
Setelah pembicaraan dengan Fahmi selesai Nirmala kemudian keluar dari ruangan tersebut menuju kembali ke ruangannya.
Saat Nirmala memasuki ruangan penterjemah semua mata tertuju kepadanya dia juga merasa heran kenapa mereka menatap ke arahnya terutama Mira dan Neni namun Nirmala tidak menghiraukan tatapan mereka dia langsung menuju ke arah mejanya dan melaksanakan pekerjaan yang sudah beberapa menit tertunda, saat dia mau duduk dia menahan rasa sakit di pinggangnya, tapi dia tetap menyembunyikan rasa sakit tersebut, kadang-kadang dia meringis kesakitan kadang-kadang juga dia berusaha untuk menutupi rasa sakitnya itu di hadapan mereka semua, Neni mengawasi gerak-gerik Nirmala Dia kemudian berdiri kembali dan menuju ke arah meja Mira.
" Matilah kita sepertinya Nirmala sudah menceritakan semuanya kepada Pak Fahmi, coba kamu lihat dia selalu memegang pinggangnya, sepertinya dia mengalami cedera di dalam gara-gara kamu.!" ucap Neni berbisik ke arah Mira.
Mira kemudian menoleh ke arah Nirmala, Mira melihat Nirmala memegang pinggangnya dengan salah satu tangannya dan dia pun juga menatap ke arah wajahnya sesekali wajahnya Nirmala mengekspresikan rasa sakit yang tidak terhingga.
" Kamu sih terlalu keras mendorongnya kemarin.!" ucap Neni.
" Mengapa aku? tapi kamu kan yang menambahkan dorongan itu, oke!! yang pertama aku memang mendorongnya, tapi yang kedua kamu kan? Setelah kamu yang mendorongnya dia terlihat meringis waktu itu sambung." Mira.
" Enak aja! kamu tuh yang duluan, kamu juga nggak lihat kan kalau kamu yang pertama mendorongnya, kamu tidak melihat juga wajah Nirmala seperti apa saat kamu dorong kala itu." ucap Neni.
Mira hanya mendengus dengan kesal mendengar ucapan dari Neni, memang dalam masalah kejadian di dalam lift itu adalah gagasan darinya, dia yang mengajak Neni untuk menyakiti Nirmala.
Mira tidak konsen dalam menterjemahkan tugas yang sudah diberikan oleh Dareen padanya.
Beberapa saat keheningan itu pun buyar setelah terdengar suara pak Darren memanggil Neni dan Mira.
" Mira, Neni Kamu dipanggil ke ruangan Bos!" ucap Dareen, mendengar suara Dareen yang memanggil namanya dan ruangan Bos, Mira dan Neni pun terkejut, keringat dingin sudah mengucur di seluruh tubuhnya tangannya lembab berkeringat kegugupan melanda di wajahnya degupa panjang jantungnya pun berpacu dengan keras mereka berdua saling berpandangan membuat heran Dareen yang menatapnya.
__ADS_1
" Ada apa Mira, Neni, Kenapa kalian terlihat gugup setelah aku mengatakan kalau kalian ditunggu pak Bos di ruangannya ada kesalahan apa yang kalian perbuat sehingga kalian sangat ketakutan seperti itu."
Namun mereka berdua tidak menjawab pertanyaan dari Dareen.
Baim menatap ke arah mereka berdua seolah-olah dia bertanya kepada Mira ada kesalahan apa yang dibuatnya kepada Pak Bos, karena Baim mengenal Pak Bosnya itu tidak mau memanggil karyawannya untuk masuk ke dalam ruangannya, kalaupun dia memerlukan salah satu dari anak buahnya pasti dia melalui orang kepercayaannya ataupun sekretarisnya yang ada di lantai atas.
" Apa yang diperbuat oleh mereka berdua sehingga Pak Bos ingin langsung Bertemu dengannya di ruangannya, ini pasti ada yang aneh, tidak mungkin mereka tidak melakukan kesalahan, Karena pak Bos jarang-jarang memanggil karyawannya ke ruangannya." gumam Baim sembari menatap langkah mereka berdua keluar.
Beberapa menit mereka keluar dari ruangan itu Dareen pun menyusul mereka sebelum mereka masuk ke dalam lift Dareen memanggil Mira.
" Mira!" panggilnya, Mira pun menoleh ke arah Dareen, Dareen melangkah menuju ke arah Mira di mana mereka berdua menunggu lift terbuka.
" Aku ingin bicara denganmu sebentar."
