
dengan langkah kecil,hal itu membuat jantung Nia berdegup kencang, Eun Dan kemudian menarik tangan Nia dan membuat Nia tersentak merasakan seakan jantungnya akan copot, Nia memejamkan matanya karena menahan rasa gugupnya, kemudian...
"Apa kau terluka?"
Ujar Eun Dan sembari melihat tangan Nia dengan teliti, Nia membuka matanya dan jantungnya terasa sedikit lebih baik tidak berdegup begitu kencang dan perlahan mereda.
"Hmm?.."
Nia merasa sedikit kaget kemudian melepaskan tangan Eun Dan yang memegangnya
"Aku bertanya apa kau tetluka? mungkin terbakar!"
"Hehe.. aku rasa tidak!"
"Benarkah? aku pikir kau terluka, itu karena sebelumnya kau memejamkan matamu dan membuat ku berfikir bahwa mungkin aku menyentuh bagian yang tetluka!"
"Tidak.. aku tidak terluka sama sekali!"
"Lalu apa yang kau pikirkan sebelumnya? kau tidak sedang memikirkan sesuatu yang lain bukan?"
"Salah siap mendekat tanpa aba-aba dan memegang tanganku begitu saja! kau pikir aku tidak akan merasa gugup? kau itu pria dan aku adalah seorang wanita! kau tahu itu bukan!"
"Aku pikir kau tidak akan merasa gugup sama sekali, mengenal sikapmu yang biasanya selalu berpegang teguh pada prinsip! aku bahkan ingat ketika hari pertama kerjamu aku terjatuh dan menimpa tepat di atas mu dan kau dalam sekejap langsung mendorongku dengan tenaga-mu yang sangat kuat, dan bahkan tidak berkutik sama sekali! dan sekarang hanya dengan memegang tanganmu kau sudah merasa gugup? ini sangat..……"
"Kenapa kau begitu cerewet?! kau adalah seorang pria tapi sangat banyak bicara!.. sudahlah kau sangat banyak bicara sebaiknya kembali duduk dan makan sarapan mu aku akan membersihkan kekacauan yang sudah ku buat!"
"Baiklah!"
Nia kemudian akan bergerak untuk membersihkan panci yang gosong, dia sedikit meringis karena merasakan nyeri dan perih pada bagian kakinya, karena terasa nyeri Nia melihat kakinya, Nia baru menyadari bahwa kakinya tidak sengaja terkena tumpahan minyak dari panci tumisan kubis yang terjatuh sebelumnya, karena tak sengaja tersenggol saat Nia mematikan kompor, melihat Nia meringis Eun Dan mendekat dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi kepada Nia, Nia menjawab dan berkata bahwa dia sepertinya terkena minyak panas, mendengar itu Eun Dan sedikit panik dan memarahi Nia karena tidak berhati-hati dalam pekerjaannya, Nia hanya terdiam Karena hal itu, Nia tertunduk menyesal dan seketika kaget karena Eun Dan menggendongnya dan membuat Nia Duduk di atas meja dapur, kemudian Eun Dan mencari salep untuk mengobati kaki Nia yang memerah karena terbakar, setelah dia menemukan salepnya Eun Dan kembali ke dapur dan menemui Nia, dia mendapati Nia yang tetap duduk di atas meja dengan terus memandangi kakinya sendiri hal itu membuat Eun Dan tersenyum.
__ADS_1
Eun Dan kemudian mendekat Nia dan mengobati lukanya, Nia nampak kalem tidak terlihat kesakitan hal itu membuat Eun Dan bertanya-tanya terbuat dari apakah wanita itu sehingga dia begitu tenang, bahkan jika wanita pada umumnya sudah meringis kesakitan dan berbagai macam alasan lainnya, terutama yang mengobatinya adalah seorang pria tampan yang merupakan seorang idola, Eun Dan hanya merasa jika dia seakan di abaikan karena sebelumnya Nia bahkan bersikap begitu gugup hanya karena Eun Dan memegang tangannya dan sekarang Eun Dan bahkan memegang kakinya tetapi Nia tidak bereaksi sama sekali.
"Apakah sakit?"
"Tidak..! tidak sama sekali!"
"Benarkah? tadi kau merasa kesakitan dan sekarang tidak lagi?"
"Sebenarnya kakiku sebelumnya nyeri karena kesemutan! mungkin karena terlalu lama berdiri!.. dan tidak sengaja melihat luka bakar pada kakiku!"
"Begitu saja?"
"Benar! begitu saja!"
"Tapi tetap saja aku pikir rasanya pasti perih! karena ini merupakan luka bakar!"
"Tidak!... aku bahkan sudah pernah terkena luka bakar yang lebih parah!.. meski bukan karena minyak!"
"Benar! aku pernah mengalaminya sebelumnya saat itu usiaku sekitar 14 tahun! aku terkena tumpahan air panas yang baru saja mendidih dan itu tidak hanya sedikit namun satu panci besar yang di gunakan untuk memasak air, dan itu sangatlah panas dan menyakitkan!"
"Pada bagian?..."
"Hmm?.. pada bagian?"
"Maksudku pada bagian mana? kakimu atau tubuhmu yang lain?"
Eun Dan kemudian melepaskan kaki Nia karena sudah selesai mengobatinya.
"Ooh..! pada bagian punggung kaki!.. kedua kakiku terkena air tetapi hanya kaki sebelah kanan yang mengalami luka bakar yang cukup parah!"
__ADS_1
"Benarkah? apa kau menangis saat itu? kau pasti menangis karena itu pasti sangat panas dan sakit! selain itu kau masih sangat muda karena usia mu masih 14 tahun!"
"Tidak!"
"Tidak?"
"Benar! aku tidak menangis sama sekali! tapi benar jika kau mengatakan jika itu rasanya sangat sakit dan terasa begitu perih! aku sedikit meringis karena menahan sakit! tapi bukan berarti karena aku meringis aku menangis!"
"Woah... kau sepertinya memang sudah kuat dari kecil!"
Nia turun dari atas meja dapur dengan sedikit melompat, Eun Dan kaget dan mundur dari tempatnya berdiri.
"Aku rasa tidak juga! tapi..aku terlahir dari keluarga biasa! bukan keturunan orang kaya jadi lelah, sakit dan sebagainya itu merupakan hal yang biasa!"
"Be.. benarkah? tetapi pasti ada sesuatu yang kau takuti akan terjadi! benarkan!?"
"Tentu! hal yang paling aku takuti adalah kehilangan orang yang ada di dekatku!.. aku selalu berharap jika saja bisa aku yang harus hilang terlebih dahulu baru orang-orang terdekatku!"
"Tapi.... jika seperti itu mereka yang akan kehilanganmu……!"
"Benar!.... tapi itulah aku!.. tak peduli kehidupan orang lain hanya peduli kehidupanku sendiri!... karena aku tidak ingin merasakan sakit karena kehilangan!"
"Kau sangat kejam!"
"Pengalaman lah yang begitu kejam!"
Keduanya terdiam, Nia kemudian mulai membersihkan kekacauan yang terjadi di dapur, sedangkan Eun Dan masih terdiam di tempatnya.
"Sepertinya kau memiliki banyak penderitaan dalam kehidupan ini!"
__ADS_1
"Hmm?.... tidak juga aku memiliki banyak keberuntungan dan salah satunya adalah bekerja di rumahmu!"