Kau Lukis Permadani Cinta

Kau Lukis Permadani Cinta
Episode 44


__ADS_3

Episode 44 🌹


" Rendra Maafkan Nova, dia memang selalu seperti itu, jangan diambil hati ya." ucap tante Merry.


Rendra hanya mengangguk dan tersenyum dia tidak ingin menatap kearah Nova, sedangkan Nova terus menatapnya sembari bergumam di dalam hatinya.


" Memang benar kata Papi, Rendra sudah berubah, Dia terlihat tampan sekali, tapi apakah dia sudah memiliki seorang kekasih.?"


Rendra merasa Risih ditatap oleh Nova, Dia kemudian berbicara dengan pada Betran sembari tersenyum dia tidak menghiraukan Nova yang ada diruangan itu.


" Kenapa kalian ke sini tidak bilang dulu sama saya, biar saya bisa menyambut kalian dengan persiapan." ucapnya sembari masih tersenyum.


" Kami ke sini hanya berlibur saja beberapa hari."


" Oh ya kami mau berkunjung ke rumah kamu, mau bertemu dengan keluarga kamu, sudah lama tante tidak bertemu dengan ibu kamu." ucap Tante Merry.


Rendra langsung menoleh ke arah Tante Mery, dia terkejut dengan ucapan Tante Mery itu.


" Mama sudah tidak ada Tante, Mama sudah meninggal, beberapa tahun yang lalu."


" Apa?" ucapnya sembari tidak percaya seakan-akan tidak yakin dengan ucapan dari Rendra.


" Selama ini kami tidak pernah kembali ke tanah air dan kami tidak tahu kabar keluarga kamu, Maafkan kami karena kami tidak mengetahuinya."


" Tidak apa-apa Tante." ucapnya sembari tersenyum.


Selang beberapa menit kemudian Pak Betran pamit pada Rendra setelah berbicara dengan Rendra, namun sebenarnya dia ingin sekali berbicara lama dengan Rendra, tapi karena sikap dan tingkah polanya Nova yang sangat membuat pak Betran merasa jengkel yang menampakan sikapnya ingin diperhatikan oleh Rendra, akhirnya pak Betran pun memutuskan untuk segera pergi dari kantornya Rendra.


Dari awal Rendra tidak merasa senang akan kehadiran Nova di tanah air, pertama kali Nova menghubunginya pun dia sudah merasa jenuh, ditambah saat ini dia sudah berhadapan dengannya di ruangan kantornya sekarang.


Rendra kemudian mengantarkan mereka sampai ke pintu lift, beberapa saat kemudian lift itu pun membawa mereka turun ke arah lobi dengan arahan petugas yang ada di lobi untuk mengantarkan mereka sampai memasuki mobil taksi yang sudah mereka pesan, terlihat wajah Nova memerah karena marah, dia pun sangat emosi yang kemudian meninggalkan kedua orang tuanya memilih pergi dari mereka dengan alasan dia ingin menenangkan diri.

__ADS_1


Rendra kembali ke ruangannya dan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda, Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan sikap Nova yang tidak pernah berubah dari dulu sampai sekarang, biar bagaimanapun sikap Nova yang diperlihatkannya padanya itu tidak merubah sikap Rendra terhadap Nova, sedikitpun dia tidak merasa senang dengan kehadiran Nova, apalagi melihat tingkah dan polanya yang membuat Rendra merasa tidak respect dengan kehadirannya itu.


Tepat jam makan siang, sekretarisnya Rendra pun mengingatkan Pak Bosnya itu, tentang janji bertemu dengan Clien yang sudah menunggunya di resto tempat favorit Pak Bosnya tersebut.


Rendra memang sengaja tidak menemui Nirmala di kantin Mbak Ipeh, tapi dia mengirimkan chat pribadi pada Nirmala, kalau dia sedang keluar makan siang bersama dengan Client yang ada di luar Negeri, Nirmala hanya membalasnya dengan emoticon tersenyum dan ucapan 'hati-hatinya'


Saat mereka sudah mendapatkan pesanannya dari kantin Mbak Ipeh tersebut, Nirmala pun menagih janji dari Sasa.


" Sebelum makananmu habis, ceritakan padaku yang kamu janjikan tadi pagi."


Sasa hanya menghela nafasnya dengan pelan sembari tersenyum, dia pun kemudian menganggukkan kepalanyaz dia mengatur duduknya dan menghel nafasnya kembali dengan dalam.


" Aku dan Silva berteman saat awal masuk kuliah, karena dia yang pertama kali memperkenalkan dirinya dan menjadi temanku, saat itu dia baik-baik saja tidak menampakkan kalau dia ingin merebut kekasih hatiku, aku dan Rudini menjalin hubungan saat kelas 2 SMA, dia memang sangat mencintaiku, Aku pun begitu, kami berjanji masuk kuliah sama-sama, saat acara kelulusan kuliah, tanpa sepengetahuanku ternyata dia menduakanku di belakangku, sampai suatu hari aku melihat mereka berjalan berdua, aku pun langsung bertanya baik-baik dengan mereka, saat itu aku tidak melabraknya, karena tidak ada rasa hatiku ingin mempertahankannya, aku pun langsung memutuskannya di hadapan Silva, tapi kami masih berteman, Walaupun kami berteman, tapi kami tidak seperti dulu lagi." ucapnya sembari mengaduk teh hangatnya.


