
" Selamat sore, Apa kabar..." ucap Rendra sembari mengulurkan tangannya dan disambut Nirmala uluran tangan Rendra sembari mereka sama-sama tersenyum.
" Baik Mas Reas...silahkan masuk Mas..." ucapnya sembari dianggukkan Rendra.
Rendra menyapu seluruh ruangan tersebut dengan pandangannya.
" Silahkan duduk Mas, maaf cuma bisa duduk dilantai ubin keramik aja Mas, karena ini apa adanya."
" Oh ya nggak apa-apa yang penting kan masih bisa duduk, tapi maaf kemarin kan kamu katanya dapat uang dari kantor kamu, kenapa kamu nggak beli sofa agar mudah tamu bisa duduk di rumah kamu ini, maaf saya bertanya seperti ini bukannya apa-apa cuma bertanya aja jangan salah sangka ya dan jangan salah paham dengan ku." ucapnya sembari tersenyum Nirmala mengangguk tersenyum.
" Saya memang nggak mau membeli sofa untuk di rumah, karena saya mempertahankan uang tersebut untuk jaminan sekolah Alya karena saya sejak dini harus menabung untuk masa depan Alya." ucapnya.
Dianggukkan Rendra.
" Sebentar ya Mas saya tinggal saya bikin minum dulu."
" Oh iya nggak usah repot-repot."
" Nggak repot-repot kok Mas, cuma air minum aja."
Kemudian dia pun meninggalkan Rendra yang duduk seorang diri, Nirmala pun menuju ke arah dapurnya membuatkan segelas teh hangat untuk tamunya itu.
" Aku memang sengaja menanyakan itu padanya, ternyata aku salut dengannya, dia sangat sederhana dan tidak ingin hidup dengan kemewahan." ucap Rendra sembari tersenyum.
Alya kemudian keluar dari dalam kamar dan melangkah menuju kearah Rendra yang duduk seorang diri itu.
" Selamat sore Om..." sapanya sembari tersenyum, mendengar sapaan bocah kecil tersebut Rendra tersenyum dan membalas sapaan tersebut.
" Sore juga... sini duduk dekat Om."
Alya mengangguk dan masih terlihat senyuman lucunya mengiasi wajahnya.
Kemudian Alya mendekati Rendra dan duduk di sampingnya.
" Om temannya Tante Nirmala?"
" Ya Sayang Om temannya Tante Nirmala... "
" Tepatnya calon suami tantemu." gumamnya dalam hati, tapi dia hanya bisa berbicara di dalam hatinya saja sembari memberikan senyuman pada Alya.
" Om jangan sakiti Tante Nirmala ya? Tante itu baik banget, Dia mengurus Alya dan menjaga Alya." ucap Alya dengan polosnya dan begitu saja keluar dari ucapannya.
Rendra terkejut mendengar ucapan dari bocah sekecil itu, Alya menatap ke arah Rendra, Rendra kemudian tersenyum.
" Iya sayang, Om tidak akan pernah menyakiti Tante kamu, Percaya deh sama Om, Om juga akan menjaga kalian berdua."
__ADS_1
" Benarkah Om?" ucapnya terlihat senang.
" Iya Anak cantik...." ucap Rendra sembari mencubit pelan pipi Alya, terlihat di wajah Alya bahagia, karena terpancar dari senyumannya, Rendra menghela nafasnya dengan pelan.
" Aku salut dengan Nirmala, karena kegigihannya itu membuat aku sangat suka dengannya, Tapi maafkan aku Nirmala, Karena aku belum siap lagi untuk mengatakan padamu identitas diriku ini, biarlah kamu tahu sendiri nantinya." ucapnya dalam batinnya.
Nirmala datang dari arah dalam dan dia terkejut melihat Alya sudah duduk disamping Rendra.
" Alya...kok disitu? sini sayang..."
" Alya mau duduk samping Om Ini, karena Om ini sangat baik sama Alya, Om ini juga akan selalu menjaga Alya dan Tante, Om ini juga tidak akan menyakiti Tante." ucap polos Alya membuat Rendra dan Nirmala tersipu, Rendra menatap kearah Nirmala yang terlihat terdiam sembari menyembunyikan rasa malunya karena sang keponakan dengan polos berbicara seperti itu.
" Kesini sayang...." ucapnya pada Alya, Alya mengangguk dan tersenyum, dia tidak mendekati Nirmala tapi dia langsung menuju kearah kamarnya dengan senyuman manisnya setelah berpamitan dengan mereka berdua.
Hening! tidak ada suara sama sekali mereka berdua sama-sama terdiam, sampai akhirnya Rendra bersuara.
" Kenapa kamu tidak bilang padaku saat kamu keluar dari rumah sakit?" tanya Rendra pada Nirmala.
Nirmala menatap ke arah Rendra.
" Maafkan saya Mas, saat itu saya mendengar Kalau Mas kedatangan tamu, jadi saya mengurungkan niat saya untuk bertemu denganmu."
" Saat itu saya kebingungan mencari tahu di mana keberadaan kamu."
" Terus kenapa bisa mengetahui kalau saya tinggal di sini ?"
" Maafkan saya Mas."
" Ya sudah, nggak apa-apa kok." ucapnya tersenyum.
Kemudian mata Rendra menatap ke arah tangan Nirmala yang terlihat bekas luka yang sudah mengering.
