Kau Lukis Permadani Cinta

Kau Lukis Permadani Cinta
Episode 23


__ADS_3

Setelah mendapatkan Alamat tempat tinggal Nirmala Fahmi kemudian mengirimkan alamat itu pada Pak bosnya melalui ponsel pribadinya sesaat Rendra membaca alamat yang sudah tertera di ponsel pribadinya itu.


" Baiklah, nanti aku akan mencari alamat ini dan berkunjung ke rumahnya,aku ingin memastikan keadaannya karena saat aku lihat di rekaman itu sepertinya dia didorong terlalu keras."


Dianggukan oleh Fahmi..


Fahmi pun berpamitan dengan Rendra dia melangkah meninggalkan Pak bosnya di ruangan kerjanya itu Rendra hanya menghela nafasnya dengan pelan Dia menatap kembali rekaman yang ada di dalam laptopnya itu dia menyandarkan tubuhnya disandarkan kursi yang sekarang dia duduki.


" Sebenarnya apa yang terjadi sehingga kedua orang itu menyakiti Nirmala, apa yang diperbuat Nirmala sehingga membuat kedua wanita itu sakit hati dan melakukan perbuatan jahatnya pada Nirmala, tapi aku lihat Nirmala wanita yang sabar wanita yang tidak ingin memiliki musuh lebih baik aku mencari alamatnya sekarang aku ingin melihat langsung keadaannya." gumamnya, Dia kemudian mematikan laptopnya dan berdiri mengambil jasnya serta tidak lupa kunci kontak mobilnya Dia melangkah dengan pasti keluar dari ruangannya tersebut dan memasuki lift untuk membawa dirinya ke lantai bawah.


Nirmala yang sudah merasa nyaman dengan keadaannya terlepas dari rasa sakit yang dirasakannya gara-gara dijahati oleh Mira dan Neni walaupun sakitnya tidak terasa seperti pertama kali dia mendapatkan rasa sakit itu.


Dia dan Alya masih berada di perjalanan menuju ke arah rumahnya beberapa saat motor yang dikendarai oleh Nirmala itu pun memasuki halaman rumah kontrakannya Nirmala memarkirkan motornya tersebut mereka berdua pun melangkah menuju ke dalam rumah kontrakannya itu.


Dia melihat di layar ponselnya saat dia meletakkan ponselnya di kasur kamarnya chat pribadi masuk ke dalam ponselnya itu dia menatap layar ponselnya dia tersenyum saat membaca siapa mengirim chat pribadi itu siapa lagi kalau bukan Sasa sahabatnya.


" Nirmala, kamu tidak apa-apa kan aku dengar tadi dari Mbak Ipeh kalau Kamu dijahatin sama si Neni dan si Mira sebenarnya ada apa, Kenapa mereka menjahatimu sampai terluka seperti itu dan kata Mbak Ipeh juga kamu merasa sakit di pinggangmu, Ada apa? cerita ke aku Mala, Kenapa bisa mereka menjahatimu." isi chat Sasa pda Nirmala.


Kemudian Nirmala membalas chat pribadi itu.


" Kamu nggak nanya langsung kepada Mbak Ipeh, karena aku sudah cerita semuanya pada Mbak Ipeh." Balas Nirmala.


Sasa langsung menghubungi Nirmala dia tidak melanjutkan ataupun membalas chat pribadinya Nirmala.


Nirmala langsung menjawab panggilan Sasa.


" Ada apa Sa?" ucapnya sembari terkekeh.


" Bagaimana ceritanya sehingga kamu dijahati mereka berdua?"


Nirmala kemudian menceritakan semuanya pada Sasa sampai selesai, terdengar Sasa menghela nafasnya dengan pelan.

__ADS_1


" Begitulah ceritanya Sa..."


" Mereka berdua memang seperti itu kayanya, seakan berkuasa, aku juga sebenarnya tidak tahu bagaimana mereka, tapi aku merasa aja sih kalau mereka itu kayanya sok jagoan kaya gitu."


" Biarin ajalah Sa, ntar mereka sadar sendiri kok, yang jelas aku mulai sekarang akan hati-hati." ucapnya sembari tersenyum.


" Baiklah Nirmala, kamu istirahat aja ya, lagi pula aku mau mandi dulu nih." ucap Sasa.


" Oke!" ucap Nirmala sembari memutus sambungan bicaranya, dia meletakkan ponselnya kembali diatas kasur tempat tidurnya, kemudian dia keluar kamar dan mencari Alya, namun tidak ditemukannya.


" Alya....kamu dimana sayang..." panggil Nirmala sembari melangkah kearah dapur.


Saat sampai dipintu belakang arah dapur tersebut dia melihat Alya sedang mencuci piring sambil bersenandung lagu yang dia hapal.


Nirmala tertegun melihat sang keponakan yang masih kecil seperti itu, sudah melakukan pekerjaan rumah.


" Sayang...Apa yang Alya kerjakan?"