" Sekarang kamu tahu kabar Rudini bagaimana.?"


" Kala itu, sebenarnya aku tidak mau tahu soal mereka berdua, apakah masih bersama atau tidak, tapi salah satu teman ku waktu itu mengatakan kalau Rudini sudah berhasil dan sudah membangun perusahaannya sendiri di luar kota."


" Aku tidak tahu, biasanya dia setiap tahun mengundang aku untuk merayakan ultahnya di kota ini, karena di kota ini dia suka sekali memanas-manasiku dengan kemesraannya dengan Rudini."


" Apa mesti di kota ini? kan dia bisa merayakannya di luar kota."


" Dia memang sengaja, setiap tahun merayakan ulang tahunnya di kota ini, dan selalu mewah, mereka pernah satu kali mengundang aku, tapi di saat itu mereka mempermalukan Aku, sejak saat itu aku tidak pernah lagi hadir di pesta ulang tahunnya."


" Kenapa kamu dipermalukan? memang kesalahan kamu apa? kamu bekerja di sini pun tidak malu-maluin, ini perusahaan bonafit loh."


" Mereka mengatakan kalau aku tidak laku dan tidak bisa move on dari Rudini, sampai saat ini pun aku tidak pernah menggandeng seorang laki-laki, bila menghadiri acara reuni kampus ataupun menghadiri ulang tahun teman-temanku."


Nirmala menghela nafas panjangnya, kemudian dia meraih tangan sahabatnya itu, dia pun kemudian menepuk pelan tangan sahabatnya itu sembari memberikan semangat padanya.


" Kamu yang sabar ya... Ya sudah aku sudah mengerti cerita kamu, jangan dilanjutkan lagi, lebih baik kita makan saja, ntar waktu istirahat siang akan habis, pekerjaan kita masih banyak." ucapnya sembari tersenyum di anggukan oleh Sasa, mereka pun kemudian menyantap makan siangnya itu, beberapa saat mereka menikmati makan siang tanpa ada suara hanya terdengar suara kerupuk yang digigit dan sendok yang bersentuhan dengan mangkok soto mereka.

__ADS_1


Rendra yang menikmati makan siangnya itu pun bersama dengan Clien yang datang dari luar Negeri itu pun selesai, setelah mengantarkan Clientnya itu ke villa di tengah kota milik pribadi Rendra sendiri agar Cliennya tersebut beristirahat, Rendra pun kembali melajukan mobil pribadinya menuju ke arah kantor, sesampainya di kantor dia memarkirkan mobilnya namun dia tidak langsung turun dari mobilnya itu, dia kemudian mengirim chat pribadi kepada Nirmala.


📤 " Kamu sudah makan ?"


📥 " Sudah Mas, sekarang kamu ada di mana.?"


📤 " Baru aja sampai, sekarang ada di parkiran."


📤 " Fahmi sudah menghubungi kamu sayang?"


Nirmala tersenyum...kemudian Nirmala menengok kiri dan kanan, dia melihat Fahmi lagi bicara sama Dareen.


📥 " Belim ada Mas, tapi pak Fahmi sedang bicara sama pak Dareen.."


📤 " Ya udah sayang, lanjutkan saja pekerjaanmu..."


Nirmala tidak menjawab chat pribadi tersebut dengan kata-kata, tapi dia hanya menjawab dengan emoticon berbentuk hati, Nirmala tersenyum, menatap layar ponselnya, Begitu juga dengan Rendra yang tersenyum lebar, dia pun kemudian turun dari mobil pribadinya melangkah menuju ke arah lobi dan naik ke lantai atas di mana ruangannya berada.


Setelah Fahmi keluar dari ruangan Nirmala, Dareen pun kemudian menuju ke arah mejanya sembari berucap.


" Maaf, mohon berhenti sebentar kalian mengerjakan pekerjaan kalian, ada yang ingin aku beritahu pada kalian semua, terutama untuk Nirmala."


Mereka semua menatap ke arah Nirmala.


" Hari ini adalah hari terakhir Nirmala bekerja di ruangan ini."


" Memangnya Nirmala mau ke mana pak?" tanya rekan kerja Nirmala.


" Kita masih bisa bertemu dengan Nirmala, tapi karena perintah dari Pak Bos, Nirmala harus menjadi sekretarisnya dan dia akan pindah ke lantai atas mulai besok dan Nirmala sudah tidak bekerja di ruangan ini lagi."


Mereka pun semua tersenyum, dan bertepuk tangan, Mereka berdiri dari duduknya dan memberi selamat pada Nirmala, Nirmala hanya tersenyum menyambut uluran tangan satu persatu dari mereka rekan kerjanya di ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2