
Di dalam mobil...
Ponsel Nirmala pun berbunyi Dia kemudian menatap ponsel yang ada di tangannya itu tertera si pemanggil Sasa.
Sebelum Nirmala mengucapkan kata halo, Sasa sudah berbicara dengan panjang lebar.
" Nirmala, Kamu di mana sekarang? kenapa sampai sekarang kamu nggak balik lagi ke ruangan kita, sebentar lagi kan jam pulang kantor, kita pulang bareng ya, karena aku ingin ke rumah kamu." ucapnya.
" Aku sedang di luar bersama dengan Pak Rendra."
" Apa? kamu keluar sama Pak Rendra? memang kalian berdua mau ke mana.?"
Nirmala menoleh sesaat ke arah Rendra.
Kemudian Dia menjawab pertanyaan dari Sasa.
" Nanti aja aku ceritakan, aku masih di dalam mobil menuju ke arah rumah Pak Rendra, Aku merasa khawatir karena di rumah itu kan adanya Alya, aku takut terjadi apa-apa dengan Alya."
" Memangnya kenapa dengan Alya?"
" Aku juga tidak tahu, udah dulu ya nanti aku hubungi lagi." ucap Nirmala karena dia juga merasa khawatir dengan Alya semenjak Rendra menjawab panggilan dari seseorang tersebut dia pun tidak menanyakan kembali apa yang terjadi.
Nirmala pun menutup sambungan bicaranya dengan Sasa, kemudian dia menoleh ke arah Rendra sembari berucap.
" Sebenarnya apa yang terjadi? kenapa kamu ngajak aku keluar dari kantor, dan pulang kerumah?"
" Orang rumah menghubungiku, katanya ada terjadi sesuatu dengan mereka berdua."
" Hah? terjadi sesuatu dengan mereka berdua ?Apa yang terjadi ?" tanya Nirmala sembari menetap ke arah Rendra.
" Aku juga tidak tahu karena yang menghubungi terlihat panik sekali aku tidak bertanya lagi "
" Aduh! ada apa yang terjadi dengan Alya? Ya Tuhan semoga Alya dan Tara tidak apa-apa." ucapnya.
Rendra menoleh sesaat ke arah Nirmala, kemudian dia fokus kembali dengan kuda besinya tersebut, beberapa saat Nirmala terombang-ambing di dalam kuda besinya Rendra, akhirnya mereka pun sampai di rumah pribadi Rendra, Nirmala terkejut melihat rumah Rendra yang sangat besar bagaikan istana bagi Nirmala, karena dia tidak pernah melihat rumah sebagus dan semewah ini, walaupun sebenarnya rumah bagus dan mewah pernah dia lihat tapi tidak seperti rumahnya Rendra.
Mereka berdua turun dari mobil dengan melangkah tergesa-gesa, Rendra meraih tangan Nirmala dan membawanya ke dalam rumah tersebut, sesampainya di pintu utama rumah itu pun dia disambut oleh salah satu asisten rumah tangganya.
" Di mana mereka berdua?" tanya Rendra.
" Mereka ada di lantai atas dan berada di dalam kamarnya, mereka berteriak-teriak di dalam kamar tersebut."
Rendra kemudian melangkah menuju ke lantai atas dia menuju ke arah kamar Rendra.
Rendra pun mengetuk pintu kamar Tara sembari memanggil Tara dan Alya.
" Tara, Alya buka pintunya."
Namun dari dalam tidak ada sahutan, kemudian terdengar teriakan dari Tara dan Alya.
" Tolong! jangan sakiti kami! Tante, Om, tolong kami!" ucap mereka terdengar tangisan dari mereka berdua membuat kepanikan Rendra dan Nirmala.
" Bagaimana ini? apa yang terjadi di dalam sana, Ya Tuhan semoga Alya dan Tara tidak apa-apa." ucap Nirmala.
" Plak!" terdengar gamparan di tubuh seseorang membuat suara di antara keduanya berteriak.
" Diam!! jangan bersuara!" terdengar suara orang dewasa yang membentak kedua anak kecil tersebut di nada suaranya itu terlihat sangat besar sekali, Rendra pun tidak mengenalinya.
" Ampun! Ampun! Ampuni kami." ucapnya sembari terdengar tangisan mereka berdua.
" Siapa ada di dalam! Kenapa kalian sampai lengah seperti ini, sampai ada orang lain masuk ke dalam rumah ini."
