
Tepat jam pulang kantor mereka berdua kemudian keluar dari ruangan tersebut mereka berdua melangkah menuju ke arah lift untuk membawa mereka ke lantai lobi kantor itu sesaat Nirmala berdiri di depan lift sambil menunggu pintu lift terbuka matanya menatap ke arah lift yang khusus untuk pimpinan lagi-lagi Sasa memergoki Nirmala yang menatap ke arah lift khusus pimpinan itu membuat tanda tanya besar di kepala Sasa.
" Sebenarnya ini ada apa sih dengan Nirmala, Kenapa dia selalu melihat ke arah lift itu? semenjak dia keluar dari ruangan rapat Dia sedikit berubah ada sesuatu yang disembunyikannya dariku kenapa Nirmala bisa berubah secepat ini, Ada apa sebenarnya di dalam ruangan rapat saat itu, apakah dia dipermalukan atau dia dimarahi Bos di tengah para anggota rapat.?" pikir Sasa karena dia belum mengetahui yang sebenarnya, setelah pintu lift terbuka mereka berdua pun masuk ke dalam lift tersebut dan lift itu membawa mereka turun ke lantai Lobby keluar dari lift bertepatan dengan Rendra yang memasuki pintu lift menuju ke lantai atas, mereka berdua Saling pandang sesaat, namun pintu lift yang di depan Rendra terbuka dan Rendra pun langsung masuk ke dalam dan Nirmala melangkah menuju ke arah luar sembari dipandangi oleh Rendra yang perlahan-lahan pintu lift khusus pimpinan itu menutup secara keseluruhan.
Desiran di dalam tubuh Nirmala pun seakan-akan bergejolak penuh tanda tanya di kepalanya, kenapa orang yang sejak awal dikenalnya dari pertama kali saat bertemu sangat membuat dia merasa nyaman namun kenyataannya dia berubah drastis dalam pikiran Nirmala.
" Kenapa Bos tidak bicara langsung dengan Nirmala, dia pasti bertanya-tanya kenapa Bos tidak mau bicara lagi dengannya, saat dia berada di ruangan rapat setelah semuanya keluar dia pun langsung terdiam tidak ada sepatah kata dari dia, dia menutupi rasa yang aneh di dirinya itu dengan mengatakan kalau dia merasa gugup dalam menghadapi rapat itu." ucap Fahmi yang bersama dengan Rendra di dalam lift tersebut.
" Biarkan saja!" ucap Rendra singkat menanggapi ucapan dari Fahmi.
Fahmi menghela nafas panjangnya, dia pun terdiam, dia tidak memahami dengan sikap Bosnya itu dan dia juga tidak ingin mencampuri urusan Bosnya tersebut.
" Maafkan aku Nirmala, aku memang tidak ingin bicara denganmu saat ini." gumamnya dalam hati sambil menunggu pintu lift itu terbuka, setelah pintu itu terbuka dia langsung keluar menuju ke arah ruangannya diikuti Fahmi, karena Fahmi membawa banyak dokumen yang diperlukan oleh Pak Bosnya itu, Fahmi mengantarkan dokumen tersebut sampai ke dalam ruangannya dan menyusunnya di atas meja kerjanya, setelah itu dia pun berpamitan keluar dari ruangan Pak Bosnya itu, Rendra kemudian menghentakkan tubuhnya di kursi kerjanya dia melonggarkan kancing jasnya dan membenarkan posisi dasi yang dipakainya itu.
Lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi sembari menatap ke langit-langit ruangan kerjanya itu, dia menghela nafasnya dengan pelan tersungging senyum di sudut bibirnya.
" Dengan wajah yang sedih seperti itu dia semakin cantik di mataku, setelah aku jujur dengannya aku ingin mengatakan semuanya padanya." ucapnya kemudian Dia pun melihat jam yang melingkar di tangannya tersebut jam itu menunjukkan pukul 04.30 Dia kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi nomor telepon rumahnya.
Setelah berbicara dengan orang rumah dia pun kemudian mematikan ponselnya tersebut dan menaruhnya di dalam saku celananya, dia Lalu berdiri dan mengambil kunci kontak mobilnya yang berada di atas meja kerjanya tersebut dia langsung melangkah meninggalkan ruangannya itu menuju ke arah lobby.