" Apa yang kalian lakukan, kesalahan apa yang kalian lakukan sehingga Pak Bos memanggil kalian ke ruangannya? Kamu kan tahu pak Bos tidak semudah Bos-Bos yang lain yang bisa memanggil karyawannya masuk ke ruangannya, karena keruangan itu hanyalah sekretaris dan orang kepercayaannya saja yang bisa masuk kedalam ruangan itu, memang ada kesalahan apa sehingga kamu dipanggil langsung ke ruangannya."
Mira kemudian menundukkan kepalanya, tidak terasa air matanya menetes di pipi mulusnya itu, Dareen kemudian menyentuh kedua tangan Mira disaksikan oleh Neni, Neni terkejut karena Dareen memegang tangan Mira, Neni tidak tahu kalau Mira kenal dekat dengan Dareen kepala bagian penterjemah itu.
Dareen kemudian menyentuh dagu Mira agar bisa mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Dareen.
" Katakan padaku Mira, apa yang kalian lakukan, Kenapa kamu menangis, kesalahan apa yang telah kalian perbuat sehingga wajah kalian berdua terlihat pucat ceritakan padaku."
__ADS_1
Mira pun langsung memeluk Dareen, Dareen terkejut, tapi langsung menanggapi pelukan Mira itu, karena suasana kantor terlihat sepi jadi tidak ada orang yang melihat saat Mira memeluk Dareen, namun Baim yang berada di dekat pintu itu pun melihat kejadian yang sangat menyayat hatinya, karena dia sebenarnya sangat menyukai Mira tapi dia tidak tahu apakah Mira menyukainya atau tidak.
" Apakah mungkin Mira menyukai pak Dareen, Kalau iya aku tidak akan pernah mengganggunya semoga aja dia bahagia dengan Pak Dareen." gumam Baim kemudian dia pun melangkah kembali ke mejanya dan mengerjakan tugas yang sudah diberikan oleh Dareen padanya.
Nirmala berhenti sesaat untuk menterjemahkan pekerjaannya dia berpikir sejenak melihat kepergian kedua rekan kerjanya itu.
Kemudian dia pun menoleh ke arah Baim sembari bertanya pada Baim.
" Mas Baim, ada masalah apa Kenapa Mbak Mira dan Mbak Neni dipanggil ke ruang Bos."
" Aku juga tidak tahu Nir, biasanya kalau sampai karyawan dipanggil ke ruangan Pak Bos berarti ada sesuatu yang sangat membuat Bos marah, karena ruangan Bos itu tidak pernah karyawan masuk ke dalamnya selain sekretaris dan orang kepercayaannya." terang Baim
Nirmala hanya menganggukkan kepalanya dia kemudian teringat kejadian sore kemarin dia khawatir kalau seandainya kejadian itu sampai ketahuan sama Pak Bosnya dia tidak ingin karena kejadian itu kedua temannya dipecat ataupun dimarahi walau bagaimanapun Dia sangat tidak ingin kalau rekan kerjanya dalam satu ruangan dapat kena pecat gara-gara masalah yang pernah terjadi sore kemarin.
" Katakanlah Mira ada apa." ucap Dareen sembari melepaskan pelukan Mira.
" Ceritanya panjang, aku tidak bisa menceritakannya di sini, aku akan terima keputusan dari Bos, apa yang akan terjadi." ucapnya.
Mendengar ucapan Mira seperti itu Neni pun kemudian mendekatinya.
" Menerima keputusan Bos? Kalau seandainya kita berdua dipecat aku tidak terima, karena ini semua adalah ulah kamu, seandainya saja jika kamu tidak membawa aku untuk mencelakai Nirmala Aku tidak akan pernah berurusan dengan pak Bos, kamu tahu sekali kita berbuat kesalahan di kantor ini Pak Bos tidak akan pernah memberikan kita kesempatan kedua, Kamu paham! seharusnya kamu berpikir sejak kamu ingin menyakiti Nirmala." ucap Neni sembari menatap sinis ke arah Mira, Mira hanya terdiam dia tidak bisa menyangkal lagi apa yang diucapkan oleh Neni padanya.
__ADS_1
" Aku nyesal, kenal dengan kamu! dan aku menyesal juga mengikuti arahan dari kamu! aku sangat menyesal!!" ucapnya kemudian menjauh dari Mira dan Dareen, dia pun kemudian menggunakan lift yang lain yang tidak satu ruangan bersama dengan Mira.
Dareen yang terkejut mendengar ucapan dari Neni itu langsung dia menatap ke arah Mira, seakan-akan ingin mendapatkan jawaban yang tepat dari Mira sendiri.