Kau Lukis Permadani Cinta

Kau Lukis Permadani Cinta
Episode 25


__ADS_3

Saat didalam kamar Nirmala sangat bahagia sekali karena lelaki yang disukainya itu sudah bisa dilihatnya lagi.


" Ach! Aku lupa menanyakannya apakah dia tadi siang dia ada kekantor Satya Group? Aku beneran yakin kok kalau itu adalah dia, tapi kenapa dia memakai pakaian seformal itu ya? nanti aku akan menanyakannya, siapa tahu memang dia yang mungkin saja dia melamar pekerjaan disana." ucapnya tersenyum.


Neberapa menit dia merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya di samping Alya yang sudah terlelap itu ponselnya bergetar Dia kemudian melihat layar ponselnya tersebut ada nomor baru yang menghubunginya.


" Apakah ini nomornya Mas Reas?" gumamnya.


Nirmala ragu-ragu menjawab panggilan nomor yang tidak dikenal tersebut, kemudian dia meletakkan kembali ponselnya di atas meja kecil itu.


Beberapa detik kemudian panggilan itu pun bergetar lagi dengan si pemanggil dan nomor yang sama sesaat ia menatap nomor tersebut kemudian dia pun menjawab panggilan itu.


" Hallo..."


" Nirmala ini aku Reas, Kenapa kamu lama menjawab panggilanku.?"


" Oh Mas Reas, maaf Mas saya kira orang yang iseng menghubungi ke ponsel saya, karena saya pikir kalau Mas Reas yang menghubungi pasti akan mengasih chat pribadi dulu dengan nomor yang sama maafkan saya ya Mas."


Rendra tersenyum sembari menganggukkan kepalanya Walaupun Nirmala tidak melihat senyum dan anggukan kepalanya tersebut.


" Kamu nggak salah kok, seharusnya aku yang minta maaf padamu, karena aku lupa untuk mengasih chat pribadi padamu terlebih dahulu, Apakah Kamu mau tidur sekarang.?"


" Belum Mas."


" Bagaimana Alya? Apakah dia sudah tidur.?"


" Iya Alya baru aja tidur."

__ADS_1


" Kamu simpan ya nomor Mas ini kalau kamu merasa masih sakit yang sangat berlebihan kamu rasakan segera hubungi Mas."


" Iya Mas, Oh ya Mas saya boleh bertanya sesuatu.?"


" Boleh, Apa yang ingin kamu tanyakan.?"


" Tadi lupa saat kita bertemu saya menanyakan ini, Maaf tadi siang apakah Mas Reas ada ke kantornya Satya group tempat saya bekerja.?"


" Deg!" jantung Rendra seakan-akan berhenti mendengar pertanyaan dari Nirmala yang ada di seberang sana.


" Mas kamu masih di situ.?"


Rendra Tersentak...


" Oh iya Aku masih di sini, karena jaringannya agak sedikit error di tempatku, apa tadi yang mau kamu tanyakan denganku?" ucap Rendra pura-pura tidak mendengar pertanyaan dari Nirmala.


" Tidak ada aku kekantir Satya Group, aki tadi bekerja di tetangga ku,karena tetangga masih memerlukan ku untuk memperbaiki gentengnya, memang kenapa? Apakah ada yang mirip denganku? atau karena kamu kepikiran denganku ? jadi melihat orang yang seperti perawakanku jadi kamu anggap sebagai aku hehehe." ucapnya menggoda Nirmala dari telepon genggamnya itu.


" Mas Reas ini bisa-bisa aja bicaranya, tadi siang itu saya memang melihat mirip banget dengan kamu Mas, tapi pakaiannya sangat formalĀ  sekali memasuki lift menuju ke arah ruangan Bos, karena dia itu masuk ke dalam lift yang khusus pimpinan, awalnya sih saya kejar, saya panggil tapi dianya nggak menoleh, Ya untung saja dia nggak menoleh karena kalau seandainya dia menoleh mungkin saya malu karena bukan kamu Mas orangnya hehehe..." ucap Nirmala kembali.


" Oh gitu ya...ya udah, Kamu istirahat aja, kalau besok masih dalam keadaan sakit kamu nggak usah masuk dulu kerjanya izin aja dulu daripada nanti bertambah parah."


" Iya Mas." ucapnya tersenyum, walaupun senyumannya tidak dilihat oleh Rendra.


Kemudian pembicaraan itu pun terputus mereka masing-masing mengucapkan salam perpisahan di dalam pembicaraannya melalui ponsel pribadi masing-masing, Nirmala kemudian menaruh kembali ponselnya di tempatnya semula, Dia kemudian merebahkan tubuhnya kembali, Walaupun dia sedikit meringis karena masih terasa sakit di pinggangnya tersebut.