" Maafkan kami pak, kami tidak tahu, awalnya Den Tara dan Nona Alya bermain di teras, kami tidak melihat ada orang yang masuk ke dalam rumah ini, lagi pula di depan masih ada mang Dadang dan yang lainnya." terang salah satu Art, kemudian terlihat cairan merah keluar dari bawah pintu kamar Tara tersebut, membuat kepanikan Nirmala dia pun kemudian berteriak dengan keras sembari memanggil nama Alya, karena mereka berdua sudah tidak ada suaranya lagi, Nirmala pun kemudian berteriak sambil mengetuk pintu itu dengan kuat, karena kepanikan itu Rendra pun tidak berpikir untuk melapor ke pihak yang berwajib, karena dia tidak ingin terjadi apa-apa dengan kedua bocah kecil yang ada di kamar tersebut.
" Di mana kunci serep kamar ini?" tanya Rendra pada salah satu Asisten Rumah Tangganya itu, kemudian dia pun berlari meninggalkan mereka untuk mengambil kunci serep kamar tersebut, beberapa saat kemudian kunci itu pun ditemukannya dan langsung dibuka oleh Rendra.
Saat pintu terbuka dengan lebar Alya dan Tara tersenyum sembari bersuara.
" Akhirnya Tante dan Om datang juga, Hore..." ucapnya di dalam kamar sembari menghambur dalam pelukan Om dan Tantenya tersebut, Sedangkan Mang Dadang yang ada di ruangan itu pun tertunduk.
" Maafkan saya Tuan Muda, karena ini adalah permintaan dari Den Tara, agar saya membantu sandiwaranya tersebut, saya sebenarnya sudah menolak takut Tuan Muda marah pada saya, tapi karena permintaan kedua anak kecil ini membuat saya tidak bisa berkutik lagi dan saya pun mengiyakan saja, Maafkan saya tuan dan berbunyi sebuah gamparan itu adalah palsu Tuan muda, tubuh Den Tara dan Nona Alya baik-baik saja." terangnya.
" Sudahlah Mang Dadang, tidak apa-apa kembalilah bekerja." ucapnya sembari tersenyum dan menepuk pundak Mang Dadang dengan pelan, Mang Dadang pun dan yang lainnya berpamitan menuju ke lantai bawah dan melanjutkan kembali pekerjaan mereka, Rendra kemudian menggendong Tara begitu juga Nirmala menggendong Alya, Mereka kemudian duduk di sofa yang ada di kamarnya Tara tersebut.
__ADS_1
" Kenapa Tara lakukan seperti ini? membuat Om sangat takut sekali.?"
" Iya, Alya Kenapa Alya juga berbuat seperti itu? kalau terjadi apa-apa sama Tante di jalan gimana coba? Tante kan terkejut jadinya mendengar Alya dan Tara berada di dalam kamar sambil berteriak-teriak seperti itu."
" Ini semua adalah idenya Tara Alya sih ikut aja, karena Tarakan temannya Alya, apapun yang dikatakan teman Alya selagi itu untuk Tante dan Om ketahui bagi Alya sih nggak masalah." ucapnya santai sembari tertawa.
" Apakah benar ini idenya Tara.?" tanya Rendra.
Tara menganggukkan kepalanya sembari tertawa pelan.
" Kenapa Tara lakukan ini untuk apa?" tanya Rendra sembari menatap ke arah keponakan tersayangnya tersebut.
" Untuk Tantenya Alya setuju tinggal di rumah kita ini." ucap polosnya.
Nirmala dan Rendra pun terkejut Dia kemudian saling tatap.
Hening! di kamar tersebut setelah Tara berucap seperti itu, mereka larut dalam keheningan sesaat, kemudian Rendra pun berbicara kembali dengan Tara untuk mengalihkan pertanyaannya tersebut.
" Bagaimana kalian bisa membuat cairan merah seperti itu?" tanya Rendra.
Tara oun kemudian turun dari pangkuan sang Om, menuju ke arah tempat meja belajarnya berada dan mengambil salah satu toples berisikan sesuatu, Tara pun kemudian membuka toples tersebut dan dia mengambil kertas berwarna merah pekat.
" Dari kertas warna ini dengan bantuan Mang Dadang Akhirnya bisa menjadi cairan berwarna merah seperti itu." ucapnya sembari menunjuk ke arah pintu yang sedang dibersihkan oleh salah satu Asisten Rumah Tangga tersebut.
