
Terdengar ketukan dipintu ruangan Rendra, dan dipersilahkan Rendra masuk, pintu terbuka dan terlihat sekretarisnya memasuki ruangan.
" Ada apa?"
" Maaf pak Rendra,Client yang kita tunggu sudah datang."
" Baiklah kita akan segera kesana." ucapnya dianggukkan sang sekretaris.
Kemudian mereka bertiga keluar dari ruangannya dan menuju kearah ruangan pertemuan dimana mereka sudah ditunggu
Sambil menunggu pak Bos datang, Nirmala berbicara dengan fasih pada client pak Bosnya itu, dia menterjemahkan bahasa client tersebut untuk dimengerti anggota rapat dan begitu juga sebaliknya dia menterjemahkan untuk client tersebut apa yang dimaksud mereka yang ada diruangan itu.
Pintu terbuka lebar, dan melangkahlah masuk kedalam Rendra, Fahmi dan sekretarisnya, Nirmala terdiam dia hanya menundukkan kepalanya dan dia juga tidak berani menoleh kearah Rendra.
Rendra duduk ditempat khusus Bos, Rendra pun langsung menyapa Clientnya itu dengan bahasa yang fasih, dan saat Rendra berbicara, Nirmala langsung mengangkat wajahnya namun dia tidak menatap ke arah laki-laki yang bersuara tersebut dia memejamkan matanya sesaat.
" Ini adalah khayalanku, bukan dia, Aku tidak percaya kalau dia berada di dalam ruangan ini." ucapnya karena Nirmala dalam keadaan terkejut dia pun kemudian disenggol pelan oleh Fahmi, Nirmala kemudian menguasai dirinya karena dia tidak sengaja terdiam saat Client Pak Bosnya itu berbicara, namun dia dengan cepat memahami apa yang diucapkannya, diapun langsung menterjemahkannya tanpa melihat kearah Rendra, saat Rendra bersuara lagi-lagi Nirmala memejamkan matanya dan dia berusaha untuk tidak menyakini kalau itu bukanlah Mas Reasnya.
Rendra menatap kearah Nirmala dan dia pun tersenyum.
" Dia sebenarnya merasa gugup untuk menterjemahkan bahasa asing itu, tapi karena dia bekerja dengan cara profesional dia pun dengan tenang menjelaskan pada semua orang yang ada di dalam sini." guman Rendra.
__ADS_1
Nirmala pun menjelaskan produk yang akan diluncurkan oleh perusahaan Satya Group para Clientnya itu pun mendengarkan dengan seksama penjelasan dari Nirmala sampai dengan selesai, Nirmala kemudian menoleh ke arah Pak Bosnya itu dia terkejut kalau itu adalah laki-laki yang selalu berpenampilan apa adanya dan menamakan dirinya sebagai Reas
" Mas Reas...?!" ucapnya pelan.
Nirmala menggelengkan kepalanya sembari mengangkat kedua tangannya dan menutupi wajahnya kiri dan kanan sembari bergumam.
" Bukan... bukan... itu bukan Mas Reas, itu adalah Bosku, kenapa dia mirip sekali dengan Mas Reas? suaranya? wajahnya? apakah karena aku sangat memikirkannya?atau aku sangat menyayanginya sampai aku bekerja pun dia selalu menghantuiku dengan bayangan-bayangan wajahnya itu, sadar Nirmala! sadar Nirmala! ini di ruangan rapat, bukan di Alam bebas, itu bukan Mas Reas kamu Nirmala!" gumamnya dalam hati, Namun Fahmi sempat memperhatikannya, Begitu juga dengan Rendra, Rendra hanya tersenyum melihat tingkah Nirmala seperti itu.
" Ada apa Mbak Nirmala?" Tanya Fahmi.
" Oh..Nggak apa-apa pak..." ucapnya tersenyum.
Kemudian Nirmala menatap kembali ke arah Rendra meyakinkan dirinya, Apakah itu Reas atau bukan, dan Rendra pun menatap lekat ke arah Nirmala, mereka berdua saling berpandangan, Nirmala baru tersadar dan dia pun memejamkan kembali matanya sesaat sembari menghela nafas panjangnya, belum selesai dia dengan terkejutnya itu, dia pun kemudian mendengarkan Clien Pak Bosnya itu berbicara kembali, menanyakan tentang produk yang akan diluncurkan oleh perusahaan Rendra, dengan cekatan Nirmala pun langsung berbicara tanpa ada rasa gugup dan salah, dia berbicara dengan lancar menjelaskan semua yang sudah ada di lembaran yang sudah tersedia di depannya itu yang berisi tentang keunggulan produk tersebut, dia menterjemahkan dalam bahasa asing pada ketiga Client itu, Client Rendra merasa puas dengan penterjemahan yang diberikan oleh Nirmala, Begitu juga dengan Rendra, dia merasa kagum walaupun sebatas lulusan sekolah menengah atas, tapi cara berbahasanya dengan orang asing mudah dimengerti.
