Kau Lukis Permadani Cinta

Kau Lukis Permadani Cinta
Episode 62


__ADS_3

Episode 62🌹


" Silakan diminum bapak, ibu dan Masnya." ucap Ayah Sasa sembari tersenyum dianggukan oleh mereka bertiga kemudian menikmati minuman teh hangat yang sudah dibuat oleh Sasa.


" Oh ya pak, Maaf mungkin Bapak merasa heran atas kedatangan kami ke rumah ini, karena ada sesuatu yang ingin saya bicarakan sama bapak dan ibu, tentang kedatangan kami yang ingin sekali bertemu dengan kedua orang tua Sasa." ucap pak Jefri memulai bicaranya.


" Iya Pak, sebenarnya ada apa? jujur saya merasa heran juga kedatangan tamu dari kota, Maaf ya Pak, sebenarnya baru kali ini saya melihat Bapak dan Ibu serta Masnya ini." ucap Ayahnya Sasa tersenyum.


Andrian tersenyum sembari berkata pada ayah Sasa tersebut.


" Saya Adrian Pak, saya kekasihnya Sasa."


Ayahnya Sasa pun terkejut mendengar ucapan Adrian, Dia kemudian menatap ke arah sang anak seakan akan meminta penjelasan dari anaknya tersebut.


Sasa hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


" Begini Pak, saya pak Jefri dan ini istri saya bu Warna, Saya  dan keluarga datang ke sini niatnya kami ingin meminta Sasa sebagai menantu kami."


Ayah dan ibu Sasa lagi-lagi terkejut mendengar ucapan dari Pak Jefri, Mereka kemudian saling pandang,Mereka pun tersenyum satu sama lain terlihat rona bahagia di wajahnya.


" Bapak tidak bercanda kan?" tanyanya menatap ke arah pak Jefri.


" Tidak Pak, kami tidak bercanda, ini beneran Kalau kami ingin meminta Sasa sebagai menantu kami."


" Jujur Pak kami tidak menyangka kalau anak kami ini sudah memiliki calon sendiri, karena selama kami berada di kota menemaninya dia tidak pernah sekalipun mengenalkan kepada kami seorang lelaki yang hanya dikenalkannya sahabatnya saja yang bernama Nirmala, tidak ada selain itu, makanya kami terkejut antara percaya dan tidak dengan kedatangan kalian ke sini untuk meminta dia sebagai menantu kalian, kalau saya pribadi bersama istri saya, Saya setuju tapi kembali lagi pada Sasa, apakah dia mau menerima lamaran yang diajukan oleh bapak dan ibu.." ucap Pak Rusdi sembari tersenyum.


" Bagaimana Nak, apakah kamu menerimanya?" tanya Bu Wati sang ibu.

__ADS_1


Dengan senyumannya Sasa menjawab.


" Kalau Bapak dan Ibu setuju, Sasa juga setuju, insya Allah dengan bersama Mas Adrian Sasa akan menemukan kebahagiaan yang tidak akan pernah habisnya." ucapnya sembari mengukir senyum di wajahnya menatap ke arah Adrian.


Adrian kemudian mengusap wajahnya sembari mengucap syukur karena kedatangan mereka ke rumah keluarga Sasa diterima dengan baik dan lamaran itu pun berjalan dengan lancar, Mereka kemudian membicarakan tanggal dan hari pernikahan yang akan dilaksanakan nantinya, Karena Mereka menginginkan pernikahan Sasa dan Adrian dipercepat supaya tidak ada gonjang-ganjing di luar sana yang berpikiran negatif tentang hubungan mereka.


" Kalau boleh saya meminta pernikahan anak saya ini, karena anak saya ini satu-satunya bagi saya, bolehkah pernikahan ini dilaksanakan di kampung ini di rumah neneknya ini." ucap pak Rusdi.


" Saya senang sekali karena Bapak memintanya seperti itu, saya sangat setuju sekali, pernikahan diadakan di kampung ini,  bagaimana menurut kamu Andrian.?" tanya Pak Jefri pada sang anak.


" Adrian ngikut aja Yah, Apa saran kalian semua, karena Adrian menginginkan yang terbaik untuk pernikahan Adrian nantinya." ucapnya sembari tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Mereka mulai bicarakan kembali rencana tersebut karena sudah menemui kesepakatan bahkan hari dan tanggal pernikahan pun sudah ditetapkan, tempatnya pun juga sudah ditentukan mereka tidak menikah di gedung yang besar ataupun di rumah yang mewah melainkan mereka akan melaksanakan pernikahan mereka di kampung halaman Sasa tempat kelahiran Sasa, canda dan tawa pun tercipta di antara mereka kemudian ibu Warna pun berbicara.