" Bagaimana? apakah Tante Nirmala mau menyetujui tinggal di rumah ini?" tanya Tara kembali Rendra dan Nirmala lagi-lagi terkejut Rendra berharap Tara tidak mengingat lagi pertanyaannya, tapi ternyata pertanyaan itu masih tetap diulangnya.
Nirmala bingung untuk menjawab iya dan tidaknya.
" Sekarang Tara dan Alya bermain dulu ya, Om mau bicara sama Tante Nirmala." ucap Rendra dianggukan oleh Tara dan Alya, mereka berdua pun kemudian bermain kembali di ruangan tersebut, Rendra kemudian mendekati Nirmala dan duduk di samping Nirmala.
" Bagaimana menurutmu? Apakah kamu mau tinggal di sini sesuai keinginan keponakan kita berdua.?"
Nirmala hanya menghela nafasnya dengan pelan.
" Kalau aku nggak masalah mau tinggal di sini ataupun di mana saja, tapi aku belum siap untuk diketahui oleh rekan kerja di kantor setidaknya kita pasti akan pulang pergi bersama, apalagi tugasku tidak berhubungan denganmu setiap hari dan pasti membuat mereka bertanya-tanya kalau melihat aku selalu bersama denganmu."
" Mudah aja agar kamu selalu ada di sampingku, baik dalam satu kerjaan ataupun pulang pergi bersama."
" Kamu jadi sekretarisku dan tempatmu ada di depan ruanganku."
" Apa? jadi sekretaris kamu.?"
Rendra menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
" Aku tidak mau jadi sekretaris kamu."
" Kenapa..."
" Mana ada seorang penerjemah menjadi seorang sekretaris, naik jabatannya beberapa tingkat lebih tinggi, Apa kata mereka nantinya, pasti ada rasa keirian di antara rekan kerja Aku di kantor Mas."
" Kamu tidak usah khawatir, itu urusan Fahmi yang akan mengaturnya, dan Fahmi juga nanti yang akan berbicara semuanya pada kepala bagian masing-masing dan mereka juga yang akan menjelaskan kepada anggota mereka nantinya."
" Tapi kan sekretaris kamu sudah banyak."
" Iya, aku memang banyak memiliki beberapa sekretaris lebih dari satu, karena aku memilih beberapa sekretaris untuk memiliki tugas tersendiri, jadi tidak terlalu fokus satu sekretaris saja, tapi kalau kamu menjadi sekretarisku nanti aku akan fokus dengan kamu aja." ucapnya sembari tersenyum dan menyentuh pelan daku Nirmala.
Nirmala tersenyum malu-malu mendengar ucapan dari Rendra.
" Bagaimana menurutmu? Apakah kamu mau? hanya itu jalan satu-satunya sebelum kita menikah, jadi mempermudahkan aku pulang pergi bersama denganmu."
" Aku jadi bingung."
" Apa yang kamu bingungkan? kamu mau kejadian yang baru aja membuat kita mati berdiri ini terulang beneran?"
"Nggak-Nggak! aku nggak mau karena hanya Alya yang aku miliki sekarang."
" Hanya Alya...?" ucap Rendra sembari menatap Nirmala dengan ekspresi lucunya.
" Iya! Jawab polos Nirmala.
" Beneran nih, hanya Alya tidak ada yang lain.?"
Nirmala baru menyadarinya dengan ucapan Rendra Barusan.
__ADS_1
Dia tersenyum dan merubah posisi duduknya menghadap ke arah Rendra.
" Maksud aku, keluarga aku hanya yang aku miliki satu-satunya hanya Alya, kalau ada di hati sih sebenarnya kamu dan Tara." ucap Nirmala tersenyum sembari menatap lekat ke arah Rendra.
" Hampir saja Aku merajuk." ucapnya terkekeh.
" Jadikan kamu menjadi sekretarisku yang kesekian, agar kita bisa sama-sama."
" Baiklah, aku hanya bisa mengikuti perintah kamu, karena aku tidak ingin kehilangan keponakan tersayang ku." ucapnya sembari tersenyum kemudian mereka berdua pun mendekati Alya dan Tara.
Tara kemudian menagih janji pada sang Om dan sang tantenya itu.
" Bagaimana? apakah Tante Nirmala mau menyetujui tinggal di rumah ini?" tanya Tara seraya menatap ke arah Nirmala dan Rendra secara bergantian.