Ketiga Client itu pun berbicara dengan Rendra dia memuji kerja Nirmala yang sangat profesional tersebut dan dia juga menyetujui kerjasama yang mereka lakukan dengan perusahaan Satya Group, Rendra pun berterima kasih dengan Client itu, yang dikenal dengan nama Mr Mark, Mr Bean dan Mrs Yessy, ketiga Cliennya itu menatap pada Nirmala, Dia kemudian berbicara, namun sayangnya Nirmala terdiam, dan melamun, dia tidak fokus dengan pembicaraan salah satu Client Pak Bosnya itu, dia pun kemudian kembali disenggol oleh Fahmi dia hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih, Rendra hanya menatap ke arah Nirmala tidak ada suara sepatah kata pun dari mulut Rendra untuk Nirmala, Dia kemudian berdiri dan melangkah mengantarkan para Cliennya itu menuju ke arah pintu lift, Mereka pun langsung memasuki lift itu menuju ke lantai Lobby untuk mengantarkan Client tersebut keluar dari kantornya itu.
Rapat pun selesai, semua anggota rapat itu pun keluar dari ruangan tersebut, hanya Nirmala, Fahmi dan Lili yang ada di ruangan itu, dia menghela nafasnya dengan pelan Dia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi yang dia duduki saat ini, dia terdiam, dia tidak menyangka kalau selama ini Reas yang dianggapnya lelaki biasa saja dan berpenampilan sederhana itu ternyata adalah Bosnya, ada rasa takut menghantuinya Nirmala takut nantinya Rendra akan berpikiran kalau dirinya itu tidak sopan dengan memanggil Pak Bosnya dengan sebutan Mas.
Fahmi yang masih berada di ruangan itu bersama sekretarisnya Rendra itu pun menatap ke arah Nirmala.
" Kamu kenapa Nirmala?" tanya sekretaris Rendra.
__ADS_1
" Oh nggak apa-apa Bu." ucapnya tersenyum.
" Tapi kenapa wajahmu terlihat cemas seperti itu?" tanya Lili, mendengar pertanyaan itu Fahmi pun langsung menoleh ke arah Nirmala,yang awalnya memeriksa beberapa lembar kertas yang dibawa untuk rapat tersebut menghentikan aktivitasnya.
" Kamu kenapa Mbak Nirmala? kamu sakit?" tanya Fahmi sembari menatap lekat ke arah Nirmala karena terlihat memang wajah Nirmala menunjukkan rasa kecemasan, terlihat dari wajahnya yang mengeluarkan sedikit keringat padahal di ruangan itu full AC.
" Saya tidak apa-apa Pak Fahmi, mungkin karena saya belum pernah mengikuti rapat besar seperti ini, jadi rasa gugupnya belakangan." ucapnya berbohong membuat sekretaris Pak Rendra itu terkekeh pelan, kemudian dia pun meninggalkan mereka berdua setelah berpamitan dengan Fahmi.
" Saya tahu, bukan masalah rapatnya yang kamu gugup kan tapi melainkan kamu sudah bertemu dengan Pak Rendra."
Nirmala kemudian menoleh ke arah Fahmi, tebakan Fahmi itu memang benar, namun dia tetap tidak mengakuinya dan dia tetap beralasan kalau dirinya merasa gugup karena bisa bertemu dengan orang-orang sehebat yang ada di dalam ruangan rapat ini.
" Nirmala, Pak Rendra memang menyembunyikan identitasnya dari kamu, saya juga tidak tahu kenapa dia menyembunyikan identitas tersebut, sebenarnya kamu sudah bertemu dengan dia saat kamu berada di rumah sakit dia yang berada di samping ruangan Alya, itu adalah ruangan Tara yang sudah kamu tolong dengan Memberikan sebagian dari darah kamu padanya."
" Hah? jadi beneran dong, pak Rendra adalah Mas Reas, Mas Reas adalah pak Rendra..." ucapnya pelan.
Nirmala hanya menganggukkan kepalanya, Dia teringat akan kata-kata Rendra padanya kalau dia adalah duda beranak satu.
" Apakah benar anaknya yang sudah aku donorkan darahku itu padanya adalah anak kandungnya? Apakah Pak reas itu memang bener-benar sudah menikah.?" pikirnya.
" Baiklah Mbak Nirmala, mari kita keluar dari ruangan ini, karena kita sudah menyelesaikan rapatnya bersama dengan Pak Bos."
__ADS_1
Nirmala hanya menganggukkan kepalanya saja dengan pikiran yang berkecamuk itu, dia lalu melangkah mengikuti langkah Fahmi menuju keluar ruangan saat dia menuju ke arah lift,dia melihat lift khusus pimpinan itu terbuka, Rendra keluar dari ruangan itu dan langsung melangkah menuju ke arah ruangannya, tanpa dia menoleh ke kiri di mana Nirmala berada.
Fahmi kemudian melangkah mendekati Pak Bosnya itu, dia mensejajari langkah Pak Bosnya menuju ke arah ruangannya, sedangkan Nirmala hanya menghela nafasnya dengan pelan, seiring dengan pintu lift terbuka dan dia pun menuju ke lantai tiga di mana ruangannya berada.