
Nirmala melangkah dengan perasaan yang tidak menentu menuju ke arah ruangannya.
" Kenapa dia seperti itu ya denganku, Kenapa dia tidak menegurku? Apakah dia malu karena aku hanya bawahannya saja? jadi dia tidak sama sekali menegurku, bahkan dia pun hanya menatapku saja dan tidak tersenyum sama sekali denganku, Ya Tuhan akhirnya aku sadar kalau aku ini bukan apa-apa di hadapannya, di tengah orang sebanyak itu dia tidak mau menyebut namaku sama sekali, Kalau dia memang Pak Rendra adalah Mas Reas, tapi kenapa dia tidak menegurku bertolak belakang sekali dengan kepribadian Mas Reas yang selalu renyah dalam berbicara dan terlihat akrab denganku, tapi setelah dia menjadi Rendra dia tidak sama sekali seperti Mas Reas pada waktu itu" Nirmala menghela nafasnya dengan pelan Dia kemudian melangkah masuk ke dalam ruangannya, mereka menatap ke arah Nirmala, Sasa sang sahabat yang mengenal Nirmala di saat dia memiliki suatu masalah dia pasti mengetahui dari ekspresi wajah Nirmala, tapi mereka yang ada di ruangan itu tidak mengetahui kalau Nirmala memiliki suatu pikiran yang dia sendiri pun tidak mengerti Ada apa sebenarnya yang dia alami.
" Bagaimana Nirmala sukses rapatnya?" tanya Yuyun.
Nirmala hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
" Syukurlah kalau memang sudah sukses, setidaknya salah satu diantara kalian bisa mengikuti rapat besar itu." ucapan Dareen tersenyum.
Tapi tidak dengan Sasa, dia menatap lekat ke arah sahabatnya itu, kemudian Dia mendekati Nirmala di saat mereka semua sibuk dengan pekerjaannya, Sasa kemudian berbisik pelan pada Nirmala.
" Sebenarnya ada apa? aku perhatikan setelah kamu keluar dari ruangan rapat agak sedikit berubah, memang di dalam ruangan rapat ada apa?" bisik Sasa.
Mendapat pertanyaan dari Sasa, Nirmala terkejut, kemudian dia pun menatap ke arah Sasa, sembari tersenyum menutupi rasa terkejutnya itu, karena pertanyaan dari Sasa itu sangat mengena sekali di hatinya.
" Kamu ada-ada aja sih Sa, di ruang rapat ya banyak orang lah, hanya membahas tentang pekerjaan gak ada yang lain."
" Kamu sudah ketemu dengan Bos.?"
Nirmala menganggukkan kepalanya.
" Terus bagaimana orangnya? ganteng? baik? atau dia jatuh hati denganmu? hehehe." ucap Sasa sembari terkekeh pelan.
Nirmala terdiam sesaat dia menghela nafas panjang dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kerjanya itu, dia menatap jauh ke depan seakan-akan pikirannya tidak berada di ruangan itu, membuat Sasa semakin merasa heran.
__ADS_1
" Nirmala Ada apa sebenarnya? Kenapa kamu seperti ini setelah aku bertanya tentang Bos, memang ada masalah apa kamu sama bos? Apakah kamu dimarahi bos atas kesalahan yang kamu lakukan di ruangan rapat?"
Nirmala spontan menggelengkan kepalanya.
" Kalau tidak ada, kenapa kamu terdiam, aku kan ingin tahu juga bagaimana perawakan Pak Bos, walaupun aku lebih dulu kerja di sini, daripada kamu, aku memang belum pernah melihat rupa apa Bos itu seperti apa."
" Pak Bos ya seperti manusia, sama seperti kita, memiliki hidung, mata, gigi dan sebagainya."
" Iya aku tahu, walaupun kita sama, seperti aku dan kamu contohnya sama-sama memiliki mata, hidung, mulut, dan Gigi, tangan, kaki bahkan lengkap semuanya, tapi aku dan kamu kan tetap berbeda, kamu lebih cantik dari aku, padahal aku sudah menggunakan skin care dari yang murah, sedang, sampai yang mahal, ya wajahku Ya seperti ini-ini aja." ucapnya sembari terkekeh membuat Nirmala tersenyum, Sasa sengaja berbicara seperti itu, agar bisa menghibur sang sahabat supaya mereka yang ada di dalam itu tidak melihat kesedihan dari sahabatnya itu, yang belum diketahuinya ada apa sebenarnya dengan Nirmala.