Sedangkan di rumah Rendra dia mengusap wajahnya dengan pelan dan membiarkan kedua tangannya masih nempel di hidungnya dan menutupi sebagian mulutnya dia menatap jauh keluar jendela rumahnya karena saat ini dia berada di dalam kamar pribadinya sedang duduk di sofa yang ada di kamarnya itu.

__ADS_1


" Rupanya Nirmala sudah melihat aku tadi siang Untung saja aku tidak mendengar dia memanggilku kalau seandainya aku mendengar panggilannya pasti aku akan berhenti dan penyamaranku selama ini pasti akan ketahuan, aku juga tidak tahu nantinya kalau seandainya dia mengetahui kalau aku adalah bosnya dan berbohong padanya tentang identitasku selama ini padanya, semoga saja dia tidak membenciku kalau seandainya dia mengetahui yang sebenarnya itu."


Pintu kamarnya pun diketuk dari luar dia menatap ke arah pintu tersebut berbarengan dengan lamunanya yang tersentak dia berdiri dan melangkah menuju ke arah pintu serta membukanya, terlihat wajah mungil dari Tara Rendra kemudian berjongkok dan memegang pundak lelaki kecil itu sembari berbicara.


" Kenapa kamu belum tidur Nak? besok kan kamu harus sekolah karena besok adalah hari pertama kamu sekolah setelah kamu keluar dari rumah sakit, kamu pasti akan segera bertemu dengan Alya, dia pasti merasa senang kalau kamu sudah masuk sekolah."


" Om Rendra bisa nggak besok setelah pulang sekolah Alya ke rumah kita biar bisa jadi temannya Tara, Tarakan kadang-kadang kesepian kalau di rumah Walaupun ada bibi dan paman di rumah ini, tapi mereka sibuk dengan kegiatan mereka sendiri, Tara kadang-kadang mainnya sendiri adanya sama Mbak Siti, Mbak Siti selalu aja kalah dalam bermain dengan Tara." ucapnya sembari menatap ke arah Rendra.


Mendengar ucapan Tara Rendra pun berpikir keras bagaimana caranya membawa Alya ke Rumahnya tanpa Nirmala curiga.


" Hmmmm...Sebaiknya Tara tidur aja Om akan pikirkan dulu karena Alya kan ada tantenya Om harus bicara dulu sama Tantenya kalau tantenya memperbolehkan baru Alya bisa kita ajak ke rumah ini."


Tara menganggukkan kepalanya, kemudian dia pun berlalu dari hadapan Omnya tersebut, Rendra hanya memandang kepergian sang keponakannya itu.


" Bagaimana caranya agar aku bisa membawa Alya besok ke sini, aku tidak ingin mengecewakan Tara untuk kedua kalinya, pertama saat di rumah sakit aku bisa berbohong agar dia tidak bisa bertemu dengan Alya, tapi ini aku tidak bisa lagi membohonginya kasihan dia, dia memang harus memiliki teman di rumah ini." ucapnya sembari melangkah masuk ke dalam kamarnya dan menutup kembali pintunya tersebut, dia kembali duduk di sofa yang ada di ruang pribadinya itu.


Dia kemudian menghubungi Fahmi dan dia berbicara pada Fahmi tentang keinginan Tara untuk membawa Alya ke rumahnya.


" Bagaimana caranya aku membawa Alya ke rumah ini, karena Tara menginginkannya.


Aku ingin minta pendapatmu." ucapnya pada Fahmi yang ada di seberang sana.


" Baiklah Pak Bos saya akan menjelaskannya pada Nirmala dia pasti tidak akan keberatan karena ini adalah permintaan Bos, lagi pula dia belum pernah melihat kalau Tara adalah keponakan Bos, saat di rumah sakit dia juga tidak mengetahui kalau Bos ada di samping ruangannya, saat saya keluar dari ruangannya aja saya tidak langsung masuk ke ruangan Tara saat dirawat, saya menghindari itu sampai dia tidak melihat kalau saya sebenarnya masuk kembali ke ruangan tempat Tara dirawat saat itu."


" Baiklah Kamu atur besok agar Alya bisa pulang sekolah sudah berada di rumah Ku dan pulangnya pun nanti Tara yang akan mengantarkan Alya, bilang dengan Nirmala agar dia tidak usah menjemput Alya biar pihak kita yang akan mengantarkan Alya pulang ke rumahnya." ucapnya pada Fahmi.


" Baiklah pak Bos, saya akan berbicara dengan Nirmala." ucapnya.

__ADS_1


Kemudian pembicaraan itu pun terputus kembali Rendra meletakkan ponselnya di meja yang ada di hadapannya itu, dia menghela nafasnya dengan panjang dia berdiri dan melangkah menuju tempat tidurnya, Dia kemudian merebahkan tubuhnya dan menikmati alam mimpinya melepaskan lelah yang seharian dia lakukan untuk kembali besok mengerjakan pekerjaannya kembali.


__ADS_2