" Ini pasti gara-gara dia dijahati tadi." gumamnya.
" Oh ya, Kenapa tanganmu sampai luka?"
Nirmala langsung menatap ke arah tangannya dan menutup bekas luka itu karena kejahatan Mira padanya, Nirmala tergagap menjawab pertanyaan dari Rendra.
" Oh...Ini.... Anu... Itu... Ini hanya luka kecil gara-gara tadi di kantor kena pecahan kaca di toilet tidak kesengajaan saya."
" Oh gitu ya, Makanya kalau kamu bekerja itu hati-hati, sayangi diri kamu sendiri dan kamu harus ingat, kamu masih ada Alya yang sangat membutuhkan kamu, jadi kamu harus menjaga diri kamu jangan sampai kamu terluka siapapun dan oleh apapun."
Nirmala menganggukkan kepalanya.
" Oh ya boleh aku minta air putih?"
__ADS_1
" Oh bisa Mas..."
Kemudian Nirmala hendak berdiri mengambilkan air putih yang diminta oleh Rendra, namun tiba-tiba dia meringis tanpa sadar, Karena rasa sakit yang dia rasakan di pinggangnya itu kembali terasa, namun dia baru sadar kalau di rumahnya ada Rendra, Rendra terkejut melihat Nirmala memegang pinggangnya sembari berdiri namun dia tidak langsung melangkah.
" Kamu kenapa?"
" Oh tidak apa-apa Mas."
" Kenapa kamu memegangi pinggangmu? memang pinggangmu sakit?"
" Oh ini, mungkin kelamaan duduk, tadi di kantor kan banyak kerjaan, terlalu lama duduknya mungkin sudah terasa sakit saat di rumah." ucapnya.
" Oh begitu, lain kali hati-hati jangan terlalu banyak duduk, kalau pekerjaannya terlalu banyak kamu bisa minta istirahat kan sama mereka setidaknya untuk berdiri sebentar meluruskan otot-otot pinggang mu." ucapnya sembari tersenyum dianggukan Nirmala.
Nirmala kemudian melangkah menuju ke arah dapur untuk mengambilkan air putih permintaan dari Rendra.
Rendra menatap kepergian Nirmala, dia sengaja berbicara seperti itu agar Nirmala tidak curiga tentang yang terjadi padanya, Rendra memang sengaja ke rumah Nirmala untuk mencari tahu sendiri tentang keadaan Nirmala.
" Ini pasti gara-gara dua wanita itu yang sudah menyakiti Nirmala, itu bukan terkena kaca luka yang sudah mengering itu, tapi terlihat seperti kena kuku yang panjang dan pinggang Nirmala yang sakit itu sudah pasti karena benturan yang sangat kuat tadi, ini tidak bisa dibiarkan, Tunggu aja besok aku akan menyelesaikan semuanya!" ucapnya sembari mengepalkan kedua tangannya dan terlihat rahangnya bergerak dan giginya berbunyi gemeretak menahan amarahnya, karena melihat orang yang disayanginya dan disukainya itu cedera fisiknya, terlihat Nirmala berjalan menuju ke arahnya membawakan segelas air putih yang diperlukannya. Nirmala memberikan Gelas itu padanya yang berisikan air putih Rendra menerima gelas tersebut dan meminum airnya, dia sudah mengetahui keadaan orang yang disayangnya dia tidak ingin mengajak Nirmala langsung ke rumah sakit untuk mengetahui apa yang terjadi di dalam tubuhnya, entah itu ada cedera di dalam atau pun tidak, kalau dia mengatakan keinginannya untuk mengajak Nirmala berobat dia pasti akan curiga, lagi-lagi mereka berdua terdiam.
" Baiklah,, aku akan pamit pulang dulu, karena waktunya juga sudah mulai malam, aku takut nanti tetangga pada curiga, dikiranya kita berbuat yang tidak-tidak, karena kamu seorang wanita dan aku seorang laki-laki berada dalam satu atap."
Nirmala mengangguk.
" Sampai rumah aku akan ngabarin kamu."
" Memang nomor ponsel saya Mas Reas tahu?"
" Iya, aku tadi juga dikasih sama pihak rumah sakit nomor ponsel kamu." ucapnya sembari tersenyum.
Nirmala tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
" Jangan lupa istirahat ya...kalau masih sakit hubungi aku."
Dianggukkan Nirmala.
Kemudian Rendra berdiri dan mohon pamit pada Nirmala, lagi-lagi saat Nirmala ingin berdiri mengantarkan Rendra keluar dia meringis, Rendra menatap ke arahnya.
" Kamu tidak apa-apa? kalau kamu masih merasa sakit lebih baik kamu berobat, aku akan mengantarmu ke rumah sakit."
" Nggak usah Mas, besok pasti akan sembuh juga kok." ucapnya.
" Baiklah, kalau mau kamu seperti itu, Saya permisi dulu."
Dianggukannya Nirmala.
__ADS_1
" Hati-hati ya Mas." ucapnya Rendra tersenyum dan Rendra juga menganggukkan kepalanya, kemudian menaiki motor Kang Asep dan meninggalkan rumah Nirmala menuju pulang ke rumah pribadinya, Nirmala kemudian menutup pintu rumahnya itu, dia langsung menuju ke arah kamar di mana Alya sudah menunggunya di kamar pribadi mereka tersebut.