" Nirmala, Aku tidak mau tahu ya, kamu harus bercerita nanti setelah kita pulang kantor, Aku ingin tahu kenapa kamu seperti ini, aku kan sahabat kamu, kamu harus cerita dong ke aku, siapa tahu kita bisa menyelesaikannya bareng-bareng." ucapnya sembari menepuk pelan pundak Nirmala dan kemudian dia kembali ke meja kerjanya dan melanjutkan kembali pekerjaan yang sudah diberikan padanya itu, Nirmala lagi-lagi hanya menarik nafasnya dengan berat lalu melepaskannya dengan pelan.
" Kamu tidak tahu Sasa, apa yang aku rasakan sekarang ini, antara sedih, bingung, dan rasa takut serta malu aku rasakan setelah bertemu dengan Pak Bos, mungkin aku harus menghindari Mas Reas, bukan, Mas ,. tapi pak Bos, aku tidak pantas untuk memanggilnya dengan sebutan Mas, karena dia adalah pimpinanku." ucapnya sembari melanjutkan pekerjaannya lagi dia pun kembali fokus dengan layar laptop yang ada di atas mejanya tersebut.
*****
Alya dan Tara asyik bermain, beberapa kali dia sudah berada di rumah Tara dia selalu saja melontarkan pandangannya ke sebuah foto besar yang menempel di dinding rumah tersebut, Walaupun dia masih kecil tapi daya ingatnya sangat tinggi, sampai akhirnya Tara pun memanggilnya dan Tara merasa heran dengan sikap Alya bila berada di rumahnya.
" Alya... Apa yang kamu lihat?"
Alya menoleh ke arah Tara.
" Aku sedari tadi melihat foto itu, siapakah dia? setiap aku ke rumahmu aku selalu menatap foto besar itu." ucapnya sembari menatap ke arah Tara dan tangannya menunjuk ke arah foto besar yang menempel di dinding rumah Rendra, foto itu adalah foto Rendra pemilik rumah sekaligus Om dari Tara dan sebagai Reas teman tantenya Nirmala.
Tara tersenyum, setelah mendapatkan pertanyaan dari Alya.
__ADS_1
" Oh itu, itu adalah Om aku, namanya Om Rendra."
" Om Rendra.....?"
Tara menganggukkan kepalanya.
" Memangnya kenapa Alya? Ada apa dengan Om Rendra? Kamu kenal dengan Om Rendra ku?"
Alya menggeleng.
" Aku tidak kenal dengan Om Rendra kamu, selama aku sering ke rumah kamu ini, aku belum pernah bertemu secara langsung dengan Om kamu itu, tapi wajah Om kamu itu sama persis dengan teman Tante aku yang bernama Om Reas."
" Om Reas?"
Giliran Alya yang menganggukkan kepalanya.
" Mungkin namanya berbeda, tapi wajahnya mirip, nanti aku akan tanyakan sama Om Rendra aku, kalau dia sudah pulang nanti, siapa tahu dia kenal dengan temannya Tante kamu itu dan siapa tahu juga Dia bersaudara, hehehe.." ucap Tara sembari terkekeh Begitu juga dengan Alya, kemudian Mbak Siti itu pun datang membawakan cemilan yang dibuat olehnya karena waktunya makan cemilannya.
" Ayo Alya, kita makan camilan dulu, sebelum kamu pulang." Ajaknya pada Alya, Alya pun menganggukkan kepalanya, Mereka kemudian menikmati kentang goreng buatan Mbak Siti.
" Alya, aku senang kalau kamu berada di rumahku ini, coba kamu pindah aja ke rumah ini, pasti rumah ini rame, aku tidak kesepian lagi Kalau ditinggal sama Om Rendra."
" Aku kan punya Tante, lagi pula kami juga punya rumah, Kalau kami tinggal di sini, kami kan bukan saudara kamu, kita kan hanya berteman saja, jadi nggak bisa dong aku dan tanteku tinggal di sini."
" Bagaimana kalau Om aku yang meminta tante Kamu tinggal di sini kamu mau nggak."
__ADS_1
" Aku sih mau aja, tinggal bersama kamu di sini, tapi aku tidak tahu kalau tanteku mau atau tidaknya, lagi pula tanteku kan nggak kenal dengan Om kamu, tanteku kan punya teman yaitu Om Reas."
" Iya ya, jika seandainya tante kamu berteman lebih dulu dengan Om aku, kamu dan tante Kamu bisa tinggal di sini aku nanti mau cerita sama Om aku, biar Om aku bicara dengan tante kamu, biar kalian tinggal di rumah aku yang besar ini." ucapnya sembari tersenyum seraya mengunyah kentang gorengnya, Alya pun mengunyah kentang gorengnya itu pun sembari mengganggukan kepalanya saat Tara berbicara dengannya.