katakan sama Mbak yang jujur, anggaplah Mbak ini keluargamu, siapa yang melakukannya padamu? biar Mbak tahu aja walaupun Mbak nggak bisa menemui mereka, ataupun membalas kejahatan mereka padamu."
Nirmala menghela nafasnya dengan pelan.
" Nirmala juga tidak paham Mbak Kenapa mereka melakukannya pada Mala."
" Siapa yang melakukannya padamu?"
" Mbak Mira sama Mbak Neni."
" Mira sama Neni yang satu ruangan denganmu itu?"
__ADS_1
" Iya Mbak, dia masih merasa cemburu, Dia mengira Nirmala menggoda kepala bagian ruangan kami."
" Memang kepala bagian kamu itu ada hubungan apa dengannya?"
" Nirmala juga tidak tahu Mbak, cuman dia pernah bilang pada Mala, kalau kepala bagian ruangan kami itu adalah calon kekasihnya, Nirmala tidak membuat ulah Mbak, beneran kok! Nirmala tidak mengganggu dia, Nirmala tetap dengan pekerjaan Mala, dan tidak mau mengganggu hubungan orang lain, tapi dia selalu salah tangkap pada Mala, Pak Dareen selalu memperhatikan Mala, ada-ada saja yang selalu ditanyakannya pada Mala, itu mungkin yang membuat Mbak Mira dan Mbak Neni marah pada Mala."
" Kapan mereka melakukannya ini, sampai segitunya denganmu."
" Di dalam Lift, saat kami mau turun ke lantai bawah."
" Ya Tuhan memang keterlaluan sekali mereka itu, kamu yang sabar ya."
Nirmala mengganggu kan kepalanya, kemudian Mbak Ipeh pun memberikan salep untuk mengurangi rasa sakit di area pinggang Nirmala
Di ruangan Rendra, Fahmi membuka pintu ruangan tersebut, dia pun kemudian melangkah menuju ke arah Rendra yang terlihat mukanya sangat marah itu.
" Ada apa Pak Bos.?"
" Kamu lihat ini." ucap Rendra sembari memperlihatkan layar laptopnya di mana kejadian baru saja terjadi di dalam lift, Fahmi terkejut melihat rekaman tersebut.
" Apakah mereka sudah pulang?" tanya Rendra.
" Sepertinya iya pak..karena ini waktu jam pulang." jawab Fahmi.
" Pagi besok aku ingin mereka menghadap ke ruanganku!" ucap Rendra dianggukkan oleh Fahmi.
" Sama Nirmala juga pak Bos?"
" Tidak mereka berdua saja, kalau beserta Nirmala, Aku pasti diketahuinya, sementara ini aku tidak ingin dia melihat dan mengetahui kalau aku adalah Bosnya."
" Baik pak Bos."
" Berikan alamat rumah Nirmala."
__ADS_1
" Baik Bos...." ucap Fahmi sembari menghubungi salah satu kepala bagian SDM dan meminta alamat Nirmala tinggal.