" Kenapa Alya lakukan nak? Tantekan tadi bilangkan Alya segera mandi."


" Iya, Alya tadi emang mau mandi, tapi Alya lihat cucian piring Tante banyak, jadi Alya bantu nyuci, Alya tahu kalau Tante itu cape, makanya Alya bantuin." ucapnya dengan polosnya membuat hati Nirmala terenyuh dan diapun langsung memeluk keponakannya itu tanpa terasa airmatanya jatuh, Alya melihat kalau sang tante sedang menangis, dengan tangan kecilnya itu dia mengusap airmata Nirmala sembari bersuara.


" Tante jangan nangis...Alya akan selalu membantu Tante, kita akan selalu bersama-sama..." ucapnya sembari tersenyum pada sang Tante, Nirmala hanya bisa menganggukkan kepalanya.


" Ya udah...Alya mandi ya, nanti Tante yang akan lanjutkan nyuci piringnya." ucapnya dianggukkan Alya dan gadis mungil itupun langsung berjalan menuju tempat mandi dan melakukan aktifitas mandinya.


Nirmala berdiri dan melanjutkan mencuci piringnya, sambil mencuci dia teringat akan kedua orang tua dan kedua kakaknya yang sudah tiada, dia tidak bisa menahan rasa sakit dihatinya karena menahan kerinduan pada keluarganya yang sudah terlebih dahulu meninggalkannya bersama Alya.


Rendra yang sudah mulai mencari Alamat Nirmala akhirnya menemukannya, dia memandangi pintu rumah Nirmala yang tertutup rapat itu, dia tersenyum dan kemudian dia pun berlalu dari depan rumah tersebut dan menuju kearah rumahnya, beberapa saat dia menjalankan mobilnya itu sampailah ia dihalaman rumahnya dan segera keluar dari mobilnya melangkah menuju kearah dalam dan langsung mencari tukang kebunnya itu yang bernama Asep.


" Kang Asep!" panggilnya.

__ADS_1


" Iya Tuan Muda."


" Saya bisa minjam motor kang Asep sebentar."


" Bisa Tuan, oh ya ini kunci kontaknya, tapi maaf Tuan Muda hati-hati Motor itu bisa mogok." ucapnya.


" Iya nggak apa-apa kok kang..Saya pinjam dulu ya." ucapnya tersenyum dan dianggukkan kang Asep.


Kemudian Rendra melangkah menuju kearah kamarnya dengan tatapan kang Asep yang geleng-geleng kepala karena dia tidak mengerti sama tuan mudanya itu yang mau menggunakan kendaraan buntutnya itu.


" Tuan muda Rendra mah ada-ada aja, bisa-bisanya menggunakan motor butut itu." ucapnya sembari tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya menyapu halaman rumah Tuan mudahnya itu.


Rendra kemudian berganti pakaian dengan pakaian yang biasanya dipakai saat bertemu Nirmala waktu di rumah sakit penampilannya apa adanya dia pun tersenyum di depan cermin kemudian dia melangkah keluar kamarnya dan menuju motor kang Asep yang terparkir itu, beberapa saat kemudian dia pun meninggalkan rumahnya itu menggunakan motor bututnya kang Asep menuju ke arah rumah Nirmala.


Sesampainya dirumah Nirmala diapun memarkirkan motornya, Rendra melangkah menuju kearah pintu tersebut dan mengetuknya beberap kali.


Nirmala yang ada didalam pun terkejut dia terdiam tidak langsung membukakan pintu rumahnya itu, terdengar lagi ketukan dipintu rumahnya beberapa kali.


" Siapa yang mengetuk pintu rumah ku? Sasa? tapi kalau Sasa nggak mungkin dia ngetuk pintu, Sasa kan nggak pakai tangan ngetuknya tapi dia menggunakan mulutnya bersuara keras bila kerumahku ini? jadi siapa ya? aku jadi takut sendiri nih." ujarnya berbicara sendiri.


" Tante ada tamu ya?" ucap Alya sembari menatap kearah Nirmala yang duduk disampingnya.


" Iya sayang, tapi tante tidak tahu siapa tamunya, Alya disini saja ya, Tante lihat kedepan." ucapnya sembari dianggukkan Alya.


Nirmala kemudian melangkah keluar kamarnya dan menuju kearah pintu depan, dia mengintip sedikit dari balik gordan jendela, terlihat badan belakang Rendra karena posisi Rendra menghadap jalanan.


" Seorang laki-laki...tapi siapa ya?" ucapnya kemudian dia kembali menutup gorden jendelanya dengan segera dan diapun kemudian membuka pintu rumahnya itu.


Saat dibuka sambari bersuara.


" Maaf mau cari siapa?" tanyanya dan berbarengan badan Rendra langsung menoleh kearah pintu dan diapun tersenyum.

__ADS_1


" Mas Reas!" ucapnya terkejut karena kedatangan Reas lelaki yang diingatnya terus itu yang tak lain adalah sang Bos.


__ADS_2