
Tara menghela nafasnya dengan pelan, dia malingkan wajahnya dari Omnya tersebut.
" Hey...kenapa seperti itu?"
" Tara mau istirahat." ucapnya sembari memejamkan matanya.
" Alya itu dekat kok disini..."
Tara spontan membuka matanya dan menatap kearah Rendra.
" Alya berada dirumah sakit ini, dan sedang dirawat disini "
" Hah? dirawat? Alya sakit Om?"
" Iya sayang...Alya sakit, dia dirawat diruangan sebelah."
" Tara ingin jenguk Alya."
" Alya belum bisa dijenguk." ucapnya sembari berbohong pada Tara, karena melihat kondisi Tara yang belum boleh terlalu banyak gerak itu, mengharuskannya beristirahat ditempat tidur dengan total.
Tara hanya menganggukkan kepalanya.
Ponsel Rendra berbunyi membuat mereka berdua menatap kearah ponsel yang ada ditangan Rendra.
Rendra dengan cepat menjawab panggilan tersebut yang ternyata dari Fahmi.
" Ya Fahmi..."
" Ada yang mau saya laporkan pak."
" Tentang apa?"
__ADS_1
" Tentang masalah pemotongan gajih karyawan yang tidak tetap termasuk Nirmala."
" Apakah kamu sudah mengetahuinya?"
" Bolehkah saya kerumah sakit biar kita bisa bicaranya."
" Nggak usah biar saya yang kekantor sekarang, kamu masih dikantorkan?"
" Iya pak, saya masih dikantor."
" Ya sudah tunggu saya disana." ucapnya sembari memutus sambungan bicaranya tersebut dan dia pun menghubungi Mbak Siti pengasuh Tara agar menjaga Rendra sementara di rumah sakit karena dia ada keperluan di luar, Beberapa saat dia menunggu akhirnya Mbak Siti pun datang, setelah Dia memberikan pesan pada Mbak Siti agar tidak mengatakan kepada keluarga pasien sebelah bila sewaktu-waktu bertanya yaitu Nirmala tentang dirinya tersebut yang sebenarnya adalah pemilik perusahaan di mana tempat Nirmala bekerja, dengan anggukan Mbak Siti pun mengiyakan dan mematuhi perintah Bosnya itu, Rendra kemudian melangkah meninggalkan ruangan Tara, menuju ke arah mobil pribadinya dan langsung meninggalkan rumah sakit dan menuju ke arah kantor.
" Siapa sebenarnya di balik ini semua, Kenapa mereka bisa berbuat seperti itu pada perusahaanku." gumamnya sembari terus melajukan mobilnya menuju ke arah kantornya, selang beberapa menit dia pun sampai di depan kantornya itu. sembari memarkirkan mobil pribadinya itu, Rendra melangkah masuk ke dalam kantornya dan menuju ke arah ruangan di mana Fahmi sudah menunggunya, Rendra melangkah menuju ke ruangan Fahmi tanpa menoleh kiri dan kanan, Pak Iwan yang kebetulan mau keluar ruangan dan melihat Bosnya memasuki lift menuju ke arah lantai atas, dia pun kemudian mengikuti Pak Bos itu,Rasa kekhawatiran mulai melandanya, dia pun bertanya-tanya.
" Mau apa dia keatas? ini kan sudah sore? biasanya Pak Bos tidak mungkin mengadakan lembur, karena di sini sudah banyak karyawannya, baik yang tetap ataupun tidak tetap, ini pasti ada sangkut pautnya dengan masalah keuangan yang dikatakan si tangan kanannya itu tadi pada ku " ucapnya sembari mengikuti sang Bos tanpa sepengetahuan pak Bosnya itu, mereka sama-sama sampai di lantai atas, Rendra saat di bawah tidak tahu kalau si Iwan mengikutinya naik kelantai atas, tapi setelah dia berada di atas dia merasa diikuti, dia berhenti sejenak didepan salah satu ruangan yang ada dilantai atas, dia sengaja berpura-pura berpikir dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, padahal matanya melihat kesamping kaca yang tidak diketahui si Iwan, Rendra melihat jelas kalau yang mengikutinya itu adalah Iwan, dia tersenyum tapi dia berpura-pura tidak mengetahuinya.
" Kenapa Iwan mengikutiku? gerak geriknya mencurigakan sekali." gumamnya sembari melangkah dan memasuki ruangannya sendiri, awalnya Rendra ingin masuk ke ruangan Fahmi, tapi dia mengurungkannya melainkan dia masuk ke ruangan kerjanya, di dalam ruang kerjanya itu dia pun mengambil ponselnya dan menghubungi Fahmi.