__ADS_1
Beberapa saat dia pun kemudian meninggalkan kantornya itu dengan melajukan kendaraannya menuju ke arah rumahnya.
Dengan semangat dan rasa ingin cepat bertemu dengan Nirmala di rumahnya dia pun sudah sampai di halaman rumah pribadinya tersebut, mobilnya terparkir dengan rapi Rendra melangkah menuju ke arah dalam dengan berlari kecil Tara langsung menghampiri dirinya, Alya yang ikut berlari juga menemui Rendra itu terkejut. Awalnya dia merasa senang karena Tara ingin memperkenalkan Omnya padanya namun dia langsung berhenti berdiri tegap menatap ke arah Rendra Rendra tersenyum dengan Alya namun Alya tidak memberikan senyumnya pada Rendra, Alya seolah-olah terhipnotis dan tidak bisa bergerak sebagaimana mestinya, karena dia melihat wajah Rendra wajah yang dikenalnya sebagai teman tantenya yang bernama Reas.
" Kenapa Alya? kok kamu di situ, sini dekat Om, kamu tidak mengenali Om?" tanya Rendra pada Alya, Alya masih di posisinya dia tidak bergeming sama sekali berdiri tanpa gerakan sedikitpun seperti patung pajangan.
" Om Rendra mengenal Alya.?" tanya Tara.
Rendra menganggukkan kepalanya, dia pun kemudian berjongkok menghadap ke arah Tara sembari berbicara.
" Om kenal dengan Alya, Om adalah temannya Tante Alya."
" Tinggal di rumah kita?" tanya Rendra.
Tara menganggukkan kepalanya.
" Biar nggak repot-repot lagi Alya bolak-balik ke rumah kita, kalau dia bisa tinggal di sini bersama dengan Tara, Tarakan bisa main tiap hari pagi siang malam sore kan selalu sama Alya, berangkat sekolah sama Alya, sarapan pagi sama Alya, bawa bekalnya juga sama, boleh kan Om mereka tinggal di sini." ucap Tara sembari menatap ke arah Rendra.
Rendra tersenyum dan menganggukkan kepalanya, tapi posisi Alya masih berdiri di tempatnya dia tidak bergeming sama sekali kemudian Rendra melangkah mendekati Alya dia berjongkok di hadapan Alya.
__ADS_1
" Alya Nggak mengenali Om,? Om adalah temannya Tante Alya yang pernah berkunjung ke rumah Alya, Maafkan Om ya Alya, om tidak bicara jujur sama Alya, Kalau Om adalah Om Rendra atau Om Reas, Alya Nggak marah kan sama Om? Om Reas dan Om Rendra itu satu orang Nak." ucap Rendra tersenyum.
Dengan refleks Alya menganggukan kepalanya.
" Beneran Alya nggak marah sama Om?"
Lagi-lagi dia menganggukkan kepalanya.
" Kalau Alya nggak marah sama Om kenapa Alya diam.?"
Alya menghela nafasnya dengan panjang.
" Alya nggak marah kok Om, cuma Alya kaget aja, Alya tidaknya menyangka kalau Om Reas ini adalah Omnya Tara dan Om juga temannya Tante Alya."
Tara pun kemudian mendekati Alya
" Alya kamu sebentar lagi akan tinggal di rumahku, ini bukan jadi rumah aku saja tapi melainkan rumah kamu juga, nanti Om ku akan bicara dengan tantemu, Om Rendra setuju kalau kalian berdua tinggal di rumah ini, bagaimana denganmu?" ucap Tara sembari meraih tangan Alya dan mereka berdua pun melangkah meninggalkan Rendra yang masih berjongkok tersebut Alya dan Tara pun duduk di sofa sembari berbicara, Rendra kemudian berdiri dia tersenyum melihat kedua anak kecil tersebut berbicara layaknya sepasang saudara yang tidak bisa dipisahkan.
" Keinginanmu akan Om kabulkan Tara, Om akan berbicara dengan tante Alya cepat atau lambat mereka berdua akan tinggal di sini dan akan menjadi keluarga kita." gumamnya sembari tersenyum dan melangkah menuju ke lantai atas dimana kamarnya berada untuk membersihkan dirinya karena seharian dia bekerja.
__ADS_1