Nirmala pun menganggukkan kepalanya membuat Tara dan Alya merasa senang, mereka pun langsung berdiri dan masing-masing memeluk Om dan tantenya tersebut, saling bertukaran, Tara memeluk Nirmala dan Alya memeluk Rendra, terlihat kebahagiaan di bening bola mata kedua bocah tersebut, melihat Nirmala mengangguk karena sudah menyetujui keinginan Tara.
Setelah mereka puas memeluk Om dan tantenya tersebut Tara pun kemudian berbicara kembali pada mereka berdua.
" Sekarang aja ya tinggal di sini, nanti Om Rendra yang membawa barang Tante Nirmala ke rumah ini, atau Tante Nirmala nggak usah membawa barang yang ada di rumah Tante di sana, biar Om Rendra aja yang membelikan semua keperluan Tante." ucapnya dengan polosnya membuat Nirmala tertawa pelan, Begitu juga dengan Rendra yang hanya pasrah mendengar ucapan sang keponakan tersebut.
" Bagaimana Om? Apakah Om bersedia membelikan semua keperluan Tante Nirmala dan Alya selama mereka tinggal di rumah ini? agar mereka tidak mengambil lagi barang mereka yang ada di rumah mereka itu, karena memakan waktu yang cukup lama kalau seandainya barang itu diambil kembali, biarkan saja barang itu berada di rumah tersebut." ucapnya dengan nada lucunya dia memerintah sang Om.
" Siap Bos kecil! saya akan melaksanakan perintah Bos kecil!" ucap Rendra sembari tersenyum.
Rendra pun kemudian merangkul sang keponakan dengan penuh kasih dan sayang, kemudian mereka berdua pun keluar dari kamar Tara.
Rendra kemudian melihat jam yang melingkar di tangannya sudah menunjukkan pukul 04.30 sore.
" Kayaknya kita tidak bisa lagi ke kantor karena ini sudah waktunya jam pulang kantor."
" Tapi tasku berada di kantor."
" Kamu telepon aja Sasa agar membawakannya ke rumah ini."
" Ke rumah ini? Apa kamu tidak keberatan kalau Sasa ke rumah kamu ini.?"
Rendra menggelengkan kepalanya.
" Aku tidak keberatan, karena aku tahu Sasa adalah sahabat Kamu semenjak kamu bekerja di kantorku, Kamu adalah calon Nyonya di rumah ini, sahabat kamu adalah sahabat aku juga." ucapnya.
Nirmala kemudian tersenyum dan menganggukkan kepalanya, lalu dia mengambil ponselnya yang berada di atas meja, saat dia datang ke rumah Rendra tadi dia langsung meletakkan ponselnya di atas meja kecil yang ada di depan ruangan kamar Tara.
Dia kemudian menghubungi Sasa melalui sambungan telepon pribadinya itu.
Beberapa menit kemudian sambungan itu pun tersambung.
" Halo Sa, kamu berada di mana sekarang.?"
" Aku di kantinnya Mbak Ipeh, nungguin kamu, Aku kan udah bilang Aku mau ke rumah kamu hari ini, Aku mau mendengar cerita kamu."
" Aku bisa minta tolong sama kamu nggak?"
" Tolong apa?"
" Kamu bisa nggak membawakan tasku yang ada di dalam ruangan.?"
" Tasya kamu sudah sama Aku, terus Aku mau mengantarkan tas ini ke mana? apa langsung ke rumah kamu.?"
" Tidak! jangan ke rumah, tapi kamu mengantarnya ke rumah Pak Rendra."
" Apa? ke rumah Pak Rendra...?"
" Jangan keras-keras Sa, nanti kedengaran orang, siapa tahu di kantinnya Mbak ipah itu banyak mata yang berterbangan."
" Ups! maaf.." ucap Sasa sembari menengok kiri dan kanan ternyata tidak ada siapapun di sana.
" Kamu beneran ada di tempat Pak Rendra.?"
" Iya... aku berada di tempat Pak Rendra, sekarang antarkan ya nanti aku kirim lokasinya."
Kemudian mereka berdua pun mengakhiri sambungan bicaranya, beberapa saat kemudian terlihat chat pribadinya memberikan notif kalau Nirmala sudah mengirimkan di mana alamat rumah Rendra pada Sasa.
Kemudian Sasa pun berpamitan dengan Mbak Ipeh, dia melajukan kendaraan pribadinya itu pun menuju ke arah tempat yang dituju yaitu rumah Pak bosnya tersebut.
__ADS_1