" Iya Pak, sekarang bapak di mana?"
" Sekarang saya keruangan bapak."
" Nggak usah, nanti saja."
" Kenapa pak?"
" Karena saat aku masuk tadi, Aku di ikuti Iwan,Iwan sangat mencurigakan."
" Nah itu dia Pak."
" Ada apa?"
__ADS_1
" Yang ingin saya bicarakan dengan bapak itu masalah Iwan itu."
" Baiklah, kalau seperti itu, kita tidak usah bicara di kantor, kita batalkan,kita bertemu di rumah aku saja, aku tunggu sekarang kamu di rumah ya, Aku terlebih dulu keluar dari kantor, agar dia tidak curiga, kalau seandainya kita bicara di kantor, otomatis dia pasti akan mendengarkan, setidaknya dia pasti akan tahu kalau sebenarnya dia yang dicurigai."
" Baiklah Pak." ucap Fahmi kemudian menyudahi bicaranya, karena tidak jadi berbicara di kantor pribadinya itu, Rendra pun kemudian keluar dari ruangannya dan menuju kembali ke arah mobilnya, Iwan yang masih mengikuti Rendra itupun kemudian turun kembali ke bawah.
" Ternyata dugaanku salah, Pak Bos ternyata cuma mengambil sesuatu yang tertinggal di ruangannya, ternyata dia sudah pergi meninggalkan kantor, Aman!" ucapnya sembari turun ke arah lobby dan memasuki mobil pribadinya lalu meninggalkan kantor Satya Group.
Fahmi kemudian membereskan mejanya dan dia pun langsung keluar dari ruangannya tersebut, menuju ke arah mobilnya, beberapa saat kemudian Fahmi meninggalkan kantor menuju ke arah rumah Rendra.
Dirumah sakit...
Nirmala yang berada di ruangan Alya pun kemudian menghubungi Sasa.
" Ya Nir? Ada apa?"
" Sa, aku bisa minta tolong denganmu lagi nggak?"
" Bisa, apa yang bisa aku bantu?"
" Bisa nggak kamu mengambilkan keperluanku di rumah, seperti baju dan yang lainnya, karena aku sudah gerah ingin mandi, aku mau meninggalkan Alya tapi aku nggak tega, kasihan dia, tidak ada yang menjaganya di rumah sakit."
" Baiklah, lagi pula sekarang aku ada di jalan kok, baru pulang kantor, aku akan mengambilkan keperluan yang dibutuhkan kamu di rumah sakit."
" Terima kasih ya Sa, kamu tahukan penyimpanan kunci rumah ku?"
" Iya Nir sama-sama, dan aku tahu tempatnya." ucap Sasa, kemudian telepon itu pun terputus, Nirmala menghela nafas panjangnya, tergurat di hatinya rasa kesedihan yang mendalam, teringat akan keluarganya.
" Ibu, Ayah, Nirmala rindu, sekarang Nirmala merasa capek ingin rasanya Nirmala menyudahi semuanya ini, tapi Nirmala tidak mampu, Kenapa kalian begitu cepat meninggalkan Nirmala, Nirmala rindu." ucapnya kemudian menelungkupkan kepalanya dibibir ranjang sang keponakan, tanpa terasa Air matanya mengalir tanpa bisa dia hentikan, dia lalu menatap kewajah tak berdosanya Alya tang sedang tertidur, Nirmala tersadar.
" Ya Tuhan...aku tidak boleh menyerah, aku harus kuat, karena masih ada seorang anak lecil yang tak berdosa yang harus aku jaga dan aku berikan kebahagian, semangat Nirmala, semangat!" ucapnya memotivasi dirinya sendiri.
__ADS_1
Nirmala mengusap air matanya dan diapun melangkah keluar duduk didepan ruangan Alya sembari menunggu kedatangan Sasa sang sahabat yang sudah berteman dengannya saat dia memasuki kantor Satya Group.
Sebuah Mobil memasuki halaman parkir rumah Rendra, siapa lagi kalau bukan Fahmi bersama Susanto, sebelum Fahmi berangkat kerumah pak Bosnya itu, dia menjemput Susanto dirumahnya, karena Fahmi yakin kunci utama dari masalah pemotongan gajih para karyawan tidak tetap itu ada di Susanto wakil dari Iwan.