" Bolehkah kami menjenguk Neneknya Sasa, Siapa tahu dengan kabar Ini Neneknya sangat bahagia sekali."


" Oh tidak usah, Bagaimana kalau kita aja yang berkunjung ke tempat saudaranya ibu dan biar sekalian kami melihat keadaan Nenek di sana,  siapa tahu dengan kedatangan cucunya dia akan merasa bahagia dan akan segera sembuh." ucap Ibu Warna dianggukan oleh mereka kemudian mereka pun bersiap-siap untuk menuju ke tempat pamannya Sasa di mana sang Nenek berada.


Saat mereka hendak memasuki mobilnya Pak Rusdi pun berkata.


" Kita jalan kaki aja Pak, karena tidak jauh dari rumah saya tempat saudara ipar saya itu berada."


" Oh begitu."  ucap mereka tersenyum Kemudian mereka pun melangkah menuju ke arah rumah sang Paman untuk menemui Nenek dan keluarga yang lainnya dan memberikan berita tentang hari dan tanggal pernikahan Sasa dan Adrian.


*****


Di kota tepatnya di rumah kediaman Rendra.

__ADS_1


Rendra yang duduk di teras belakang itu pun mengambil ponselnya ia kemudian menghubungi Fahmi beberapa saat ponsel Rendra menghubungi tersebut terdengar suara dari seberang sana.


" Iya Pak, Ada apa.?"


" Kamu handle kantor ya karena saya tidak masuk lagi saat ini."


" Oh iya Pak siap." ucapnya.


" Oh ya ada satu yang ingin saya bicarakan denganmu, tentang izin Nirmala dia besok mau masuk kantor dan bilang pada HRD kalau dia hanya izin satu hari aja tidak usah mengeluarkan surat izinnya." ucapnya.


" Baik Pak, saya akan bilang ke pihak HRD kebetulan saya belum mengatakan pada mereka tentang izinnya Mbak Nirmala."


" Baiklah kalau begitu." ucapnya sembari memutus bicaranya tersebut, Rendra kemudian meletakkan kembali ponselnya di meja di samping kursi yang ia duduki saat ini.


Rendra menghela nafasnya dengan panjang, dia kemudian menatap pohon jeruk yang ada di depannya itu yang sudah menampakkan beberapa buahnya yang sangat besar sembari dia bergumam di dalam hatinya.


" Ya Tuhan, aku sangat bersyukur sekali mendapatkan seorang wanita seperti Nirmala, karena dia mau menerima keadaanku saat ini, di saat masa laluku hadir kembali, Dia sangat pengertian menanggapi semuanya itu." Gumamnya sembari mengusap wajahnya dengan kasar dan membenarkan posisi duduknya Dia kemudian melangkah menuju ke arah pohon jeruk tersebut dia pun mengambil salah satu dari buahnya dan membukanya,dia mencicipi salah satu buah tanaman keisengan tangannya tersebut.


" Hem...Ternyata buah ini manis juga ya, seperti hidupku sekarang terasa manis, setelah kehadiran Nirmala." ucapnya sembari tersenyum sendiri dia pun kemudian dikejutkan oleh Tara dan Alya yang ikut turun menuju ke arahnya.


" Om Rendra Kenapa makan jeruknya sambil tersenyum sih, Tara bisa nggak minta satu biar Tara bisa memakannya dan Tara bisa tersenyum juga seperti Om Rendra." ucapnya sembari menatap ke arah Omnya tersebut karena Rendra ketangkap basah sedang menikmati buah jeruk sambil tersenyum.


" Kok bisa tersenyum sih, memang rasa kecutnya jeruk itu harus mengekspresikan wajah kita untuk senyum ya?" ucap Alya.


" Iya juga nih Om Rendra jeruk itukan kecut rasanya kan, masih mentah lagi, lihat aja kulitnya berwarna hijau, kalau jeruk yang manis itu warnanya kuning."


" Kalian berdua ini selalu komen aja sih, nih buahnya rasain manis apa kecut."  ucap renda sembari terkekeh, dia pun kemudian mengambil dua buah jeruk tersebut dan memberikannya pada Alya dan Tara ,Alya dan Tara pun kemudian membuka jeruk tersebut dan memakannya, mereka berdua pun Saling pandang kemudian dia tertawa dengan lepas membuat Rendra heran.

__ADS_1


" Kalau Om Rendra makan jeruk tersenyum, kami berdua makan jeruk tertawa." ucapnya kembali berlari masuk ke dalam sambil membawa buah jeruk yang diberikan oleh Rendra, Rendra pun hanya menggelengkan kepalanya menatap kepergian dua bocah yang sangat lucu dan sangat berarti baginya dan sangat disayanginya itu, dia kembali duduk di tempatnya sambil menikmati buah jeruk yang sudah ada di tangannya itu.


__ADS_2